Tari menatap mantan kekasihnya. Segala hal ia tunjukkan biasa saja. Tanpa perlu banyak tersenyum. Tanpa perlu merengut. Tanpa berlebihan. Jelas sekali mantan kekasihnya itu heran.

“Kamu mau apalagi? Nanti tambah suka lhoo. Nanti marah-marah lagi sama aku karna susah move on?” Giri bertanya heran pada mantan kekasihnya. Ya, mantan karna seminggu yang lalu Giri sudah memiliki pacar lagi.

“Ah, nggak apa kok. Sebelum kamu punya pacar aja kita masih mesra tuh. Emangnya aku nggak sakit hati tahu-tahu seminggu kemudian kamu punya pacar? Nggak usah pikirin perbuatanku, perbuatanmu sendiri aja nggak kamu pikirin akibatnya.”

Giri tersentak kaget. Apa-apaan ini? “Tar, kamu berniat mengadiliku?”

“Enggak. Bercanda kok. Kamu mau pesen apa? Masih bisa aku yang pilih?”

“Ya, pilihlah.”

Tari membolak-balik buku menu sebentar, “Steam boat aja yaa, aku pengen yang berkuah dan hangat.”

“Terserahlah.”

Bagus, ucap Dini dalam hati. Menurut sajalah untuk kugiring menuju ke kematianmu.

Selama menunggu pesanan, mereka tak banyak bicara. Mantan pacarnya itu lebih sering tersenyum-senyum membalas pesan singkat, yang tidak perlu menjadi juara olimpiade matematika untuk tahu bahwa itu dari pacarnya.

“Kamu bahagia?”

“Tentu saja,” jawab Giri ringan. Tari mengangguk-anggukan kepalanya.

“Bisa minta tolong?”

“Apa? Asal jangan yang aneh-aneh.”

“Hahaha tenang aja aku nggak minta kamu putus sama pacarmu kok. Bisa tolong ambilkan kerupuk di sana?”

Segera setelah Giri pergi, Tari dengan cekatan memasukan cairan aseton ke dalam kuah steam boat pesanan mereka yang masih beruap, lalu mengaduk-aduknya. Dengan cekatan pula ia memasukkan ke mangkuk milik Giri. Oh tentu saja, dia sudah memisahkan semangkuk untuk dirinya sendiri tanpa aseton di dalamnya.

“Ini,” ucapnya manis setelah Giri ada dihadapannya.

Mereka makan dalam keheningan. Giri sibuk dengan ponselnya. Ya, puas-puaslah berkabar karna setelah ini kalian tidak akan pernah bertemu lagi.

Tari memanggil nama Giri untuk kedua kalinya sebelum pria itu memusatkan perhatian padanya dan meminta maaf, “Apa?” katanya lagi.

“Aku permisi ke toilet sebentar.”

“Oke. Jangan lama-lama.”

Aku tidak akan kembali, Sayang.

Sebelum pergi Tari sudah meninggalkan botol aseton kosong di kursinya yang terbungkus tissue. Pada kertas tissue itu bertuliskan

I may look calm but in my mind i have killed you

image

Aria
10:38
Terinspirasi dari pic profil wa punya mas Arek.
Info soal aseton ternyata bisa menjadi kalium sianida di dapat dr akun @blogdokter melalui »» http://chirpstory.com/li/46520

Sekian.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s