Ada ruas jalan yang tak pernah kering dalam ingatan, melagut, merayu, memagut
Hingga sesak
Tak tahu apakah luka
Apakah rindu. Sebenarnya.

Aku mengingat-ingat, seperti apa rona wajah kita waktu itu.
Merah di bibirku atau senyum yang kaubingkai. Mengira-ngira, yang mana lebih lebam.

Lalu, ketika harapan-harapan pun mampu membunuh
Bukankah sebaiknya rindu tlah kubuang jauh-jauh?

Tetapi katanya, dalam doa, cinta adalah mimpi yang banyak diaminkan. Hatihati penuh debar menuju pulang.

Namun bukan kepada engkau.

Kepada sesiapa yang telah menjadikanku ranting, menjatuhkanku bagai daun, mengembalikanku pada sunyi.

Setelah itu.

________

21:00
Kota Tua, 18-04-14
Aria.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s