Angin dingin berembus dari barat. Mengantarkan wewangian dari tanah-tanah lembab sehabis hujan sore tadi. Komplek perumahan itu terasa lengang pun rumah bernomor sembilan, yang berada sekitar seratus meter dari tempatnya bersembunyi, memata-matai. Matali sudah mencari tahu, bahwa sejak kemarin hampir seluruh keluarga di rumah nomor sembilan tersebut pergi berlibur ke puncak dan akan kembali empat hari kemudian. Tetapi, keberuntungan bagi Matali, Alena memilih tinggal di rumah.

Matali tidak peduli mengapa Alena tidak ikut pergi. Kesempatan ini sudah ia tunggu sejak lama. Suasana hening ini pun menguntungkannya. Tak ada saksi. Tak akan ada saksi.

Seperti yang sudah direncanakannya, Matali akan menyelinap ke rumah bercat warna jeruk tersebut lewat lubang tempat pembuangan sampah. Ia sudah membersihkan tempat sampah tersebut sore tadi agar ia bisa menyusup dengan mudah. Ia bertingkah kelewat biasa seperti ia sedang melakukan pekerjaan sehari-hari. Mengambil sampah dari rumah ke rumah. Tak akan ada yang curiga padanya.

———

Konsentrasi Alena terusik ketika tercium olehnya bau busuk yang dibawa angin ke dalam kamar dan menohok hidungnya. Sial! Gerutu gadis itu. Ia meletakkan ponsel pintar berlayar sepuluh inch miliknya dengan kasar di tempat tidur lalu berjalan ke muka jendela sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan hidung.

“Tempat sampah sialan!” makinya. “Kenapa sih kauharus berjarak dua rumah dari rumahku? Bikin sesak nafas aja!” Alena terus mengerutu. Ia menutup jendela, menarik selotnya dan terakhir, menggeret tirai menutupi kaca.

Lalu setelahnya ia kembali asik bermain gadget. Gadis yang sekarang baru duduk di bangku kelas dua SMA itu sedang bercengkrama dengan teman-temannya di sosial media. Menebak-nebak lagu apa saja yang akan Taylor Swift nyayikan pada konsernya nanti. Alena tidak sabar menunggu besok. Ia sudah memiliki tiket sejak hari pertama tiket konser tersebut dijual. Karna itulah ia melewatkan liburan keluarga kali ini. Taylor Swift nggak akan datang lagi dalam waktu dekat untuk konser. Sebagai pemuja lagu-lagu Taylor, Alena tidak mungkin melewatkan kesempatan ini.

Keseruannya terusik ketika alarm ponselnya itu berbunyi nyaring dengan nada yg menganggu. Alena melongok melihat catatan yang tertulis di sana.

Kamu belum tidur kan? Sudah kunci pintu, jendela dan mematikan lampunya? Lakukan sekarang kalau belum.

Alena melengos. Ini pasti kerjaan kakaknya Arka. Apa boleh buat. Alena sudah setuju untuk melalukan itu sendiri sebab pembantu rumah tangga mereka juga diajak berlibur.

Ogah-ogahan Alena turun, langsung menuju pintu depan rumah, menguncinya. Setelah itu ia berkeliling memeriksa selot kunci setiap jendela. Setelah memastikan mereka telah terkunci ia lalu mematikan lampu di ruang tamu. Alena menuju kamar kedua orang tuanya. Melongokan kepala hanya untuk mematikan lampu lalu menutupnya kembali.

Melewati ruang makan, Alena menuju dapur. Perasaannya tidak enak ketika memasukinya. Seakan-akan dapur tersebut terasa asing meski sebenarnya Alena tak terlalu sering memasukinya. Ia berjalan takut-takut menuju pintu di sudut kiri dapur. Pintu yang langsung menghadap halaman belakang rumahnya. Jantungnya mencelos sebab pintu dapur ternyata tak terkunci. Perlahan, dengan menahan nafas, Alena mengintip ke halaman. Hening. Tak ada yang aneh di luar. Bahkan suara kucing yang biasanya ribut pun tak ada. Mendadak Alena merasa tidak nyaman. Ini terlalu sepi, katanya. Angin berkesiur melewatinya, itu membuat Alena buru-buru menutup pintu, menguncinya dan menarik selot dengan rantai besi di gagang pintu. Sekarang ia berbatas dengan dunia luar.

“Sejak kapan pintu lemari di bawah westafel itu terbuka?” Alena bergumam. Rasanya tadi pintu itu tertutup rapat. Okelah. Mungkin tidak terlalu rapat tetapi tidak seterbuka ini. Apa tikus baru saja keluar dari sana? Bisa jadi, Alena berdialog dalam kepalanya. Sebab isi lemari itu adalah segala macam cairan pembersih. Lantai, piring, kamar mandi, karat dan entah apalagi. Alena harus membungkuk untuk menutup kembali lemari itu.

——–

Matali menyergap gadis itu saat sedang menunduk hendak menutup lemari. Alena terkejut, ia memberontak dengan cukup keras tetapi tenaga Matali tentu saja lebih kuat. Ia menahan tangan Alena dengan tubuhnya dibantu satu tangan. Tangan satunya lagi membekap mulut gadis itu agar tak berteriak. Tidak berapa lama tubuh Alena merosot karena lemas. Matali menahannya dan menyeret gadis itu, mendudukannya di atas bangku di ruang makan. Ia lalu mengikat tangan Alena ke belakang. Serta menyumpal mulutnya dengan kain. Sementara itu Matali menyiapkan peralatannya, menyusunnya di atas meja makan.

——–

Alena tersadar. Matanya panik menatap sekeliling. Tak ada siapa-siapa. Tak ada orang yang menyerangnya. Mungkin ia bermimpi. Hanya berhalusinasi. Ia hampir mengembuskan nafas lega ketika penglihatannya tertumbuk pada alat-alat tajam yang tersusun di atas meja. Alena ingin berteriak tetapi, sekarang ia baru sadar, mulutnya disumpal kain. Tangan serta kakinya terikat di kursi.

Alena mengeluarkan suara berdegug yang aneh sebab ia menangis. Tolong.

Alena mendengar langkah kaki diseret ke arahnya. Tidak! Tolong! Ia panik. Tolong aku.

“Ah, ini dia tuan puteri kita sudah bangun,” kata si Penyerang. Alena merasa mengenali suara itu tetapi samar. Wajah penyerangnya tidak tertutup apapun harusnya itu bisa membuatnya dengan mudah  menebak tetapi karena penerangan yang remang, wajah orang di depannya tidak terlalu jelas. Secara keseluruhan hanya terlihat berantakan dan bau.

Bau yang nggak asing.

“Tidak mengenaliku lagi? Biar kuingatkan.” Penyerangnya itu berjalan mendekat. Alena mengerut di tempatnya. Tak ingin jarak di antara mereka dipersempit.

“Dua minggu lalu,” katanya dengan suara yang terdengar teatrikal. “Kamu memakan es krim sambil jalan lalu membuang bungkusnya begitu saja. Ke tanah. Aku menyuruhmu memungutnya dan membuangnya kembali ke tempat sampah. Ingat?”

Mata Alena nyalang oleh perasaan ngeri. Pria itu mendominasinya. Membuatnya tertekan. Alena kembali mengeluarkan degug yang aneh. Gadis itu menangis.

“Ya, kamu tidak mau menurut. Kamu malah menyuruhku untuk melakukan hal itu sendiri karna itu memang tugasku, katamu. Sudah ingat?”

Penyerangnya adalah petugas kebersihan perumahan. Alena tahu sekarang. Alena ingat, setelah mengatakan itu Alena mengibaskan tangan dan berlalu pergi. Mungkinkah petugas itu mendendam karena kejadian waktu itu?

Suara tawa mengisi rumah bernomor sembilan tersebut. Lelaki penyerangnya itu lalu bersiul sambil melihat penuh minat peralatannya di atas meja dapur.

“Aku datang untuk melakukan tugasku.” Lelaki itu menggenggam gunting. Alena diserang panik. Kepalanya menggeleng-geleng. Suaranya tertelan kembali ke kerongkongan. Lelaki itu meggeret satu bangku ke belakang Alena. Lalu duduk di sana.

Alena meremang. Tubuhnya terasa lemas. Ia ketakutan setengah mati. Rasa-rasanya ia akan pingsan. Lelaki di belakangnya mengelus rambutnya yang panjang,

“Apa kamu nggak tahu? Rambutmu ini kotor, rusak dan patah-patah. Aku akan membersihkannya untukmu.”

Clack! Clack!

Matali membuka-tutup gunting di udara. Gadis di depannya menggeleng-geleng. Seluruh tubuhnya bergetar oleh rasa takut. Matali sama sekali tidak merasa iba. Crash! Ia menggunting serampangan rambut panjang gadis itu.

Alena menangis.

Matali beranjak ke meja peralatannya. Ia mengambil tang. Dengan sengaja mengetuknya ke meja, meminta perhatian Alena. Matali menikmati panik yang terpancar dari mata gadis itu.

Ia menggeret kursi ke hadapan Alena. Membuang kain yang menyumpal mulut gadis malang itu. “Begini lebih seru,” katanya ketika mendengar suara Alena yang tercekat. “Sekarang kita bersihkan kukumu, ya?”

Matali melepaskan ikatan tangan Alena. Tangan gadis itu dingin ketika Matali menyentuhnya. Ia bersiul. Ia merasa senang.

“Ke-kenapa kamu tidak membunuhku sa-saja lebih dulu?” Alena berkata. Jelas ia memohon.

Matali terdiam, gadis ini jelas tidak memahami maksudnya.
“Kalau kamu mati, bagaimana kamu bisa tahu letak kesalahanmu dulu dan memperbaikinya? Seperti sekarang, aku hanya menunjukkan padamu pentingnya menjaga kebersihan.”

Jadi semua ini hanya untuk menjaga kebersihan. Hidupnya dibuat setengah mati seperti ini hanya karna sampah bungkus es krim? Alena merasa marah. Orang ini jelas gila. Alena mengentakkan tangannya ketika Matali memosisikan ujung kuku kelingkingnya di antara mulut tang.

Matali terkekeh. Ia menarik taangan gadis itu lebih keras. Lalu begitu saja mencabut kuku jarinya. Teriakan gadis itu memekakkan telinga. Ia terhuyung mundur. “Tahan itu,” katanya. “Kamu masih punya sembilan kuku jari lagi.”

——–

12:17
Aria.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s