Barangkali ada bagian dari tubuhku yang tercuri hingga perasaan sedih terasa mengerogoti. Aku menarik nafas dalam-dalam untuk mengenyahkan perasaan itu tetapi sesuatu yang menggumpal di tengorokanku membuatku tersedak. Maka begitulah air mataku tumpah. Berderai-derai. Lebih banyak dari sinar matahari senja yang terpapar awan tebal.

Barangkali karena sedang melankolis itulah, aku menatapi senja, diam-diam, di sela-sela keramaian. Berharap menutupi bayangan wajahmu yang selalu muncul bersamaan dengan debar yang terasa perih.

Aku tak tahu mencintai seseorang bisa semenyakitkan ini. Tidak. Mencintai itu menyenangkan. Perih adalah ketika perasaanmu tak berbalas. Ketika ia memilih untuk mengatakan tidak kepadamu, dan berlalu. Sementara kau hanya bisa memintanya untuk melupakan semua itu.

Tetapi kau tidak pernah lupa. Tidak sekali pun

Agar tidak terlalu melankolis-melankolis amat, aku berpikir nanti malam ingin membuat sepoci besar kopi. Hitam. Tanpa gula. Untuk menemaniku menonton film yang baru kukoleksi beberapa hari lalu. Kalau bisa  dan aku tidak jatuh tertidur, aku ingin menonton semalaman. Sampai dini hari. Sampai aku tak lagi memikirkan perasaanku tanpanya. Aku akan tertawa-tawa sepanjang malam. Mungkin menangis di sela-sela film pada bagian yang dramatis terlebih emosional. Tetapi para pembuat film itu sungguh bijak sebab memilih akhir yang bahagia. Meski harus mengakhiri film menjadi drama penuh air mata, itu pun tidak menderita-menderita amat. Atau paling banter, membiarkan tokohnya menderita lebih dulu lalu kembali jadi jagoan pada film berikutnya. Jadi ingatlah, kalau film itu berakhir tidak bahagia itu artinya film itu belum selesai sebab sebuah film tentunya akan berakhir bahagia*

Hal itu tentu berbeda dengan kisah kami. Aku dan dia selesai. Dia mungkin bahagia, entah bersama siapa. Mungkin dengan petugas perpustakaan  yang sering ia kunjungi. Mungkin dengan asisten dosen kelas sebelah yang selalu dibantunya membawa tugas-tugas mahasiswa yang menumpuk. Mungkin dengan anak ibu kantin yang selalu memanggilnya kak Liana meski jelas usia pemuda itu lebih tua dibanding Liana.

Nah, aku mulai menyebut namanya. Ini tidak boleh terjadi. Dia baru menolakku siang tadi. Aku tak ingin menjadi melankolis (lagi). Tak perlu. Lebih baik aku membuat dulu kopiku lalu menyalakan laptop.

Sambil menunggu layar windows nampak, aku menuangkan kopi ke dalam mug kecil seukuran tiga kali tegukan. Aku meniup-niup permukaan kopi sebentar lalu mulai minum. Layar laptopku sudah membuka sempurna, menampilkan gambar kucing kampung milik anak ibu kost yang kuambil beberapa hari lalu. Kucing itu sedang bermain dengan gulungan benar. Aku begitu gemas hingga ingin mengabadikan momen itu. Oke, lupakan soal kucing mari kita menonton. Kira-kira film apa yang cocok ditonton pria yang baru saja patah hati? Ah, aku bisa bebas memilih, usb-ku berisi lebih dari seratus film. Tapi kutinggalkan di mana benda itu ya? Ingat-ingatlah, Damar, apa kau perlu kehilangan sesuatu lagi hari ini?  Cukuplah kau kehilangan hatimu yang besarnya tak seberapa itu.

Ah, itu dia! Benda kecil keparat ini rupanya terselip ditumpukan kertas-kertas sketsa. Sketsa-sketsa wajah Liana dalam goresan hitam itu. Aku harus membuangnya besok. Sial! Aku tak ingin melihat wajah Liana sekarang. Hatiku bisa luluh lantak lagi jika melihat senyumnya. Baiknya aku menutup mata, mengambil usb itu lalu segera mencolokannya pada laptop.

Lalu sesuatu yang aneh terjadi. Layar laptopku bersinar menyilaukan. Bukan. Bukan layarnya. Tetapi usb itulah yang mengeluarkan cahaya. Beragam visual bentuk-bentuk aneh keluar dari cahaya itu dan melayang-layang di sekitar laptop. Mengambang. Semakin lama semakin banyak bentuk-bentuk aneh yang keluar. Aku tidak mengerti apakah usb ini memiliki fungsi lain seperti lampu ajaib?

Lalu tiba-tiba, di antara cahaya menyilaukan dan benda-benda aneh yang dikeluarkannya, aku merasakan tarikan yang begitu kuat. Wajahku ngeri membayangkan aku akan tersedot ke dalamnya, mengisi ruang kosong yang ditinggalkan mahluk apapun tadi.

Tetapi benar. Aku benar-benar tersedot. Masuk ke dalam usb yang sekarang kosong melompong.

image

20:34
090415

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s