Aku selalu menginginkan memiliki sebuah rumah. Rumah milikku sendiri. Yang akan kuisi dengan barang-barang yang kuinginkan. Dapur yang tak berjejal barang-barang. Sebuah meja makan dua kursi. Sebuah rumah yang memiliki lemari-lemari buku. Rak gantung dengan tanaman kaktus sebagai hiasan. Sebuah rumah ternyaman untuk pulang.

Aku yakin, entah lima atau sepuluh tahun ke depan aku akan memilikinya. Hanya saja tak akan ada kamu di sana, sama seperti saat ini.

Jika sekarang saja kamu sudah memilih bersama seseorang bagaimana mungkin kamu akan ada bersamaku di masa depan. Kamu dan aku berjarak. Sejauh-jauhnya jarak. Dan, seperti katamu, kamu tak memiliki rumah untuk kutempati. Ah, memangnya kapan aku pernah memintamu untuk membelinya?

Belakangan ini aku selalu bermimpi, ada seseorang di mimpiku–yang entah kenapa selalu lekaki. Mereka terasa akrab di dalam sana, tetapi ketika bangun tak satu pun dari mereka yang aku ingat kukenali di dunia nyata–yang terakhir adalah lelaki bertopi.

Di siang hari aku mendengar suara lonceng angin di suatu jalan yang hampir selalu kulewati. Suara lonceng angin yang kadang tak terdengar di hari berangin. Sebuah lonceng angin yang kadang terdengar, kadang tidak bahkan sampai beberapa lama aku berhenti dan menunggu. Sebuah suara lonceng angin yang hanya kudengar sendiri meski ada banyak orang di sekitar. Ya, aku memastikannya hari ini. Aku bertanya, tetapi katanya mereka tak mendengar  apa-apa. Hanya aku. Entah.

Itu sebelum hatiku patah (lagi) seperti ini.

Hari ini, sepulang bekerja. Ketika aku sedang menunggu kereta lewat untuk menyebrang ke peron di seberang. Ketika angin menghempas akibat dorongan kereta, di kepalaku, terbayang aku berlari menyongsong kereta, lalu membiarkan kereta itu menembus tubuhku. Saat kereta itu berlalu, bayangan itu sirna.

Aku tak ingin mati. Betapa pun pedih kesedihan yang ditanggung hatiku. Betapa lesak ia terbeban sakit hati. Aku tidak ingin mati sebab tadi, aku sudah melihat-lihat sebuah meja makan, rak gantung berbentuk zigzag, gelas-gelas teh. Benda-benda yang ingin kuisi di rumahku kelak.Entah itu sepuluh tahun lagi atau kapan.

Aku akan ada di rumahku. Tak apa-apa meskipun tak ada kamu. Kumohon jangan melukai lagi. Menjauhlah. Biarkan aku sendiri.

Tak apa-apa meski tak ada kamu. Tak apa-apa meski aku seorang diri. Kamu memiliki alasan-asalan untuk tak bisa bersamaku. Kali ini buatlah alasan agar tubuhku tak perlu dihantar ke depan kereta yang sedang melaju.

#

sebuah monolog
301015
20:56

* I’d jump in front of a train for you
But you won’t do the same*
Song ost Grenade – Bruno Mars

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s