Gambar diambil acak dari google

Sore terasa amat sesak di ibukota. Terlampau riuh dan asing. Setiap kaki berjalan sendiri-sendiri. Setiap kata mengambang di udara. Dan hujan lebat memperparah perasaan sesak itu. Tetapi dadaku lesak oleh sebab yang berbeda.

Beruntung aku menemukan Di Antara–cafe kecil dengan nuansa hangat sebuah rumah– di belokan jalan, sebelum hujan ruah. Aku sama sekali tak berniat menjenguk masa lalu. Aku hanya muak dengan ibukota sore ini dan berniat menghabiskan The Mirror of Fire and Dreaming yang baru kubaca setengah. Tetapi yang kudapati ketika memandang ke luar cafe adalah perasaan nelangsa yang amat sangat. 

Mungkin karena hujan. Mungkin karena dua bangku kosong dan basah di bawahnya. Mungkin karena pepohonan hijau dan lorong jalan yang seolah tak berujung itu yang membuat air mataku mengambang di pelupuk.

Aku ingin menangis. Saat ini juga.

Diam-diam aku menyusut hidung. Membiarkan air mataku jatuh, lalu menghapusnya tanpa kentara. Kukira masa lalu telah jauh lindap dalam ingatan. Kukira, kenangan telah menguap dalam keseharian. Ah, atau mungkin ini hanya karena hatiku sekosong jalan di hadapanku sekarang. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s