Suatu kali ketika kita bertamasyah, di antara hijau pepohonan kau pernah berkata,

Ke mana ingatan akan pergi ketika manusia mati? Apakah pohon-pohon menyerapnya? Apakah setelah mati aku akan ingat pernah mencintaimu?

Aku tak tahu harus menjawab apa. Hal itu tak pernah terpikir olehku. Kau tahu, selama hidupku aku yang selalu mengingat seseorang. Selama hidupku, akulah yang selalu repot dengan perasaanku sendiri. Karena itu aku tak pernah berpikir, apa jadinya dengan ingatan seseorang yang mencintaiku ketika orang itu sudah tak ada. Apa dalam ingatannya dia tetap mencintaiku?

Namun pertanyaan itu kau lontarkan ketika kita bersama. Saat ini, ketika tangan kita tak lagi bertaut, apakah kau masih peduli, apakah kau masih bertanya-tanya apakah ingatanmu mengingat ingatan kau pernah begitu mencintaiku?

Dengan catatan, kalau itu benar bisa disebut cinta. Benarkan, Ashta?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s