Lagi-lagi grup whatsapp di ponsel saya dikirim broadcast-broadcast sampah!  Kenapa saya bilang sampah? Karena isinya tak lebih dari hasutan penuh kebencian.  Saya sudah mulai terganggu dengan bau sampah-sampah ini. Mual hingga muak, sekarang ini. Mula-mula soal Sari Roti. Betapa pendeknya akal mereka yang menyerukan hashtag boikot Sari itu. Pintar dikitlah, bos-bos besar kayak mereka mana ngaruh sama aksi semacam itu. Ente kira mereka cuma punya satu pemasukan? Kalau kayak gitu mana bisa mereka jadi kaya-raya!  Mikir, Bung!  Yang susah ya saudara-saudara kita yang kelasnya selevel kita ini. Dengan dungunya melabeli Sari Roti haram. Kalian meragukan MUI? Kan Sari Roti dapat label halal juga dari MUI? Mikir makanya!

Lalu, beberapa waktu yang lalu juga ramai beredar di sosmed tentang vaksin kanker Serviks. Mboknya kalau enggak paham tuh nanya. Ke Puskes kelurahan kek yang deket. ke Puskes Kecamatan yang menyalurkan vaksin tersebut meneruskan dari Pemda. Atau yang paling mudah googling! Saya sendiri langsung bertanya-tanya ke beberapa teman. Beruntungnya saya, memiliki teman dan kenalan-kenalan yang paham soal itu. Memang dasarnya kalau sudah benci, apa saja yang dilakukan yang dicari ya kesalahan-kesalahannya. Piknik, Mbak! Biar lingkungannya luas biar bisa nanya dan konfirmasi berita hoax seperti yang saya lakukan. Kalau Anda bodoh kan ya minimal teman-teman Anda tidak bodoh.

Dan masih banyak pesan kebencian berantai lainnya yang masuk ke ponsel saya. Ini membuat saya gelisah dan sungguh saya merasa sedih. Begitu mudahnya kita terhasut. Begitu mudahnya menebar kebencian. Lalu, satu dan lain hal yang mendorong saya untuk mengeluarkan uneg-uneg melalui tulisan adalah, tadi malam, seseorang yang saya kenal di komunitas menulis online. Belau dengan menggebu-gebu menuliskan betapa munafiknya kami-kami yang diam saja ketika ayat suci agama sendiri dihina. Lalu beliau menambahkan, Kira-kira begini: Baca Al-Quran aja enggak gimana bisa paham tafsir. Dan lain-lain.  Jujur, hati saya mencelos. Jadi maksud mbaknya, Gusdur itu enggak paham tafsir dan Al-Quran? GusMus juga?

Lagi pula, coba kita mundur sedikit. Jauh sebelum ada seorang Ahok. Negara ini sudah carut-marut karena korupsi. Sapi-sapi, Al-Quran, bahkan ada anggota dewan yang sudah dipenjara pun masih terima gaji. Enak betul kan, sudah korupsi milyaran, dipenjara, sudah tidak memnberikan kontribusi apa-apa bagi negara eh masih terima gaji pula. Siapa mereka? Pemimpin-pemimpin yang katanya muslim. Pemimpin-pemimpin yang beragama Islam. Pemimpin yang seharusnya amanah.

Kita sebut sajalah mereka oknum. Dan oknum inilah yang memuakkan bagi saya. Saya begitu antipati pada orang-orang di lingkungan kerja saya yang terus-menerus berteriak takbir hingga kalimat setuju jika presiden jatuh, sampai, yang belum lama ini saya dengar, menyandingkan kata bleguk dengan nama Gusdur. Di luar sana, oknum ini lantang bertakbir tapi di dalam, di keseharian, melihat oknum ini salat saja tidak pernah, alih-alih salat Jumat yang tidak boleh ditinggal tiga kali berturut-turut. Yang munafik siapa ya? Status FB-nya saja yang penuh dengan ayat-ayat dan menulis aamiin disetiap postingan fakir like, amin, dan komen semacam itu. Ia tidak sadar bahwa itu bentuk penipuan mutakhir di dunia sosial media.

Itu hanya satu elemen, soal salat yang notabene urusan masing-masing orang. Ini hanya biar adil saja. Masih ada kok soal yang lain. Tinggal ditanyakan ke diri masing-masing, sudah amanahkah Anda dengan komitmen pekerjaan Anda? Tujuh tahun bekerja di antara PNS. Saya tahu betul betapa brengseknya mereka. Betapa mau enaknya sendiri. Betapa mau mudahnya saja dan betapa mau benar sendiri. Saya mah apa atuh, cuma pegawai minoritas alias honor! Terus terang, saya senang dengan kehadiran pak Ahok. Beliau meluruskan persepsi bahwa PNS adalah pelayan bagi masyarakat karena pelayanannya itulah mereka digaji sangat layak, diberi tunjangan ini. Tunjangan itu. Konon beras dan kain batik pun ada anggarannya. Dengan loyalitas seperti itu sudah sewajarnyalah mereka bekerja dengan baik dan amanah. Seharusnya.

Tapi apa mau dikata, terbiasa hidup enak. Terbiasa menjadi raja-raja kecil. Dengan tunjangan, dengan gaji besar, dengan kendaraan dinas, dengan ruangan berpendingin udara, oknum-oknum berseragam ini malah asyik berngkongsi sesama mereka dan saling menutup borok.

Ayohlah, Bung. Kalau bukan karena politik, korupsi, bukan hanya rumahmu yang akan terang oleh listrik dan dialiri air PAM!

Perkara penistaan ini, secara pribadi saya berpendapat ini bukan masalah agama. Ini jelas masalah politik. Enggak usah tutup matalah, toh memang surah Al-Maidah 51 tersebut memang sering digunakan untuk mendiskreditkan pemimpin-pemimpin non-Muslim. Jangan-jangan yang teriak paling kencang itu mereka-mereka yang jam kerjanya bertambah, dituntut sesuai besar tunjangan yang di dapat, yang indispliner, yang aliran hibahnya dihentikan, yang tidak bisa lagi bermain kongkalikong di belakang. Barisan-barisan sakit hati, begitu.

Saya rasa saya tidak sendirian, tapi banyak orang di luar sana yang gembira karena akhirnya memiliki presiden yang begitu disayangi rakyatnya. Memiliki Gubernur jujur dan benar-benar membangun dan memberi apa yang rakyat butuhkan. Saya bukan warga DKI tetapi saya melihat betapa banyak perubahan yang sudah dilakukan pak Ahok, terlebih, saya secara pribadi berterima kasih, karena sekarang sayang memiliki penghasilan yang layak. Meski jurang antara PNS dan honorer itu tetap menganga. Kenapa? Karena kami selalu disindir, eh UMP cair tuh! yang artinya makan-makan dong! Padahal, klo tunjangan atau sertifikasinnya beliau-beliau ini cair langusng bisa beli motor satu atau untuk saya, bisa buat DP kredit rumah sekelas BTN. Mereka diam seribu bahasa, juga, kami tidak pernah iseng minta ditraktir. Honor yang harus tahu diri!

Ayolah, biarkan keadilan sosial itu dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Tidak hanya Jawa, atau Sumatera tetapi juga di pulau dan kota-kota lainnya. Semuanya bisa terwujud dengan pemimpin-pemimpin jujur yang tidak diintervensi pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan.

Ah, ya! Saya memang bukan warga DKI Jakarta, saya tidak bisa memilih paslon Ahok-Djarot meski pun ingin. Saya berKTP Tangerang, namun, saya tetap memilih nomor 2 untuk Rano-Embay!

Salam.

Semoga ada yang tercerahkan lewat uneg-uneg ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s