Judul               : Tea for Two

Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit     : Cetakan Pertama, Desember 2005

Halaman          : 116 hlm

ISBN               : 1097897922

Sinopsis           : Tea for Two adalah perusahaan mak comblang milik Sassy. Baginya, tak ada tanggung jawab dan kebahagiaan yang lebih besar daripada mempertemukan dua orang yang awalnya saling tak mengenal kemudian mengantarkan mereka pada kehidupan yang di idam-idamkan. PERNIKAHAN!

Hidup bahagia selama-lamanya. Begitulah moto Tea for Two yang terdengar manis. Tapi…..eits tunggu dulu!

Apakah benar pernikahan adalah satu-satunya jalan terindah bertabur bunga yang diimpikan dan dicita-citakan semua orang? Ternyata tidak semua orang menyikapi hal itu dengan kata setuju. Celakanya, pernikahan Sassy sendiri mengandung rangkaian rahasia kecil yang berbuntut menjadi kebohongan besar-besaran. KDRT, Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Semuanya diawali dengan romantisme yang menggebu dan berakhir dengan kekejaman tiada banding.

Resensi            : Saya hanya memberi tiga bintang dari lima bintang di goodreads karena beberapa hal. Kesatu, karena ada beberapa bagian dalam buku tidak nyaman dibaca karena EBI yang tidak sesuai. Kedua, buku ini jauh dari ekspektasi saya. Well, bukan salah penulisnya sih. Saya hanya mengira bahwa buku ini, berlatar belakang perusahaan mak comblang milik tokoh-Sassy terlebih Sassy sendiri mengalami pernikahan yang tidak bahagia-selamanya, kisah-kisah dalam buku ini akan lebih banyak dan beragam. Katakanlah, orang-orang yang Sassy bantu jodohkan lewat perusahannya, mengalami hal buruk dalam pernikahan lantas bersama-sama dengan Sassy mereka berusaha mencarikan solusi. Tetapi tidak. Sassy, si Pemilik Perusahan malahan yang menjadi korban.

Cerita di dalam buku ini terasa sangat mengawang-awang dan tidak masuk akal. Coba pikirkan, seseorang yang tidak percaya cinta membuka perusahaan perjodohan? Seorang yang tidak percaya cinta tapi dengan niat yang sangat mulia mencoba menemukan jodoh bagi orang-orang yang tidak memiliki kesempatan? Lalu tiba-tiba saja menikah dengan orang yang belum lama dikenalnya.

Yah, saya tidak tahu, mungkin saja ada yang setuju. Kalau sudah sreg, sama-sama cinta, sudah siap lahir-batin, kenapa mesti menunda-nunda? Yah, menikah saja kan tidak apa-apa toh? Ya, tidak ada yang salah memang. Jika, dan hanya jika, kita sudah mengenal seseorang tersebut dengan sangat baik. Tetapi hal ini tidak terjadi dengan Sassy. Sebagai dua orang yang akan menikah, tidak ada adegan dalam buku mereka saling memperkenalkan keluarga. Terlebih, tokoh-Alan nyata-nyata tidak ingin bertemu (berteman) dengan sahabat-sahabat tokoh-Sassy. Cinta membutakan sekaligus mengisi segalanya ya, Sassy?

Well, atau mungkin saya hanya tertipu endorse dari The Jakarta Post yang mengatakan bahwa Clara Ng menampilkan perempuan dalam berbagai wajah tapi nyatanya tidak. Ah, mungkin saya hanya sedang membandingkan buku ini dengan buku Sihir Perempuan. Salahku.

 Sebab ketiga, kabarnya, kisah dalam buku ini mirip dengan buku dengan tema serupa Love Me Better karya Rosalind B. Penfold. Ini yang sangat-sangat tidak bisa diterima. Saya membaca beberapa karya Clara Ng, dua yang paling saya sukai adalah Malaikat Jatuh dan Uttuki (Sayap Para Dewa). Saya juga menyukai beberapa karyanya yang lain. Tea for Two yang paling mengecewakan.

Nilai plus dari novel ini hanyalah, di mana tokoh-tokoh perempuan dalam novel (yang memang semua perempuan) tidak menyalahkan tokoh-Sassy sebagai sebab suaminya berselingkuh, melakukan tidak kekerasan atau atas tingkah lakunya yang aneh bin ajaib. Karena sepanjang yang saya tahu, di budaya kita, jika ada yang salah terhadap kehidupan rumah-tangga seseorang maka pihak tertuduh adalah perempuan. Suami kok bisa selingkuh? Enggak diurus kali di rumah? Kok bisa diperkosa? Dianya aja kali keganjenan, pakai baju minim, ngegodain? Kalimat-kalimat jahat yang keluar dari mulut-mulut jahat perempuan yang seharusnya mendukung. Semoga, siapa pun yang sudah membaca novel ini, akan jadi teman yang baik seperti teman-teman tokoh-Sassy jika orang terdekatnya mengalami hal yang sama.

Ah, ya. Sekadar saran. Tea for Two sama sekali tidak cocok untuk judul novel ini. Serius.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s