ini adalah upaya untuk bisa berdamai dan memaafkan diriku sendiri

Dalam beberapa tulisanku, cerpen-cerpenku, ada satu tokoh perempuan. Perempuan yang hatinya penuh carut dan luka. Perempuan yang memandang kehidupan dengan skeptis. Secara sadar, aku tahu aku menaruh ruhku ke dalam tokoh perempuan tersebut.

Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar. Sebab dalam lima tahun itu aku kehilangan banyak hal; waktu, uang dan masa depan. Semua hal yang menguras energi dan perasaaan. Tapi apa mau dikata, terkadang cinta membuta-tulikan diri kita.

Tak seperti luka yang ia timbulkan sebelum-sebelumnya, kali terakhir ini–ini harus jadi yang terakhir!–aku hanya menangis dua hari. Kali ini aku lebih sadar bahwa selama ini aku terlalu mengabdi padanya. Melupakan keluarga, melupakan teman-teman bahkan melupakan diriku sendiri.

Jauh sebelumnya aku sudah mengetahui ini. Aku pasti sudah tidak tertolong lagi, begitu pernah aku berkata karena ketika sedang bertengkar pun, aku masih sanggup memikirkan kepetingannya. Oleh sebab tidak akan ada yang menolongku, maka kali ini aku harus menolong diriku sendiri.

Kehilangan paling besar ketika membangun rumah pasir ini adalah kehilangan diriku sendiri. Kehilangan kesempatan untuk berbaur, kehilangan waktu sosial dan waktu untuk membahagiakan juga mengembangkan diri sendiri.

Cukup untuk bersedih. Cukuplah membangun Rumah Pasir yang keeksistensinya pun semu. Cukuplah mengabdi pada seseorang yang dengan mudahnya mengatakan; aku tak pernah menjanjikan apa-apa padamu. Cukuplah memikirkan orang lain. Mencoba menyenangkan orang lain. Bernafas dan hidup untuk orang lain.

Mungkin benar, bahwa kebahagiaan tidak ada di luar sana melainkan ada di dalam diri kita sendiri.

Semoga Aria yang sekarang, tidak akan memandang dunia dengan skeptis lagi. Memaafkan diri sendiri karena melakukan kesalahan besar selama lima tahun mungkin tak terampuni, tetapi aku, akan memiliki cinta untuk diriku sendiri, yang luar biasa banyak dan besar. Yang saking banyak dan besarnya aku bisa memberikannya kepada sesiapa yang ada di lingkaran hidupku saat itu.

Tetapi sungguh, jangan mengajakku membangun sebuah Rumah Pasir lagi. Itu pekerjaan yang melelahkan, terlebih, jika itu dilakukan seorang diri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s