Aku ingin menulis sesuatu. Itulah yang selalu aku pikirkan namun akhirnya tak pernah jadi apa-apa. Karena sejujurnya, aku muak terus menerus menulis tentang kesedihan. Aku tak pandai menulis, aku tahu. Aku hanya sok merasa bisa. Tulisanku tak lebih dari sekumpulan kata-kata runyam tentang kesedihan. Tentang betapa tak adilnya dunia ini.

Oh, sebentar, terserah kalau kalian merasa dunia ini adil.

Kembali ke keinginanku untuk menulis, mungkin aku hanya harus berusaha menggunakan imajinasi sedikit lebih keras dari yang seharusnya. Mungkin dengan usaha itu aku bisa menuliskan, misalnya, tentang sebuah kota yang hanya memiliki satu warna, yaitu kelabu. Sebuah kota di bawah gunung yang terus menerus menyemburkan awan-awab kelabu. Hingga suatu hari, pasangan suami-istri paruh baya berjalan ke atas gunung dan mengorbankan diri mereka.

Oke, kau benar. Ini kisah sedih lagi. Tetapi memangnya dalam kehidupan yang mana sebuah tragedi tidak pernah terjadi? Asal tahu saja, kisah Romeo-Juliet tidak akan abadi kalau bukan karena tragedinya. 

Dan seperti itulah aku harus menjalani kehidupan monotonku. Dengan tragedi. Pertemuan singkat yang membawa hidupku berujung nahas. Tetapi sudah berakhir. Sungguh kuharap sudah. Dan aku merasa senang karena bisa mewujudkan kesenangan-kesenangan untuk diriku sendiri alih-alih memikirkan kebutuhannya. 

Inilah bahanya orang yang insomnia. Mengoceh tak tentu arah. 

Aku memutuskan ke luar. Bulan sedang penuh. Bulat. Merah dan terang. Ia menoleh sesaat ketika aku duduk di selasar rumah tetangga, rumahku tidak memilikinya.

Sedang apa? Aku menyapa.

Memandu nelayan-nelayan penangkap udang. Mereka telah berdoa dengan tekun jadi aku harus menjaga mereka ketika di laut.

Ah, dewa-dewa lama, kataku. Boleh aku meminta tolong?, kataku lagi, kalau kau tidak terlalu sibuk, tentu.

Bulan merah itu menimbang-nimbang sebentar, lalu katanya, boleh saja kebetulan laut sedang tenang. Apa maumu?

Ini mungkin sepele untukmu, tapi aku hanya ingin tahu. Apakah kekuasaanmu sampai ke kota C? Bulan merah itu mengangguk. Oke. Lalu aku membisikkan sesuatu lebih spesifik. Ia sibuk sebentar, melihat ke segala arah. Bagaimana?, kataku, kau melihatnya?

Oh ya, pria yang paling tinggi itu pasti yang kau maksud. Aku tidak tahu apa yang sedang dilakukannya, menulis mungkin, tapi apa pun itu dia terlihat bahagia. 

Menulis masuk akal juga. Tapi terlihat bahagia bukan berarti benar-benar merasa bahagia bukan? 

Mungkin juga, Nona Muda, tetapi kenapa kau ingin tahu soal pria itu?

Aku hanya ingin tahu apa ia masih berada di tempatnya. Ia berhutang banyak padaku, dan aku tidak ingin dia kabur. Dia baru saja mematikan teleponku dengan, yah, agak menyebalkan. 

Mudah untuk merasa tidak terikat dan terbeban. Entah kenapa kali ini terasa mudah. Mungkin aku sudah mencapai batas. Tak ada lagi harapan di batas harapan yang telah kugantungkan. Tidak sekarang, tidak juga dulu. Memutuskan telepon tidak lagi kuanggap sesuatu yang pantas untuk kumasukkan hati.

Mungkin priamu itu salah satu demigod Aprhodite.

Aku tertawa mendengar lelucon bulan merah. Aphrodite ya, si Dewi Percintaan yang sama sekali tidak memiliki rasa hormat pada pernikahan, ikatan. Dia lebih cocok sebagai dewi perselingkuhan kurasa.

Tidurlah, anakku.

Aku ingin gerimis. Bisahkah kau mendatangkannya? Aku merasa kering.

Kembalilah ke kamarmu, aku akan meminta bantuan dewa-dewa lama untuk membuat tidurmu nyaman.

Kau baik sekali, kataku.

Tidak butuh waktu lama. Aku tidak dikuasi kebencian. Tidak juga perasaan sedih. Mataku lelah, dan aku terlelap dengan cepat.

Rumah Pasir


ini adalah upaya untuk bisa berdamai dan memaafkan diriku sendiri

Dalam beberapa tulisanku, cerpen-cerpenku, ada satu tokoh perempuan. Perempuan yang hatinya penuh carut dan luka. Perempuan yang memandang kehidupan dengan skeptis. Secara sadar, aku tahu aku menaruh ruhku ke dalam tokoh perempuan tersebut.

Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar. Sebab dalam lima tahun itu aku kehilangan banyak hal; waktu, uang dan masa depan. Semua hal yang menguras energi dan perasaaan. Tapi apa mau dikata, terkadang cinta membuta-tulikan diri kita.

Tak seperti luka yang ia timbulkan sebelum-sebelumnya, kali terakhir ini–ini harus jadi yang terakhir!–aku hanya menangis dua hari. Kali ini aku lebih sadar bahwa selama ini aku terlalu mengabdi padanya. Melupakan keluarga, melupakan teman-teman bahkan melupakan diriku sendiri.

Jauh sebelumnya aku sudah mengetahui ini. Aku pasti sudah tidak tertolong lagi, begitu pernah aku berkata karena ketika sedang bertengkar pun, aku masih sanggup memikirkan kepetingannya. Oleh sebab tidak akan ada yang menolongku, maka kali ini aku harus menolong diriku sendiri.

Kehilangan paling besar ketika membangun rumah pasir ini adalah kehilangan diriku sendiri. Kehilangan kesempatan untuk berbaur, kehilangan waktu sosial dan waktu untuk membahagiakan juga mengembangkan diri sendiri.

Cukup untuk bersedih. Cukuplah membangun Rumah Pasir yang keeksistensinya pun semu. Cukuplah mengabdi pada seseorang yang dengan mudahnya mengatakan; aku tak pernah menjanjikan apa-apa padamu. Cukuplah memikirkan orang lain. Mencoba menyenangkan orang lain. Bernafas dan hidup untuk orang lain.

Mungkin benar, bahwa kebahagiaan tidak ada di luar sana melainkan ada di dalam diri kita sendiri.

Semoga Aria yang sekarang, tidak akan memandang dunia dengan skeptis lagi. Memaafkan diri sendiri karena melakukan kesalahan besar selama lima tahun mungkin tak terampuni, tetapi aku, akan memiliki cinta untuk diriku sendiri, yang luar biasa banyak dan besar. Yang saking banyak dan besarnya aku bisa memberikannya kepada sesiapa yang ada di lingkaran hidupku saat itu.

Tetapi sungguh, jangan mengajakku membangun sebuah Rumah Pasir lagi. Itu pekerjaan yang melelahkan, terlebih, jika itu dilakukan seorang diri.

[Buku] Tea for Two


Judul               : Tea for Two

Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit     : Cetakan Pertama, Desember 2005

Halaman          : 116 hlm

ISBN               : 1097897922

Sinopsis           : Tea for Two adalah perusahaan mak comblang milik Sassy. Baginya, tak ada tanggung jawab dan kebahagiaan yang lebih besar daripada mempertemukan dua orang yang awalnya saling tak mengenal kemudian mengantarkan mereka pada kehidupan yang di idam-idamkan. PERNIKAHAN!

Hidup bahagia selama-lamanya. Begitulah moto Tea for Two yang terdengar manis. Tapi…..eits tunggu dulu!

Apakah benar pernikahan adalah satu-satunya jalan terindah bertabur bunga yang diimpikan dan dicita-citakan semua orang? Ternyata tidak semua orang menyikapi hal itu dengan kata setuju. Celakanya, pernikahan Sassy sendiri mengandung rangkaian rahasia kecil yang berbuntut menjadi kebohongan besar-besaran. KDRT, Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Semuanya diawali dengan romantisme yang menggebu dan berakhir dengan kekejaman tiada banding.

Resensi            : Saya hanya memberi tiga bintang dari lima bintang di goodreads karena beberapa hal. Kesatu, karena ada beberapa bagian dalam buku tidak nyaman dibaca karena EBI yang tidak sesuai. Kedua, buku ini jauh dari ekspektasi saya. Well, bukan salah penulisnya sih. Saya hanya mengira bahwa buku ini, berlatar belakang perusahaan mak comblang milik tokoh-Sassy terlebih Sassy sendiri mengalami pernikahan yang tidak bahagia-selamanya, kisah-kisah dalam buku ini akan lebih banyak dan beragam. Katakanlah, orang-orang yang Sassy bantu jodohkan lewat perusahannya, mengalami hal buruk dalam pernikahan lantas bersama-sama dengan Sassy mereka berusaha mencarikan solusi. Tetapi tidak. Sassy, si Pemilik Perusahan malahan yang menjadi korban.

Cerita di dalam buku ini terasa sangat mengawang-awang dan tidak masuk akal. Coba pikirkan, seseorang yang tidak percaya cinta membuka perusahaan perjodohan? Seorang yang tidak percaya cinta tapi dengan niat yang sangat mulia mencoba menemukan jodoh bagi orang-orang yang tidak memiliki kesempatan? Lalu tiba-tiba saja menikah dengan orang yang belum lama dikenalnya.

Yah, saya tidak tahu, mungkin saja ada yang setuju. Kalau sudah sreg, sama-sama cinta, sudah siap lahir-batin, kenapa mesti menunda-nunda? Yah, menikah saja kan tidak apa-apa toh? Ya, tidak ada yang salah memang. Jika, dan hanya jika, kita sudah mengenal seseorang tersebut dengan sangat baik. Tetapi hal ini tidak terjadi dengan Sassy. Sebagai dua orang yang akan menikah, tidak ada adegan dalam buku mereka saling memperkenalkan keluarga. Terlebih, tokoh-Alan nyata-nyata tidak ingin bertemu (berteman) dengan sahabat-sahabat tokoh-Sassy. Cinta membutakan sekaligus mengisi segalanya ya, Sassy?

Well, atau mungkin saya hanya tertipu endorse dari The Jakarta Post yang mengatakan bahwa Clara Ng menampilkan perempuan dalam berbagai wajah tapi nyatanya tidak. Ah, mungkin saya hanya sedang membandingkan buku ini dengan buku Sihir Perempuan. Salahku.

 Sebab ketiga, kabarnya, kisah dalam buku ini mirip dengan buku dengan tema serupa Love Me Better karya Rosalind B. Penfold. Ini yang sangat-sangat tidak bisa diterima. Saya membaca beberapa karya Clara Ng, dua yang paling saya sukai adalah Malaikat Jatuh dan Uttuki (Sayap Para Dewa). Saya juga menyukai beberapa karyanya yang lain. Tea for Two yang paling mengecewakan.

Nilai plus dari novel ini hanyalah, di mana tokoh-tokoh perempuan dalam novel (yang memang semua perempuan) tidak menyalahkan tokoh-Sassy sebagai sebab suaminya berselingkuh, melakukan tidak kekerasan atau atas tingkah lakunya yang aneh bin ajaib. Karena sepanjang yang saya tahu, di budaya kita, jika ada yang salah terhadap kehidupan rumah-tangga seseorang maka pihak tertuduh adalah perempuan. Suami kok bisa selingkuh? Enggak diurus kali di rumah? Kok bisa diperkosa? Dianya aja kali keganjenan, pakai baju minim, ngegodain? Kalimat-kalimat jahat yang keluar dari mulut-mulut jahat perempuan yang seharusnya mendukung. Semoga, siapa pun yang sudah membaca novel ini, akan jadi teman yang baik seperti teman-teman tokoh-Sassy jika orang terdekatnya mengalami hal yang sama.

Ah, ya. Sekadar saran. Tea for Two sama sekali tidak cocok untuk judul novel ini. Serius.

Anda Benar, Saya Memilih Nomor Dua!


Lagi-lagi grup whatsapp di ponsel saya dikirim broadcast-broadcast sampah!  Kenapa saya bilang sampah? Karena isinya tak lebih dari hasutan penuh kebencian.  Saya sudah mulai terganggu dengan bau sampah-sampah ini. Mual hingga muak, sekarang ini. Mula-mula soal Sari Roti. Betapa pendeknya akal mereka yang menyerukan hashtag boikot Sari itu. Pintar dikitlah, bos-bos besar kayak mereka mana ngaruh sama aksi semacam itu. Ente kira mereka cuma punya satu pemasukan? Kalau kayak gitu mana bisa mereka jadi kaya-raya!  Mikir, Bung!  Yang susah ya saudara-saudara kita yang kelasnya selevel kita ini. Dengan dungunya melabeli Sari Roti haram. Kalian meragukan MUI? Kan Sari Roti dapat label halal juga dari MUI? Mikir makanya!

Lalu, beberapa waktu yang lalu juga ramai beredar di sosmed tentang vaksin kanker Serviks. Mboknya kalau enggak paham tuh nanya. Ke Puskes kelurahan kek yang deket. ke Puskes Kecamatan yang menyalurkan vaksin tersebut meneruskan dari Pemda. Atau yang paling mudah googling! Saya sendiri langsung bertanya-tanya ke beberapa teman. Beruntungnya saya, memiliki teman dan kenalan-kenalan yang paham soal itu. Memang dasarnya kalau sudah benci, apa saja yang dilakukan yang dicari ya kesalahan-kesalahannya. Piknik, Mbak! Biar lingkungannya luas biar bisa nanya dan konfirmasi berita hoax seperti yang saya lakukan. Kalau Anda bodoh kan ya minimal teman-teman Anda tidak bodoh.

Dan masih banyak pesan kebencian berantai lainnya yang masuk ke ponsel saya. Ini membuat saya gelisah dan sungguh saya merasa sedih. Begitu mudahnya kita terhasut. Begitu mudahnya menebar kebencian. Lalu, satu dan lain hal yang mendorong saya untuk mengeluarkan uneg-uneg melalui tulisan adalah, tadi malam, seseorang yang saya kenal di komunitas menulis online. Belau dengan menggebu-gebu menuliskan betapa munafiknya kami-kami yang diam saja ketika ayat suci agama sendiri dihina. Lalu beliau menambahkan, Kira-kira begini: Baca Al-Quran aja enggak gimana bisa paham tafsir. Dan lain-lain.  Jujur, hati saya mencelos. Jadi maksud mbaknya, Gusdur itu enggak paham tafsir dan Al-Quran? GusMus juga?

Lagi pula, coba kita mundur sedikit. Jauh sebelum ada seorang Ahok. Negara ini sudah carut-marut karena korupsi. Sapi-sapi, Al-Quran, bahkan ada anggota dewan yang sudah dipenjara pun masih terima gaji. Enak betul kan, sudah korupsi milyaran, dipenjara, sudah tidak memnberikan kontribusi apa-apa bagi negara eh masih terima gaji pula. Siapa mereka? Pemimpin-pemimpin yang katanya muslim. Pemimpin-pemimpin yang beragama Islam. Pemimpin yang seharusnya amanah.

Kita sebut sajalah mereka oknum. Dan oknum inilah yang memuakkan bagi saya. Saya begitu antipati pada orang-orang di lingkungan kerja saya yang terus-menerus berteriak takbir hingga kalimat setuju jika presiden jatuh, sampai, yang belum lama ini saya dengar, menyandingkan kata bleguk dengan nama Gusdur. Di luar sana, oknum ini lantang bertakbir tapi di dalam, di keseharian, melihat oknum ini salat saja tidak pernah, alih-alih salat Jumat yang tidak boleh ditinggal tiga kali berturut-turut. Yang munafik siapa ya? Status FB-nya saja yang penuh dengan ayat-ayat dan menulis aamiin disetiap postingan fakir like, amin, dan komen semacam itu. Ia tidak sadar bahwa itu bentuk penipuan mutakhir di dunia sosial media.

Itu hanya satu elemen, soal salat yang notabene urusan masing-masing orang. Ini hanya biar adil saja. Masih ada kok soal yang lain. Tinggal ditanyakan ke diri masing-masing, sudah amanahkah Anda dengan komitmen pekerjaan Anda? Tujuh tahun bekerja di antara PNS. Saya tahu betul betapa brengseknya mereka. Betapa mau enaknya sendiri. Betapa mau mudahnya saja dan betapa mau benar sendiri. Saya mah apa atuh, cuma pegawai minoritas alias honor! Terus terang, saya senang dengan kehadiran pak Ahok. Beliau meluruskan persepsi bahwa PNS adalah pelayan bagi masyarakat karena pelayanannya itulah mereka digaji sangat layak, diberi tunjangan ini. Tunjangan itu. Konon beras dan kain batik pun ada anggarannya. Dengan loyalitas seperti itu sudah sewajarnyalah mereka bekerja dengan baik dan amanah. Seharusnya.

Tapi apa mau dikata, terbiasa hidup enak. Terbiasa menjadi raja-raja kecil. Dengan tunjangan, dengan gaji besar, dengan kendaraan dinas, dengan ruangan berpendingin udara, oknum-oknum berseragam ini malah asyik berngkongsi sesama mereka dan saling menutup borok.

Ayohlah, Bung. Kalau bukan karena politik, korupsi, bukan hanya rumahmu yang akan terang oleh listrik dan dialiri air PAM!

Perkara penistaan ini, secara pribadi saya berpendapat ini bukan masalah agama. Ini jelas masalah politik. Enggak usah tutup matalah, toh memang surah Al-Maidah 51 tersebut memang sering digunakan untuk mendiskreditkan pemimpin-pemimpin non-Muslim. Jangan-jangan yang teriak paling kencang itu mereka-mereka yang jam kerjanya bertambah, dituntut sesuai besar tunjangan yang di dapat, yang indispliner, yang aliran hibahnya dihentikan, yang tidak bisa lagi bermain kongkalikong di belakang. Barisan-barisan sakit hati, begitu.

Saya rasa saya tidak sendirian, tapi banyak orang di luar sana yang gembira karena akhirnya memiliki presiden yang begitu disayangi rakyatnya. Memiliki Gubernur jujur dan benar-benar membangun dan memberi apa yang rakyat butuhkan. Saya bukan warga DKI tetapi saya melihat betapa banyak perubahan yang sudah dilakukan pak Ahok, terlebih, saya secara pribadi berterima kasih, karena sekarang sayang memiliki penghasilan yang layak. Meski jurang antara PNS dan honorer itu tetap menganga. Kenapa? Karena kami selalu disindir, eh UMP cair tuh! yang artinya makan-makan dong! Padahal, klo tunjangan atau sertifikasinnya beliau-beliau ini cair langusng bisa beli motor satu atau untuk saya, bisa buat DP kredit rumah sekelas BTN. Mereka diam seribu bahasa, juga, kami tidak pernah iseng minta ditraktir. Honor yang harus tahu diri!

Ayolah, biarkan keadilan sosial itu dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Tidak hanya Jawa, atau Sumatera tetapi juga di pulau dan kota-kota lainnya. Semuanya bisa terwujud dengan pemimpin-pemimpin jujur yang tidak diintervensi pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan.

Ah, ya! Saya memang bukan warga DKI Jakarta, saya tidak bisa memilih paslon Ahok-Djarot meski pun ingin. Saya berKTP Tangerang, namun, saya tetap memilih nomor 2 untuk Rano-Embay!

Salam.

Semoga ada yang tercerahkan lewat uneg-uneg ini.

Lagu dan Cerita yang Mengiringnya #4


Love comes slow and it goes so fast

And you dive too deep

Let Her Go – Passenger

Let Her Go ini lagu lama sebenarnya, hanya saja, telingaku baru mengenalnya beberapa waktu belakangan ini. Musiknya yang lembut dan sendu membuatku nyaman mendengarkannya berkali-kali. Earworm istilahnya. Namun, perasaan nyaman itu semakin lama berubah jadi kelabu.

Sungguh,

Lirik-lirik dalam lagu ini membuatku tertegun. Perasaan terluka membayang seiring bait-bait lagu dinyanyikan. Kenangan dalam kepalaku bertabrakan lalu meledak. Menciptakan semacam pertanyaan-pertanyan yang tak pernah aku mengeti apa jawabannya.

Adalah cinta, muara dari segala sebab. Lesak di dada, rindu yang lebam, ingatan-ingatan yang memusuhi dirimu lebih banyak dan menolak untuk dilupakan. Mungkin benar, bahwa manusia adalah pengumpul segalanya. Si Penabah yang Bodoh.

Ialah aku.

Menimbun luka. Mengumpulkan kenangan. Memberi dengan percuma hanya untuk disia-siakan. Lalu membungkus semua itu seolah makhluk paling tabah. Aku menemukan diriku menangis dalam malam. Membaca sunyi yang terpantul-pantul  di dinding.

Tak ada jawaban. Tak pernah ada jawaban. Hanya ledakan tangis yang teredam. Mungkin sudah saatnya aku melepaskan.

Maybe one day you will understand why

Everthing you touch all it dies.

57f1dbc395605710e12c21b767d1431f

Note:

Yang mau dengar Let Her Go versi Cover sila klik Let Her Go – Boyce Avenue

Kita dan Ingatan-Ingatan yang Menguap


Suatu kali ketika kita bertamasyah, di antara hijau pepohonan kau pernah berkata,

Ke mana ingatan akan pergi ketika manusia mati? Apakah pohon-pohon menyerapnya? Apakah setelah mati aku akan ingat pernah mencintaimu?

Aku tak tahu harus menjawab apa. Hal itu tak pernah terpikir olehku. Kau tahu, selama hidupku aku yang selalu mengingat seseorang. Selama hidupku, akulah yang selalu repot dengan perasaanku sendiri. Karena itu aku tak pernah berpikir, apa jadinya dengan ingatan seseorang yang mencintaiku ketika orang itu sudah tak ada. Apa dalam ingatannya dia tetap mencintaiku?

Namun pertanyaan itu kau lontarkan ketika kita bersama. Saat ini, ketika tangan kita tak lagi bertaut, apakah kau masih peduli, apakah kau masih bertanya-tanya apakah ingatanmu mengingat ingatan kau pernah begitu mencintaiku?

Dengan catatan, kalau itu benar bisa disebut cinta. Benarkan, Ashta?

Bagaimana Aku Mengingatmu,


Gambar diambil acak dari google

Sore terasa amat sesak di ibukota. Terlampau riuh dan asing. Setiap kaki berjalan sendiri-sendiri. Setiap kata mengambang di udara. Dan hujan lebat memperparah perasaan sesak itu. Tetapi dadaku lesak oleh sebab yang berbeda.

Beruntung aku menemukan Di Antara–cafe kecil dengan nuansa hangat sebuah rumah– di belokan jalan, sebelum hujan ruah. Aku sama sekali tak berniat menjenguk masa lalu. Aku hanya muak dengan ibukota sore ini dan berniat menghabiskan The Mirror of Fire and Dreaming yang baru kubaca setengah. Tetapi yang kudapati ketika memandang ke luar cafe adalah perasaan nelangsa yang amat sangat. 

Mungkin karena hujan. Mungkin karena dua bangku kosong dan basah di bawahnya. Mungkin karena pepohonan hijau dan lorong jalan yang seolah tak berujung itu yang membuat air mataku mengambang di pelupuk.

Aku ingin menangis. Saat ini juga.

Diam-diam aku menyusut hidung. Membiarkan air mataku jatuh, lalu menghapusnya tanpa kentara. Kukira masa lalu telah jauh lindap dalam ingatan. Kukira, kenangan telah menguap dalam keseharian. Ah, atau mungkin ini hanya karena hatiku sekosong jalan di hadapanku sekarang. 

[Produk] 3S Berkebaya Ala Mien Uno dan Aplikasinya pada Bakmi Mewah


Senin, dua puluh lima April yang lalu saya menghadiri lauching Kebaya Peranakan untuk Indonesia yang diadakan Perhimpunan Kebayaku. Bertempat di The Maestro, Plaza Indonesia. Siang itu hall sudah dipenuhi banyak ibu-ibu berkebaya, para juru kamera juga wartawan. Dan, tak ketinggalan booth-booth dari PT Mayora Indah Tbk yang memanjakan lidah pengunjung sejak di pintu masuk.

 

image
booth Bakmi Mewah di acara Perhimpunan Kebayaku

 

Sebenarnya, jika menyangkut Mayora, saya lebih berharap Better Biscuit Sandwich-lah yang disajikan. Oh, siapa sieh yang enggak akan suka biskuit satu itu? Jujur saja itu adalah cemilan favorit saya sejak remaja. Tetapi tidak apa, karena Mayora memasang booth Roma Biskuit Kelapa yang rasanya juga luar biasa enak dan gurih. Apalagi ditambah kopi ataupun susu. Sayang, karena waktu itu saya tak sempat mencoba sebab ketika saya datang acara hampir di mulai.

Acara siang itu diisi beberapa talk show, salah satunya dari ibu Mien Uno yang memaparkan soal Kebaya Peranakan, juga rumus 3S ketika memakai kebaya.  Begini kira-kira katanya,

S pertama dalam peraturan mengenakan kebaya adalah Sederhana. Sebab kata bu Mien, kesederhanan justru menunjukkan kemewahan kebaya itu sendiri. Tidak perlu memakai sesuatu yang gemerlap atau pun terlalu banyak aksesoris. S yang kedua adalah serasi. Serasi antara pakaian dan prilaku. S ketiga adalah sopan.

Setelah bu Mien Uno selesai, acara berjalan cukup cepat disusul parade dari Bakmi Mewah dan peragaan busana kebaya dari tiga desainer. Selagi melihat peragaan busana itulah para chef dari dapur membawa mangkuk-mangkuk berisi Bakmi Mewah dan membagikannya kepada pengunjung.

 

image
Chef yang membagikan Bakmi Mewah kepada peserta launching

 

Anda semua sudah tentu tahu apa itu Bakmi Mewah. Iklan produk ini sudah sering muncul di televisi mungkin sejak Februari lalu. Di pasar-pasar modern pun sudah banyak promosi-promosi dalam rangka memperkenalkan produk dari Mayora ini. Ya, benar. Bakmi Mewah adalah satu lagi produk inovasi dari Mayora.

Bakmi mewah adalah mie cepat saji yang sehat karena tidak menggunkan MSG atau pun pengawet buatan. Selain kemasannya yang mewah—dengan box kotak berwarna hitam— Bakmi Mewah juga dilengkapi daging ayam serta jamur asli serta bumbu-bumbu lain seperti minyak, kecap, saus cabai dan daun bawang.

image
Bakmi Mewah dengan tampilannya yang mewah

Banyak yang mengatakan Bakmi Mewah seperti bakmi dari restoran salah satunya adalah Host dan Celebrity, Indy Barends, saya melihat isi mangkuk mie yang tadi dibagikan chef di tangan saya. Hanya satu kata. Sederhana. Dengan dua potong tomat dan selada di pinggir mangkuk. Tetapi saya mengingat apa yang dikatakan bu Mien Uno tadi bahwa untuk berpenampilan mewah justru adalah penampilan yang sederhana.

image
sederhana tapi mewah!

Yang pertama kali terasa adalah mie-nya yang kenyal dan lembut disusul rasa asin dari bumbu, potongan daging yang benar-benar asli juga jamur kancing yang tentu saja juga asli. Wanginya pun mewah dengan aroma minyak wijen. Pokoknya bebar-benar mewah dan enak. Serasi kalau kata bu Mien Uno tadi soal berkebaya. Saya sampai tidak begitu memperhatikan peraga busana yang melintasi hall. Namun, saya tidak menghabiskannya, mungkin karena porsinya yang lebih banyak dari mie instan atau pasta pada umumnya, juga karena saya tidak begitu suka asin. Untuk orang yang seperti saya, tetap bisa menikmati Bakmi Mewah tetapi dengan ditambah sedikit kuah karena dalam penyajiannya sebenarnya Bakmi Mewah tidak menggunakan kuah.

Kalau kamu masih penasaran dengan Bakmi Mewah kamu bisa buka link berikut http://www.bakmimewah.com/  atau kalau kamu penasaran sama rasanya, langsung aja datang ke mini market terdekat untuk membelinya. Harnganya juga murah kok. Sekitar Rp. 6.800 – Rp.9.000.

Tapi belinya nggak usah pakai kebaya ya, repot!

See a!

Halo, Aku di Masa Lalu


Halo,  Aria.

Kau mungkin tidak percaya, ini aku,  kau di masa depan. Ya ya. Aku tahu ini kedengaran tolol. Tapi kau harus percaya, aku benar-benar kau.

Begini, ada yang ingin kusampaikan.

Kelak di tahun 2011, kau akan bertemu seseorang. Seseorang yang kau kenal di situs kepenulisan. Seseorang yang menggelitik rasa penasaranmu, aku tahu. Tapi cukupkan sampai di situ.  Aku enggak melarangmu untuk datang ke pertemuan yang dibuat untuk menyambut kedatangannya itu.  Datanglah. Berkenalanlah dengan mereka. Mereka orang-orang hebat dan baik. Ada baiknya kau mengenal mereka.

Ingat perkataanku tadi soal rasa penasaran? Ketika pertemuan siang itu berakhir,  hilangkan segera rasa penasaranmu. Ambil jarak dari Sang Tamu. Bertemanlah seperti dengan yang lainnya. Jangan terlalu peduli dan jangan melibatkan perasaanmu.

Ini penting, Aria, karena ini menyangkut aku,  kau di masa depan. Ini menyangkut kita. 2011 adalah masa yang rawan.  Aku tahu kita sedang berjuang untuk lulus. Dan perasaan patah hati adalah hal terakhir yang kau perlukan. Ini serius.

Ini mungkin kau pikir konyol, bagaimana mungkin kita bisa jatuh hati kepada seeorang yang kau kenal hanya dalam beberapa waktu. Kepada seorang asing yang baru muncul. Percayalah ketika orang itu mengatakan bahwa hubungan kalian bukan apa-apa dan kau tidak perlu merasakan apa-apa karena waktu bersama kalian yang tak seberapa itu,  kau akan tahu bahwa kau enggak  menganggap semua ini konyol.

Aku tahu rasanya, Aria. Dan aku enggak ingin kau merasakannya juga. Aku ingin menyelamatkanmu dari rasa sakit yang akan terus kau terima sampai lima tahu ke depan sejak hari itu. Setelah kau sadari,  semuanya sudah akan sangat terlambat.

Aku tahu kau merasa bahagia,  tetapi,  Aria,  kebahagianmu tak sebanding. Akhirnya,  aku berharap kita bisa bertemu di masa depan tanpa hati yang lembam atau pun penuh carut.

Aria di masa depan.
09042016
19:30

Lagu dan Cerita yang Mengiringnya #3


Be your number one

Be your everything

I can take so much

Human – Christina Perri

Perasaanku sedang tidak baik ketika aku menulis. Maka sembari bekerja, aku memutar lagu-lagu akustik di pc-ku. Human terputar di nomor kedua. Aku tidak begitu mengikuti lagu-lagu baru. Aku jarang mendengarkan radio atau sesuatu yang membuatku update dengan hal-hal seperti itu. Tapi bukan itu yang ingin aku ceritakan.

Apa jadinya seseorang, yang telah berusaha keras untuk membahagiakan seorang yang lain karena hal itu juga membuatnya bahagia?

Kesalahan seperti apa yang tak termaafkan? Cinta seperti apa yang tak bisa dilupakan? Aku begitu pantas dikasihani sebab tak tahu apa beda keduanya. Aku begitu menyedihkan karena bersama seseorang yang tak pernah bisa kumiliki.

Apa yang kutahu dari semua ini? Apa yang pantas kutangisi seperti ini hingga dadaku terasa sakit? Apaku yang bermasalah? Hah?

Bersama seseorang yang bahkan nggak bisa dimiliki! Berebut dengan perempuan lain. Mencintai seseorang yang mengingat perempuan lain, satu-satunya perempuan, ketika dalam keadaan sakit dan lemah. Perempuan lain dan bukan kau yang selalu ada untuknya! Aku ingin merasa baik-baik saja tetapi Human membuatku merasakan rasa sakit yang telah begitu akrab di dada.

Rasa sakit dari perasaan yang sama. Rasa sakit dari lelaki yang sama.

-||-

Langit di luar gelap. Aku sendirian di kantor. Perasaanku masih sakit dan aku tidak mau air mataku tiba-tiba jatuh hanya karena aku memikirkannya. Tidak. Tidak di tengah keramaian. Aku memilih tinggal.

Untukmu, entah berapa lama aku sedia tinggal. Toh tak  ada masa depan bagi kita. Ini terasa makin menyakitkan karena kukira bakal ada. Pernikahan? Baik itu secara agama maupun negara adalah tidak mungkin bagi kita. Aku ingin berhenti, tapi bersamamu aku merasa bahagia.

Bagaimana ini Ashta?  Haruskan kutahankan semua hingga aku muak?

But, I’m only human. Just a little human