Perindu dan Pecemburu Paruh Waktu


#30harimenulissuratcinta

Abang,

Begitulah selalu pesanku ketika memulai percakapan denganmu. Aku selalu menggunakan tanda koma setelah memanggilmu. Pernahkah abang bertanya kenapa? Tanda koma itu sebagai tanda bahwa aku merindukanmu, aku ingin bicara denganmu meski tak tahu apa yang ingin aku bicarakan. Singkatnya, aku hanya ingin mendengar suaramu.

Suaramu? Lucu ya? Bangaimana percakapan lewat tulisan bisa merupa suara. Tapi ya, begitulah, aku serasa bisa mendengar suaramu secara langsung. Bukan hal yang ajaib bukan? Toh aku memang selalu mendengar suaramu dalam rekaman lagu maupun pembacaan puisi kita.

Ini 14 Februari, Abang, yang sampai hari ini aku tidak tahu kenapa orang-orang meributkannya sebagai hari kasih sayang. Yang aku tahu, 14 Februari banyak menyimpan sejarah tragedi. Sebuah hari yang banyak menumpahkan darah.

Tetapi merayakannya dengan menulis sebuah surat adalah hal yang berbeda. Dan aku menuliskannya untukmu.

Abang, aku cemburu. Aku setengah mati penasaran dari siapa kau menerima buku-buku itu. Aku menebak satu nama tetapi tak ingin memperkeruh keadaan di antara kita dengan menkonfirmasinya. Aku dan dia sudah lama tak saling bicara. Dia bilang, dia menguninstall aplikasi bbm-nya. Aku pun tak berani bertanya padamu. Kau menyukainya, aku tahu. Dan kalian berdua tahu aku menyukaimu. Ini membuat perasaanku tidak enak.

Sebenarnya, aku sudah tahu kau sudah meminta padanya, tetapi dia menolakmu. Saat aku tahu soal itu, aku   tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Aku terguncang antara tidak tahu harus bersedih atau bersyukur. Meski aku menyukaimu, aku juga berharap kau bersama seseorang. Bukankah sering kukatakan untuk membiarkan seseorang masuk ke hatimu?

Aku senang kau melakukannya, meski itu bukan aku. Entah bagaimana, tetapi, aku pasti bisa mengatasi hatiku sendiri. Saat ini, kuminta kau bersabarlah menghadapi aku. Kita terpisah jarak begitu jauh. Meski terjangkau namun tak bisa kita lipat. Cukuplah itu menjadi alasan.

Hari ini izinkanlah aku mengatakannya sekali lagi; aku menyukaimu

dari teman duet membaca puisimu,

Aria.

Iklan

Kesempatan Terkubur, Mimpi Tertunda


#30harimenulissuratcinta

Bung Dedik Priyanto.

Entahlah, apakah meminta maaf membantu?

Pastilah sudah setahun berlalu sejak kau menawariku membuat sebuah novel dan menyakinkanku agar novel itu nantinya bisa terbit di tempat kau bekerja sebagai editor saat ini. Kau pasti kecewa. Aku juga. Draft novel yang kita bicarakan itu terhenti di bab ke-7 dan teronggok sama seperti terakhir kali aku melihatnya, entah beberapa waktu yang telah lalu.

Kabarnya kau adalah editor yang galak sekaligus juga baik. Kau mengarahkan penulis-penulismu, membantu mereka menemukan solusi-solusi. Kau bukan tidak pernah menawarkan itu padaku. Kau pernah. Dan aku melewatkan saja deadline yang kau tetapkan. Itu mungkin membuatmu merasa masa bodoh sekarang. Tetapi percayalah, sesungguhnya aku takut. Topik yang kutulis, aku takut mengungkapkannya. Aku tidak tahu mengapa. Tetapi cukuplah aku tahu, bahwa benarlah, menulis adalah pekerjaan yang membutuhkan keberanian. Kata Pram, kalau tidak salah.

Bung, ah, sebenarnya aku kan memanggilmu abang. Bang Dedik, kalau suatu hari aku menyelesaikan naskahku, maukah kau membacanya? Ya, baca sajalah dan berikan tanggapanmu. Sekarang ini aku tidak terlalu bernafsu untuk mencetak namaku di sebuah buku lalu menandatanganinya. Aku masih perlu banyak belajar. Kau tidak perlu khawatir, aku masih menulis, cerita-cerita pendek yang tidak begitu memerlukan energi yang luar biasa. Tetapi aku masih menulis, itu yang terpenting. Kau tahu alamat blogku kalau kau ingin mampir.

Bang Dedik yang baik, jangan marah padaku, tetapi kecewalah. Hanya kecewa. Hingga kau bisa memberiku kesempatan lagi nanti ketika aku sudah siap. Kau tahu, berkenalan denganmu adalah serendipty. Maka benarlah,  bahwa seseorang adalah perpanjangan tangan tuhan. Aku akan mengerahkan keberanianku untuk menengok lagi naskah itu. Berkati aku.

Kau sibuk. Jaga-jagalah kesehatanmu.

Salam,

Aria.

Dear, G


#30harimenulissuratcinta

Teman kecilku, Gery.

Hai, apa kabarmu?
Mungkinkah kita masih bertetangga? Maksudku, apa rumahmu masih di sebelah rumah nenekku? Bertahun kita tak pernah lagi bertemu, sejak terakhir kepulanganaku ke kampung halaman. Kita tak pernah berkabar. Tak pernah pula masing-masing berusaha mencari tahu.

Kita menjadi asing, seperti kau yang selalu asing sejak dulu.

Aku tidak yakin apakah selama setahun aku tinggal bersama nenekku kita pernah berteman atau tidak. Kita pernah bicara atau tidak. Kau anak yang penurut dari ibu yang sangat disiplin. Pagi-pagi kau pergi sekolah bersama adikmu, Gita. Sepulang sekolah kau mengerjakan pe-er dan tidur siang. Sementara aku, anak perempuan yang seperti lelaki. Yang selalu diam-diam kabur dari jam tidur siang untuk bertualang, mencari rumpun markisa liar dan piring-piringan sebagai tawanan dalam kotak korek api.

Kau teramat pendiam. Aku teramat tak bisa diam.

Kita hanya bertemu ketika sore. Itu karena semua anak seusia kita berkumpul di jalan sempit di depan rumah-rumah kita. Ibumu mungkin tak tega terus menahanmu, maka ia biarkan kau bermain bersama kami. Tapi kau terlanjur menjadi pendiam. Tak seperti anak-anak lain, aku menjadi segan untuk menyapamu, sebagai gantinya aku hanya menyapa adikmu.

Kita hanya diam-diam saling memandang.

Aku ingat, karna rasa segan itu, aku kadang menolak ketika diminta nenekku untuk memanen terong susu di kebun samping rumah. Kebun yang berbatasan dengan rumahmu. Rumah kita yang tak berpagar memberikan akses penglihatan tembus pandang. Aku merasa kikuk karna tahu, saat aku sedang di kebun kau pun ada di sana, di tepi jendela kamarmu, mengerjakan entah apa.

Lagi-lagi kita hanya saling memandang dalam diam ketika mata kita bersirobok.

Gery, bagaimana rupamu sekarang? Kutebak alismu yang hitam dan tebal itu sudah tentulah menjadi magnet tersendiri. Aku tidak tahu kenapa, ketika dewasa seperti sekarang ini, aku sangat menyukai alis. Aku selalu berpendapat bahwa laki-laki dengan alis yang tebal itu menggemaskan. Ah, aku tahu, mungkin itu gara-gara kamu. Gara-gara alismu yang kulihat ketika kecil. Hahahaha.

Kau ingat aku Gery? Mungkin tidak. Aku tumbuh menjadi gadis yang biasa saja. Rata-rata. Kau mungkin tak akan menyangka, aku yang dulu kecil. Paling kecil di antara kalian, sekarang menjadi gemuk ketika dewasa. Ini menyebalkan sieh, mengingat aku dulu kecil sekali, dan rasanya susah sekali untuk menurunkan berat badan sekarang. Tapi ya sudahlah. Ini toh tetap aku, yang kenang-kenangannya masih kusimpan dengan teguh.

Gery, menurutmu masihkah garis hidup kita bersilangan? Masih adakah kamu, kelak, ketika aku memutuskan akan pulang? Berdiri dengan malu-malu, digoda teman-teman kita yang lain, seperti kepulanganku yang terakhir?

Temanmu,

Aria.

Hai, bli…


#30harimenulissuratcinta

Putu Aditya Nugraha

Hai, bli
Ini hari keempat, dan aku begitu saja terpikir untuk mengirimimu sebuah surat, yang mungkin isinya penuh ke-sok-tahuan.

Kenapa aku memperhatikanmu?
Jawabannya karena segala hal yang berbau Bali menarik minatku. Bukan apa-apa. Ini karena ada seorang pria di Tabanan sana yang sapanya selalu kutunggu. Gara-gara dialah, aku menyukai Bali meski kotamu itu belum pernah kudatangi sekali pun.

Aku bukan followers fanatikmu, aku memfollowmu hanya karena aku salah satu penggerak Malam Puisi di suatu kota. Tetapi baru belakangan ini aku memperhartikanmu. Memperhatikan tweet-tweet yang kautulis berupa puisi pendek.

Kau persis Pria Tabanan-ku dulu, sewaktu pertama kali aku mengenalnya dan ini membuatku berpikir, apa pria-pria di Bali selalu punya masalah dengan hati. Tinggal di tempat yang indah tetapi hati penuh duka.

Atau, kaumemang tipe penyair yang merawat luka agar bisa terus berkarya? Aku membaca Hujan, Genangan Kenangan-mu dan merasa terenyuh. Kautahu? Bahkan dadaku ikut terasa sesak. Benarkah itu juga yang kaurasakan ketika menulisnya? Atau aku hanya berlebihan dalam merasa. Tak tahulah, bli.

Pada waktu yang telah lalu, aku juga membaca Infeksi-mu, rekamannya ada di soundcloudku. Mungkin kau tidak mendengarnya, meski aku sudah memberitahumu. Tak masalah, karna sesungguhnya, rekaman itu aku tujukan untuk seorang pria masa lalu, seorang pria yang membuatku jadi pandir kalau boleh meminjam istilahmu. Ditulisan itu, perasaanku terhadap pria itu sama persis dengan yang kautulis.

Itu lima bulan yang lalu, bli.
Dan aku tidak lagi membiarkan infeksi menjalar-menjalar lebih luas dan memakan tubuhku. Perasaanku. Aku tak lagi menjadi penuh dendam meski kehilangan dan kesedihan masih memilikiku.

Bagaimana denganmu? Tak inginkah kau mengamputasi infeksi-infeksi itu? Atau sebenarnya kau tak seterluka itu. Seperti yang kukatakan di awal, aku mungkin hanya sok tahu. Terlepas dari semua itu, aku menikmati puisi-puisimu.

Salam.

Empat Amplop Persegi Berisi Puisi


#30harimenulissuratcinta

Zahra al Syifa,
Apa kamu tahu bahwa ayuklah yang memberikan nama itu padamu? Namamu yang sebelumnya, mungkin sudah kamu lupa karna nama itu diberikan oleh ayahmu. Ayah yang sekarang entah ada di mana.

Ini pesan ayuk yang pertama, hormat dan sayangilah ayahmu sekarang. Tumbuh besarlah menjadi anak yang baik di bawah pengawasannya. Kelak, jagalah ia ketika tubuhnya kepayahan oleh renta.

Zahra, empat tahun kehadiranmu di dunia kamu habiskan bersamaku. Kamu ingat? Ayuk ingat betul, ketika kamu selalu merengek ingin ikut ke tempat kerjaku. Saat aku terlambat pulang dan kamu sudah tidur di kamar uwak dan bagaimana ketika tengah malam kamu terbangun dan minta pindah ke kamarku. Kamu yakin aku sudah pulang dan kamu ingin tidur di sampingku.

Aku menjagamu sedemikian rupa. Membuatkanmu susu, memandikan dan menganti bajumu. Memelukmu. Mengajarkanmu mengenal angka dan huruf. Memberitahu padamu nama warna-warna.

Saat ini, ketika kamu sudah bisa membaca, sudah hidup normal bersama keluarga barumu. Kamu masih saja datang padaku, memintaku membantu mengerjakan pe-er sekolahmu. Bertanya soal apa yang tak kamu tahu padaku.

Asal tahu saja, kamu murid yang menyebalkan ketika sedang diajarkan bahkan ketika kamu masih kecil. Hahahaha.

Tetapi aku senang. Beberapa waktu lalu, aku menuntunmu menyelesaikan pe-er mengarangmu. Kita bersenang-senang dan mengkhayalkan banyak hal dari sebuah gambar lalu membuatnya untuh menjadi sebuah cerita lima paragraf. Awalnya kamu malas. Cara mengajar yang salah memang akan membuat anak-anak sepertimu menjadi tidak menyukai Bahasa Indonesia.

Zahra, ini pesan ayuk yang kedua. Rajin-rajinlah membaca. Kamu nggak akan percaya dengan apa yang akan kamu temui dengan membaca. Baca apa saja, tak usah pilih-pilih. Apalagi kalau kamu benar-benar ingin menjadi dokter. Aku tak akan mewarisi buku-bukuku kepadamu, tapi kapanku kamu mau kamu bisa mengambil satu untuk kamu baca. Atau kamu bisa meminta padaku, jika ada buku yang ingin kamu beli.

Zahra yang cantik tetapi yang selalu aku ledek bahwa rambut ikalmu itu jelek. Kamu harus tahu, dulu, ayuk pernah diam di salon selama empat jam untuk membuat rambutku seperti rambutmu. Jadi, tenang sajalah. Banyak yang iri dengan rambutmu itu.

Kamu mengejutkanku. Selang berapa hari setelah kita belajar mengarang, kamu memberiku amplop persegi yang kamu buat dari kertas origami hitam. Kamu kreatif. Kamu memintaku membuka amplop itu dan berkata malu-malu bahwa kamu membuat sebuah puisi untukku.

Aku membacanya dan merasa senang. Aku mengajarimu dan kau membalasku dengan memberiku bait-bait puisi. Puisi anak-anak yang polos tanpa kata-kata rumit. Tanpa makna terselubung.

Ayuk sudah menerima empat puisi dalam amplop persegimu. Keempat-empatnya sudah kubaca. Aku jadi bertanya-tanya, kapan kiranya kamu akan memberiku amplop origami berisi puisi lagi.

image

Penuh cinta,

Ayuk.

Kepada Lelaki Masa Lalu


#30harimenulissuratcinta

Apa kau tahu perkataan memuakkan yang sering kau lontarkan setelah jarak menjadikan kita orang asing? Ya, kau benar. Kau bahagia? Itulah yang selalu kau tanyakan. Itulah yang selalu kita tanyakan. Seolah kebahagian kita masih bergantung satu sama lain. Seolah kau khawatir aku tak bahagia setelah tak bersamamu setelah kau menyakitiku seperti itu. Itukah rasa bersalah? Kau tak akan pernah mengakuinya. Aku tahu.

Kau Lelaki Masa Lalu dan aku adalah Perempuan Pendendam. Karenamu aku mengutuk semua waktu yang sekarang membeku dalam ingatan kita masing-masing. Atau hanya ingatanku. Tak tahulah.

Tetapi, itu dulu.

hari ini ketika aku menuliskan surat ini untukmu, kau tahu, aku benar-benar telah berhenti peduli. Aku tak pernah lagi menggugatmu untuk kemalangan-kemalangan yang kualami karenamu. Hari ini, kemarin, dan jauh hari yang lalu. Aku sudah berpikir bahwa kau lelaki yang tak bertanggung jawab. Kau persis yang digambar sebuah kata : Lothario. Kalau kau ingin tahu apa artinya cobalah berkunjung ke sini http://www.urbandictionary.com/define.php?term=lothario Kau mungkin akan terkejut, aku tidak. Karena kau benar-benar nyata.

Aku merasa lucu karena baru sekarang ini aku menemukan kata yang benar-benar tepat untukmu. Bukankah nama itu lebih bagus dari nama kuberikan padamu? Hahaha. Aku bercanda.

Kau adalah lelaki masa lalu, maka tetaplah begitu. Kumohon, jangan muncul jika kau hanya ingin membuat hidupku hancur untuk yang kedua kalinya. Berbahagialah seperti yang seharusnya dengan siapa pun kau di sana. Jangan juga mendoakan kebahagianku di sini. Aku pun akan melakukan hal yang sama. Hingga tak akan pernah lagi terlontar pertanyaan; Apa kau bahagia?.

Malam Dimana Kita Memilih Kancing-Kancing


: Dini

Rasanya sudah lama sekali kita tak berkirim kabar. Kamu baik? Ah, apa kabar juga ibu? Semoga kalian baik-baik saja.

Rasanya juga sudah lama sekali dari malam saat kita bersama-sama merecoki koleksi kancing-kancing baju di ruang jahit ibumu. Adalah perjalanan yang akan selalu aku rindukan. Tak ada hal yang sama persis terjadi dua kali sebab itu kenangan menjadi berharga pun liburanku ke kotamu saat itu.

Apa aku sudah pernah memberitahumu sebelumnya? Selain di flash fiction yang kamu baca di wordpress-ku itu, sejak setahun lalu sebenarnya aku sedang membuat sebuah cerita, menyoal Bali, karna itu nama-nama tokohnya pun aku ambil yang bernuansa Bali. Made, Adnyana, Sekar dan dua nama umum Dini dan David. Hihihi. Benar. Aku menggunakan namamu. Dan sebenarnya lagi, cerpen itu memang dibuat untuk kalian, yang namanya kugunakan. Hufffft. Tapi sampai hari ini cerpen itu belum juga selesai. Aku juga sedang menyelesaikan deadline lain. Doa kan aku yaa?

Lalu bagaimana kuliahmu? Jadilah analis gizi yg handal, Din 🙂 Cowok yang kamu taksir itu? Eehh, mobil apa yang dia pakai? Hahahaha.

Baik-baiklah kamu di sana. Oiy, coba arange jadwal kopdar KBC siapa tahu aku bisa ke sana lagi :3

Salam
.
.
.
Aria__


: Kami

Ngomong-ngomong aku tahu Demeter adalah dewi bumi tapi aku nggak tahu kenapa kamu menamai dirimu sediri seperti itu?

Well, aku sepertinya nggak perlu bertanya kabar kan? Karna foto-foto yang kamu bagi di akun fb-mu cukup mewakili kalau kamu baik-baik saja. Tapi apa Padang terasa menyenangkan? Nggak kangen Jakarta? :p

Harusnya kamu lebih lama di sini, jadi kita nggak hanya bisa berkeliling toko pernah-pernik. Aku bisa mengajakmu ke kedai es krim. Mengelilingi museum atau melihat pertunjukan di planetarium. Sayang sekali kan? Ah ya, aku cuma mengiming-imingi sieh. Hahaha.

Ngomong-ngomong ada yang ingin kuakui, sekiranya kamu sudah tahu pun, tetap aku ingin mengatakannya. Barangkali ini perkara yang sepele tapi kadang hal yang sepele bisa jadi masalah besar nantinya. Begini, Kami, sudah lama, aku lupa kapan persisnya, aku nggak mengfollow lagi akun twitermu. Alasannya pun sepele saja. Bisa jadi terdengar kekanakan. Eva mungkin sudah sedikit menceritakan padamu, perihal aku dan yaa kamu tahulah siapa. Aku hanya nggak tahan melihatnya. Kamu akrab dengan mereka berdua. Tweetmu yang berbalas dengan mereka sering muncul di linimasaku. Terus terang, aku menghindari kontak apapun dengannya. Itu akan lebih baik buatku. Semoga kamu nggak keberatan dan perihal follow-menfollow ini tak menjadi masalah.

Itu saja.

Salam
.
.
.
Aria

Ps : sabar-sabarlah menunggu kartu pos-mu.

Si Peri Ceria


: Eyi

Aku lupa apa yang pertama kali kita bicarakan pada perkenalan pertama. Hanya saja aku ingat betul, kamu adalah Eyi si Peri Ceria sementara aku, Aria si Peri Mati. Betapa anonim kita begitu bersebrangan.

Selama ini yang kutahu, fanspage fb-ku berisi teman-temanku sendiri. Aku bertanya-tanya dari manakah kamu datang. Sebagai orang asing, kamu mencuri perhatianku. Hingga akhirnya mengakrabkan kita pada panggilan kakak-adik.

Ey, sebagai orang yang akrab sekali dengan kehilangan, sejujurnya aku takut–namun sudah mempersiapkan diri–jika suatu saat nanti kamu nggak lagi memanggilku kakak. Atau kamu nggak lagi memintaku datang ke kotamu, agar kita bisa bertemu. Aku menjanjikan pertemuan. Kamu menjanjikan mengajakku mengitari kota juga melihat kebun kecilmu. Aku ingin datang. Aku akan datang, Ey.

Aku juga minta maaf karna belum mengirimkan buku yang kujanjikan akan kuberi padamu. Mungkin waktunya memang belum tepat. Kamu bersabar sajalah.  Ya? 🙂

Jadi, apa yang sedang kamu kerjakan di sana? Kamu nggak mau menunjukkan gambar tanganmu sama kakak, Ey? Sudah jadi arsitekkah kamu? Percayalah, ada doa untukmu.

Teruslah jadi ceria. Kamu anak yang baik dan penyayang. Hei, jangan sungkan. Sms kakak kalau kamu mau bercerita, okeey?

Salam
.
.
.
Aria__

dibuat pada pukul sepuluh di hari Kamis


: @pipokom

Hei, David yang-baik-hati-tapi-saking-baiknya-cuma-dianggap-temen-doang :))

Jadi gini,
.
.
.
Mikir mau nulis apa
.
.
.
Eng–
.
.
.
Oh, okeey. Sebenernya aku juga nggak tahu mau nulis apa. Yang jelas bukan surat cinta sieh, Dav. Jangan ngarep yaak! *dikepruk*

Aku cuma baru memulai menulis surat, kemarin, itu artinya kamu orang kedua yang kukirimi. Apa itu cukup membanggakan? *apa sieh*

Well, surat ini pada akhirnya hanya berisi ucapan terima kasih. Kamu tahu, soal Kiara, aku cuma berdiskusi sama kamu. Aku sama sekali buta soal proses menerbitkan buku atau lomba-lomba. Aku belajar menulis. Aku menulis tapi selama ini aku nggak pernah mengirimnya untuk lomba apapun. Ajakanmu untuk menulis duet waktu itu hal yang baru dan luar biasa bagiku. Kita menciptakan Alea dan Rayi. Meski kita pada akhirnya gagal 😀

Hei, kamu harus mengajakku lagi untuk mengikuti lomba-lomba ya! Atau, bagaimana kalau kita menghidupkan kembali #Kamisan (?)

Oiy, terima kasih juga untuk gambar karakter Kiara. Gara-gara gambar itu aku menyelesaikan bab 1-ku dengan baik. Aku khawatir sieh, sebab dewan redaksinya penulis nomine KLA. Aku seteres jadinya, Dav 😐

Eh, apa gambar Aksan sudah selesai? Aku penasaran seperti apa Suta ketika kamu hidupkan dalam gambar. Hahaha.

I will see

Aria__