Perindu dan Pecemburu Paruh Waktu


#30harimenulissuratcinta Abang, Begitulah selalu pesanku ketika memulai percakapan denganmu. Aku selalu menggunakan tanda koma setelah memanggilmu. Pernahkah abang bertanya kenapa? Tanda koma itu sebagai tanda bahwa aku merindukanmu, aku ingin bicara denganmu meski tak tahu apa yang ingin aku bicarakan. Singkatnya, aku hanya ingin mendengar suaramu. Suaramu? Lucu ya? Bangaimana percakapan lewat tulisan bisa merupa…

Iklan

Kesempatan Terkubur, Mimpi Tertunda


#30harimenulissuratcinta Bung Dedik Priyanto. Entahlah, apakah meminta maaf membantu? Pastilah sudah setahun berlalu sejak kau menawariku membuat sebuah novel dan menyakinkanku agar novel itu nantinya bisa terbit di tempat kau bekerja sebagai editor saat ini. Kau pasti kecewa. Aku juga. Draft novel yang kita bicarakan itu terhenti di bab ke-7 dan teronggok sama seperti terakhir…

Dear, G


#30harimenulissuratcinta Teman kecilku, Gery. Hai, apa kabarmu? Mungkinkah kita masih bertetangga? Maksudku, apa rumahmu masih di sebelah rumah nenekku? Bertahun kita tak pernah lagi bertemu, sejak terakhir kepulanganaku ke kampung halaman. Kita tak pernah berkabar. Tak pernah pula masing-masing berusaha mencari tahu. Kita menjadi asing, seperti kau yang selalu asing sejak dulu. Aku tidak yakin…

Hai, bli…


#30harimenulissuratcinta Putu Aditya Nugraha Hai, bli Ini hari keempat, dan aku begitu saja terpikir untuk mengirimimu sebuah surat, yang mungkin isinya penuh ke-sok-tahuan. Kenapa aku memperhatikanmu? Jawabannya karena segala hal yang berbau Bali menarik minatku. Bukan apa-apa. Ini karena ada seorang pria di Tabanan sana yang sapanya selalu kutunggu. Gara-gara dialah, aku menyukai Bali meski…

Empat Amplop Persegi Berisi Puisi


#30harimenulissuratcinta Zahra al Syifa, Apa kamu tahu bahwa ayuklah yang memberikan nama itu padamu? Namamu yang sebelumnya, mungkin sudah kamu lupa karna nama itu diberikan oleh ayahmu. Ayah yang sekarang entah ada di mana. Ini pesan ayuk yang pertama, hormat dan sayangilah ayahmu sekarang. Tumbuh besarlah menjadi anak yang baik di bawah pengawasannya. Kelak, jagalah…

Malam Dimana Kita Memilih Kancing-Kancing


: Dini Rasanya sudah lama sekali kita tak berkirim kabar. Kamu baik? Ah, apa kabar juga ibu? Semoga kalian baik-baik saja. Rasanya juga sudah lama sekali dari malam saat kita bersama-sama merecoki koleksi kancing-kancing baju di ruang jahit ibumu. Adalah perjalanan yang akan selalu aku rindukan. Tak ada hal yang sama persis terjadi dua kali…


: Kami Ngomong-ngomong aku tahu Demeter adalah dewi bumi tapi aku nggak tahu kenapa kamu menamai dirimu sediri seperti itu? Well, aku sepertinya nggak perlu bertanya kabar kan? Karna foto-foto yang kamu bagi di akun fb-mu cukup mewakili kalau kamu baik-baik saja. Tapi apa Padang terasa menyenangkan? Nggak kangen Jakarta? :p Harusnya kamu lebih lama…

Si Peri Ceria


: Eyi Aku lupa apa yang pertama kali kita bicarakan pada perkenalan pertama. Hanya saja aku ingat betul, kamu adalah Eyi si Peri Ceria sementara aku, Aria si Peri Mati. Betapa anonim kita begitu bersebrangan. Selama ini yang kutahu, fanspage fb-ku berisi teman-temanku sendiri. Aku bertanya-tanya dari manakah kamu datang. Sebagai orang asing, kamu mencuri…

dibuat pada pukul sepuluh di hari Kamis


: @pipokom Hei, David yang-baik-hati-tapi-saking-baiknya-cuma-dianggap-temen-doang :)) Jadi gini, . . . Mikir mau nulis apa . . . Eng-- . . . Oh, okeey. Sebenernya aku juga nggak tahu mau nulis apa. Yang jelas bukan surat cinta sieh, Dav. Jangan ngarep yaak! *dikepruk* Aku cuma baru memulai menulis surat, kemarin, itu artinya kamu orang kedua…