Bandung dalam satu malam


Kali ini aku melakukan perjalanan berkereta sendirian lagi. Setelah ke Cirebon, Bandung, tujuanku kali ini, aku lebih percaya diri. Terlebih sebelumnya aku sudah pernah melakukan hal yang sama bersama teman-teman.

Pukul 17:29
Aku sudah berada di terminal bus Lewi Panjang, di dalam bus yang akan membawaku kembali pulang ke rumah.

Aku tak membeli oleh-oleh. Ralat. Aku tak membeli banyak oleh-oleh. Hanya membeli satu kilo dodol karna itulah yang disukai di rumahku. Keluargaku memang tidak terlalu suka oleh-oleh lain seperti keripik bayam, tempe atau pisang salai. Makanan-makanan itu akan lempam sia-sia karna tak kunjung dikunyah. Aku bahkan tak apa-apa untukku sendiri. Sebenarnya, memang. Tujuanku ke sini bukan untuk jalan-jalan.

Aku datang kemarin. Sabtu. Pukul 12 lewat aku sudah berpamitan dari sekolah–kebetulan sedang ujian kelas 6, jadi siangnya aku libur–gegas menuju stasiun gambir. Sebab kereta yang ingin kutumpangi berangkat pada pukul 13:18. Jalan Jakarta yang selalu macet, membuatku cemas akan terlambat.

Pasalnya, aku harus sampai Bandung sebelum pukul enam. Aku sudah melewati prosesi pemberkatan pernikahan mbak Ria pada pukul satu, aku tidak ingin lagi sampai melewatkan acara resepsinya. Tidak bisa!

Selepas dari mbak Ria adalah kakak angkat mantan pacarku, dia adalah orang yang dengan mudah mengulurkan tangan ketika aku membutuhkan bantuan. Bahkan ketika aku mengadu tentang kelakuan adiknya padaku. Kami berteman dan aku harap kami–juga teman-teman JBS yang lain–akan kian karib seiring bertambahnya waktu.

Syahdan.

Aku sampai st. Bandung tepat waktu. Vischa–seorang kenalan yang bersedia kurepotkan selama semalam ini–telah menungguku di luar pelataran stasiun. Kami langsung menuju lokasi hotel tempat resepsi. Tetapi sebelumnya, aku mengajaknya mampir ke tempat printing terlebih dulu. Aku sudah meminta David membuat desain kartu ucapan untuk dihadiahkan kepada mbak Ria. Setelah dari sana kami langsung menuju jalan. RE. Martadinata.

Ada yang lucu soal kejadian ini. Terlebih dulu aku sudah memberitahu Vischa soal lokasi dan nama hotel. Saat kusebutkan nama hotelnya, Vischa bingung. Nama hotel itu terasa asing tetapi ketika aku menyebut nama jalannya dia tahu.

Saat memasuki jalan RE. Martadinata kami celingukan mencari Hotel Selera–itu nama hotel yang diberitahu tante Santi, sebab undanganku dititipkan padanya–aku tahu Vischa kebingungan. Dari atas motor, aku coba merogoh ponsel di dalam tas. Aku ingin memastikan kembali alamatnya. Lalu, ada petunjuk tambahan. Jalan RE. Martadinata No. 56.

Daaaan! Ternyata nama hotelnya itu bukan selera tetapi Serela. Vischa bilang mungkin aku salah baca. Aku mengecek sms, benar, tante Santi menulis selera. Dia ketawa saat kukonfirmasi soal itu. Mungkin itu nama rumah makan padang di samping hotel, Ar, kilahnya.

Setelah memarkir motornya, kami naik ke lantai 3, menuju ballroom hotel. Keluar dari lift sudah banyak orang duduk menunggu. Tebakanku mereka adalah keluarga dari kedua pengantin. Aku dan Vischa ikut duduk. Tidak lama setelah aku mewasap mbak Ria, memberi tahunya kalau aku sudah sampai, mbak Ria dan bang Bobby keluar.

Well, mbak Ria tampak cantik dengan gaun pengantin putihnya. Ah, mbak Ria memang cantik kok. Bang Bobby jg tampak menawan dengan setelah jasnya. Para undangan menunggu cukup lama untuk melihat kedua di pelaminan.

Resepsi pernikahan mbak Ria adalah pernikahan ketiga dalam dua minggu ini yang aku ikuti sejak awal acara. Dan ketiganya mengundang haru yang tak malu-malu datang. Membuat aku yang malu untuk menyusut air mata. Ada perasaan iri, kurasa, karna ia–mereka yang menikah–akan memulai perjalanan panjang mereka sendiri. Sementara aku masih menunggu diselamatkan seseorang.

waltz on the stage!

Pada akhirnya, selamat, Mbak. Doa-doa menyertaimu. Selalu.

——–

Lain kali main ke atas, Teh. Nginep di rumah.

Sewaktu Vischa mengatakan itu aku nggak terlalu memikirkan yang dia maksud di atas itu apa. Tepat ketika aku dibawanya melewati jalan Padasuka, aku baru benar-benar mengerti kami benar-benae menuju ke atas. Ke Cimenyan tepatnya, wilayah Bandung atas. Hampir-hampir ke Bukit Moko tempat puncak tertinggi di kota Bandung.

Tak bisa dibendung, aku sumringah. Udara dingin menerpa wajahku. Lampu-lampu berkelip di bawah sana. Bandung di lihat dari atas rasanya mengangumkan. Sayang aku hanya menginap semalam jadi tidak bisa ke mana-mana terlebih karna Vischa nonbar dan baru pulang pukul 5 subuh. Anak itu butuh tidur. Jadilah aku berjalan kaki di sekitar rumah mengikuti arus orang-orang berolahraga pagi. Beberapa kali menanjak dan menuruni jalan.

Berkeliling kebun di sekitar rumah. Membaca London di teras. Berinteraksi dengan penduduk sekitar. Aku bahkan membeli kacang merah sama ibu-ibu yang menjajakannya ke rumah-rumah. Bandung rasanya menyenangkan. Udaranya. Orang-orangnya. Rasanya nggak pingin pulang.

Kami turun pada pukul tiga. Rencananya Vischa akan langsung mengantarku ke terminal atau stasiun tetapi akhirnya kami malah mampir dulu ke Yoguhrt Cisangkuy. Memesan dua yoguhrt sroberi dan sepiring kentang goreng.

Vischa bercerita tentang perjalanannya ke kota-kota lain mengikuti jadwal manggung band-nya. Sungguh membuat iri. Biarlah sementara ini, aku berkeliling Jawa dulu. Bengkalis dan Tabanan akan menyusul setelahnya. Semoga.

image

foto kaki sama Vischa

Tetapi semoga bisa berkunjung lagi ke Bandung dan benar-benar jalan-jalan.

——–
25-28 Mei 14
Aria.

Iklan

Tentang Perjalanan Jauh Pertama yang Sendiri


“Kak, kapan mau ke Cirebon? Aku sudah libur kuliah nih!”

Pesan itu datang dari Dini, anak perempuan yang kukenal dari dunia maya lewat aku Klub Buku sewaktu aku masih aktif di sana. Well, kalau ditanya kenapa bisa akrab dengan anak itu, aku lupa. Rasanya begitu saja aku sama anak itu jadi dekat, akrab dan ketika aku bertemu dengannya seminggu lalu kami seperti kakak-adik.

Aku, yang mungkin juga muak dengan rutinitas hidupku selama ini atau entah mendapat bisikan dari mana mengiyakan tawarannya. Aku langsung mencari-cari tiket menuju Cirebon mencari-cari waktu yang tepat untuk pergi yang pada akhirnya membuatku tidak bisa ikut teman-temanku ke Museum Tengah Kota pada hari Minggunya.

Baiklah, biar kuceritakan lengkapnya!

Setelah medapatkan tiket seharga 120.000 rupiah menuju Cirebon, aku sudah tidak sabar ingin melakukan perjalanan ini. Bukan apa-apa . Ini perjalanan pertamaku naik kereta dengan jarak sejauh itu dan sendirian. Belum lagi fakta bahwa aku akan bertemu dengan seorang teman yang berlum pernah kutemui sebelumnya.

Yang jelas aku senang dan tak sabar menunggu hari keberangkatanku datang. Tapi aku juga merasakan ketakutan. Sial! Ketakutan itu jadi nyata. Aku kehilangan seseorang!

Pukul delapan pagi aku sudah berangkat dari rumah menuju Gambir. Kupikir keretaku berangkat pukul Sembilan kurang tapi ternyata aku salah, keretaku berangkat pukul sepuluh kurang. Jadi, aku harus menunggu satu jam lagi.

Aku membeli dua roti o sebagai sarapan serta mocca latte panas. Rotinya hanya kumakan satu pun minuman itu cuma kuhabiskan separuhnya. Pukul sembilan lewat lima belas aku memutuskan menaiki keretaku.

Kereta Cirebon Ekspres yang kunaiki ada di jalur lima. Aku sempat kebingungan menyoal tempat duduk. Sudah kukatakan ini pertama kalinya untukku tapi aku sama sekali tidak merasa kikuk, aku senang.

Aku duduk di kursi D12 gerbong bisnis. Aku berharap duduk di dekat jendela tapi ternyata sudah ada penumpang lain yang duduk. Seorang ibu yang ramah, ia sempat menawariku makanan kecil, kami juga sempat mengobrol dan ibu itu katanya pulang untuk nyekar sebelum Ramadan dan ia turun di Jatibarang.

Dan setelah ibu itu turun, aku duduk sendirian

2013-07-06 11.42.49
ini foto yang diambil dari dalam kereta.

Setengah jam dari Jatibarang keretaku masuk stasiun Cirebon yang Dini sebut-sebut stasiun Kejaksan. Dan itu membuatku khawatir, jangan-jangan aku turun di stasiun yang salah. Tapi ah, Dini kan orang sini jadi dia pasti lebih tahu ke mana kereta-kereta dari luar kota biasanya berhenti. Dan wallah! Tidak lama setelah aku sampai anak itu sampai.

Dini tinggi, putih, dan anak itu baik sekali. Ia sempat menyalamiku. Dalam antrean membeli tiket untuk perjalanan pulangku, aku memberikan buku Setelah Gelap Datang bertanda tangan kak Vai padanya. Anak itu kelihatan senang, aku harap dia benar-benar senang.

2013-07-06 13.02.41
foto stasiun Kejaksan (Cirebon) yang sudah berusia seabad.

Pergi dari stasiun, Dini langsung mengajakku ke Keraton Kasepuhan Cirebon.

Kami naik becak dari depan stasiun. Dini yang menawar ongkosnya dan yaaa, tawar-menawar ini cukup alot juga. Aku cuma mendengarkan dan setelah perjalanan dari stasiun ke keraton ternyata cukup jauh, kupikir harga yang dipertahankan abang becak itu cukup pantas meski ia akhirnya menurut harga yang Dini minta.

Soal jalan-jalan dengan becak ini kadang membuatku miris tapi Dini seolah biasa saja menawar harga ke jarak yang dia tuju. Sampai ketika aku dan Dini ke Pangestune, tempat untuk membeli oleh-oleh. Ya aampuun! Jaraknya jauh sekali dari rumah anak itu! Otomatis aku menambahkan uang untuk ongkos pada abang becaknya. Herannnya, si Abang sempat berteriak bahwa ongkos yang kuberikan kebanyakan. Sementara aku mengira bahwa itu pantas untuk tenaganya mengayuh sejauh itu. Tapi yaaa, mungkin di Cirebon sana hal seperti itu tidak menjadi masalah.

So, aku dan Dini sampai di Keraton Kasepuhan. Meski sudah masuk musim liburan, keraton itu kelihatan sepi hingga sampai beberapa lama kami di sana baru terlihat banyak orang yang berwisata ke sana. Banyak juga yang menggunakan jasa pemandu. Aku dan Dini menolak tapi kami sempat mencuri dengar apa yang pemandu itu terangkan kepada pelancong lain. Hahaha curang ya!

2013-07-06 13.35.26
ini foto narsis di dalam keraton XD

                                                 ini foto narsis di dalam keraton XD

Puas muter-muter di Keraton, aku mengajak Dini makan siang. Sebelumnya dia sudah sering bilang kalau di Cirebon baiknya wisata kuliner. Okeey. Aku menurut, nggak masalah buatku. Tapi ketika siang itu aku mengajaknya makan, Dini bilang dia sudah makan di rumah. Lhaaaaa!

Akhirnya cuma aku yang makan. Nasi Lengko namanya, makanan khas kota Cirebon. Selain itu ada juga Empal Gentong, Docang, Nasi Jamblang dan Empal Asem. Yang dua di belakang saja yang baru kucoba. Aku paling suka Nasi Jamblang sieh 😀

IMG_20130706_214818
Penampakan nasi lengko

Setelah dari sana dengan mengendarai becak lagi, Dini membawaku pulang ke rumahnya. Banyak fakta yang kuketahui tentang anak ini. Pertama, Dini ternyata keturunan  Bali. Nama panjangnya itu Dini Sekar Ayu. Kedua, dia anak bungsu. Ketiga kakaknya sudah bekerja dan tinggal di Kalimantan, Karawang yang satu lagi aku lupa di mana. Dan fakta ketiga, Ibunya adalah seorang penjahit. Penjahit yang sibuk. Di rumahnya banyak sekali kertas mode, potongan-potongan kain.

Karna kakak-kakaknya tinggal di luar kota, Dini hanya berdua dengan ibunya di rumah. Di rumahnya yang sebesar itu. Allhamdulillah, ibu Dini orang yang ramah. Sebagai pelancong yang akan menginap di rumahnya selama dua malam tentu saja aku beramah tamah. Oiy, ibunya Dini ini orang tua tunggal. Aku takut menanyakan tapi semuanya menjadi jelas karna setelah mengantarku ke stasiun saat pulang, Dini dan Ibunya juga berangkat ke makam.

Malam pertama aku di rumahnya, kami mengacak-ngacak koleksi kancing milik ibu Dini. Kancing-kancing itu lucu, kau tahu? Mereka dibuat tidak dengan sembarangan. Kancing memiliki seni dan aku suka sekali melihatnya.

2013-07-06 22.05.03
aku mengambil beberapa kancing untuk kujadikan gelang tangan

Kami tidur di kamar yang sama namun di kasur yang berbeda. Iya, ada dua tempat tidur ukuran satu orang di kamar itu. Satu lemari pakaian, satu meja rias dengan kaca. Kamar itu luas sekali. Jendela ada di sebelah kiri dengan pemandangan halaman samping berbatas tembok. Ada kamar mandi juga di dalam kamar yang bergabung untuk dengan kamar di sebelahnya. Itu kuketahui dari dua pintu yang ada di kamar mandi tersebut. Keren juga ya dibuat begitu!

Aku begitu iri dengan rumahnya yang luas, halaman di belakang dan di depan rumah. Kamarnya yang rapi. Setelah segalanya beres, aku akan menata kamarku serapih itu juga. Maksudku, tidak perlu banyak pernak-pernik. Cukup dengan hal-hal yang kuperlukan saja seperti lemari pakaian, tempat menaruh sepatu di belakang pintu, rak buku, meja dengan kaca. Yang seperti itulah.

Kami tidur. Dini tidur dengan memeluk boneka doraemon. Aku tidur mengenakan piyama miliknya. Xixixi ketika bangun aku merasa lucu dengan piyama yang kupakai. Sayang nggak kepikiran untuk montret momen itu.

Kami bangun cukup pagi, pukul enam kalau tidak salah. Dengan rencana pukul delapan akan ke alun-alun untuk mencari sarapan yang cukup dan pukul sepuluh bertemu dengan Heru, rekan Dini dalam mengurus akun Klub Buku Cirebon.

Masih dengan piyama, aku memanggang roti meriam, roti buatan rumah yang dipasarkan oleh sebuah pesantre, sebagai sarapan. Aku memasak tiga untuk aku, Dini dan ibunya. Sementara itu Dini membuat teh panas.

Selesai sarapan kami bergegas mandi dan sarapan setelah itu berangkat menuju alun-alun. Oh, untunglah kali ini nggak naik becak lagi!

Sampai di alun-alun ternyata lapangannya sudah sepi. Tidak ada yang jualan, tidak ada orang berlalu lalang beda banget pas main ke alun-alun Bandung dulu. Tapi ternyata ada acara di depan Balai Kota salah satunya memperingati seabad stasiun Kejaksan. Waah! Jadi ternyata stasiun yang aku injak kemarin sudah berusia seabad!

Setelah dari sana kami ke Grage, mall. Masih jauh dari jam bertemu dengan Heru tapi kami maksudku Dini tidak punya ide mau mengajakku ke mana lagi. alhasil aku mengajaknya ke gramedia. Ternyata di sana sedang ada diskon buku.

Aku menemukan buku Jeffrey Deaver di antara tumpukan buku-buku dengan harga diskon. Sayang cuma ada satu buku .__.

si perapal
Si Perapal milik Deaver 🙂

Kami bertemu dengan Heru di sebuah café bernama Ola-Ola katanya café itu milik tetangganya. Suka dengan konsep café dan lampu-lampunya yang unik. Makanannya? Jangan ditanya. Steam boat yang aku pesan enak kok dan yaa harganya murah. Aku cuma nggak suka dengan minumannya, entah terlalu manis atau apa, yang jelas rasanya aneh.

Kami hanya bertemu sebentar karna Heru juga harus pulang ke Banyumas, kota asalnya. Setelah dari sana Dini mengajakku membeli oleh-oleh khas Cirebon. Selain sirup champolay, yang sudah lebih dulu kucoba di rumahnya, aku juga membeli terasi, the upet yang aku suka wangi dan rasanya, serta satu dus telur asin bakar.

Dan bawaan itu benar-benar merepotkanku. Berat T_T

Keesokan hari, kami pergi lagi ke Pangestune. Aku berniat membeli oleh-oleh batik untuk keluargaku tapi yaaa susah sekali mencari baju ukuran ibuku. Akhirnya aku cuma membeli 3 buah kemeja batik untuk adik-adik dan ayah.

Kami juga sempat berputar sebentar ke toko lain untuk membeli kaos khas Cirebon untuk seseorang.

Lalu apa yang aku beli untuk diriku sendiri di sana?

Aku membeli sebuah gantungan ponsel berbentuk huruf A yang tadinya mau kugunakan untuk menggantung flashdisk kecil yang belum lama kubeli. Di sana, aku juga membeli kalung ini

IMG_20130707_150847
aku suka motifnya dan batunya berwarna abu-abu 🙂

Aku dan Dini juga sempat berfoto bersama di sebuah kios foto box sewaktu di Grage

2013-07-15 08.43.58
xixixi ngerasa jadi kayak kakak-adek aja deh XD

Aku menikmati seluruh hari dan perjalananku di sana. Aku melewati liburan itu sebelum kembali ke Jakarta dan berkegiatan seperti biasa, bertemu orang-orang yang membuatku muak. Ya, aku menikmatinya.

Aku menikmati meski terselip kesal pada waktu-waktu tertentu kepada seseorang. Ah!

Aku pulang dengan kereta pukul 15.15 dari Cirebon tapi ternyata keberangkatan itu ngaret sampai 20 menit lebih. Aku diantar Dini beserta ibunya sebab mereka mau sekalian nyekar ke makam tentu aku sekarang tahu itu makan siapa.

Selamat jalan Cirebon. Sampai berjumpa lagi Dini