Lonceng Angin

oleh Christian Barus

“Kupikir kau sudah mati?”

            Enggak ada dugaan yang lebih positif?

“Oke. Kupikir kau sudah nikah, hidup bahagia dengan isterimu, dan punya anak berumur dua tahun kurang lebih.”

Masih dendam ya kaunya?

“Menurutmu?”

Iya. Eh, aku di kota besok. Citraland. Kuharap kau mau singgah—di antara waktumu yang tak pernah sepi.

“Halah. Mau apa kau? Ngenalin mereka?”

Ayolah. Kalau menurutmu kita putus karena aku nemu cewek yang lebih baik darimu, yang lantas kunikahi, kau salah besar.

“Tiga tahun lalu kau ngomong begitu.”

Artinya selama tiga tahun pula kau salah paham.

“Sebentar…”

Tok, tok, tok. Seorang ibu separuh baya berdiri di dekat pintu. “Saya orang tua Nina,” katanya.

Aku teringat. “Oh. Silakan masuk, Bu. Silakan duduk,” kataku sambil menunjuk ke arah sofa. Perempuan itu agak canggung. Sekilas kulihat ia mengamati piagam-piagam di dinding ruangan saat aku berbalik.

“Ada tamu,” bisikku pada ponsel.

Sampai jumpa besok.

“Apa-apaan?”

Semaunya sajamu itu tak pernah berubah!

“Oke. Selamat sore, Ibu…?”

“Ibu Tati saja. Ini, mau menyampaikan solusi masalah Nina.”

“Oh, sudah dirembukkan rupanya?” balasku.

“Enggak persis begitu. Tapi malah lamaran saya di kota lain yang diterima. Sekalian mengatasi masalahnya, kami akan segera pindah.”

“Lho? Nina kan masih dua bulan di sini, Bu Tati. Kenapa harus pindah lagi?” tanyaku heran.

“Iya saya tahu, Bu. Saya selalu berpindah-pindah kerja. Nina pasti kena imbasnya. Tapi saya enggak punya pilihan. Kantor baru itu tampaknya jauh lebih baik dari yang di sini. Kami bakal lebih berkecukupan kalau saya kerja di sana.”

“Pindah terus bisa bikin Nina enggak punya teman dekat lho, Bu Tati.”

Ia memaksakan senyum. Lalu berkata, “Kami akan mengatasinya. Semoga kali ini kami enggak harus pindah lagi.”

Aku memandang wajah Ibu Tati. Entah untuk apa, aku yakin sedang menerawang apa yang ada di dalam pikirannya. Kira-kira hal apa yang membuatnya memutuskan pindah lagi—selain soal pekerjaan. Dari rambutnya, setidaknya ia belum 40. Mungkin baru 38 atau bahkan 35. Ia terlihat jauh lebih muda dari ibuku.

“Ini surat permohonan saya. Kantor baru enggak bisa menunggu lama, Bu. Saya dapat peluang bagus dan enggak ingin menyia-nyiakannya.”

“Ya sudah. Besok akan saya sampaikan ke Kepala Sekolah,” kataku akhirnya memutuskan tidak terlibat lebih jauh.

“Terima kasih, Bu. Saya pamit sekarang.”

“Enggak nunggu Nina pulang? Paling-paling satu jam lagi kok.”

“Mesti membereskan barang-barang di rumah. Nina bisa pulang sendiri. Saya permisi dulu, Bu. Selamat sore.”

***

Jam lima tepat keesokan harinya, bel sekolah dibunyikan. Keriuhan anak-anak menyeruak ke udara. Aku sendiri sudah mematikan komputer beberapa menit yang lalu, online di ponsel, dan menunggu Nina melintas. Ia biasanya pulang dari lorong di depan ruang Kepala Sekolah. Aku bisa mengenalinya karena sejak pindah ke sekolah ini, kami pernah mengobrol beberapa kali.

Sebulan belakangan ia mengaku takut setiap kali berangkat ke sekolah.  Karena itu ia jadi banyak melamun saat pelajaran, yang membuatnya berulang kali ditegur. Akhirnya ia dibawa ke ruang guru. Di sana, kami bertemu lagi. Dari wali kelasnya kudapati cerita itu. Nina mendengar bunyi lonceng angin.

Lorong gang yang dilewati Nina setiap berangkat dan pulang sekolah, tidaklah sepi. Jalan itu hampir selalu ramai dengan anak-anak sekolah di jam-jam tertentu, anak-anak gang yang bermain, para penjual jajanan, orang-orang yang tinggal di sekitar tempat itu, dan burung-burung gereja. Termasuk aku dalam beberapa kali kesempatan.

“Bunyinya bagaimana?” tanyaku sekali waktu.

“Cring, cring, cring. Begitu.”

Telinganya tentu tidak bermasalah. Juga kemampuannya meniru bunyi lonceng angin. Lagipula, itu memang gampang ditiru. Namun aku curiga Nina hanya berfantasi. Ibunya bilang—beliau dipanggil ke sekolah karena tingkah Nina yang mulai mengkhawatirkan—dulunya mereka punya lonceng angin di salah satu pintu rumah mereka ketika Nina masih balita.

“Di sebelah mana?” tanyaku mengenang sore itu.

Nina menggeleng pelan. Ia tidak tahu persis. Jelas bahwa bunyi itu diterbangkan angin dari suatu tempat, terkatung-katung sekian lama di udara, yang lalu tertangkap telinga Nina. Teman-temannya yang juga melewati lorong itu mengaku tidak mendengar apa yang Nina dengar. Hal yang membuatku semakin kuat menduga Nina hanya berfantasi—atau paling parah punya teman imajinasi yang berwujud lonceng angin.

Gimana?

“Maksudmu apa sih? Setelah tiga tahun tanpa kabar, sekarang seenaknya saja mau ngajak ketemuan. Aku sibuk.”

Kau sibuk setelah jam lima?

Ini weekend. Aku mau menghadiri acara Malam Puisi di…”

Aku bisa antar kau ke sana.

“Maumu apa?”

Menatapmu langsung.

“Muterin bola mata.”

Hahahahaha. Aku sudah di Citraland sekarang. Telepon aku kalau kau sudah sampai.

“Nomormu privat!”

Ia sudah menutup telepon. Tepat seusai gelengan kepalaku berhenti, aku menangkap sosok Nina.

“Nina, ke sini!” panggilku..

Butuh waktu bagi tubuh kecilnya untuk bergerak di antara kerumunan siswa lain. Lihatlah ia! Rambut dikepang. Legam dan terawat. Pipinya agak merah. Kedua bola matanya berkilau, mendongak menatapku. “Ada apa, Bu Aria?’ sapanya bertanya.

“Ibu temani pulang yuk!” kataku.

Ia menurut dan berjalan di depanku. Sesampainya di luar pintu gerbang, kami berjalan bersisian sambil sesekali aku menepi karena jalan gang tidak terlalu lebar.

Di sebelah kiri dan kanan jalan, terdapat selokan kecil yang menghitam meski air yang mengalir melalui selokan itu, katanya tidak sekotor beberapa tahun yang lalu. Beberapa bagian selokan itu melebar dan sedalam hingga lutut anak-anak. Beberapa sedang bermain di sana. Mencari ikan. Bertelanjang dada.

Para penjual jajanan menyesaki gang dengan gerobaknya masing-masing. Juga beberapa mobil yang diparkir. Beberapa meter di atas kami, kabel-kabel telepon, kabel-kabel listrik, tali jemuran, dan antena TV menciptakan kesemrawutan yang mengganggu. Ketika aku mendongak ke atas aku bisa melihat gedung-gedung bertingkat dengan jendela-jendela terbuka. Juga jendela yang dipagar tinggi-tinggi seperti sangkar burung raksasa. Gedung-gedung ini tampak tak seburuk penampilan wajahnya. Namun di belakang memang kumuh. Catnya banyak menghitam, coreng-moreng, mengelupas di sana-sini.

Aku menajamkan telinga sepanjang perjalanan sambil sesekali melirik Nina. Ia tidak begitu memperhatikan sekeliling. Pandangannya tertuju pada jalan di bawah kakinya. Atau pada sepatunya yang lucu itu.

“Kalau sore enggak ada bunyinya, Bu,” katanya setelah beberapa saat.

“Oh ya?” sahutku sedikit gugup seolah tertangkap basah. “Ah, kamu sudah bilang begitu ya. Ibu lupa. Tapi Ibu memang penasaran.”

“Ibu pasti enggak percaya. Sama kayak teman sekelas Nina.”

Kubelai rambutnya sambil terus berjalan. “Ibu percaya kamu,” kataku berbohong dan memutuskan untuk mencoba tidak penasaran lagi.

Kami sampai di rumahnya. Ia tinggal di sebuah ruko, meski ibunya tidak berjualan apa pun di sana. Sebelum ia masuk, aku memberikannya map yang sudah kusiapkan. “Kasih sama Mama ya,” kataku. “Di situ sudah ada surat keterangan yang Mama minta dari sekolah.” Sesaat kemudian aku sadar aku tak perlu bilang itu.

“Terima kasih, Bu Aria.”

“Iya. Jaga dirimu baik-baik. Jadi anak manis dan rajin belajar.”

Ia tersenyum lalu menutup pintu. Dan itu adalah saat terakhir aku bertemu dengannya.

***

Aku tidak setuju dengan cinta pada pandangan pertama. Tapi pada Nina, aku benar-benar jatuh cinta ketika pertama kali ia datang ke sekolah. Gadis kecil itu tampak mungil dan rapuh. Membuatku harus menemaninya ke manapun ia pergi. Mengantarkannya ke sekolah, menjemputnya lagi. Di akhir pekan kami akan berlibur, piknik ke tempat-tempat wisata. Malam hari kami bisa bercengkerama di ruang keluarga. Menonton Cartoon Network atau apa saja. Malam-malam di hari sekolah, aku berdiri di belakangnya, membantunya mengerjakan PR—dengan sorot lampu belajar dari masa kecilku.

Dan Nina harus pindah. Besok ia tidak akan datang ke sekolah. Aku mendadak rindu. Harus kuakui, tepat ketika pintu rumahnya ditutup, aku merasa disergap kehilangan.

Namun hal yang sekarang harus kulakukan adalah berjalan menyusuri jalanan gang tadi. Kulirik ponsel. Laki-laki itu ada menelepon dua kali. Setengah jam yang lalu dan lima belas menit setelahnya. Biarlah ia menunggu jika memang ingin menemuiku.

Beberapa menit kemudian aku tiba di Citraland. Melangkah masuk menuju satu-satunya tempat yang kutahu pasti tempat laki-laki itu menunggu. Dan memang di sanalah ia. Di kafe kecil yang menghadap lalu lintas super padat. Aku pernah mengalami hal ini sebelumnya. Dulu, sudah lama sekali. Mungkin lima tahun, entahlah. Saat itu, laki-laki ini juga yang sedang menungguku—dengan sekuntum bunga matahari yang coba disembunyikannya di kursi sebelahnya. Kau mau membunuhku lagi, Ian?

Ia pura-pura kaget ketika aku tiba di hadapannya. “Apa kabarmu? Duduklah. Duh, jangan di situ. Jauh amat.”

Aku menolak duduk di sebelahnya.

“Kau sehat?”

Aku mengangguk.

“Kau enggak berubah ya?”

Aku lemparkan pandangan menembus dinding kaca, kepada keramaian di seberang, gedung-gedung menjulang, dengan latar belakang langit petang yang mulai meredup.

“Mau apa kau?” tanyaku.

“Galak amat sih. Kau mau makan apa?”

“Aku enggak makan.”

“Diet? Hahahaha.”

Ternyata kerut di sudut matanya juga hal yang tak berubah. “Udah deh. Bilang kau mau apa?” tanyaku agak kesal.

“Ayolah. Setelah sekian lama akhirnya aku bisa mentraktirmu, kau malah enggak mau makan? Minum deh. Minum.”

Aku menggeleng.

“Padahal minuman ini enak lho! Aku sudah minum tiga gelas. Kembung. Omong-omong…”

Dan tanpa persetujuan, ia bercerita beberapa hal dalam hidupnya tiga tahun belakangan. Katanya ia sudah berlayar ke beberapa tempat, meski tak satu pun yang menarik untuk ia tulis jadi cerita. Aku tahu. Mungkin maksudnya ia tidak menemukan perempuan lain di tempat yang ia singgahi. Tapi aku tak lantas percaya. Katanya juga, ia, pada tahun kedua, berpikir bahwa hidupnya akan selalu begitu. Tanpa keseruan. Tanpa perkembangan berarti. Tanpa pekerjaan tetap apalagi karir. Namun satu yang ia tekankan, bahwa ia tidak menikah.

“Kau sudah kepala tiga,” kataku.

“Iya. Aku ingat ulang tahunku kok.”

Aku tertawa kecil. “Apa kau enggak sedikit pun punya niat menikah?”

Ia terdiam. Lalu menggeleng pelan.

“Kau enggak pernah membayangkan punya anak?”

“Aku kan enggak mungkin melahirkan sih.”

“Enggak lucu.”

Ia tertawa.

Lalu padanya kuceritakan kisah Nina dan lonceng angin. Seperti yang kuingat, sejak dulu laki-laki ini tak pernah bisa diam mendengarkanku bercerita. Ia sesekali menyeletuk, bercanda, dan tertawa. Sampai-sampai aku mengingatkannya bahwa ceritaku belum selesai. Meski begitu, kupikir ia mampu menangkap apa yang kuceritakan. Katanya, “Nina kemungkinan besar hanya berhalusinasi.”

Ternyata aku salah.

Aku setuju. Tapi, “Kau enggak dapat kesan khusus ya?”

“Oh! Maksudmu misterinya?”

Aku membetulkan letak punggung.

 “Oke. Aku enggak ngerti…”

Kuhela napas berat dan panjang dan disengajakan. “Nina lho! Anaknya lucu dan manis.”

“Mamanya cantik?”

“Please deh!”

“Oke, oke. Sebentar. Aku harus mengeluarkan kemampuan terbaikku. Baiklah. Menurutku kau menyayangkan ada malaikat mungil yang terlahir di keluarga yang salah?”

“Jauh banget!”

“Jadi apa dong, Ar?”

“Bener ya! Dari dulu kau memang enggak pernah peka. Pantas enggak ada perempuan yang bertahan lama samamu.”

“Jangan salah! Aku bisa nikah detik ini juga!”

“Gaya!”

“Dan kalau maksudmu soal kesan khusus kau yang tiba-tiba kepingin melahirkan manusia-manusia berukuran kecil, yang lucu dan manis, yang ke sekolah pakai sepatu lucu kayak Nina itu, aku bisa paham. Semua perempuan kan sama aja.”

“Ya ampun sinisnyaaa.”

“Enggak sinis. Tapi aku kan lebih paham keinginanku dari siapapun.”

“Enggak mau kalah lagi.”

“Aaaahh… Bukan begitu maksudnyaaa.”

“Kau tahu kan September nanti aku tiga puluh.”

“Good for you.”

“Dasar kau yaa!” kucoba mencubit tangannya meski ia lebih dulu berkelit.

“Aku juga pernah tiga puluh kok. Santai aja.”

“Orang tuaku yang enggak santai!”

“Terus? Kau udah nemu cowok yang bakal membuatmu melahirkan Nina lain?”

Aku memilih diam. Menatap mata cokelatnya yang sedikit berubah. Beberapa jeda hanya terdengar kesibukan para karyawan kafe dengan pekerjaannya masing-masing dan momen saling pandang yang tak kusangka bisa kulewati lebih lama dari sembilan detik.

“Apa maksud tatapanmu itu coba?” katanya membuatku lega dan berkedip lagi. “Oh, enggak mungkin. Hahahaha. Kau enggak mungkin mikir itu, Ar.”

“Mikir apaan? Ge-er banget sih jadi orang,” aku lepas tertawa. Dia juga tertawa. Untuk ukuran pengunjung yang cuma memesan minuman, jelas kami terlalu berisik.

“Lalu kau mau ke mana habis dari sini?” tanyaku setelah tawa kami reda.

“Mutiara enggak jauh berubah.”

“Hahahahaha. Nginep di sana?”

“Yap. Eh, kau sendiri mau ke acara Malam Puisi apa tadi?”

“Tiap akhir pekan ada acara begitu. Aku beberapa kali hadir. Jadi panitia juga pernah. Kau mau…”

“Enggak.”

“Katamu kau bisa nganterin!”

“Oh, kupikir kau mau bilang ‘kau mau ikut?’”

“Ya sudah. Aku berangkat dulu. Bye.”

Lalu aku pun meninggalkannya. Laki-laki itu, kuyakin memandangku saat melangkah pergi dari kafe. Sampai beberapa langkah, kupikir ia akhirnya akan memanggilku. Mungkin menawarkan diri mengantarkanku. Menemani atau apalah. Namun ia tak melakukannya. Kapan terakhir kali kuingat ia mencegahku pergi? Rasanya tak pernah. Aku yang selalu mencegahnya, semampuku yang nyatanya tak pernah bisa membuatnya kembali berpaling.

Di dalam angkutan umum, aku memikirkan beberapa hal acak. Tentang Ian. Tentang apa yang pernah ia ucapkan yang kini dikaburkan banyak hal yang sudah kulewati selama tiga tahun tanpa kabar dirinya. Lalu aku memikirkan apa yang tadi kami bicarakan. Bagaimana perbincangan seperti itu bisa terjadi? Nina! Oh, gadis kecil yang setiap berangkat ke sekolah berhalusinasi mendengar bunyi lonceng angin. Tanpa sadar aku menggeleng pelan. Mendesah dan memperhatikan sejenak wajah para penumpang lain. Beberapa orang tua. Mungkin pekerja, karyawan, atau orang-orang seperti aku. Bedanya, aku yakin mereka punya seseorang atau keluarga yang menunggu di rumah.

Kudorong kaca. Angin malam meniup keningku. Sayup-sayup, di antara keriuhan lalu lintas, telingaku menangkap bunyi lonceng angin berdenting perlahan. – Cirebon, 2016.

Iklan