balasan kelima belas


Selamat hari Minggu, Dji dan selamat siang.

Saat kamu memberitahuku kemarin adalah suratmu yang terakhir di event #30HariMenulisSuratCinta ini aku sempat terkejut. Pasalnya, membuat dan menulis surat menjadi seperti sesuatu yang wajar. Aku sama sekali lupa kalau urusan surat-menyurat ini harus pula berakhir setelah tiga puluh hari, setelah Februari berakhir.

Maka setelah membaca suratmu, aku mengingat-ingat kembali apa saja yang telah kita bicarakan dalam surat-surat kita selama ini; kenangan, kisah-kisah dalam buku, masa kecil, cara pandang, kota-kota yang ingin kita datangi, impian, kepercayaan, harapan, ingatan-ingatan, wisudamu, film,  kehidupan masing-masing kita. Pada akhirnya suratku hanya akan berisi dua hal.

Pertama, aku ingin terlebih dulu meminta maaf jika isi suratku (hampir) selalu berisi curhatan, beberapa mungkin terlalu sinis. Penuh amarah, dendam, gelap. Tapi kamu selalu menjawab surat-suratku itu dengan bijak.

Kedua, aku ingin mengucapkan terima kasih karna kamu telah benar meluangkan waktumu untuk membalas surat-surat itu. Kuakui, kadang aku merasa penasaran tentang apa yang akan kamu tulis disuratmu ketika menbalas apa kutulis di suratku.

Ini menyenangkan bukan?

Ngomong-ngomong kamu masih ingat apa jawaban kita ketika disatukan dalam games duahati? Kalau tidak salah ingat, satu-satunya yang sama dalam jawaban kita adalah buku. Aku terkejut waktu itu karna sebenarnya, aku hanya iseng saja tetapi kita malah yang menjadi pasangan pertama dalam permainan itu.

Dan beginilah akhirnya. Betapa cepat tanggalan-tanggalan menjadi asing. Kamu adalah orang asing. Yang baru kukenal tiga puluh hari yang lalu, tapi rasanya kamu nggak menjadi asing di suratku selama ini.

Terima kasih.

Temanmu berbalas surat.
Aria.
.
.
.
Salam

Iklan

melupa sebelum percaya


: Adji

Katanya, kita nggak akan pernah belajar kalau tidak dari kesalahan. Kalau tidak dari masa lalu. Misalnya, kamu belajar menulis. Setiap hari menulis. Tulisan-tulisan itu kamu simpan, yang pada awal kamu menulis tentu tulisan itu tidak sebagus sekarang setelah kamu pandai menulis. Kamu belajar karna kamu tidak membuang tulisan-tulisan lamamu yang buruk.

Aku bukannya tidak ingin belajar atau apa. Tapi bisakah aku memilih untuk melupakan saja, tinimbang harus mengingat dan belajar dari kesalahan masa lalu? Bisakah?

Aku, dikhianati oleh orang yang paling kupercaya. Seorang pemancang di hidupku beberapa tahun belakangan. Sejak itu aku berhenti untuk percaya. Di dunia ini, aku hanya harus bergantung pada diriku sendiri. Berharap dari upayaku sendiri.

Perasaanku tak begitu baik hari ini. Maaf kalau suratku ini gelap lagi. Semoga harimu menyenangkan, Dji.

Salam.

tentang mimpi-mimpi


: Adji

Aku pernah membayangkan, aku mengurus kuliahku yang terlantar, berhenti bekerja lalu pergi, menetap di Bali. Persisnya di Tabanan. Ada abang di sana, kupikir aku bisa minta bantuannya untuk mencarikan tempat tinggal. Di sana, aku bisa mengajar sesuai dengan bidang jurusanku. Abang pernah cerita di daerah tempat tinggalnya tidak terlalu ramai. Tempat itu pasti akan asyik untuk ditinggali. Aku ingin sekali mewujudkannya, Dji, tapi langkahku terus tertahan. Aku selalu saja seperti orang yang tak sanggup menghadapi dunia. Hingga sampai hari ini aku masih duduk menghadap komputer kerjaku, menjadi operator di sebuah sekolah dasar atau di kali lain sibuk dengan laporan keuangan.

Ibuku ingin menjadi guru, tapi setelah berkecimpung selama ini di sekolahan, kamu tahu yang ada aku muak. Terlalu banyak tetek-bengek di dunia pendidikan kita. Perbuatan para PNS pun membuatku patah hati. Aku tidak lagi punya keinginan untuk menjadi guru, paling tidak, nggak di sekolah resmi.

Jika bicara soal mimpi, aku punya banyak sekali dan akan banyak sekali kata yang ditampung dalam surat ini jika aku harus menuliskannya semua. Ngomong-ngomong, apa mimpimu, Dji?

Ps : maaf baru bisa membalas suratmu.

Beberapa hal berjalan baik, beberapa hal tak bisa dipaksakan


: Adji

Aku pun maklum jika kesibukan membuatmu lupa membalas suratku. Karna terus terang saja, aku pun lupa. Seharian ini aku cukup sibuk juga. Makanya aku baru ingat pukul tujuh tadi malam ketika aku sudah di dalam kereta menuju rumah dan tak lagi disibukkan hal macam-macam.

Kemarin, aku menjemput seorang temanku yang datang dari Semarang, setelah itu kami langsung menuju danau UI sebab ada pertemuan komunitas menulisku, seperti yang sudah kuceritakan di surat sebelumnya. Kamu tahu? Kegiatan itu mulur dari waktu yang seharusnya, karna hal itu aku jadi tidak sempat datang ke earhouse cafe tempat teman-temanku dari Malam Puisi mengadakan acara amal.

Tapi kamu tahu apa yang menyenangkan? Perasaan puas setelah berhasil menyelenggarakan suatu acara meski bukan acara besar seperti yang kami lakukan kemarin. Kopdar semacam ini sudah sering kami lakukan dan aku bersama beberapa temanku yang sibuk mengurus acaranya. Rasanya menyenangkan merancang-rancang sebuah acara dan orang-orang yang datang menikmati juga mengikuti apa yang kami rencanakan.

Kemarin, secara mendadak aku dan temanku memutuskan bermain tikus-kucing. Di mana ada dua tim yang beradu. Aku sendiri sebagai pengarah permaian. Huufffft. Itu salah satu nggak enaknya kalau jadi pengurus atau panitia yaaa, nggak bisa ikutan main 😐

Soal rencanaku kemarin, akhirnya aku cuma ke toko buku. Hujan hampir turun seharian membuat malas ke mana-mana. Tapi aku paksakan ke sana sebab aku mencari buku-buku Jeffrey Deaver. beruntungnya, aku dapat dua bukunya kemarin. Hari ini aku mengajak temanku ke sana lagi, ke Gramedia Matraman. Aku sieh berharap dapat bukunya Deaver lagi 😀 Sorenya seorang temanku mengajak nonton. Semoga bisa.

Ah ya! Aku bolos kerja. Jangan bilang-bilang yaaa? xD

Aria

Doakan


Selamat pagi, Dji.

Tangerang rasanya dingin sekali pagi ini, hujan turun sejak pukul empat pagi dan masih berlangsung ketika aku menuliskan surat ini pukul delapan lewat empat belas menit. Air mulai menggenang di jalanan depan rumah-rumah kami bahkan rumah bibiku, di ujung jalan sudah lebih dulu dimasuki air. Di rumahku sendiri hanya sebatas teras. Tidak terlalu menjadi masalah sebab ketika hujan berhenti, air juga akan ikut surut, mengalir ke anak sungai yang lebih besar.

Aku lahir di kota yang memiliki sungai. Eh, Musi itu termasuk sungai terlebar atau terpanjang yaaa? Ya ampun pelajaran geografiku (>.<)!!! Sekarang, aku tinggal di kota yang di kelilingi oleh sungai. Apa aku sudah pernah bercerita padamu, Dji? Kota ini seperti memiliki dua wajah. Di jalan raya, perumahan-perumahan berjejer, ada mall, ada tempat-tempat hangout meski nggak berupa cafe seperti yang banyak di Jakarta. Tetapi di jalan belakang–jalan ini yang selalu aku lalui kalau pergi dan pulang kerja sebab tidak terkendala macet–kamu akan mendapati pemandangan berbeda. Deretan petak-petak sawah. Sungai. Pohon-pohon yang berjajar di pinggirnya. Sinar matahari yang menembusi daun-daun. Indah. Hampir selalu aku menikmati pemandangan itu dari atas motor. Sayang, belakangan ini mendung. Petak sawah, sungai, pohon dan matahari lebih indah dibanding petak sawah, sungai, pohon dan mendung.

Tapi tak ada yang tak bisa disyukuri bukan? 🙂

Semoga hujan menghabiskan masanya pagi ini. Sebab nanti sore, aku dan teman-temanku akan mengadakan penggalangan dana on the street, akan menjadi masalah kalau hujan turun. Doa kan yaaa.

Karna hujan turun hari ini aku jadi nggak bisa latihan nari. Tetapi semoga aku tetap bisa ke toko buku dan nonton film yang kamu sarankan itu. Itu rencanaku hari ini kamu?

Semoga harimu menyenangkan.

Aria__

Ps: aku tidak berjanji, tetapi jika cuaca sedang baik, akan kuperlihatkan foto pemandangan pagi yang kuceritakan tadi padamu

Mematahkan Mitos


: Adji

Akhirnya, kamu mengatakan itu 🙂

Sebab aku pun merasa bahwa hampir setengah Februari ini kita berputar-putar di ‘kegelapan’ dan kita memulainya dari kenangan. Hahaha.

Tetapi, cukuplah bagi kita untuk paham dan tak lagi larut di dalamnya. Kita pembelajar yang baik, aku yakin. Jadi kita bisa mematahkan mitos yang burul itu.

Aku memiliki rencana menyenangkan Sabtu ini selepas latihan nari, aku ingin sekali menonton, lalu setelah itu aku akan bertemu teman-temanku untuk penggalangan dana pengungsi Kelud. Doa kan segalanya lancar yaaa.

Yang mau kutanyakan adalah, bisakah kamu merekomendasikan film apa yang bagus untuk ditonton? Karna kalau dilihat dari aktivitas akun sosialmu, kamu sering sekali menonton. Aih, itu membuatku iri >.<!!

Pada Kamis pagi yang mendung.

Aria.

Tentang Hati yang Kemudian Patah


: Adji

Hari ini mendung dan tidak tepat rasanya membicarakan tentang hati yang terluka, perasaan kecewa disia-siakan apalagi diabaikan.

Tak ada yang istimewa dari itu bukan? Semua orang mengalaminya. Telan saja itu bulat-bulat.

Apa aku terdengar sinis, Dji? Faktanya, meski semua orang mengalami proses patah hati yang sama toh efeknya berbeda-beda. Kamu nggak bisa membandingkan sakit yang kamu rasakan dengan orang lain. Tak ada yang lebih baik atau lebih berat.

Aku pun berhenti memercayai orang. Menjadi pendendam. Tetapi, terbuat dari apakah rindu hingga ia tak bisa dilebur? Hingga tak bisa ditanggalkan saja ketika seseorang itu berlalu?

Bagaimana patah hati bisa sesakit ini? Padahal apa yang dipatahkan pun tak berwujud.

Semua orang sadar pada perpisahan, tapi saat hari itu datang tak satu pun dari kita benar-benar siap. Tetapi, hidup ini, Dji, harus seperti apa kita menjalaninya? Berbahagia! Tentu saja, itu yang harus kita lakukan. Biarkan dirimu mencintai banyak hal; musik, film, buku. Atau lakukanlah hal-hal yang disukai.

Xixixixi. Oiya, keinginan lamaku terwujud. Mulai Sabtu kemarin aku latihan nari sama temanku. Menyibukkan diri dengan hal yang kita suka. Semoga kita tak kehilangan diri kita sendiri lagi.

Ngomong-ngomong, aku setuju. Hidup pun pada dasarnya adalah perjalan seorang diri. Manusia rentan merasa sepi itu sebab kehadiran orang lain penting untuk manusia. Seseorang yang pernah datang di hidup kita mungkin hanya belum tepat.

Semoga kamu cepat bertemu dengannya.

Salam.


Selamat sore, Adji

Saat ini, belum genap pukul tiga dan Tangerang sedang sangat panas-panasnya. Betapa ajaibnya manusia. Ketika hujan, mengeluh dingin, mengeluh basah, mengeluh banjir, mengeluh ini-itu. Ketika hari panas mengeluh gerah, mengeluh terik, mengeluh ini-itu. Kita semua egois pada alam.

Aku tak punya agenda macam-macam hari Minggu ini, hanya menyampul beberapa bukuku dengan plastik mika. Setiap menyampul satu buku aku selalu mereka lagi dunia seperti apa tempat tokoh-tokoh di dalam buku hidup, lalu membandingkannya dengan penggambaran dunia seperti yang kamu tulis di suratmu. Dengan dunia kita dewasa ini.

Apa sudah pernah kubilang bahwa buku-buku fantasi selalu membuatku patah hati? Ya, aku patah hati. Karna dunia-dunia fantasi di dalam buku itu tidak pernah benar-benar ada. Dunia yang sepertinya sempurna untuk ditinggali. Sebuah negeri yang ajaib.

Seperti Shire? Negeri yang hidup diantara riang lagu-lagu dan legenda. Hari-hari yang ceria. Makanan yang melimpah. Orang-orang yang saling berbagi hadiah.

Atau seperti negeri ajaib Narnia? Yang nggak membuatku bosan menontonnya meski sudah berkali.

Tetapi, aku merasa beruntung tinggal di tempatku sekarang. Wilayah perumahan yang tak terpisah tembok-tembok tinggi diantara tetangga. Dimana kami sering berbagi makanan kecil bersama-sama. Mengobrol dan bercanda. Bagaimana aku melihat kehebohan ketika hujan tiba-tiba turun dan bersama-sama saling menolong mengangkat jemuran sesama tetangga. Ternyata, Dji, tidak semua orang kehilangan rasa empati.

Aku sempat merasa kaget, membaca sebuah tulisan seorang pengguna kereta. Ditulisan itu dia bercerita tentang bagaimana situasi di dalam kereta pagi. Saat-saat ramai dimana banyak orang menuju ibu kota untuk bekerja. Kamu tahu, Dji, apa yang terjadi di dalam gerbong? Di tulisannya, orang ini bilang ketika kereta akan masuk ke stasiun berikutnya ada seorang penumpang yang berteriak, ‘tahan pintunya, jangan dikasih masuk’ Sial! Betapa ingin aku memaki orang itu.

Ibu kota, apa sudah sebegitu mengubah perasaan welas asih manusia?

Ah, aku tahu. Itulah orang-orang yang hatinya tidak tersentu seni, sastra dan hal-hal lembut lainnya. Jiwa mereka tidak menerima asupan yang seharusnya. Mereka hidup tapi tidak benar-benar menikmati hidup.

Semoga kita bukan bagian dari orang-orang itu hingga tak perlu merasa ingin pindah ke dunia-dunia fiksi. Dunia kita, adalah yang paling baik tuhan beri. Bumi di antara planet-planet lain.

Akhirnya, semoga harimu menyenangkan.
.
.
.
Aria__

Di Hari yang Merah Mari Kita Berdoa


: Adji

Suratmu membuat soreku jadi penuh tawa. Benar kan? Betapapun perjalanan itu menyenangkan 🙂

Baru tadi pagi aku tahu bahwa gunung Kelud yang statusnya terus berubah akhirnya meletus. Ibu Pertiwi kita tercinta ini mungkin sedang diuji. Seberapa tabah kita. Tapi bisa jadi, ini adalah cara alam menyeimbangkan kehidupan.

Seperti hati kita? Barangkali

Jeda diperlukan untuk melihat ulang segala hal secara menyeluruh. Mundur satu langkah diperlukan untuk melihat banyak hal yang lebih luas. Tak apa-apa, kita nggak perlu memaksakan diri, bukan? 🙂

Di hari yang merah ini, marilah kita gunakan hati kita untuk berdoa agar segala hal menjadi semakin baik. Debu vulkanik pun meski berbahaya untuk manusia namun sangat berguna bagi tanah dan tumbuhan. Tuhan terlalu baik, memang.

Salam
.
.
.
Aria

Ps: kamu datang ke Malam Puisi? Kalau mau repot, aku mengundangmu datang ke Malam Puisi Tangerang.

Kabar Untuk Hati Kita


Ada apa denganmu?
Suratmu terasa tak bersemangat. Aku tak merasakan emosi apa-apa di sana. Pikiranmu terganggu dia yang akhirnya pergi itu?

Kemarin ada sebuah tweet yang aku lihat, isinya kira-kira begini; kalau kita sibuk mengurus orang lain, kita tidak akan punya waktu untuk mengurus diri sendiri. Menurutku itu benar. Ada satu waktu di mana hidupku dibuat sibuk memikirkan orang lain. Apa yang akan dia makan? Di mana dia akan tidur? Apa dia kedinginan? dan lain-lainnya. Aku memikirkannya seperti orang gila. Mengabaikan hal-hal lain yang seharusnya kupentingkan. Huuuffttt. Betapa cinta begitu mampu membutakan

Menurutku tak jadi soal jika kamu memusatkan hidupmu untuk dirimu sendiri. Bukankah kata bijaknya semua berawal dari diri sendiri? Jika kau menghargai dirimu, kau bisa menghargai orang lain maka orang lain pun akan menghargaimu. Begitulah prosesnya berulang, termasuk pada cinta, kasih, sayang. Ayolah, hatimu tak mungkin sebeku itu. Heh?

Jatuh cinta, Dji, adalah proses alamiah seperti bunga yang dengan pasti tahu kapan waktunya mekar, kapan kelopak-kelopaknya mesti menguncup. Berikan kabar baik pada hatimu, suatu saat, di waktu yang entah bagaimana cinta akan jatuh di dadamu. Tiba-tiba saja hidup seseorang bersilangan di hidupmu.

Apa? Hatiku?
Bayangkan aku mengetuk dada kiriku dengan jari manis dan telunjuk, lalu bayangkan aku berucap, kau masih perlu istirahat. Hahahaha. Abang pernah bilang, mungkin kami seharusnya menyayangin diri kami sendiri dulu.

Salam
.
.
.
Aria