Di Antara Semua Orang


image

I
Di antara semua orang, aku bukanlah siapa-siapa
karena itu kau bisa meninggalkanku kapan saja
juga datang kapan saja.

Di antara semua orang, cintaku padamu bukanlah apa-apa
sebab tak punya banyak bilangan waktu yang merupa kenang
pun tak cukup manis untuk meruap menjadi sajak.

Tapi di antara semua orang yang meninggalkanmu,
Aku satu-satunya yang bertahan
(atau mungkin tidak?)

II
Aku menemukan diriku memungut patahan-patahan hati untuk kusatukan lalu kuberikan kembali padamu hanya untuk dipatahkan.*

Aku menemukan diriku, membangun sebuah rumah seorang diri
lalu menghancurkannya, seorang diri pula.**

Aku menemukan diriku, di antara orang-orang yang kau lewatkan
di antara mereka yang kau inginkan
tetapi aku tidak di mana-mana, hanya di antara.

III
Aku bertanya-tanya, harus begini sakitnyakah cinta?
sampai dadamu terasa sakit bahkan hanya dengan menyebut sebuah nama.

Aku bertanya-tanya, berapa berartinyakah cinta?
jika ia hanya mengisi dadamu dengan kecemasan-kecemasan yang mampu melubanginya.

Aku bertanya-tanya, seberapa kuat aku bisa mencintaimu seorang diri seperti ini?

IV
Di antara semua orang
aku menemukan diriku
bertanya-tanya kenapa aku masih mencintaimu.

00:24
270915

Kepada e,
tolonglah, berhenti memberi  luka di  hatiku.

* bait di sebuah lagu milik The Rain Band
** diambil dari drama korea, Produser

Iklan

Semata Tentang Sepi


Siang tadi, terik berubah mendung
Kanopi-kanopi awan bergantung di sembarang sudut.
di depanku, lorong di mana kaki-kaki berlalu-lalang,
beberapa bergandengan tangan
yang lainnya bergerombol memecah riang.
Di antaranya,
Aku memeluk kenang-kenangan.

290315
20:47

Aku dan Kunang-Kunang yang Piatu


Barangkali, adalah hal yang mustahil menunggu kunang-kunang muncul ketika gerimis
Pun sama mustahilnya membekap rindu sedang ia mendekap jantungku erat-erat, hingga sesak, saat tak bisa kudengar suaramu.

Desember yang basah,
kunang-kunang merelakan sayapnya terlepas oleh titik-titik air lalu meringkuk di sarang ratu mereka
Aku yang resah,
Di tepi jendela meratapi hatiku yang piatu karenanya.

Aku dan kunang-kunang bernasib sama
Yang satu patah kehilangan sayap, satu yang lain meratapi cintanya yang senyap.

——–

image

22:25
Malam Desember yang Basah.
2614

setelah itu


Ada ruas jalan yang tak pernah kering dalam ingatan, melagut, merayu, memagut
Hingga sesak
Tak tahu apakah luka
Apakah rindu. Sebenarnya.

Aku mengingat-ingat, seperti apa rona wajah kita waktu itu.
Merah di bibirku atau senyum yang kaubingkai. Mengira-ngira, yang mana lebih lebam.

Lalu, ketika harapan-harapan pun mampu membunuh
Bukankah sebaiknya rindu tlah kubuang jauh-jauh?

Tetapi katanya, dalam doa, cinta adalah mimpi yang banyak diaminkan. Hatihati penuh debar menuju pulang.

Namun bukan kepada engkau.

Kepada sesiapa yang telah menjadikanku ranting, menjatuhkanku bagai daun, mengembalikanku pada sunyi.

Setelah itu.

________

21:00
Kota Tua, 18-04-14
Aria.

Telaga Milik Maharani


Aku sangat terkejut ketika diberitahu bidan  bahwa anak yang baru dilahirkan istriku ini mengalami kelainan pada fisiknya. Anak pertamaku terlahir dengan menderita cacat fisik, jari-jarinya tak utuh. Hanya ada tiga jari pada tangan kanannya dan empat jari pada tangan kiri. Hasil sempurna karna kekurangan asupan makanan bergizi dan menghirup asap pabrik yang banyak berdiri di desa kecil kami.

Satu jam sejak kelahirannya aku sudah bisa menerima anak ini dengan utuh. Dia anakku seperti apapun kondisinya. Aku hanya perlu menyakinkan istriku bahwa dia juga akan menerima cacat anak kami dengan lapang dada. Kami akan jadi orang tua yang menahan panas sinar matahari di atas kepalanya. Kami akan jadi orang tua yang menabur bunga-bunga di setiap jalannya.

Aku bahagia memandangi istri dan anakku bermain di petak kecil ladang kami, kelak anak itu akan tumbuh dengan kakinya sendiri, dengan usahanya sendiri. Kelak, dia tidak akan lupa bahwa ayah dan ibunya adalah kesegaran telaga yang bisa terus diraupnya sampai kapanpun juga. 

Dari Akulah Si Telaga milik SDD utk #FF2in1

Jauh Mimpiku*


Untuk percakapan beberapa malam lalu yg memberi harapan tp tak juga menenangkan

Yang terbanyak kita miliki adalah ingatan.
Sebuah kenang pada jalan-jalan, ruang, petang.
— selebihnya adalah kata-kata

Dan di sinilah aku, mereka dan menerka mana yang bisa kubawa ke masa depan sebelum akhirnya kau hilang di persimpangan.

Sementara rumah dan jendela ‘kita’ tak bisa tertutup selamanya, bukan?

Mimpi-mimpi yang kaumantrai,
Menjelma gelembung, jatuh pecah sebelum membumbung — oleh renik air mata yang kutabung.

15:42
Aria

Untuk #PuisiHore
Dari lirik lagu
Peterpan – Jauh Mimpiku
Pernah kusimpan jauh rasa ini
Berdua jalani certa
Kauciptakan mimpiku
Jujurku hanya sesalkan diriku
Kautinggalkan mimpiku
Namun kuhanya sesalkan diriku
*Kuharus lepaskanmu
Melupakan senyummu
Semua tentangmu tentangku
Hanya harap
Jauh ku jauh mimpiku, dengan inginku

#Astha


Kira-kira apa yang tak pernah kaukhayalkan?

Tentang piring-piring yang penuh selada?
Sebuah dapur dengan aroma roti?
Perpustakaan tempat kau diam-diam mencuri ciuman?

Kira-kira apa yang tak pernah kaukhayalkan (untukku) ?

Sebuah tempat tidur besar tanpa kamar.
Sebuah jari tanpa cincin.
Sebuah nanar yang nanap.

Di batasnya, #Astha kelak, butir-butir hujan akan beraroma coklat panas. Di beranda kenangan yang getas. Menuntaskan rindu yang cemas.

23:01
Aria
Untuk #PuisiHore2

Abu-abu


Ada yang pelan-pelan sesap di depanku
Jalan yang terbuka menjadi abu-abu : jauh
Seperti daun yang terserak oleh angin
Jatuh
Lalu makin menjauh
Mungkin malu sebab terlanjur jatuh ia

Dan hening yang mula-mula disapa
Menjadi terang doa di kala senja
Kita mewujud rupa fatamorgana
: nestapa

10:43
Aria

Sitok Srengenge : KERETA


Sebuah notulensi sederhana, sajak-sajak milik Sitok Srengenge yang beliau tweetkan di linikalanya. Selamat menikmati getir dan manis itu sekali lagi.
Salam.

1

Sendiri di Stasiun Tugu,
entah siapa yang ia tunggu
Orang-orang datang dan lalu,
ia cuma termangu

Sepasang orang muda berpelukan
sebelum pisah, seolah memeluk harapan
Ia mendesis,
serasa mengecap dusta yang manis

Kapankah benih kenangan pertama kali tumbuh,
kenapa ingatan begitu rapuh?
Cinta mungkin sempurna,
tapi asmara sering merana

Ia tatap rel menjauh dan lenyap di dalam gelap
: di mana ujung perjalanan, kapan akhir penantian?
Lengking peluit, roda + roda besi berderit,
tepat ketika jauh di hulu hatinya terasa amat sakit

2

Andai akulah gerbong kosong itu,
akan kubawa kau dalam seluruh perjalananku

Di antara orang berlalang-lalu,
ada masinis dan para portir
Di antara kenanganku denganmu,
ada yang berpangkal manis berujung getir

Cahaya biru berkelebat dalam gelap,
kunang-kunang di gerumbul malam
Serupa harapanku padamu yang lindap,
tinggal kenang timbul-tenggelam

Dua garis rel itu, seperti kau dan aku,
hanya bersama tapi tak bertemu
Bagai balok-balok bantalan tangan kita bertautan,
terlalu berat menahan beban

Di persimpangan kau akan bertemu garis lain,
begitu pula aku
Kau akan jadi kemarin,
kukenang sebagai pengantar esokku

Mungkin kita hanya penumpang,
duduk berdampingan tapi tak berbincang,
dalam gerbong yang beringsut
ke perhentian berikut

Mungkin kau akan tertidur dan bermimpi tentang bukan aku,
sedang aku terus melantur mencari mata air rindu
Tidak, aku tahu, tak ada kereta menjelang mata air
Mungkin kau petualang yang (semoga tak) menganggapku tempat parkir

Kita berjalan dalam kereta berjalan
Kereta melaju dalam waktu melaju
Kau-aku tak saling tuju
Kau-aku selisipan dalam rindu

Jadilah masinis bagi kereta waktumu,
menembus padang lembah gulita
Tak perlu tangis jika kita bersua suatu waktu,
sebab segalanya sudah beda

Aku tak tahu kapan keretaku akan letih,
tapi aku tahu dalam buku harianku kau tak lebih dari sebaris kalimat sedih

2012

Kepada Juni, Aku Minta Ketabahan Seperti yang Hujan Miliki


Meski ia jatuh tak memilih
Meski lebur ia pada tanah
Meski deras ia menjauh dan bermuara di segala ruang
Meski hanya datang untuk dahaga ranting yang kerontang
Meski terusik angin
Meski ia harus berubah warna, bau dan rasa
Meski nyeri karna berulang kali jatuh ia rasakan
Meski hujan tak punya wajah untuk dipandang atau telinga untuk mendengar ucapan terima kasih
Meski ia datang pada siang dan diacuhkan atau pada malam yang bergeming
Meski dalam perjalanan panjang
Meski ia sebenarnya sunyi, namun berkeretak sering diduga suaranya
Meski tertahan pada dinding kaca
Meski terusir dari wajah
Meski diucap dalam syukur atau keluh
Meski tak bersiklus karna ia abadi
Meski berjuta kali reinkarnasi
Meski tak bisa menampakkan raut sedih
Meski tak bisa tersenyum
Meski tak punya hati untuk merasa, tapi ia hangat. Sangat hangat.
Meski tak memiliki luka atau membasuhnya dengan sempurna
Meski tak memiliki tangan untuk digenggam
Meski ke dalam sumur yang gelap
Meski tak berkawan
Meski tak pernah merasa lapar
Meski terinjak
Meski Juni bukanlah pertengahan tahun

Terima kasih sudah datang mengunjungiku bahkan sebelum Juni terlahir.

Aria
01062012
00:18

image