Lonceng Angin

oleh Christian Barus

“Kupikir kau sudah mati?”

            Enggak ada dugaan yang lebih positif?

“Oke. Kupikir kau sudah nikah, hidup bahagia dengan isterimu, dan punya anak berumur dua tahun kurang lebih.”

Masih dendam ya kaunya?

“Menurutmu?”

Iya. Eh, aku di kota besok. Citraland. Kuharap kau mau singgah—di antara waktumu yang tak pernah sepi.

“Halah. Mau apa kau? Ngenalin mereka?”

Ayolah. Kalau menurutmu kita putus karena aku nemu cewek yang lebih baik darimu, yang lantas kunikahi, kau salah besar.

“Tiga tahun lalu kau ngomong begitu.”

Artinya selama tiga tahun pula kau salah paham.

“Sebentar…”

Tok, tok, tok. Seorang ibu separuh baya berdiri di dekat pintu. “Saya orang tua Nina,” katanya.

Aku teringat. “Oh. Silakan masuk, Bu. Silakan duduk,” kataku sambil menunjuk ke arah sofa. Perempuan itu agak canggung. Sekilas kulihat ia mengamati piagam-piagam di dinding ruangan saat aku berbalik.

“Ada tamu,” bisikku pada ponsel.

Sampai jumpa besok.

“Apa-apaan?”

Semaunya sajamu itu tak pernah berubah!

“Oke. Selamat sore, Ibu…?”

“Ibu Tati saja. Ini, mau menyampaikan solusi masalah Nina.”

“Oh, sudah dirembukkan rupanya?” balasku.

“Enggak persis begitu. Tapi malah lamaran saya di kota lain yang diterima. Sekalian mengatasi masalahnya, kami akan segera pindah.”

“Lho? Nina kan masih dua bulan di sini, Bu Tati. Kenapa harus pindah lagi?” tanyaku heran.

“Iya saya tahu, Bu. Saya selalu berpindah-pindah kerja. Nina pasti kena imbasnya. Tapi saya enggak punya pilihan. Kantor baru itu tampaknya jauh lebih baik dari yang di sini. Kami bakal lebih berkecukupan kalau saya kerja di sana.”

“Pindah terus bisa bikin Nina enggak punya teman dekat lho, Bu Tati.”

Ia memaksakan senyum. Lalu berkata, “Kami akan mengatasinya. Semoga kali ini kami enggak harus pindah lagi.”

Aku memandang wajah Ibu Tati. Entah untuk apa, aku yakin sedang menerawang apa yang ada di dalam pikirannya. Kira-kira hal apa yang membuatnya memutuskan pindah lagi—selain soal pekerjaan. Dari rambutnya, setidaknya ia belum 40. Mungkin baru 38 atau bahkan 35. Ia terlihat jauh lebih muda dari ibuku.

“Ini surat permohonan saya. Kantor baru enggak bisa menunggu lama, Bu. Saya dapat peluang bagus dan enggak ingin menyia-nyiakannya.”

“Ya sudah. Besok akan saya sampaikan ke Kepala Sekolah,” kataku akhirnya memutuskan tidak terlibat lebih jauh.

“Terima kasih, Bu. Saya pamit sekarang.”

“Enggak nunggu Nina pulang? Paling-paling satu jam lagi kok.”

“Mesti membereskan barang-barang di rumah. Nina bisa pulang sendiri. Saya permisi dulu, Bu. Selamat sore.”

***

Jam lima tepat keesokan harinya, bel sekolah dibunyikan. Keriuhan anak-anak menyeruak ke udara. Aku sendiri sudah mematikan komputer beberapa menit yang lalu, online di ponsel, dan menunggu Nina melintas. Ia biasanya pulang dari lorong di depan ruang Kepala Sekolah. Aku bisa mengenalinya karena sejak pindah ke sekolah ini, kami pernah mengobrol beberapa kali.

Sebulan belakangan ia mengaku takut setiap kali berangkat ke sekolah.  Karena itu ia jadi banyak melamun saat pelajaran, yang membuatnya berulang kali ditegur. Akhirnya ia dibawa ke ruang guru. Di sana, kami bertemu lagi. Dari wali kelasnya kudapati cerita itu. Nina mendengar bunyi lonceng angin.

Lorong gang yang dilewati Nina setiap berangkat dan pulang sekolah, tidaklah sepi. Jalan itu hampir selalu ramai dengan anak-anak sekolah di jam-jam tertentu, anak-anak gang yang bermain, para penjual jajanan, orang-orang yang tinggal di sekitar tempat itu, dan burung-burung gereja. Termasuk aku dalam beberapa kali kesempatan.

“Bunyinya bagaimana?” tanyaku sekali waktu.

“Cring, cring, cring. Begitu.”

Telinganya tentu tidak bermasalah. Juga kemampuannya meniru bunyi lonceng angin. Lagipula, itu memang gampang ditiru. Namun aku curiga Nina hanya berfantasi. Ibunya bilang—beliau dipanggil ke sekolah karena tingkah Nina yang mulai mengkhawatirkan—dulunya mereka punya lonceng angin di salah satu pintu rumah mereka ketika Nina masih balita.

“Di sebelah mana?” tanyaku mengenang sore itu.

Nina menggeleng pelan. Ia tidak tahu persis. Jelas bahwa bunyi itu diterbangkan angin dari suatu tempat, terkatung-katung sekian lama di udara, yang lalu tertangkap telinga Nina. Teman-temannya yang juga melewati lorong itu mengaku tidak mendengar apa yang Nina dengar. Hal yang membuatku semakin kuat menduga Nina hanya berfantasi—atau paling parah punya teman imajinasi yang berwujud lonceng angin.

Gimana?

“Maksudmu apa sih? Setelah tiga tahun tanpa kabar, sekarang seenaknya saja mau ngajak ketemuan. Aku sibuk.”

Kau sibuk setelah jam lima?

Ini weekend. Aku mau menghadiri acara Malam Puisi di…”

Aku bisa antar kau ke sana.

“Maumu apa?”

Menatapmu langsung.

“Muterin bola mata.”

Hahahahaha. Aku sudah di Citraland sekarang. Telepon aku kalau kau sudah sampai.

“Nomormu privat!”

Ia sudah menutup telepon. Tepat seusai gelengan kepalaku berhenti, aku menangkap sosok Nina.

“Nina, ke sini!” panggilku..

Butuh waktu bagi tubuh kecilnya untuk bergerak di antara kerumunan siswa lain. Lihatlah ia! Rambut dikepang. Legam dan terawat. Pipinya agak merah. Kedua bola matanya berkilau, mendongak menatapku. “Ada apa, Bu Aria?’ sapanya bertanya.

“Ibu temani pulang yuk!” kataku.

Ia menurut dan berjalan di depanku. Sesampainya di luar pintu gerbang, kami berjalan bersisian sambil sesekali aku menepi karena jalan gang tidak terlalu lebar.

Di sebelah kiri dan kanan jalan, terdapat selokan kecil yang menghitam meski air yang mengalir melalui selokan itu, katanya tidak sekotor beberapa tahun yang lalu. Beberapa bagian selokan itu melebar dan sedalam hingga lutut anak-anak. Beberapa sedang bermain di sana. Mencari ikan. Bertelanjang dada.

Para penjual jajanan menyesaki gang dengan gerobaknya masing-masing. Juga beberapa mobil yang diparkir. Beberapa meter di atas kami, kabel-kabel telepon, kabel-kabel listrik, tali jemuran, dan antena TV menciptakan kesemrawutan yang mengganggu. Ketika aku mendongak ke atas aku bisa melihat gedung-gedung bertingkat dengan jendela-jendela terbuka. Juga jendela yang dipagar tinggi-tinggi seperti sangkar burung raksasa. Gedung-gedung ini tampak tak seburuk penampilan wajahnya. Namun di belakang memang kumuh. Catnya banyak menghitam, coreng-moreng, mengelupas di sana-sini.

Aku menajamkan telinga sepanjang perjalanan sambil sesekali melirik Nina. Ia tidak begitu memperhatikan sekeliling. Pandangannya tertuju pada jalan di bawah kakinya. Atau pada sepatunya yang lucu itu.

“Kalau sore enggak ada bunyinya, Bu,” katanya setelah beberapa saat.

“Oh ya?” sahutku sedikit gugup seolah tertangkap basah. “Ah, kamu sudah bilang begitu ya. Ibu lupa. Tapi Ibu memang penasaran.”

“Ibu pasti enggak percaya. Sama kayak teman sekelas Nina.”

Kubelai rambutnya sambil terus berjalan. “Ibu percaya kamu,” kataku berbohong dan memutuskan untuk mencoba tidak penasaran lagi.

Kami sampai di rumahnya. Ia tinggal di sebuah ruko, meski ibunya tidak berjualan apa pun di sana. Sebelum ia masuk, aku memberikannya map yang sudah kusiapkan. “Kasih sama Mama ya,” kataku. “Di situ sudah ada surat keterangan yang Mama minta dari sekolah.” Sesaat kemudian aku sadar aku tak perlu bilang itu.

“Terima kasih, Bu Aria.”

“Iya. Jaga dirimu baik-baik. Jadi anak manis dan rajin belajar.”

Ia tersenyum lalu menutup pintu. Dan itu adalah saat terakhir aku bertemu dengannya.

***

Aku tidak setuju dengan cinta pada pandangan pertama. Tapi pada Nina, aku benar-benar jatuh cinta ketika pertama kali ia datang ke sekolah. Gadis kecil itu tampak mungil dan rapuh. Membuatku harus menemaninya ke manapun ia pergi. Mengantarkannya ke sekolah, menjemputnya lagi. Di akhir pekan kami akan berlibur, piknik ke tempat-tempat wisata. Malam hari kami bisa bercengkerama di ruang keluarga. Menonton Cartoon Network atau apa saja. Malam-malam di hari sekolah, aku berdiri di belakangnya, membantunya mengerjakan PR—dengan sorot lampu belajar dari masa kecilku.

Dan Nina harus pindah. Besok ia tidak akan datang ke sekolah. Aku mendadak rindu. Harus kuakui, tepat ketika pintu rumahnya ditutup, aku merasa disergap kehilangan.

Namun hal yang sekarang harus kulakukan adalah berjalan menyusuri jalanan gang tadi. Kulirik ponsel. Laki-laki itu ada menelepon dua kali. Setengah jam yang lalu dan lima belas menit setelahnya. Biarlah ia menunggu jika memang ingin menemuiku.

Beberapa menit kemudian aku tiba di Citraland. Melangkah masuk menuju satu-satunya tempat yang kutahu pasti tempat laki-laki itu menunggu. Dan memang di sanalah ia. Di kafe kecil yang menghadap lalu lintas super padat. Aku pernah mengalami hal ini sebelumnya. Dulu, sudah lama sekali. Mungkin lima tahun, entahlah. Saat itu, laki-laki ini juga yang sedang menungguku—dengan sekuntum bunga matahari yang coba disembunyikannya di kursi sebelahnya. Kau mau membunuhku lagi, Ian?

Ia pura-pura kaget ketika aku tiba di hadapannya. “Apa kabarmu? Duduklah. Duh, jangan di situ. Jauh amat.”

Aku menolak duduk di sebelahnya.

“Kau sehat?”

Aku mengangguk.

“Kau enggak berubah ya?”

Aku lemparkan pandangan menembus dinding kaca, kepada keramaian di seberang, gedung-gedung menjulang, dengan latar belakang langit petang yang mulai meredup.

“Mau apa kau?” tanyaku.

“Galak amat sih. Kau mau makan apa?”

“Aku enggak makan.”

“Diet? Hahahaha.”

Ternyata kerut di sudut matanya juga hal yang tak berubah. “Udah deh. Bilang kau mau apa?” tanyaku agak kesal.

“Ayolah. Setelah sekian lama akhirnya aku bisa mentraktirmu, kau malah enggak mau makan? Minum deh. Minum.”

Aku menggeleng.

“Padahal minuman ini enak lho! Aku sudah minum tiga gelas. Kembung. Omong-omong…”

Dan tanpa persetujuan, ia bercerita beberapa hal dalam hidupnya tiga tahun belakangan. Katanya ia sudah berlayar ke beberapa tempat, meski tak satu pun yang menarik untuk ia tulis jadi cerita. Aku tahu. Mungkin maksudnya ia tidak menemukan perempuan lain di tempat yang ia singgahi. Tapi aku tak lantas percaya. Katanya juga, ia, pada tahun kedua, berpikir bahwa hidupnya akan selalu begitu. Tanpa keseruan. Tanpa perkembangan berarti. Tanpa pekerjaan tetap apalagi karir. Namun satu yang ia tekankan, bahwa ia tidak menikah.

“Kau sudah kepala tiga,” kataku.

“Iya. Aku ingat ulang tahunku kok.”

Aku tertawa kecil. “Apa kau enggak sedikit pun punya niat menikah?”

Ia terdiam. Lalu menggeleng pelan.

“Kau enggak pernah membayangkan punya anak?”

“Aku kan enggak mungkin melahirkan sih.”

“Enggak lucu.”

Ia tertawa.

Lalu padanya kuceritakan kisah Nina dan lonceng angin. Seperti yang kuingat, sejak dulu laki-laki ini tak pernah bisa diam mendengarkanku bercerita. Ia sesekali menyeletuk, bercanda, dan tertawa. Sampai-sampai aku mengingatkannya bahwa ceritaku belum selesai. Meski begitu, kupikir ia mampu menangkap apa yang kuceritakan. Katanya, “Nina kemungkinan besar hanya berhalusinasi.”

Ternyata aku salah.

Aku setuju. Tapi, “Kau enggak dapat kesan khusus ya?”

“Oh! Maksudmu misterinya?”

Aku membetulkan letak punggung.

 “Oke. Aku enggak ngerti…”

Kuhela napas berat dan panjang dan disengajakan. “Nina lho! Anaknya lucu dan manis.”

“Mamanya cantik?”

“Please deh!”

“Oke, oke. Sebentar. Aku harus mengeluarkan kemampuan terbaikku. Baiklah. Menurutku kau menyayangkan ada malaikat mungil yang terlahir di keluarga yang salah?”

“Jauh banget!”

“Jadi apa dong, Ar?”

“Bener ya! Dari dulu kau memang enggak pernah peka. Pantas enggak ada perempuan yang bertahan lama samamu.”

“Jangan salah! Aku bisa nikah detik ini juga!”

“Gaya!”

“Dan kalau maksudmu soal kesan khusus kau yang tiba-tiba kepingin melahirkan manusia-manusia berukuran kecil, yang lucu dan manis, yang ke sekolah pakai sepatu lucu kayak Nina itu, aku bisa paham. Semua perempuan kan sama aja.”

“Ya ampun sinisnyaaa.”

“Enggak sinis. Tapi aku kan lebih paham keinginanku dari siapapun.”

“Enggak mau kalah lagi.”

“Aaaahh… Bukan begitu maksudnyaaa.”

“Kau tahu kan September nanti aku tiga puluh.”

“Good for you.”

“Dasar kau yaa!” kucoba mencubit tangannya meski ia lebih dulu berkelit.

“Aku juga pernah tiga puluh kok. Santai aja.”

“Orang tuaku yang enggak santai!”

“Terus? Kau udah nemu cowok yang bakal membuatmu melahirkan Nina lain?”

Aku memilih diam. Menatap mata cokelatnya yang sedikit berubah. Beberapa jeda hanya terdengar kesibukan para karyawan kafe dengan pekerjaannya masing-masing dan momen saling pandang yang tak kusangka bisa kulewati lebih lama dari sembilan detik.

“Apa maksud tatapanmu itu coba?” katanya membuatku lega dan berkedip lagi. “Oh, enggak mungkin. Hahahaha. Kau enggak mungkin mikir itu, Ar.”

“Mikir apaan? Ge-er banget sih jadi orang,” aku lepas tertawa. Dia juga tertawa. Untuk ukuran pengunjung yang cuma memesan minuman, jelas kami terlalu berisik.

“Lalu kau mau ke mana habis dari sini?” tanyaku setelah tawa kami reda.

“Mutiara enggak jauh berubah.”

“Hahahahaha. Nginep di sana?”

“Yap. Eh, kau sendiri mau ke acara Malam Puisi apa tadi?”

“Tiap akhir pekan ada acara begitu. Aku beberapa kali hadir. Jadi panitia juga pernah. Kau mau…”

“Enggak.”

“Katamu kau bisa nganterin!”

“Oh, kupikir kau mau bilang ‘kau mau ikut?’”

“Ya sudah. Aku berangkat dulu. Bye.”

Lalu aku pun meninggalkannya. Laki-laki itu, kuyakin memandangku saat melangkah pergi dari kafe. Sampai beberapa langkah, kupikir ia akhirnya akan memanggilku. Mungkin menawarkan diri mengantarkanku. Menemani atau apalah. Namun ia tak melakukannya. Kapan terakhir kali kuingat ia mencegahku pergi? Rasanya tak pernah. Aku yang selalu mencegahnya, semampuku yang nyatanya tak pernah bisa membuatnya kembali berpaling.

Di dalam angkutan umum, aku memikirkan beberapa hal acak. Tentang Ian. Tentang apa yang pernah ia ucapkan yang kini dikaburkan banyak hal yang sudah kulewati selama tiga tahun tanpa kabar dirinya. Lalu aku memikirkan apa yang tadi kami bicarakan. Bagaimana perbincangan seperti itu bisa terjadi? Nina! Oh, gadis kecil yang setiap berangkat ke sekolah berhalusinasi mendengar bunyi lonceng angin. Tanpa sadar aku menggeleng pelan. Mendesah dan memperhatikan sejenak wajah para penumpang lain. Beberapa orang tua. Mungkin pekerja, karyawan, atau orang-orang seperti aku. Bedanya, aku yakin mereka punya seseorang atau keluarga yang menunggu di rumah.

Kudorong kaca. Angin malam meniup keningku. Sayup-sayup, di antara keriuhan lalu lintas, telingaku menangkap bunyi lonceng angin berdenting perlahan. – Cirebon, 2016.

Dongeng untuk yang Senantiasa Ditinggal


Kalian mungkin berpikir aku menceritakan kisahku sendiri, tapi terus terang saja kukatakan ini bukan kisahku. Tapi mungkin kalian akan bersih keras mengatakan bahwa ini kisahku meski bisa saja ini adalah kisahmu sendiri, yang bisa juga menjadi kisah tetanggamu, adik atau kakakmu, temanmu di tempat les menari yang selalu tampak ceria, atau bisa jadi ini kisah kucing peliharaanmu yang manis di kehidupan lalunya, sebelum ia menjadi kucing, tentu saja.

Tapi kusarankan lebih baik kautak perlu repot-repot menebak ini kisah siapa. Akan lebih baik jika kaupenasaran sebenarnya ini kisah apa. Betul kan?

Maka, dengarkan aku baik-baik. Jangan menyela ketika aku belum selesai.

——–

Pasti, sekali dalam hidupmu kauberkenalan dengan seorang tukang sulap. Pada mulanya, ia menyenangkanmu. Melakukan trik-trik sederhana seperti mengeluarkan kelinci, burung, dan kucing dari topi. Ia membuatmu takjub. Memesonamu tanpa ampun. Memunculkan juga kebahagian yang memancar dari bibir dan matamu. Dari hatimu.

Kukatakan tadi pada mulanya, sebab setelah itu ia tak lagi hanya menjadi Pesulap yang memesonamu. Sekarang ia menjadi Penyihir. Ia mengubahmu menjadi tembok, ranting kayu, kerikil dan hal-hal terabaikan lainnya.

Apakah sampai di sini ada kisah yang sama seperti kisahmu?
Mungkin saja iya. Tetapi, kautahu, seseorang– kita sebut saja namanya Valinka– sama seperti ceritaku sebelumnya, ia terpesona pada seorang Pesulap. Lalu Sang Pesulap menjadi Penyihir. Di antara ranting kayu, tembok, kerikil dan hal-hal terabaikan lainnya, Valinka memilih untuk disihir menjadi dermaga.

Ah, mendengar kata dermaga saja sudah terasa menyesakkan bukan?

Valinka, dengan kesadaran penuh membiarkan dirinya menjadi tempat singgah. Sebab ia tahu. Semestinyalah keberangkatan adalah kepulangan bagi yang lain, bagi dermaga lain*. Meski ia sendiri akan menjadi karat. Tua dimakan usia. Risau oleh desau angin yang menderu di atasnya. Ia tetap terpancang kokoh. Sebab ia yakin, akan ada yang pulang padanya menggantikan yang pergi.

Kautahu? Hanya aku yang tahu bahwa tak ada yang akan pulang pada Valinka. Sebab sebuah dermaga baru sudah didirikan di tempat yang semestinya. Sebuah dermaga yang membuat Valinka makin terabaikan.

Menurutmu kenapa sebuah dermaga tidak lagi digunakan atau ditinggalkan?

Tak ada yang pasti dari jawaban itu. Semua orang bisa punya satu jawaban yang berbeda. Tergantung siapa yang bertanya. Tergantung apa kausedang bahagia atau tidak. Tergantung apa saja. Kauakan mengerti kelak ketika kausudah berubah menjadi Penyihir dan mengubah seseorang menjadi dermaga.

Kusarankan padamu untuk tidak menyihirnya menjadi dermaga. Karna semua orang mahfum, bahwasannya dermaga hanya tempat singgah. Tak ada yang pernah benar-benar tinggal.

Tak ada yang benar-benar tinggal.

——–

08:27
Aria

Ket :
1) Esensi cerita diambil dari puisi Uda Indrian Koto – Bagi Kita yang Senantiasa Ditinggal di http:// http://puisi-puisi-indonesia.blogspot.nl/2011/11/puisi-puisi-indrian-koto.html?m=1

2) Cerpen ini terpengaruh dari gaya penulisan AS. Laksana karna saya baru saja selesai membaca Murjangkung. Well, itu buku yang menyenangkan.

Lelaki, Hujan dan Liontin Jam Pasir


Hujan sudah turun sejak pukul tiga. Empat jam sudah berlalu tetapi tidak ada tanda-tanda bahwa panah-panah air yang terus mendebum ke jendela di sampingnya akan berhenti. Lelaki itu menoleh ke samping kiri, kota terlihat berembun dari balik dinding kaca. Lampu-lampu bersinar samar di kejauhan. Kantornya sudah sepi sekarang. Hampir semua rekannya nekat menebas hujan pada pukul lima tadi sebab lebih nyaman berada di dalam rumah dengan banyak makanan atau di bawah selimut, atau mungkin di pelukan kekasihmu. Tapi tidak baginya, tak ada yang menunggunya di rumah. Buru-buru ia mengalihkan pandangan dari jendela ke komputer ramping berwarna putih di depannya. Mengotak-atik satu aplikasi desain. Guruh menggelegar, gemanya merambat di dinding sekitarnya. Laki-laki itu tertegun. Sebuah ingatan yang jauh menghantamnya.

——–

Hei, kemarilah. Apa kamu nggak kedinginan?

Perempuan itu bergaun hijau selutut, dibalut sweater putih sebatas siku di luar. Rambutnya ia sanggul sekenanya. Anak-anak rambut jatuh di sekeliling wajah tersenyumnya. Sepatunya basah karna ia sering kali menjulurkan kakinya melewati ujung atap. Berjingkat-jingkat seolah menghindari hujan tapi sebenarnya ia berharap air-air itu jatuh menimpanya.

Rayaaaa, kamu bisa sakit. Hei!

Dega seperti terkena serangan jantung melihat perempuan di depannya ini seakan mau terjatuh. Padahal kalau pun ia jatuh, tingginya tak sampai 8 senti. Tak akan terjadi apa-apa yang cukup fatal memang, Dega mendengus. Ia melihat Kalung berliontin jam pasir berwarna biru berayun-ayun di leher Raya ketika gadis itu mulai lagi bersijingkat. Kalung jam pasir yang sama seperti yang dimilikinya.

Kakak nggak usah sedih, kalau Raya sudah nggak ada dan kakak kangen Raya. Kakak tinggal genggam jam pasir ini, ucapkan sekali saja, maka jam pasir ini akan membawa kakak, membawa kita ke masa sekarang.

Omong kosong! Dega tentu saja tak percaya. Tapi apa gunanya menghancurkan harapan orang yang akan segera menutup matanya? Maka hari itu Dega memamerkan senyum terbaiknya pada Raya, mengucapkan terima kasih dan berjanji akan melakukannya.

——

Persis yang ia lakukan saat ini. Mengeluarkan kalung jam pasir itu dan menggenggamnya. Sejak kecil Dega akrab dengan kehilangan. Ayahnya yang meninggal ketika meliput untuk koran tempatnya bekerja di wilayah konflik. Ibunya yang begitu saja tenggelam dalam kesedihan karna kehilangannya itu hingga tak menyadari putri kecilnya perlu ia perhatikan. Ibu tenggelam lebih dalam, mengacuhkan dirinya dan Raya. Hingga ia tersedak air matanya sendiri dan menyusul ayah kemudian. Sekali lagi, Dega menaburkan kelopak-kelopak kamboja di pemakaman.

Tinggal menunggu waktu sampai ia akan menaburkan bunga kamboja di atas makan Raya.

Jantungnya mencelos ketika sekali lagi guruh menghantam bumi. Jendela bergetar samar. Udara terasa mendengung di sekelilingnya. Dega menatap sekali lagi kalung di tangannya. Dia tak pernah bertanya dari mana Raya mendapatkan kalung itu. Birunya masih berkilau sampai sekarang, sangat kontras dengan kegelapan hatinya yang sarat kehilangan. Buru-buru ia menyimpannya kembali.

Tak ada yang telah pergi akan kembali. Tak ada. Sekalipun jam pasir itu menyimpan kejaiban. Yang pergi lalu kembali hanyalah takdir* yang lainnya tidak. Terlebih, sulit meminta kembali seorang yang pergi atas keinginannya sendiri**

——–

Tulisan ini dibuat untuk abang Dwi, terpikir begitu saja ketika tadi berbalas wasap dengannya sebentar juga karena status wasapnya tapi sepertinya nggak ada kaitannya dengan itu.

* kutipan dari twiter, akunnya aku lupa
** diambil dari film My Wife is a Gangster

21:14
Aria.

Surat Kepada Jee


Pagi ini aku terbangun oleh suara getaran atau tepatnya suatu getaran. Bukan. Bukan. Bukan gempa bumi, Jee. Kamu tak perlu khawatir sebab gempa itu berpusat jauh dari rumahku bahkan masih delapan puluh enam kilometer lagi dari Kebumen. Lagi pula, Jee, gempa yang kedua itu terjadi tengah malam tadi. Ah, tapi tetap saja kita toh perlu berdoa agar tak lagi ada bencana mengguncang negeri ini, kan?

Tadinya kukira getaran itu berasal dari ponselku meski tak sekali pun aku merasa pernah menyetel ponselku dalam mode hening. Dan benar saja, saat aku meraba-raba dan sudah menemukan ponsel itu, suara getaran, sesuatu yang bergetar tadi masih ada.

Sambil mematikan lampu tidur aku bangkit dari kasur dan menyibak jendela. Ah, kamu tahu, Jee? Dari sanalah suara getaran tadi berasal. Seekor capung gajah di jendela besar dalam kamarku. Dari mana hewan ini masuk ya, Jee? Apa kamu tahu?

Kamu tahu kan kota kita ini dipenuhi mitos-mitos? Misalnya saja, tentang kupu-kupu. Katanya kalau sebuah rumah dimasuki kupu-kupu, itu tandanya rumah tersebut akan kedatangan tamu. Seseorang yang ditunggu-tunggu. Orang lama yang tak terduga. Apa kamu percaya mitos itu, Jee? Aku percaya. Sebab dulu sebelum kamu datang, seekor kupu-kupu kuning kecil melintas terbang ke dalam rumahku. Kupu-kupu kecil yang manis sepertimu, Jee.

Ada juga mitos tentang kupu-kupu hantu. Kupu-kupu berwarna hitam dengan bintik-bintik putih, coklat dan kuning pucat. Yang lama kelamaan jika terus diperhatikan, bintik-bintik di sayapnya membentuk sebuah pola ; tengkorak. Kamu tahu, Jee? Aku mati-matian tak percaya saat kamu bercerita ada kupu-kupu bersayap tengkorak masuk ke kamarmu. Tapi ternyata mitos itu benar. Kupu-kupu hantu adalah pertanda kematian.

Dari sana aku mulai menciptakan mitosku sendiri, Jee, tetapi kupu-kupu bukan sebagai pertandanya. Aku tidak suka kupu-kupu. Ulat-ulat kupu-kupu membuatku jijik. Ya, Jee, tertawalah! Aku memang lelaki penakut tapi tak masalah bagiku kalau aku adalah alasanmu untuk tertawa.

Hewan yang kugunakan sebagai mitos adalah capung, Jee. Penerbang tangguh dengan empat sayap yang tahu-tahu saja sudah bertengger di kaca besar dalam kamarku ini. Seperti kupu-kupu pertanda, kedatangannya juga tak bisa diprediksi. Tahu-tahu saja capung ini ada. Lalu hilang, seajaib cara capung itu masuk ke kamarku.

Setiap kedatangannya membawa perasaan sendu di hatiku, Jee

Pada awalanya aku tak bisa menebak sebabnya. Pada kali kedepalapan capung ini bertandang padaku, aku tahu, perasaan sedih itu datang karna aku teringat padamu, Jee. Capung ini mengingatkanku padamu, entah bagaimana.

Sebab itu, bagiku capung adalah pertanda bahwa kamu merindukanku, Jee.

Aku benar kan?

Salam

Wija

=====
Sebuah cerita untuk @Cikie_

08:39
28/01/14
Aria

Cat: Jee diambil dari nama Chitra Banerjee Divakaruni, kebetulan aku sedang memegang bukunya.
Wija diambil dari nama abang Dwi.
Soal kupu-kupu diambil dari salah satu cerpen Hermawan Aksan dalam kumcer Lelaki yang Terus Mencari Sumbi

Dua Isyarat


Aku hampir saja terlelap ketika mendengar gerendel pintu depan berbunyi klik dan pintu terbuka. Dengan agak menegakkan punggung dan menjulurkan kepala dari atas tempat tidur melalui pintu kamarku yang terbuka, aku melihat sosok adikku masuk sambil bersiul.

Rumah kecil tipe dua satu ini memiliki sekat ruang-ruang yang dekat sehingga sangat wajar dari kamarku yang hampir lurus menghadap pintu aku bisa melihat siapapun yang datang tanpa harus beranjak. Aku mendengar adikku masih menyiulkan–entah lagu apa, aku tak mengenalnya–saat ia berjalan ke arah dispenser. Aku bangkit dan melihatnya mengambil gelas dari ruang di bawah lalu menekan keran berwarna biru–itu artinya dingin. Ia meneguk air satu kali. Memalingkan wajahnya padaku dan berkata, aku melihatmu tadi, turun dari taksi di depan pemakaman Garendeng.

Reflek aku menautkan alis. Ke pemakaman? Tidak, kataku. Aku tadi hanya mengantar Anindar–adik sepupu kami–ke sekolahnya. Selepas itu aku pulang. Dan kautahu, kataku, sekolah dan pemakaman berlawanan arah. Ia mengangkat bahu tak peduli lalu pergi ke kamarnya.

Hebat sekali! Dalam satu hari ada dua orang yang melihatku ada di pemakaman. Sebelumnya, tetangga kiri rumah mengatakan ia melihatku memasuki pemakaman–yang aku tak tahu apa namanya. Meski pemakaman itu tak jauh dari sekolah Anindar tetap saja, aku memang tidak pergi ke sana. Ini lelucon yang sangat tidak lucu. Sama sekali tidak. Dadaku berdetak tak karuan. Mengingat ayah-ibuku sedang dalam perjalan sehari semalam menuju kampung halaman. Mungkin saat ini mereka ada di dalam feri tengah menyebrang di atas selat Sunda. Semoga tak ada kebocoran apapun yang bisa membuat kapal berpenumpang banyak itu karam. Semoga tak ada kebakaran di lambung kapal seperti pernah terjadi beberapa tahun berselang. Tuhan, semoga tidak.

Aku mencoba mengingat-ingat, adakah perilaku-perilaku khusus sebelum kedua orang tuaku berangkat? Adakah kejadian kecil yang mungkin merupa isyarat? Nihil. Aku tak mengingat hal penting. Aku memeluk diriku sendiri, udara mendadak terasa dingin. Kakiku ngilu diterpa angin dari kipas angin di dinding. Aku bangkit, berniat menghangatkan diri dengan segelas teh–juga agar kepalaku bisa sedikit tenang sebab kandungan antioksidan di dalamnya.

Di luar langit sudah jatuh temaram bahkan nyaris kelam. Hujan ternyata turun cukup lebat, jatuh miring mengenai sisi luar pintu kaca rumahku. Aku menyingkap gorden. Membungkus ketakutanku sendiri di dalam rumah.

***

Pagi datang dan tampak tergesa. Meski begitu aku bangun pada pukul empat, seperti biasanya. Segalanya tampak normal. Selain denyut di kepalaku yang menderai. Aku tak ingat kapan tepatnya aku terlelap. Seingatku, semalaman mataku nyalang. Memikirkan ke mana arah dua isyarat soal pemakaman itu. Ah, sebaiknya aku menelpon kedua orang tuaku. Bukankah aku belum mendengar kabar mereka sejak semalam?

Tapi rupanya aku tak perlu melakukan itu. Bunyi ponselku menyeruak sunyi rumah. Ibu. Ya?, aku mengangkat telepon. Cepat bertanya bagaimana kabar mereka. Aku mengoleskan senyum di bibir, mereka sudah semakin dekat rumah nenek–orang tua dari ibuku–dan dalam keadaan baik-baik saja. Tak ada kendala berarti selain tertahan cukup lama, mengapung di pinggir dermaga. Ombak sedang kencang, feri kesulitan bersandar. Hanya itu.

Sambungan telepon berakhir. Rumahku terasa lebih sunyi. Lamat terdengar suara gerimis menempa atap. Di atas motor dengan jas hujan, aku benci itu, kataku lalu mengambil handuk dan keluar kamar. Sebelumnya aku membangunkan adikku dulu.

***

Apa kita mau ke pemakaman?

Aku tertegun mendengarnya. Adikku duduk menghadap televisi–info olaraga–sambil menyesap–dari baunya, itu pasti kopi–tapi bukan itu yang menarik perhatianku. Warna. Warna baju yang kami pakai hari ini. Hitam-hitam. Kami benar-benar seolah sedang berkabung.

Tadi ibu menelpon, kataku menghiraukan tapi seperti menjawab kata-kata adikku barusan, mereka sudah mau sampai. Mungkin pukul tujuh nanti sampai di rumah nenek. Aku mengembuskan nafas. Suasana terasa ganjil. Baguslah, hanya itu jawaban adikku.

***

Jalanan licin tak membuat adikku mengurangi kecepatan motornya dari batas biasanya. Well, semua benar-benar tampak normal. Aku mempererat pegangangku pada pingganganya. Entah ia sadar atau tidak. Dari balik pundaknya aku berkonsentrasi pada jalanan di depan. Mungkin aku bisa memperingatkannya ketika ada soluna kelabu melaju kencang dari arah berlawanan namun tampak kikuk membelok di tikungan.

Sial! Adikku mengumpat terang-terangan meski maut mengintainya amat dekat. Berusahalah, kataku di belakangnya, kali ini aku memeluk pinggangnya. Tabrakan tak bisa dihindari. Aku menghitung benturan-benturan yang terjadi. Teriakan. Teriakan. Kali ini kami benar-benar akan ke pemakaman tapi aku tak tahu jika aku akan membawa adiku serta.

***

14:43
01/01/2014
Aria

Percakapan Dua Perempuan tentang Warna


@empatsayap

21 Desember 2013

 

Lima belas menit berlalu sejak kami mendudukan diri di sofa beledru warna krem di Titanium Cafe. Pelayan baru saja meletakan hot lemon tea, pesananku dan coolcolurs—milik temanku—minuman rasa leci dengan potongan aga-agar warna-warni serta biji selasih. Aku merepet. Di udara sedingin ini dia masih saja memesan minuman dingin. Kamu kan tahu aku nggak bisa kalau nggak minum air dingin, kilahnya lalu tertawa tanpa dosa. Ya, tentu bukan dosa besar memesan minuman dingin, di ruangan ber-AC serta dalam keadaan hujan di luar sana. Aku mengalihkan pandangan ke dinding kaca pembatas cafe, berembun. Itu hanya masalah kebiasaan, kataku sengit, mengalihkan pandangan pada dia depanku. Kau hanya perlu mengubah itu.

“Jadi kebiasaan dengannya masih belum hilang yaa?” dia terkekeh.

Sial! Dia pasti meledek kata kau yang kulontarkan barusan.

“Baiklah, satu sama,” kataku.

Jeda. Dia sibuk mengaduk-aduk minumannya. Memilah-milih warna agar-agar mana yang ingin dia makan lebih dulu. Hijau. Tidak, dia menurunkannya lagi. Putih. Ah, ternyata merah. Aku menyesap teh lemon hangatku pelan-pelan, memegangnya dengan ke dua tangan,

“Kupikir kita harus mulai membicarakan tentang pernikahan,” ucapanku menarik perhatiannya, aku menahan geli.

“Pernikahan siapa?”

“Pernikahkan kita! Siapa lagi? Kita harus sudah berdiskusi soal baju-baju apa yang akan kita pakai nantinya, modern atau pakaian adat? Di Gereja atau Masjid mana? Tanggal, bulan dan tahunnya, konsep acaranya! Iya kan?”

“Aku memang patah hati, tapi aku normal! Tolonglah!” lalu dia melempar tissue ke arahku. Aku terkekeh.

“Reaksimu berlebihan,” kataku. “Aku tidak membicarakan pernikahan kita. Ya, aku membicarakan soal pernikahan kau dan aku tapi bukan kita.”

“Maksudmu?”

“Siapa tahu kan? Pernikahan kita juga pada saat yang sama?”

Sialan! Dia mendengus karna menangkap poin yang kuparodikan. Kami tertawa bersama. Dua sahabat sejak di sekolah menengah, jatuh cinta pada pria dari suku yang sama, patah hati di saat yang sama. Kebiasaan kami membeli barang-barang kembaran menular juga di urusan asmara.

Jadi, kenapa dia meninggalkanmu? Aku bertanya.

Dia diam lagi. Luka yang baru saja tertoreh tentu terasa perih jika disentuh apalagi dikorek-korek. Bagiku sendiri, empat bulan juga belum cukup untuk dinyatakan benar-benar sembuh. Benar-benar pulih.

Dia kan di luar kota, dia memulai. Sibuk, Hampir setiap malam lembur bersama tim marketing perusahannya. Setelah empat minggu, lembur itu berlanjut kencan di hari Sabtu, dia dengan salah seorang rekan di timnya.

Dia selingkuh ya! Aku menyela, tak sabaran. Perselingkuhan bukanlah hal yang bisa kumaafkan.

Ya, tapi mungkin salahku juga, kadang-kadang aku juga tak sempat menyapanya. Sekadar menanyakan kabar atau hal-hal kecil lainnya.

Jangan bodoh! Aku kesal sekali. Temanku ini terlalu termakan ucapan orang-orang. Lihat diri kita sendiri dulu, mungkin kita yang salah jangan terburu menyalahkan orang lain. Kalimat itu benar. Ralat! Maksudku ada benarnya tapi tidak cocok untuk masalah ini. Pacarmu berselingkuh dan dia yang salah–yang punya masalah–bukan kamu!

Kulihat dia mengaduk-aduk minumannya, gerakannya tidak beraturan. Aku tahu dia sedang menahan tangis. Aku melempar pandangan ke dinding kaca. Di bawah sana, lampu-lampu merah mengular sepanjang jalan. Lepas dua jam dari jam pulang kantor. Jalanan masih ramai, ditambah lagi hujan, pantas saja keadaan kacau di bawah sana. Kubayangkan suara klakson bersahutan. Reflek, aku memeluk diriku sendiri. Merah mengingatkanku pada hijau.

“Aku pernah memberikannya sebuah buku, kumpulan cerita pendek milik Lan Fang, aku lupa judul ceritanya apa. Tapi aku ingin bertanya hal yang sama—seperti tokoh-tokoh dalam salah satu cerita buku itu—kepadamu.”

Dia mengerjapkan mata lalu menganguk.

“Menurutmu apa warna patah hati?” Dia terkesiap, mungkin kaget. Warna patah hati? Siapa yang berpikir soal itu?

Dia menggeleng. Kukatakan lagi apa yang ada di dalam cerita, hijau. Matanya mengerjap lagi. Pantas kamu sering patah hati dan begitu cengeng, katanya.

Sial! Satu – dua.

“Jadi itu alasannya sekarang kamu suka warna merah?”

“Itu kita simpan untuk bagian terakhirnya,” aku tersenyum jahil. “Kami pernah mendiskusikannya, soal warna patah hati itu,” lanjutku.

“Kamu mendiskusikan soal patah hati dengan orang yang membuatmu patah hati? Ajaib!”

Sial lagi! Satu – tiga!

Jangan menyelaku terus, sergahku. Dia terkekeh. Bening di matanya yang tadi hampir jatuh menguap, mungkin di serap kaca dinding berembun di samping kami.

Waktu itu, setahun yang lalu, di ulang tahunnya yang kedua puluh tujuh. Aku memberikan Sonata Musim Kelima sebagai hadiah ulang tahunnya, selain red velvet, sebuah kartu ucapan yang ditulisi puisi serta ciuman-ciuman. Di dahi, di bibir, di leher, di—

Hentikan itu! Dia menyela, aku terkekeh. Dua – tiga, kataku. Dia mendengus.

“Kamu tahu dia pernah membuatku patah hati sebelumnya—“

“Ya, saat kamu masih berstatus pacarnya di Jakarta sini tapi ternyata dia sibuk mengejar mantan pacarnya di kampung halamannya sana! Tak ada pria yang lebih sialan daripada itu, kamu tahu? tapi lalu kamu menerimanya kembali setelah dikhianati, malah makin dekat tapi lebih menyedihkan karna kalian tak terikat apa-apa, tanpa status. Tapi lihat, memangnya apa yang nggak kamu berikan padanya?”

Sial sekali aku! Aku merutuk! Dua – Empat!

“Oh tidak, Sayang! Dua – Lima. Itu tadi dua poin!”

“Oke! Oke! Kamu mau aku lanjutkan atau tidak? Dia diam, aku mulai melanjutkan.

Di sebuah kamar hotel di bilangan Jakarta Barat, tubuh kami masih ditutupi selimut. Sejak hari ulang tahunnya itu kadang-kadang jika memang ada kesempatan, kami menginap. Di hotel yang sama di nomor kamar yang sama.

Dia tersedak, aku pura-pura tak mendengar dan tetap melanjutkan,

Menurutmu, kenapa Lan Fang memilih hijau? Kenapa tidak ungu atau abu-abu? Aku lupa bagaimana kami memulai obrolan, mungkin tidak persis seperti itu. Aku berpikir, dia juga. Bersandar di dadanya yang bidang dengan lengannya yang memelukku, kupikir aku tak mampu berkonsetrasi waktu itu, aku menggeleng. Aku nggak tahu, kataku. Menurutmu kenapa?

Lalu ia memulai analisisnya. Satu dari sekian hal yang aku sukai dari pria itu, meski tak bisa dipungkiri itu juga yang membuatnya ahli soal merayu.

Hijau artinya tumbuh, katanya. Seperti tunas pada pohon. Jika patah hati yang mematahkan semangat, mematikan perasaan diartikan sebagai warna hijau oleh Lan Fang, mungkin maksudnya agar patah hati tak dijadikan alasan untuk stagnan. Untuk diam dan mati tapi untuk bangkit dan terus bertumbuh seperti tanaman yang bertunas, lalu dia tersenyum dan mengelus kepalaku.

“Lalu?”

“Lalu apa? Ya kami berciuman. Kamu mau tahu lagi apa yang kami lakukan?”

“Hentikan!” Aku terkekeh. “Aku tahu apa yang dia lakukan. Pergi. Meninggalkan kamu lagi setelah pernah berusaha tumbuh dan kali ini mencerabutmu dari akar. Nah, gimana kamu bisa tumbuh?”

Aku tertegun, “kenapa kamu begitu membencinya sih?”

“Karna yang tidak membencinya hanya yang mencintainya. Sepertimu.”

“Nggak. Aku nggak cinta dia. Tidak lagi. Kamu tahu sekarang aku menyukai merah. Aku sudah tumbuh, aku sudah hidup. Merah untuk berani. Berani meninggalkan masa lalu. Berani untuk melangkah lagi. Dan yang terpenting berani jatuh cinta lagi.” Aku menutup kalimatku dengan senyum, nyaris tersipu.

“Lalu kenapa ikut-ikutan membeli dress  hijau tadi?”

“Aku ada kencan,” sekarang aku benar-benar tersipu.

Keterangan tambahan : Cerita pendek ini saya buat dan saya ikutkan dalam #Kuis27Desember Uni Yetti Aka di twiter beberapa waktu lalu. Secara pribadi, cerpen ini saya hadiahkan untuk beliau, meski ternyata dijerumuskan ke duabelas besar. Selamat untuk yang menang dan sukses untuk kita semua!

 

I Have Killed You


Tari menatap mantan kekasihnya. Segala hal ia tunjukkan biasa saja. Tanpa perlu banyak tersenyum. Tanpa perlu merengut. Tanpa berlebihan. Jelas sekali mantan kekasihnya itu heran.

“Kamu mau apalagi? Nanti tambah suka lhoo. Nanti marah-marah lagi sama aku karna susah move on?” Giri bertanya heran pada mantan kekasihnya. Ya, mantan karna seminggu yang lalu Giri sudah memiliki pacar lagi.

“Ah, nggak apa kok. Sebelum kamu punya pacar aja kita masih mesra tuh. Emangnya aku nggak sakit hati tahu-tahu seminggu kemudian kamu punya pacar? Nggak usah pikirin perbuatanku, perbuatanmu sendiri aja nggak kamu pikirin akibatnya.”

Giri tersentak kaget. Apa-apaan ini? “Tar, kamu berniat mengadiliku?”

“Enggak. Bercanda kok. Kamu mau pesen apa? Masih bisa aku yang pilih?”

“Ya, pilihlah.”

Tari membolak-balik buku menu sebentar, “Steam boat aja yaa, aku pengen yang berkuah dan hangat.”

“Terserahlah.”

Bagus, ucap Dini dalam hati. Menurut sajalah untuk kugiring menuju ke kematianmu.

Selama menunggu pesanan, mereka tak banyak bicara. Mantan pacarnya itu lebih sering tersenyum-senyum membalas pesan singkat, yang tidak perlu menjadi juara olimpiade matematika untuk tahu bahwa itu dari pacarnya.

“Kamu bahagia?”

“Tentu saja,” jawab Giri ringan. Tari mengangguk-anggukan kepalanya.

“Bisa minta tolong?”

“Apa? Asal jangan yang aneh-aneh.”

“Hahaha tenang aja aku nggak minta kamu putus sama pacarmu kok. Bisa tolong ambilkan kerupuk di sana?”

Segera setelah Giri pergi, Tari dengan cekatan memasukan cairan aseton ke dalam kuah steam boat pesanan mereka yang masih beruap, lalu mengaduk-aduknya. Dengan cekatan pula ia memasukkan ke mangkuk milik Giri. Oh tentu saja, dia sudah memisahkan semangkuk untuk dirinya sendiri tanpa aseton di dalamnya.

“Ini,” ucapnya manis setelah Giri ada dihadapannya.

Mereka makan dalam keheningan. Giri sibuk dengan ponselnya. Ya, puas-puaslah berkabar karna setelah ini kalian tidak akan pernah bertemu lagi.

Tari memanggil nama Giri untuk kedua kalinya sebelum pria itu memusatkan perhatian padanya dan meminta maaf, “Apa?” katanya lagi.

“Aku permisi ke toilet sebentar.”

“Oke. Jangan lama-lama.”

Aku tidak akan kembali, Sayang.

Sebelum pergi Tari sudah meninggalkan botol aseton kosong di kursinya yang terbungkus tissue. Pada kertas tissue itu bertuliskan

I may look calm but in my mind i have killed you

image

Aria
10:38
Terinspirasi dari pic profil wa punya mas Arek.
Info soal aseton ternyata bisa menjadi kalium sianida di dapat dr akun @blogdokter melalui »» http://chirpstory.com/li/46520

Sekian.

Balada di Kedai Es Krim


“Ceritakan masalahmu!”

Arai memandang lembut pada perempuan di depannya, tanpa tatapan menggoda, tanpa menyungingkan senyum tapi mengundang untuk dipercaya. Yaa, pertanyaannya tadi mengharuskan untuk dijawab sebab nada bersahabat yang dibuatnya. Namun tentu saja. Clancy perlu menaruh curiga di sana, perempuan itu mengeryitkan dahi terlebih dulu sebagai tanda ia tak mengerti maksud ucapan pria di hadapannya ini, tadi.

“Jangan berpikir karna kita duduk di satu meja, lantas itu memberimu inisiatif untuk berkata seperti tadi. Lagipula, aku pergi ke kedai es krim, bukan ke seorang psikiater!” Clancy ingin memastikan kalau nada yang keluar dari suaranya terdengar ketus namun ternyata saat kalimat terakhirnya keluar, itu malah seperti sedang melempar sebuah lelucon. Perempuan itu menghembuskan nafas. Menyendok es krim spagetti yang dipesannya, sekali. Merasakan benda putih itu meresap ke lidah, menebarkan rasa manis di ruang kecapnya.

Clancy memandang berkeliling. Kedai es krim ini bisa dibilang sempit karna jumlah pengunjungnya yang hampir selalu membludak. Kedai ini juga bukan tempat yang nyaman untuk berlama-lama menikmati es krim. Percayalah, kalian nggak akan bisa melakukannya. Jika bibi-cerewet-penjaga-kasir itu melihat es krim sudah tandas dari mangkuk kalian maka ia akan secara halus mengusir, siapapun pengunjungnya untuk bergantian memberi tempat bagi pembeli lain.

Pandangan Clancy jatuh pada pria di depannya. Makanya tidak heran jika mereka bisa duduk di satu meja. Bibi-cerewet-penjaga-kasir itulah yang menyuruh mereka untuk duduk di sana. Sebuah meja untuk berdua, tersudut di pojok kedai. Perempuan itu menyendok lagi. Ia lihat, pria di depannya juga sedang menikmati es krimnya. Banana split.

“Kenapa kau memesan es krim aneh itu?” Clancy tertawa

“Eh, apa? Punyaku?” Arai menghentikan sendokan es krimnya sebentar, menyodorkannya pada perempuan di depannya, lalu memasukkannya ke mulut tepat setelah perempuan di depannya menjawab, “Iya!”

“Memangnya kenapa? Enak kok!” Arai tertawa.

“Coba pikir, pisang itu satu-satunya buah yang nggak enak dimakan dingin! Entah orang gila macam apa yang pertama kali mencampurnya dengan es krim!”

Clancy ikut tertawa ketika tawa pria di depannya ini meledak. “Kau benar!” katanya

Suara seorang pengamen tua menginterupsi obrolan mereka. Memilih menikmati es krim dan suara bariton pengamen tua itu, menyanyikan lagu lawas yang terkenal di masanya. Arai memperhatikan ada binar yang sebentar redup dan sebentar terang di mata Clancy saat perempuan itu memperhatikan Si Pengamen Tua. Arai mengeluarkan selembar uang kertas agar pengamen pergi. Clancy mengikuti langkah pengamen tua sampai ke luar kedai.

“Biar kutebak?” Arai meletakkan tangannya di meja, lalu mecondongkan tubuhnya ke depan, seolah yang akan dia katakan ini adalah rahasia besar, “Pengamen tadi mengingatkanmu kepada seorang yang membuatmu ke kedai es krim pukul delapan malam, iya kan?”

Clancy tak ingin mengatakan ya namun ekspresi di wajahnya mengatakan sebaliknya. Ia terkekeh. Baiklah, pria di depannya ini rasanya bisa dipercaya. Clancy mengedarkan pandangan lagi, memasukkan keramain kedai ke dalam kepalanya sebelum akhirnya berkata,

“Aku pernah mengajaknya ke kedai ini. Senin. Aku sampai menyediakan hari tersibuk untuk bolos bekerja dan mengajaknya ke tempat ini. Kalau bosku tahu, aku sudah pasti dipecat! Well, kupikir kedai ini akan sepi sehingga kami bisa leluasa dan cukup punya banyak waktu. Cukup waktu untuk menjadikannya sebuah kenangan.

“Tapi ternyata aku salah. Soal kedai yang kukira sepi. Soal waktu yang cukup hingga nantinya menjadi sesuatu yang bisa untuk dikenang. Aku salah! Kautahu, kedai ini nyaris tak pernah kehabisan pengunjung.

“Kami masuk, aku dengan senang hati mengajaknya mengantri. Memberitahunya menu es krim di kedai ini. Lalu dia dengan begitu saja memotong ucapanku, kita mau duduk dimana?, katanya. Setelah kita dapat es krimnya, bibi penjaga kasir itu akan mengaturnya, aku menjawab. Kupikir itu sudah cukup membuatnya tenang mengenai tempat duduk. Lalu kautahu? Bibi penjaga kasir itu kan memang selalu bersikap ketus?”

Arai menganguk, “Orang yang kuajak pergi ini, memang sudah tidak nyaman ketika datang, tempat yang penuh serta bibi kasir yang cerewet namun, aku tahu ia sangat menyukai es krim jadi kupikir itu tidak terlalu menjadi masalah.

“Ternyata, ia mengangkat gitarnya dan pergi begitu saja. Aku menyusulnya, mencoba menjelaskan kalau keadaan tak seburuk yang ia rasakan. Tapi percuma!” Clancy menutup cerita dengan tertawa. Hambar. Kering.

“Kaumempertaruhkan pekerjaanmu dan pria itu pergi begitu saja?” Arai mencoba melempar pertanyaan itu seperti lelucon. Clancy menganguk. “Jangan bilang gara-gara itu kalian bertengkar lalu putus?”

Clancy menggeleng, “Kausalah! Dia bukan pacarku.”

“Sialan! Lalu?”

“Pria itu pacar sahabatku. Sial, betapa benci aku pada kenyataan ini!” Clancy tertawa

“Kau mengajak kencan pacar sahabatmu?”

Clancy memukul lengan Arai, pelan. “Jangan berfikir yang macam-macam! Dia itu sahabatku. Dia lebih dulu jadi sahabatku sebelum menjadi pacar sahabatku yang lain.”

“Kasihan sekali jadi kau!” Tentu saja, Arai mengatakannya sambil tertawa.

“Sayangnya, aku sudah terbiasa. Namun kautahu? Seterbiasa apapun, rasanya tetap sama. Sesak itu…” Clancy mengusap ujung matanya, air matanya hampir jatuh. Arai menjatuhkan padangan pada es krim di depannya, menyendok penuh, menyesapnya pelan-pelan.

“Mungkin, sesak itu juga yang dirasakan Risa, ketika tanpa sadar aku membicarakan mantan kekasihku. Hampir selalu. Sialan! Betapa nggak pekanya aku!” Clancy memperhatikan pria di depannya. Memandangnya.

“Jangan melihatku seperti itu. Iya, aku tahu aku jahat. Tapi kauperlu percaya, semua itu, ah! Aku nggak melakukannya dengan sengaja lhoo!” Clancy masih memperhatikan pria di hadapannya ini, mengusap-usap rambutnya, frustasi.

“Kalian ngerasa nggak sih, kalau kalian sebagai perempuan itu terlalu peka?”

“Kalian ngerasa nggak sih, kalau makhluk bernama laki-laki itu memang nggak peka? Makanya ada perempuan yang peka?” Clancy ganti bertanya.

“Demi Tuhan! Aku sudah berkali-kali meminta maaf pada Risa, mengatakan padanya bahwa aku nggak akan mengulanginya lagi. Tapi, entah kenapa seperti ada saja hal yang bisa mengaitkan kami. Aku, Risa dan sosok di masa laluku!”

“Kaumencintainya? Sosok di masa lalumu itu?”

“Tentu saja, kan?” Arai menjawab gusar, “tapi bukan itu masalahnya. Risa nggak mengenal siapa perempuan yang ia cemburui, ia hanya tahu dari cerita-ceritaku, jauh sebelum aku memintanya jadi kekasihku. Risa tahu. Ya, Risa tahu betapa aku mencintai Anastasya.

“Tapi kenapa, setiap yang aku katakan, setiap aku mengajaknya ke suatu tempat. Tak jarang wajah Risa terlihat sendu. Aku tahu ia memikirkan sesuatu. Semacam cemburu tak berasal dari sesuatu yang tak diketahuinya. Aku kadang kesal karna Risa berfikir terlalu jauh. Tak bisakah dia sadar, dia yang sekarang ada di sisiku?”

“Di mana Anastasya sekarang?” Clancy mengabaikan pertanyaan pria di depannya.

Arai terkejut, “Anastasya sudah meninggal,” pria ini mengantung kalimatnya. Pertanyaan itu terlalu tiba-tiba. Arai memejamkan mata, efek kenangan yang tiba-tiba ruah. “Anastasya sudah meninggal,” ulangnya

“Pantas saja Risamu begitu.”

“Maksudmu?”

“Risa akan selalu kalah, dia nggak mungkin bersaing dengan orang yang sudah meninggal ‘kan? Apalagi kausering menyebutnya.”

Sudah pukul setengah sepuluh malam. Kedai es krim di pusat kota itu masih ramai. Derit kursi, suara pengamen, denting mesin kasir, kipas angin, serta obrolan-obrolan yang terlempar dari meja demi meja. Es krim yang dingin. Ruangan yang hangat. Suasana yang bebas dikecap siapa saja yang hadir di dalam kedai.

“Aku, mau menjemput Risa. Ia bekerja di restoran cepat saji di jalan depan sana.” Clancy melihat pria dihadapannya tersenyum. “Sampaikan salamku untuk sahabatmu itu ya. Eh, siapa namanya?”

“Ian.” Clancy tersenyum.

“Ya, sampaikan salamku pada Ian. Bilang padanya, kalau kaumengajaknya ke sini lagi, jangan memesan banana split.”

Clancy tertawa, mengiring pria yang sejak dua jam lalu duduk di depannya, keluar dari kedai. Pengamen tua itu datang lagi, kehadirannya membuat malam kian sendu. Cinta Kan Membawamu, lagu yang sedang ia mainkan.

Ian, benarkah cinta kan membawamu kembali?

Iyakah?

————————-

Jakarta : ARIA

Musim Hitam


Ini hari kelima belas. Setiap malam setelah pulang dari tempatku bekerja dan kembali ke apartemen yang sudah kutinggali selama kurang lebih setengah tahun ini, aku selalu ke sini. Sebuah kafe teras di lantai 27 Apartemen Hayam Wuruk. Dan maksudku dengan hari kelima belas tadi adalah perempuan di depanku ini.

Namanya Laura, menurut tetangga satu lantai yang kutanyai di hari kesepuluh melihat perempuan itu masih di meja dan sudut yg sama. Aku bukan pria iseng yang tertarik pada perempuan kesepian di kafe. Itu hal lumrah di kota megapolitan ini. Ada yang melakukannya karna jenuh dengan dunia sosialitanya. Ada pula yang memang memancing untuk didekati. Ya, tahulah.

Namun, Kafe Teras ini hanya diperuntukan bagi penghuni apartemen. Tidak banyak meja yang disediakan. Pengunjungnya pun hanya dari penghuni dua lantai di bawah dua puluh tujuh dan dua lantai di  atas. Yang mengejutkan adalah Laura datang dari lantai delapan, menggunakan baju tidur di balik sweater merahnya dan hampir selalu hanya memesan susu jahe.

Namun lebih sering lagi, minuman itu mendingin tanpa sempat disesapnya. Laura lebih sering memandang jalanan di bawah. Atau menjulurkan tangannya, menangkap butir-butir hujan. November, musim penghujan paling sarat.

Tapi punya hubungan apa perempuan ini dengan hujan?

Ah, klasik! Hujan selalu menjadi semacam kembang api untuk perayaan kenangan di dalam kepala seseorang. Begitu kan?

Laura tersenyum, tangannya terjulur menangkap butir-butir pertama hujan malam ini.

Aku merapikan kemeja seolah akan bertemu dengan clien, memesan segelas susu jahe dan mulai melangkahkan kaki ke arahnya. Laura hanya memandangku sekilas ketika meletakan gelas yang kubawa dimejanya lalu kembali sibuk dengan hujan-nya.

“Kautahu kenapa aku menyukai hujan?” ujarnya, jauh lebih ringan dari helaan nafas.

Aku memandangnya dan menggeleng, “Itulah alasan kenapa aku menghampirimu ‘kan? Hari kelima belas melihatmu begini.”

“Apa di pagi hari kaujuga jadi seorang pengamat? Peneliti?”

Mau tidak mau aku tertawa, “Maafkan aku.”

“Tak apa, aku tahu kaumemperhatikan.”

Ada hening cukup lama. Rasanya malu sekali ketahuan memperhatikan seorang perempuan diam-diam.

“Well, hujan bukan hal yang istimewa sebenarnya. Aku tidak suka becek yang ditinggalkannya di jalanan, itu bisa membuat celanaku kotor. Aku juga tidak suka wangi tanah basah pada hujan pertama.”

“Lalu, kenangan apa yang semarak di kepalamu ketika hujan?”

Perempuan di depanku ini tertawa, seolah pertanyaanku adalah lelucon.

“Aku hanya menyukai hujan jika melihatnya dari ketinggian. Menurutmu, bagaimana rasanya jatuh dari ketinggian lalu berdebum di tanah?” Laura tersenyum. Tidak! Dia menyeringai. Aku menggigil. “Kau kedinginan?” aku menggeleng.

Sialan! Kenapa tiba-tiba Laura mengeluarkan aura yang menyeramkan. Dan kenapa aku ketakutan.

Aku melihatnya tersenyum, lagi. Mengambil gelasku. Berjalan keluar dari Kafe Teras. Sial! Apa itu tadi undangan?

Buru-buru aku menyusulnya. Pintu lift tertutup saat aku sampai. Turun. Lantai delapan, sudah pasti.

____________

Di sini,

Suara perempuan itu menggema ketika aku sampai. Sweater merahnya sudah tanggal. Emm, apa aku harus menceritakan apa yang ia kenakan sekarang?

Laura menggiringku ke dalam apartemennya.

_______________

Harian Kota
19/11/2012
Jakarta, seorang pria (27) ditemukan tewas di kawasan Apartemen Hayam Wuruk, Jakarta Barat. Diduga —

_____________

Aria
November 09:47

Sebuah Fragmen : Kisah Angin dan Daun


Mungkin terlebih dulu aku harus membencimu.
Sebelum benar-benar melupakanmu.
Lalu melepaskanmu pergi…

Aku menahan isak, hingga terasa ngilu di dada dan cekat ditenggorokan. Aku nggak bisa menangis di sini. Nggak boleh menangis di sini. Walaupun perpustakaan ini sedang sepi tapi tetap saja, ada beberapa pengunjung yang datang. Terlebih ada kamera cctv di dalam ruangan ini. setidaknya petugas pengawas cctv itu akan tahu kalau aku menangis. Walau bahkan aku sudah mengambil tempat paling pojok sekalipun.

Pandanganku samar, menatap sebuah buku antologi cerpen yang baru saja selesai aku baca. Surat ke-93*, sebuah cerpen yang rasanya menohok tepat di jantungku. Bukan, tidak seperti itu juga. Kisahku tak sama persis seperti apa yang diceritakan dalam cerpen itu. hanya saja, ada beberapa kalimat yang menyadarkanku tentang keadaanku sendiri. Dan kata kuncinya adalah pengabaian.

Karenanya pengabaian adalah bentuk hukuman paling kejam. Tak ada yang lebih menyakitkan daripada keberadaan yang dinafikan sehingga tidak ada bedanya apakah kau itu dinding, pulpen kayu atau gembok besi.

Ini menyangkut seorang pria yang kucintai. Kami lahir dan hidup di tempat yang berbeda. Dengan latar belakang berbeda, budaya, agama. Namun katanya jatuh cinta tak mengenal batas-batas tertentu. Kami ada dalam sebuah komunitas online yang sama, sekian lama tanpa pernah bersinggungan. Lalu Tuhan mungkin mulai memutuskan, baiklah kalian harus bertemu. Maka jarak yang sedemikian jauh, entah untuk alasan apa, ia tempuh. Meninggalkan seorang perempuan yang dicintainya, seorang yang tentu saja juga mencintainya tapi ragu benarkah pria ini mencintainya? Lalu kenapa ia pergi?

Adalah alasan yang tak aku tahu

Minggu sore di Jakarta, beberapa teman sesama komunitas mengadakan kopi darat. Ya, dalam sebuah komunitas ini adalah hal yang wajar. Apalagi komunitas yang kuikuti ini cukup besar dan memiliki member dari berbagai daerah. Pria itu, ada di sana. Duduk diapit antara seorang perempuan cantik di sebalah kanannya dan seorang laki-laki di sebelah kirinya. Mengenakan jaket coklat, yang dimataku ia terlihat lusuh. Tak ada pesonanya waktu itu yang mampu menjeratku. Tidak, terlebih dengan rokok yang selalu dihisapnya.

Sejatinya pertemuan pertama memang selalu menyenangkan, dan itulah yang terjadi. Diawali pertemuan pertama, sms-sms dan telpon sampai kepertemuan-pertemuan kami sendiri. Saat itu aku sama sekali tidak memiliki kekhawatiran akan jatuh cinta pada pria ini. Kami tidak pernah menanyakan hal-hal yang pribadi. Sms-sms kami berisi lelucon, gurauan saling ejek yang kadang diselipi kata-kata perhatian, namun hanya sebatas itu saja. Tak ada yang istimewah. Tak ada yang berbeda. Oh, ternyata ada! Yang berbeda adalah satu sama lain dari kami merasa bahwa kami seperti sahabat lama yang dipertemukan kembali. Dan entah apa yang terjadi kau dan aku sedekat kini**.

Sampai pada suatu malam, ia mendapat kabar bahwa perempuan yang ia cintai dan ia tinggalkan di sana meminta putus dan berpacaran dengan orang lain. Aku menghiburnya. Namun sebenarnya, aku menghiburnya untuk masalah yang lain. Masalah tentang pelariannya ini. tentang pengembaraannya di ke Pulau Jawa. Begitulah, betapa mudahnya manusia jatuh cinta terhadap perhatian.

Aku cukup awas sebenarnya. Mengingat segala perbedaan di antara kami. Tidak hanya jarak jika nantinya ia kembali ke kota asalnya, Medan. Tapi juga perbedaan suku, yang terberat adalah perbedaan agama kami. Namun, seperti yang kukatakan di awal, cinta tak mengenal batasan-batasan. Untuk itulah ada norma-norma.

Seperti apapun angin, entah ia yang mengembara atau ia yang semilir bahkan ia membadai pun, daun tak bisa melepaskan takdirnya untuk menghindari Sang Angin. Bisa saja, daunlah yang berseru-seru memanggil Sang Angin. Walau sebenarnya ia tahu, angin akan berlalu, angin akan meninggalkannya, angin akan menggugurkannya. Namun daun, seolah tak mau tahu.

Tiga bulan setelah pertemuan pertama kami, dan sebulan setelah ia putus dari kekasih yang ia tinggal di kotanya, kami menjalin hubungan. Hubungan yang hanya dibangun atas dasar perhatian. Daun lupa pada fakta. Angin lupa pada jati dirinya.

Sial bagi kami adalah ada beribu jarak dan menit-menit waktu yang harus kami lalui untuk kembali jatuh dalam pertemuan. Maka bertukar kabar hanya lewat sms tidak pernah cukup. Mendengar suaranya pun belum mampu meredam rindu yang demikian letup. Atau memandang fotonya tak juga mengurangi rindu ini sedikit pun. Karna sebenarnya rindu itu selalu bertambah setiap mendengar suara, setiap melihat gambarnya.

Ya, pada akhirnya ia kembali ke kota kelahirannya. Kota dimana ada seseorang yang ia tinggalkan, seorang yang pernah sangat disayanginya. Seorang yang ternyata masih sangat dicintainya.

Jangan bodoh! Bukannya aku tak tahu atau pura-pura tidak tahu. Bukannya sejak awal daun pun sudah tahu perangai Sang Angin. Ada begitu banyak daun di dunia ini sementara angin hanya ada satu itulah alasan mengapa ia mengembara. Namun setiap daun mengerti takdirnya. Setiap daun tahu, ia akan gugur.

Bagaimana kujelaskan betapa rumit kisah ini. Bagaimana seseorang bisa berkali-kali jatuh cinta pada orang yang sama hanya karna melihat matanya. Bagaimana mengambil keputusan dengan pilihan yang sama saja beratnya! Bagaimana ketika kau dipaksa harus berhenti mencintai seseorang yang sudah kau cintai bahkan sebelum kata cinta itu lahir di bibirmu.

Dengan mata yang mulai dirembesi air mata, aku mengirim kalimat-kalimat pembuka kisah ini kepada temanku. Kalimat itu rasanya mengerikan, tambahku. Tidak berapa lama kemudian sms balasannya tiba : Nggak mesti membenci tapi berhentilah mencintainya.

Aku memejamkan mata sebentar membaca kalimat itu. jari-jariku sibuk mengetik sms balasan : Aku nggak bisa, belum bisa! Karna itu mungkin benci adalah lawan satu-satunya.

Kenapa mesti membenci, Ashti? Mencari orang yang lebih mencintaimu jauh lebih mudah!

Aku menggeleng. Itu bukan ide yang baik. Pelarian! Air mataku tumpah saat ini. mungkin—suaraku tercekat di tenggorokan—mungkin, kisah kami ini juga pantas disebut pelarian. Pengalihan perhatian sementara?

Karna aku tak membalas smsnya, temanku itu mengirim sms lagi : Jangan mencintai dengan cara yang bodoh, Ashti! Menurutku, pria itu tidak benar-benar mencintaimu. Lihat, ia meninggalkanmu! Kembali pada perempuan yang pernah ia tinggalkan! Kembali pada cintanya yang dulu. Kau benar-benar dibuatnya gugur! Tapi kau bukan daun, kau manusia! Dan lihat, sekarang ia mengabaikanmu kan?

Aku tak lagi mampu menahak tangis. Air mataku ruah begitu deras. Kata-katanya menohokku. Menusuk tepat. Aku merasakan hatiku mulai bengkak.

Mungkin karna ada begitu banyak daun. Angin lupa kepada siapa saja ia membelai. Mungkin ia tak bermaksud menafikan. Ia hanya lupa. Atau mungkin ia tidak tahu ada daun yang benar-benar mencintainya. Selain perempuannya.

* ) Cerpen karya Feby Indirani ada dalam buku Perkara Mengirim Senja yang baru terbit April tahun ini.
** ) Penggalan lirik dari lagu Sehari di Jakarta

Jakarta, 23 Mei 2012
11:57
Aria.