Kamisan #10 Seasson 3: Pesan Dinding


image

“Sampai kapan, kau akan berdiri di situ dan terluka?”

Anak itu, alih-alih mengalihkan pandangan dari grafiti di dinding kepadaku ia malah menunduk dan mengepalkan tangan. Ia marah, kukira. Kutarik tangannya sebelum ia berlalu pergi,

“Kau bukan bantalan jarum, berhenti sedia terluka seperti itu,” kataku

“Perasaan manusia itu aneh ya? Cepat sekali menjadi asing. Terpisah jarak begitu saja. Terpisah waktu begitu saja. Hati manusia berubah secepat angin. Perempuan itu, sudah bersama seseorang. Dia bilang aku terlambat. Dia bilang nggak bisa meninggalkan segalanya sekarang. Benar-benar. Membuatku jadi ingin menangis.”

Udara malam itu bahkan tidak lebih membekukan daripada perkataannya. Aku ada bersamanya dan dia membicarakan perempuan lain. Bagaimana aku bisa bernafas jika dia terus begitu? Bukankah dengan begini tidak ada artinya aku bersamanya?

“Niar? Niar? Niar! Hei, kau mendengarku kan?”

Pria bodoh! “Menangis sajalah kalau mau nangis. Aku masih akan di sini, oke?”

Ya, menangislah. Agar aku tak perlu melakukannya.

Dua jam telah berlalu. Aku masih menepuk-nepuk lengannya ketika ia benar-benar menangis. Tanpa suara. Rasanya pasti lebih sakit.

Kami berada di beranda lantai dua, persisnya di depan kamarku. Dia selalu melompat naik ketika dadanya terasa pengap. Karena dia selalu menceritakan hal itu, aku jadi nggak bisa menceritakan pengap yang mengisi dadaku sendiri. Pria yang sedang menangis ini, yang paling kuinginkan kebahagiaannya di dunia. Maka aku mendengarkannya seperti tak akan terjadi apa-apa pada jantungku sendiri.

Seperti dugaanku, anak itu berdiri di sana lagi. Memperhatikan dinding penuh coretan yang tak berubah sedikit pun sejak terakhir kali dia datang. Keras kepala sekali sih?

“Kalau kau terus melakukannya, itu akan jadi kebiasaan. Ngerti?
“Apa kamu nggak punya pekerjaan? Atau kamu seorang penguntit?”
“Kau lupa? Kedai kopiku ada di seberang jalan ini. Kau akan membuat pelangganku takut dengan terus-terusan berdiri di sini. Apa bagusnya sih gambar ini?”

Aku mundur beberapa langkah agar bisa menangkap keseluruhan gambar tapi tetap saja aku tak paham.

“Bukan gambarnya, tapi dindingnya.” Lalu anak itu berlalu. Yang tersisa hanya suara sepatunya berkeletuk di aspal.

“Ayoh pergi!”

Aku mestilah menyesali perkataanku itu. Sebab dua kata itulah yang menjadi mula hubungan kami jadi serumit sekarang. Dia pria keras kepala tetapi cengeng. Waktu itu, ia sedang patah hati dan aku hanya berniat menghiburnya. Maka aku mengajaknya berkeliling kota.

“Kutunggu di seberang kedai kopinya Zoe, ya? Mari bertemu di sana lalu kita akan berkeliling kota.”

Hari itu, kami benar-benar pergi berkeliling. Rasanya menyenangkan. Satu hari penuh dari satu tempat ke tempat lain. Dan sejak hari itu pula kami kerap berjanji bertemu di sana. Di depan dinding bergrafiti biru. Di depan Zoe’s Coffe.

Suatu hari, aku menunggunya untuk kencan kedelapan kami. Ia datang amat terlambat. Zoe berkali-kali menelponku untuk menunggu saja di dalam kedainya tetapi aku menolak. Biasanya aku adalah pembosan. Tidak melakukan apa-apa ketika menunggu seperti ini apalagi. Tetapi, jantungku yang terus menderap di dalam tubuhku justru memaksaku untuk fokus menenangkannya. Pria itu bilang ia akan sampai dalam sepuluh menit lagi karena itulah, aku mulai melihat sisi jalan, mengira-ngira dari arah mana dia akan datang.

Saat itulah pikiran konyol itu terlintas. Aku mengambil pulpen dari dalam kotak pensil yang selalu kubawa-bawa. Menuliskan sesuatu di dinding, lalu dengan bodohnya berharap pria itu akan membacanya dan membalasnya.

Tak satu pun dari hal itu dilakukannya. Dia tidak pernah tahu aku menulis sesuatu di dinding tempat kami selalu bertemu. Dia tidak pernah tahu aku menahan nyeri di dadaku setiap dia membicarakan perempuan itu. Perempuan yang tak kan pernah bisa kugantikan tempatnya meski aku telah memberikan apa saja.

Seperti yang seharusnya, pria itu akhirnya pergi.

Tapi kenapa dadaku tak berhenti merasa nyeri?

Aku sedang membuat satu pesanan pedati tubruk ketika melihat Niar sudah berdiri di seberang jalan. Kali ini, coba lihatlah baik-baik, Niar. Aku bersiul lalu cepat-cepat menyelesaikan pesanan kopi sebelum menumpuk.

Sudah dua minggu memasuki September. Udara mulai mendingin, jelaslah musim hujan akan tiba. Bahkan beberapa hari lalu gerimis turun pada sore berangin seperti ini. Aku mencari sosok Niar, anak itu masih berdiri di sana. Kau sudah tahu kan?

Tepat ketika gerimis pertama turun, aku sudah berdiri di samping Niar. Payung berwarna kuning cerah menaungi kami dari serangan hujan. Dia berbalik menghadapku,

“Sudah kubilang jangan suka memakai rok pendek. Perutmu bisa sakit karena dingin. Ayoh ke kedaiku. Kutraktir lintong, baru saja kubeli hari ini.”

Aku tahu Niar ingin protes karena mungkin ia mau bertanya soal tulisanku di dinding itu. Tetapi aku memaksanya untuk masuk ke kedai. Toh di masa depan kami akan punya banyak waktu membicarakannya. Aku tak berniat menjadi bantalan jarum selamanya, Niar. Kau pun begitu kan?

Aku mencintaimu, kau?
(Aku mencintaimu juga – Zoe)

140915
00:00
Ketika masih menonton drama I Miss You.

Kamisan #13 Seasson 3: Lelaki dan Jendela


Saat pertama kali datang, tak ada hal lain yang ingin aku lihat selain jendela kamar ini. Kau tahu, Kina? Aku bahkan tak menghiraukan para pekerja yang menurunkan barang-barangku dan bertanya ingin diletakkan di mana kardus-kardus itu. Aku sama sekali tak peduli, toh barang bawaanku tak banyak. Mereka bisa meletakannya di mana saja. Rumah ini luas. Terlalu luas, bahkan, untuk kutinggali seorang diri.

Apa kau bertanya rumah yang mana?

Itu, rumah besar berlantai dua di arah pukul sembilan jika dilihat dari depan halaman rumahmu. Rumah besar yang sama sekali tidak cocok dengan bangun-bangunan lain di sekitarnya. Terasing dan sunyi. Juga seringkali dibilang angker. Yang membuatku akhirnya memutuskan membelinya adalah jendela besar ini.

Seperti umumnya rumah-rumah tua peninggalan Belanda, melalui jendela besar inilah aku bisa leluasa memperhatikanmu di seberang. Aku akan duduk pagi-pagi sekali. Ketika udara masih dingin (aku keluar dengan memeluk selimut). Satu lampu di rumahmu sudah menyala. Dapur. Kau pasti sedang sibuk membuat sarapan ketika itu. Aku sungguh mengangumimu Kina. Betapa pagi kau bangun untuk menyiapkan segala sesuatunya untuk lelaki itu. Tentu saja aku iri. Aku bisa saja memilikimu tetapi aku tidak bisa membuatmu menderita dengan memaksamu bersamaku. Meski, akulah yang pertama kali menemukanmu. Tidak. Maka beginilah caraku mencintaimu.

Setelah memastikan kau bangun. Aku akan pergi sebentar dari jendela. Menyeduh kopi dan menyantap dua keping roti tawar dengan mentega dan gula tanpa dipanggang terlebih dahulu sebagai sarapanku. Aku memakannya dengan perlahan. Seperlahan matahari yang muncul di kaki langit. Dari lantai dua seperti itu matahari begitu indah. Andai saja kau punya waktu sedikit melihatnya tetapi tidak, kau terlalu sibuk. Dan itulah yang kau selalu lakukan, mengantar suami berangkat bekerja hingga ke pintu, memeluknya sebentar lalu mencium tangannya dengan hikmat. Saat itu, senyummu memang jauh lebih indah dari matahari pagi.

Saat kau masuk kembali ke rumahmu aku pun menutup jendelaku. Begitulah aku memulai hidup setiap hari.

Aku akan kembali ke meja kerja yang kutinggalkan semalam. Kembali berkutat dengan berita-berita yang harus kuedit sebelum kukirimkan kembali ke kantor. Selalu seperti itu.

Pernah suatu hari ketika kau–masih dengan celemek–mengantar suamimu hingga ke depan pintu seperti biasanya. Aku bertanya-tanya sendiri apakah kau tak bosan terus melakukan itu? Apakah matamu yang penuh binar itu suatu hari akan redup dan kau tak lagi mengantar suamimu seperti sekarang ini melainkan lebih memilih kabur dengan seorang tetangga kiri rumahmu yang hampir setiap hari meminjam apa saja saat suamimu tak ada di rumah. Mungkinkah Kana? Cinta yang membuatmu menolakku itu suatu hari hilang begitu saja tanpa sisa?

Kurasa memang tidak. Tentu saja itu tidak terlihat seperti dirimu (kau bisa membayangkan aku tersenyum Kina. Karena aku memang tersenyum saat mengatakan itu). Mungkin karena itulah aku jatuh cinta padamu. Dan seperti aku yang masih begitu mencintaimu sampai saat ini, maka cinta yang memantul di iris matamu itu pastilah tak akan kalah oleh waktu.

Kau akan punya waktu untuk melahirkan anak-anakmu. Melihat mereka tumbuh. Mengantarkan mereka hingga pintu depan ketika pagi, suami berangkat ke kantornya dan anakmu pergi ke sekolahnya. Aku masih akan melihatmu dari jendela besar ini. Melihat lamput dapurmu menyala setiap pagi. Mendengar renyah tawa kau dan anak-anakmu saat kalian bermain di halaman belakang rumah. Anak-anakmu sedang menyerangmu dengan pistol air. Kau bersembunyi di antara pepohonan tetapi dengan cerdik, kedua anak kembarmu menemukanmu. Anak sulungmu membidik rokmu. Sementara si Kecil membidik wajahmu. Sekujur tubuhmu basah tetapi kau–kalian–tertawa bahagia.

Meski sibuk sebagai ibu dan seorang istri, kau masih tetap Kina yang dulu. Ketika anak dan suamimu telah lelap tertidur, kau akan kembali ke dapur, menyalakan lampunya dan mulai berjalan mondar-mandir sambil membaca sebuah buku misteri. Kau tentunya masih menyukai Nancy Drew kan, Kina? Detektif perempuan yang cantik dan cerdas itu. Kau akan larut dengan bacaanmu. Teh yang kau seduh selalu lebih dulu menjadi dingin sebelum akhirnya kau minum.

Sementara di jendela besar itu, aku menyesap kopiku. Mataku hanya sekali-sekali lepas dari gerakanmu. Meski yang terlihat hanyalah siluet hitam dari balik tirai.

Hari-hari akan berlalu dengan damai. Aku berharap bisa menyaksikan semua itu, Kina. Aku sungguh berharap, dari jendela besar ini aku melihat iris matamu yang berbinar dan bukannya hanya memandang potretmu seperti sekarang ini.

070815
19:44

Kamisan #12 Seasson 3: Seorang Pria yang Mencoba Mabuk untuk Melupakan Hatinya yang Patah


image
Gambar tema #12 dari mbak @kezionk

Barangkali kepongahan dan luasnya kota inilah yang menjadikan orang-orang sepertiku melankolis ketika menatap senja dari ketinggian salah satu gedung pencakar langit di tengah kota. Semburat senja yang membuat orang-orang sepertiku tertusuk jarum-jarum sepi kasat mata yang pengaruhnya laten namun terasa begitu pengap di dada. Ya. Dadaku. Yang belum lama ini, cinta, yang pernah mengisi seluruh ruang di dalamnya lenyap entah ke mana. Sialnya, si empunya rasa tak sekalian memindahkan luka yang membekas di sana. Di dadaku, tempat segala luka bermuara.

Benarkah tak ada luka yang sia-sia?*

Aku turun dari rooftop, berjalan demikian pelan. Dan pertanyaan tadi terus bergaung, memenuhi lorong ketika aku berjalan, memekakkan telinga.

Aku masuk ke sebuah bar. Sekelilingku panen cahaya penuh warna. Musik menghentak-hentak. Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing; meliukan tubuh, minum, mengobrol atau melakukan ketiganya sekaligus. Di sana. Di lantai dansa. Aku masuk semakin dalam, lalu duduk di bangku tinggi tepat di depan bartender. Aku masih memperhatikan orang-orang, dan aku belum juga memesan apapun sampai si Bartender menegurku agar aku memesan sesuatu. Kupikir, mungkin ia hanya mau pamer keahliannya saja. Gin, kataku memesan asal-asalan. Ia bertanya lagi, aku tak memperhatikannya. Alih-alih aku ingin berteriak, seseorang baru saja mematahkan hatiku, jadi tolong segera buatkan saja minuman sialan itu! Tetapi tak jadi. Memangnya kenapa? Memangnya cuma aku yang patah hati di dunia ini? Siapa pun bisa saja mati hari ini dan patah hati hanyalah perkara sekadar saja.

“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” Suara seseorang di sebelahku. Aku menoleh dengan keengganan yang sangat kentara. Cara ini kelewat klasik, bukan?
“Ya,” kataku. “di kehidupan sebelum sekarang, aku adalah puteri Yoen Woo dan kau adalah Pangerang Yang Myung. Yang Myung sangat menyukai Yoen Woo tetapi mereka tak pernah bersatu, Yang Myung mati dengan tombak menembus tubuhnya**.” Aku menyunggingkan sedikit senyum. Kutebak orang ini pasti menyesal telah memulai basa-basi tadi. Ia mendengus lalu pergi. “Lagi pula,” kataku, hanya untuk membuatnya jengkel. “Yoen Woo menyukai orang lain.” Sekarang, wanita itu memakiku.

Aku tertawa. Melakukan itu tadi terasa menyenangkan. Racikan minumanku selesai. Bibir gelas dipenuhi buih. Meletup-letup kecil tanpa bunyi. Ada desakan untuk menyelam ke dalam buih-buih itu lalu lenyap. Namun tatapan si Bartender membuyarkan keingianku. Ia mungkin lebih ingin aku menghabiskan gin itu dalam sekali teguk, membayar lalu pergi sejauh mungkin dari hadapannya.

Tetapi tidak akan. Aku membutuhkan keramaian ini sekarang. Setelah meneguk sekali. Aku meninggalkan gin itu di meja, lalu berbalik memunggungi si Bartender yang telah sibuk mengurus orang lain. Mataku memindai ruangan. Jauh ke langit-langit. Jauh sampai ke sudut. Tempat ini begitu jujur sekaligus menipu.

Aku memperhatikan wajah orang-orang. Tak ada yang tahu persis alasan mereka datang ke tempat ini. Jelas bukan untuk mengisi waktu senggang. Di antara mereka pasti ada juga yang hatinya baru saja dipatahkan. Seseorang yang berusaha menutupinya dengan apa pun yang bisa ia dapatkan di sini. Rasa bahagia yang menipu. Keramaian yang menipu. Perasaan tenang yang menipu. Sementara ruangan ini begitu terbuka menampung mereka-mereka yang sedang sekarat hatinya. Berpura-pura bisa memberikan penawar atas rasa sakit yang ada.

Rasanya pasti sakit, tetapi kau cuma perlu untuk tetap semangat, katamu waktu itu yang kali ini kembali terngiang.

Aku tidak ingin mendengar apa-apa sekarang. Maka aku berbalik kepada si Bartender, menghabiskan gin-ku yang tersisa lalu memintanya lagi. Lagi. Lagi. Dan lagi.

Beginikah rasanya mabuk? Rasanya seperti berada di antara rasa sakit dan rasa hangat*. Membuatku ingin tidur untuk mengenyahkan rasa sakit itu sekaligus dininabobokan oleh perasaan hangat dari alkohol. Aku dilanda kebingungan yang amat sangat bagaimana aku akan mengakhiri semua ini.

Haruskah aku jatuh tertidur di sini demi menahan rasa sakit? Ataukah, harus kubiarkan saja rasa sakit ini memerangkapku beberapa saat. Sampai dengan keinginannya sendiri dia pergi. Aku hanya perlu menunggu, biasasaja, seperti menunggu hujan reda pada musimnya. Karena pada waktunya bukankah hujan akan berhenti juga? Rasa sakitku, pada waktunya pasti akan hilang juga.

Akan ada hari, ketika aku bangun dari tidur rasa sakit itu enyah entah ke mana. Dan perasaanku hanya akan dipenuhi perasaan hangat meski di luar hujan.

Meski di luar hujan.

________

10715/21:27

Kamisan #11 Seasson 3: Athalla


image

Aku dan Athalla sering kali bermain-main jauh dari dunia tempat kami tinggal sehari-hari. Tidak. Kami tidak pergi jauh menyebrangi sungai atau masuk ke dalam rimba hutan. Bukan karena aku penakut. Oh tentu bukan itu alasannya. Tetapi ini semua karena Yona. Perempuan berhidung dan bibir lancip yang menjadi ibu tiri kami. Sumpah dewi segala yang tumbuh di atas tanah desa kami, dia satu-satunya ibu yang tak mengizinkan anak-anaknya berbahagia. Tidak! Jika itu yang kaupikirkan tidak. Tentu saja tidak. Aku tidak mengada-ada atau pun berlebihan. Yona memang seperti itu. Misalnya saja, dia tak pernah mengizinkanku bermain bersama teman-temanku meski aku sudah menyelesaikan tugasku: membersihkan sekaligus memberi makan domba-domba dan kuda kami, menyampu daun-daun menumpuknya di pinggir halaman, membersihkan kaca-kaca.

Tak sekali pun Yona mengizinkanku meninggalkan tugas-tugas itu. Tidak juga di hari libur.

Adikku Athalla. Ia anak manis yang penuh senyuman. Sungguh, ia terlihat manis di atas bentuk wajahnya yang tidak umum. Yang membuat adikku berbeda hanya posisi mata kirinya tidak sejajar dengan letak mata kanannya. Athalla juga tidak memiliki alis. Rambutnya hanya tumbuh sepanjang jari tangan. Yang membuatnya sama dengan anak lainnya adalah rambutnya yang berwarna merah. Seperti rambutku. Seperti rambut Yona.

Oh ya, aku lupa menceritakan tentang ayahku. Ia bernama Tara. Ia adalah tukang sulap paling menawan di seantero pulau. Di antara pesulap dan pekerja-perkerja sirkus lainnya. Bersama rombongannya ayah menjelajah dari satu tanah lapang ke tanah lainnya. Menghimbur, memainkan trik dan menimbun pundi-pundi uang untuk dibawa pulang. Kerena itu ayah sering berpergian membuatnya tahu apa-apa dibalik senyum dan elok wajah yang selalu ayah lihat di wajah Yona ketika pulang. Ayah pasti berpikir Yona merawat aku dan Athalla dengan baik.

Perihal ibuku. Orang-orang yang pernah menonton sirkus selalu menyebutnya Peri Vidia. Vidia adalah namanya. Embel-embel peri ia dapatkan karena selalu berkostum peri ketika sedang melakukan atraksi. Melayang, terbang di ketinggian dengan tubuhnya yang lentur dan ringan. Namun, hari nahas itu rupanya telah menunggu begitu tabah. Athalla baru berusia tiga bulan di kandungan ibu ketika ia jatuh tersungkur saat berlatih atraksi-atraksi ringan. Ibu dan kandungannya baik-baik saja tetapi ketika melahirkan barulah kerusakan itu terlihat. Tetapi nahas itu rupanya masih berlanjut. Setelah menyusui Athalla. Anak-beranak itu tertidur hanya bedanya, ibu tak pernah membuka matanya lagi.

Aku tak ingin mengisahkan bagaimana ayahku bisa menikahi Yona. Aku tidak punya waktu untuk itu sebab sekarang waktunya aku mengajak Athalla bermain. Kalian lihatlah baik-baik. berdirilah di tepi jendela, tetapi jangan menghalangi cahaya masuk dari sana.

Lihatlah, wajah adikku yang ceria. Ah, aku lupa mengatakannya. Adikku tidak bisa bicara, kalau kalian ingin bicara dengannya gunakan tangan kalian. Buatlah isyarat-isyarat maka ia akan mengerti. Begitulah aku selama ini berkomunikasi dengannya.

“Lihatlah, Athalla, dinding-dinding di sekitarmu dipenuhi sulur-sulur kembang sepatu. Warna bunganya sama persis dengan rambut kita,” aku menggerak-gerakan tangan ke seluruh penjuru dinding. Athalla mengerti. Ia mengikuti ke mana tanganku mengarah. Perlahan-lahan dinding kamar dirambati batang-batang besar berwarna hijau. Kursi tempat Athalla duduk menghilang berganti dengan bantalan empuk batang kayu. Perlahan, perubahan juga terjadi pada wajah Athalla. Suaranya keluar dengan normal dan tawanya renyah memenuhi ruangan. Rambut merahnya pun tumbuh lebih panjang.

Harusnya pohon-pohon itu tak tumbuh melebihi luas ruangan. Biasanya begitu. Entah bagaimana kali ini, batang-batang pohon itu tak hendak berhenti tumbuh. Mereka terus naik, menembus atap. Aku memanggil-manggil nama Athalla. Memasang telinga berharap menangkap suaranya. Tetapi tak ada. Athalla menghilang bersama sulur-sulur kembang sepatu yang tumbuh jauh menembus langit.

19:37
180615

Kamisan #9 Seasson 3: Alang


Juni. Ketika angin bermain-main menelisik lembaran daun-daun. Hari-hari ketika kemarau dan penghujan sedang mesra-mesranya. Manusia menyebutnya pancaroba. Pada masa musim masih memiliki waktu.

Pada masa seperti itulah, hampir setiap petang aku dan teman-temanku mengarak layangan ke tanah lapang. Hampir semua anak lelaki. Tetapi ada juga, satu dua anak perempuan yang seperti lelaki. Ikut aku dan teman-teman lekakiku bermain bola, mengejar layang-layang, memanjat pohon mangga om Gani. Yang lainnya lebih memilih bermain masak-masakan di mana yang satu menjadi ibu–yang kerjanya hanya memasak–dan yang lainnya menjadi tamu atau anak atau siapa saja yang nantinya akan–berpura-pura–memakan hasil masakan si Ibu. Tetapi jangan mengira tak ada anak lelaki ikut bermain masak-masakan. Itu salah besar.

Sudahlah.

Selain anak-anak yang bermain ini-itu, tanah lapang ini juga ramai oleh ibu-ibu yang saban sore menyuapi anak batitanya makan. Tawaku selalu meledak tiap kali melihat kawanan batita-batita itu, bukan apa-apa, abisan wajah mereka coreng moreng oleh bedak. Tak hanya satu tapi hampir semua anak. Kompak sekali ibu mereka kan?

Ada lagi yang tak pernah absen datang ke tanah lapangan ini ketika petang. Namanya Alang. Anak perempuan manis berambut panjang. Usianya tujuh tahun. Lebih muda setahun dari usiaku. Alang tak datang untuk bermain layang-layang atau pun memasak seperti anak-anak lain. Ia selalu datang dengan membawa boneka serta sepasang sepatu merah muda dalam kantung plastik. Lalu ia kan duduk.  Di bawah naungan pohon yang aku tak tahu apa namanya, di atas sebuah tempat duduk berbahan semen. Ia letakan boneka di sisi kanannya. Memantapkan posisi duduk dan menunggu.

Mula-mula, ketika aku tahu Alang selalu duduk dan menunggu di sana aku tak pernah ambil pusing. Sejak pindah ke lingkungan perkampungan ini, tak pernah sekali pun Alang bermain dengan teman sebayanya. Ia juga tak sekolah seperti kami. Sepertinya juga sekolah di tempat lain. Itu kuketahui ketika aku pulang cepat dari sekolah karena guru-guru hendak rapat. Aku sengaja melewati rumah Alang, anak itu ada. Ketika aku lewat aku lewat ia sedang berdiri di teras rumahnya. Bernaung di bawah kanopi berwarna merah bata, melihat–entah apa. Aku tak menyapanya. Hanya menatapnya. Alang seperti tak menyadari kehadiranku. Ia juga tak menyapa bahkan membalas senyumku ketika aku berlalu pergi.

Sejak saat itulah. Mengejar layang-layang tak lagi menarik minatku. Sering aku hanya pura-pura ikut mengejar lalu berbalik menghilang dari arus anak-anak yang berlari. Aku menuju ke tempat Alang biasa menunggu. Ketika aku sampai ternyata Alanb tak lagi menunggu. Di hadapannya ada Mang Sadi sedang menjahit sepatunya.

Lain lagi cerita tentang Mang Sadi. Umurnya sekarang tujuh puluh lima tahun. Mantan tentara. Hanya itu yang warga kampung kami tahu. Perihal sanak-istrinya tak adalah yang tahu. Atau soal bagaimana ia bisa jatuh papa. Sebagai pensiunan tentara mang Sadi tak seberuntung rekannya (ngomong-ngomong, aku tak tahu apakah istilah beruntung tepat atau tidak) sebab tak sekali pun ia menerima uang pensiun. Untuk menyambung hidup, mang Sadi menjadi tukang sol, tukang jahit sepatu. Mungkin keterampilannya itu ia peroleh ketika hidup di barak. Mungkin tentara harus menjahit sepatu mereka sendiri. Siapa yang tahu?

Kisah mang Sadi bertahan seperti legenda. Bahkan anak-anak seperti aku pun tahu soal itu. Dulu-dulu ketika harga sepatu masih mahal, orang kampung selalu lari pada mang Sadi untuk memperbaiki sepatu mereka. Di masa sekarang ketika sepatu bisa dibeli dengan harga rupa-rupa, jasa mang Sadi tidak lagi terpakai. Paling-paling hanya dua-tiga orang saja yang masih menjahit sepatu selebihnya membeli yang baru.

Sampai suatu sore aku terpergok mang Sadi sedang mengintip mereka. Dengan isyarat tangan aku meminta mang Sadi untuk diam. Ketika Alang pergi bersama ibunya. Mang Sadi menghampiriku.

“Kamu tahu namanya, Ali?” tanyanya.
Aku mengangguk, “Alang,” kataku.

Lalu perkataan mang Sadi selanjutnya membuatku serasa melayang-layang. Apa katanya tadi? Alang, anak manis dengan sepatu merah muda itu, buta.

“… aku tak tahu kenapa anak itu selalu duduk di sini menungguku. Sepatu merah mudahnya itu, tak ada bagian yang belum pernah kujahit. Namun ia selalu memaksa. Aku harus berpura-pura menjahitnya hanya agar dia senang. Saat kuulurkan kembali sepatunya, dia hendak membayar tetapi kutolak. Kubilang itu hadiah, namun dia tetap menolak. Tetapi, anak itu, selalu datang lagi dan lagi.”

Sejak saat itulah keinginanku untuk mengenal Alang lebih jauh timbul. Aku beranikan diri datang ke rumahnya. Mengajaknya berkenalan, bermain dan berbicara. Ketika aku bertanya tentang mang Sadi dan sepatu merah muda-nya beginilah jawab Alang

Bahwa ia mendengar cerita  tentang mang Sadi dari ibunya. Sang ibu selalu menceritakan kepada Alang tentang keberuntungan orang-orang dibalik kesusahan yang mereka alami. keberuntungan seseorang adalah ketika masih ada orang lain yang peduli pada diri mereka. Dan kitalah, Alang, kata ibunya, yang bisa memberikan keberuntungan pada orang lain. Pada orang-orang seperti mang Sadi.

Maka Alang, memberikan hadiah kepada mang Sadi lewat pembayaran yang tak seberapa setiap kali sepatunya selesai dijahit. Itulah anggapannya. Sepatu itu tak pernah lagi dijahit mang Sadi karna memang tak ada lagi tempat untuk itu. Mang Sadi hanya berpura-pura. Berpura-pura untuk menyenangkan si Gadis Buta.

Itu hadiah, begitulah kata mang Sadi suatu sore kepada Alang. Mang Sadi mendongak,  tersenyum kepadaku yang berdiri beberapa langkah di belakang Alang dan bonekanya.

Lalu beberapa hari kemudian tersiar kabar mang Sadi berpulang.

Hadiah.

Alang berarti hadiah. Aku ingat betapa aku mengeryit ketika mendengar namanya yang aneh itu.

Kehidupan ini dan Alang adalah hadiah.

“Apa tadi katamu?”

Pemilik suara itu, berjalan perlahan. Satu tangannya memegang cangkir berisi teh madu. Aku mengambil cangkir itu dari tangannya. Meletakannya di sisi meja kerjaku. Lalu menggenggam kedua tangan istriku itu, menuntunnya duduk di sisi tempat tidur yang posisinya persis di samping meja.

“Kamu, Alang, persis seperti namamu adalah hadiah bagi kehidupan orang-orang.”

Gadis manis yang buta itu tersenyum. Tanganya meraba-raba wajahku–begitulah caranya membacaku, mengenaliku–lalu ia menggenggam tangan erat. Erat.

14:05
230515

Ket:
#KBBI 3 alang Mk n hadiah; pemberian;

Kamisan #8 Seasson 3 : Arun


Musim kemarau ditandai dengan gugurnya daun-daun, sebuah siklus bagi pepohonan. Karenanya sudah seminggu ini, dalam sehari aku bisa menyapu lebih dari tiga kali. Pagi pukul sembilan, tengah hari dan sore hari ketika toko antik ini hendak kututup. Aku sedang memasukkan setumpuk daun kering ke dalam karung (yang nantinya akan kubuatkan kompos) ketika kudengar suara Arun bicara tetapi tak cukup jelas untuk mendengar apa yang dia katakan. Aku menghentikan kegiatanku mengumpulkan sampah daun, menepuk-nepuk kedua tanganku dengan harapan mengusir debu dari sana lalu mengelap telapak tangan pada celana, barulah aku menghampiri Arun.

Anak itu berpenampilan kumal seperti biasanya. Bahkan kali ini terlihat lebih kumal. Rambutnya terlihat kusut seperti ada sesuatu yang menggumpal di atas sana, terlihat kering tetapi juga agak basah.

“Apa katamu tadi, Run?” kataku menyapanya. Bocah lelaki itu diam saja. Dari sampingnya aku melihat dia tersenyum, entah karena apa. Ini membuat penampakannya makin aneh saja. Arun tidak biasanya tersenyum. Arun adalah anak penuh kedengkian. Ia marah pada semua hal. Pada ayah yang menelantarkannya. Pada ibu yang menitipkannya ke panti asuhan karna ia menikah dengan pria lain yang tak menginginkan Arun menjadi anaknya. Pada lampu merah tempat ia biasa mangkal. Pada kota, pada jalan, pada pengedara. Pada presiden, bahkan pada Tuhan. Dia marah sebab Tuhan tak menyisakan apa pun padanya untuk dia miliki selain nafas yang tersengal dan perut yang harus selalu dia isi.

“Itu kau sewaktu kecil,” aku mendengar suara Arun lagi. Tadinya kupikir aku hanya berkhayal tetapi tidak, suaranya jelas menyeruak gendang telingaku dan masuk ke koklea. Aku melihat tangan Arun terangkat. Menunjuk televisi lemari model 20T-27A dengan merk dagang Sharp, yang terpajang di dinding bawah sebelah kiri. Old’s Gift adalah toko barang antik yang aku warisi dari kakekku. Barang-barang antik yang dijual tentu masih memiliki fungsi atau paling tidak bisa difungsikan, entah untuk apa pun. Tetapi tidak untuk televisi-televisi tua yang memang sengaja dipajang kakekku memenuhi dinding. Televisi-televisi itu, seluruhnya, sudah tidak berfungsi. Tentu saja, televisi-televisi itu pernah hidup di tahun sembilan puluhan yang cara menyalakannya pun kau harus menarik tombol di sisi kanan televisi. Mecari chanelnya juga harus memutar-mutar pengatur chanel yang tertempel di badan televisi. Kesimpulannya, apa yang dikatakan Arun sangatlah tidak mungkin. Televisi yang sudah tidak bisa menyala mana mungkin bisa menampilkan gambar terlebih gambar itu ketika aku masih kecil.

“Aruun,” kataku hendak memrotes.

“Saat itu kau masih di kandungan. Lihat! Itu kakek dan kakak perempuanmu, juga ibumu dan kau di dalam perutnya.”

Mendengar ini, mau tidak mau aku mengalihkan pandangan dari Arun ke arah di mana tangannya menunjuk. Aku terkejut bukan main, televisi itu menampilkan gambar bergerak. Arun benar. Perempuan berambut panjang sebahu di gambar itu adalah ibuku. Ibu yang tak sempat aku lihat sebab meninggal ketika ia melahirkanku. Itu delapan belas tahun yang lalu.

Aku tersedak haru.

Aku hendak menjauh tetapi Arun menahan tanganku. “Itu kakek dan kakak perempuanmu,” katanya lagi. Kali ini Dia menunjuk televisi Vintage Lincoln, yang berbentuk kotak, berwarna hitam dan putih susu. Pupil mataku memasatkan penglihatan. Di gambar, Runa, kakak perempuanku ketika berumur sepuluh tahun. Kakak terlihat menggemaskan dengan rambut dikepang dua meski sepertinya habis menangis.

“Memangnya, sejak kapan kakek bisa bicara dengan benda-benda?”

Suara kakak dari dalam televisi. Kakek tersenyum lalu mengajak Runa duduk di sofa beledru hijau yang ada di sana, sofa yang sama yang aku gunakan sebagai meja untuk tamu yang datang melihat-lihat toko antik ini.

Tiba-tiba saja kepalaku terasa pening. Aku melepaskan pengangan tangan Arun tetapi anak itu rupanya tak mengizinkanku memahami semua ini barang sejenak.

“Itu adalah kau di masa depan,” kali ini Arun menujuk TV Kayu B/W Johnsons. Televisi itu masih terlihat mulus berkat bahan bakelit yang melekat pada tubuhnya. Membuat harganya cukup fantastis ketika ditawar seorang anak muda yang ingin membuka café, yang tentu saja, akan ia gunakan sebagai dekorasi.

Apa yang terlihat pada gambar televisi itu adalah apa yang tadi sedang kukerjakan sebelum Arun datang dan merusak soreku dengan celoteh-celotehnya yang tak karuan ini. Tetapi sialnya mulai memengaruhiku.

Anehnya lagi, gambar di televisi tidak menampilkan Arun dan aku yang sedang memandangi televisi-televisi mati dari etalase toko melainkan memunculkan gambar di perempatan jalan. Lampu merah yang selalu ramai sebab berada tepat di sudut di mana sebuah mall kelas atas berdiri megah nan pongah. Tempat Arun mencari nafkah sehari-hari dengan menjual Koran pagi-sore dan mengamen pada sela-sela waktu selain itu.

Hari masih pagi. Klakson bersahut-sahutan di jalan yang padat. Semua orang telihat terburu. Arun tak mau kalah ia ramai menjajakan korannya. Berdiri di antara mobil dan motor. Menyelinap di sela-sela kendaraan. Siapa pun akan terharu dengan usahanya itu. Pecayalah, kau akan membeli koran meski pun kau tak pernah membacanya, saat kau sadar soal itu koran di tangan Arun telah berpindah ke tanganmu.

Kulihat anak itu ingin menjauh, menepi ke trotoar ketika lampu lalu lintas menyala hijau. Semua kendaraan menderu maju.

Harusnya.

Tetapi ada satu yang melintangi jalan. Mungkin rodanya tergelincir atau patah As karena beban muatan berlebih, atau tersuruk pada lubang dan membuatnya oleng. Truk enam roda itu oleng, pantat truk menghantam tiang lampu merah hingga terbanting patah. Jalanan kian ramai.

Hilang! Ada yang hilang di sana.

Di mana Arun? Bukankah tadi dia menepi di samping lampu merah itu?

Susah payah aku melepaskan pandangan dari televisi untuk menatap kekosongan di sampingku. Tak ada Arun. Tak ada anak lelaki yang sejak tadi mengangguku dengan menunjuk televisi-televisi mati.

*

Ini musim kemarau sebab itu pepohonan menggugurkan daun-daunnya. Pohon-pohon randu yang semula rindang di pinggir jalan sekarang tinggal tulang-tulang batang. Jika pun ada daun yang tersisa biasanya berwarna kuning kering. Pohon-pohon itu tidak mati. Tetapi Arun, bocah itu mati. Ketika daun-daun jatuh berguguran dan angin semilir menerbangkan duka.

*

Catatan:

Dibuat setelah menghabiskan buku kumcer Tentang Pertemuan milik Andi Wirambara. Semacam terpengaruh tulisannya dengan twis-twis yang luar biasa menyoal pertemuan.

Tentang tipe-tipe teve lama diambil dari http://www.indonetwork.co.id/result.html?search_for=&search_cat=all&subcat=Cemi&owner=555652

Aria

10:26

070515

image

Kamisan #6 Seasson 3: Gara-Gara Melankolis


Barangkali ada bagian dari tubuhku yang tercuri hingga perasaan sedih terasa mengerogoti. Aku menarik nafas dalam-dalam untuk mengenyahkan perasaan itu tetapi sesuatu yang menggumpal di tengorokanku membuatku tersedak. Maka begitulah air mataku tumpah. Berderai-derai. Lebih banyak dari sinar matahari senja yang terpapar awan tebal.

Barangkali karena sedang melankolis itulah, aku menatapi senja, diam-diam, di sela-sela keramaian. Berharap menutupi bayangan wajahmu yang selalu muncul bersamaan dengan debar yang terasa perih.

Aku tak tahu mencintai seseorang bisa semenyakitkan ini. Tidak. Mencintai itu menyenangkan. Perih adalah ketika perasaanmu tak berbalas. Ketika ia memilih untuk mengatakan tidak kepadamu, dan berlalu. Sementara kau hanya bisa memintanya untuk melupakan semua itu.

Tetapi kau tidak pernah lupa. Tidak sekali pun

Agar tidak terlalu melankolis-melankolis amat, aku berpikir nanti malam ingin membuat sepoci besar kopi. Hitam. Tanpa gula. Untuk menemaniku menonton film yang baru kukoleksi beberapa hari lalu. Kalau bisa  dan aku tidak jatuh tertidur, aku ingin menonton semalaman. Sampai dini hari. Sampai aku tak lagi memikirkan perasaanku tanpanya. Aku akan tertawa-tawa sepanjang malam. Mungkin menangis di sela-sela film pada bagian yang dramatis terlebih emosional. Tetapi para pembuat film itu sungguh bijak sebab memilih akhir yang bahagia. Meski harus mengakhiri film menjadi drama penuh air mata, itu pun tidak menderita-menderita amat. Atau paling banter, membiarkan tokohnya menderita lebih dulu lalu kembali jadi jagoan pada film berikutnya. Jadi ingatlah, kalau film itu berakhir tidak bahagia itu artinya film itu belum selesai sebab sebuah film tentunya akan berakhir bahagia*

Hal itu tentu berbeda dengan kisah kami. Aku dan dia selesai. Dia mungkin bahagia, entah bersama siapa. Mungkin dengan petugas perpustakaan  yang sering ia kunjungi. Mungkin dengan asisten dosen kelas sebelah yang selalu dibantunya membawa tugas-tugas mahasiswa yang menumpuk. Mungkin dengan anak ibu kantin yang selalu memanggilnya kak Liana meski jelas usia pemuda itu lebih tua dibanding Liana.

Nah, aku mulai menyebut namanya. Ini tidak boleh terjadi. Dia baru menolakku siang tadi. Aku tak ingin menjadi melankolis (lagi). Tak perlu. Lebih baik aku membuat dulu kopiku lalu menyalakan laptop.

Sambil menunggu layar windows nampak, aku menuangkan kopi ke dalam mug kecil seukuran tiga kali tegukan. Aku meniup-niup permukaan kopi sebentar lalu mulai minum. Layar laptopku sudah membuka sempurna, menampilkan gambar kucing kampung milik anak ibu kost yang kuambil beberapa hari lalu. Kucing itu sedang bermain dengan gulungan benar. Aku begitu gemas hingga ingin mengabadikan momen itu. Oke, lupakan soal kucing mari kita menonton. Kira-kira film apa yang cocok ditonton pria yang baru saja patah hati? Ah, aku bisa bebas memilih, usb-ku berisi lebih dari seratus film. Tapi kutinggalkan di mana benda itu ya? Ingat-ingatlah, Damar, apa kau perlu kehilangan sesuatu lagi hari ini?  Cukuplah kau kehilangan hatimu yang besarnya tak seberapa itu.

Ah, itu dia! Benda kecil keparat ini rupanya terselip ditumpukan kertas-kertas sketsa. Sketsa-sketsa wajah Liana dalam goresan hitam itu. Aku harus membuangnya besok. Sial! Aku tak ingin melihat wajah Liana sekarang. Hatiku bisa luluh lantak lagi jika melihat senyumnya. Baiknya aku menutup mata, mengambil usb itu lalu segera mencolokannya pada laptop.

Lalu sesuatu yang aneh terjadi. Layar laptopku bersinar menyilaukan. Bukan. Bukan layarnya. Tetapi usb itulah yang mengeluarkan cahaya. Beragam visual bentuk-bentuk aneh keluar dari cahaya itu dan melayang-layang di sekitar laptop. Mengambang. Semakin lama semakin banyak bentuk-bentuk aneh yang keluar. Aku tidak mengerti apakah usb ini memiliki fungsi lain seperti lampu ajaib?

Lalu tiba-tiba, di antara cahaya menyilaukan dan benda-benda aneh yang dikeluarkannya, aku merasakan tarikan yang begitu kuat. Wajahku ngeri membayangkan aku akan tersedot ke dalamnya, mengisi ruang kosong yang ditinggalkan mahluk apapun tadi.

Tetapi benar. Aku benar-benar tersedot. Masuk ke dalam usb yang sekarang kosong melompong.

image

20:34
090415

Kamisan #4 seasson 3 : Sekali Lagi Menjadi Akhir


image

Bisahkah kau, sekali saja, benar-benar menjadi seperti seorang kekasih untukku?

Ara mengembuskan nafasnya untuk kesekian kali. Satu tangannya menekan dada, seolah ingin meredam gemuruh detak jantungnya, yang seakan, bisa mengalahkan gempita suara kembang api perayaan tahun baru di luar sana.

Ia menahan desakan air mata yang akan jatuh. Hari ini ia berulang tahun. Beberapa teman terbaiknya berinisiatif merayakan hari istimewa untuknya ini alih-alih merayakan pergantian tahun. Araya mendapat banyak sekali ucapan selamat, beberapa hadiah serta ruapan doa. Ara merasa bahagia. Ia berterima kasih untuk itu. Tetapi jauh di dalam hatinya, ada harapan yang enggan ia kubur meski sudah ia tekan begitu dalam di benaknya. Sudah sejak tiga tahun belakangan ini, Ara selalu merasa ada yang kurang dari perayaan hari lahirnya tersebut.

Karenanya, setelah dua jam ia berkumpul bersama teman-temannya, Ara memilih pulang. Berniat menghabiskan sisa malam bergelung di dalam selimut. Dengan begitu ia akan punya banyak hal untuk dipikirkannya sementara matanya belum terpejam. Saat itulah, sebuah pikiran terlintas di benaknya.

Lelaki itu bernama Pati. Kekasihnya sampai beberapa bulan lalu. Pria yang selalu jadi orang pertama memberikannya ucapan selamat. Pati akan menelpon tepat pukul dua belas malam. Seolah dia memang sengaja menunggu waktu–mungkin dengan sedikit tidak sabar–untuk segera menelpon dan mengejutkannya. Meski sebenarnya Ara tak lagi terlalu merasa terkejut, sebab ia tahu, seperti tahun sebelumnya pria itu pasti akan membangunkannya lagi kali ini. Tetapi hanya sebatas itu. Pati tak memberikan hadiah atau mengajaknya pergi kencan esok hari.

Ia tidak pernah.

Pertama, Pati berada di kota yang berbeda denganya. Kedua, pria itu masih berstatus mahasiswa–tahun ke delapan–jadi dia tak memiliki pekerjaan yang memungkinkannya memiliki uang untuk membelikan Ara hadiah atau pun mengajaknya pergi kencan (Cobalah hitung harga pp tiket pesawatnya). Saat itu Ara sudah cukup merasa puas, aku tak perlu hadiah atau kencan, yang penting adalah Pati selalu ada. Tak pernah ia sangka, ia akan menggugatnya hari ini.

Mereka bertemu di Festival Seni se-Asia. Pada waktu itu, Pati adalah salah satu pengisi acara. Ia seniman. Penyanyi. Seorang teman mengenalkan Ara padanya.

Saat aku sedang menyanyi, seharusnya orang-oranglah yang terpukau padaku tetapi dari atas panggung tadi, aku begitu terpesona padamu di depan sana, katanya waktu itu. Ara tertawa, para seniman memang nomor satu dalam merayu, jawabnya pada si Seniman. Sejak malam itu, selama Pati di Jakarta, Aralah yang menemaninya berkeliling. Sampai ketika Pati memintanya menjadi kekasih karena alasan atas rasa nyaman,  ia menerima.

Semestinya Ara tahu, dalam sebuah hubungan menggunakan kenyamanan sebagai alasan adalah hal yang rapuh. Nyaman tidak sama dengan cinta. Ketika kenyamanan hilang apakah lantas cinta juga akan hilang?  Atau ketika rasa nyaman masih ada sementara cinta sudah tidak ada, apa akan bisa tetap menahan kebersamaan? Tidak. Kenyamanan saja tidak cukup.

Sebab nyatanya kenyamanan saja tak cukup menahan Pati untuk tidak pergi.

Kamu ini aneh, begitu kata teman Ara kepadanya suatu kali. Ara mengerutkan dahinya, tak mengerti. Kenapa baru sekarang kamu uring-uringan, merasa cemburu ketika Pati dekat dengan banyak perempuan, kenapa tidak ketika kamu masih berstatus kekasihnya. Mendengar itu, Aralah yang ganti tertawa. Temannya, mengerutkan kening lebih dalam dari Ara tadi.

Kenapa harus cemas? Bagaimanapun, pada akhirnya Pati akan kembali padanya. Bukankah ia yang sudah Pati pilih untuk bersamanya. Begitu Ara menjawab. Tercipta hening yang panjang antara ia dan temannya. Mungkin mereka sama-sama yakin tak ada yang menjamin perkataan Ara tadi.

Suara Breaking Benjamin menyanyikan Diary of Jane membawa kembali pikiran Ara yang sempat berkelana. Tangannya sedikit gemetar ketika menjulur ke samping ke meja tempat ponselnya itu berada. Itu pasti dia. Ara melirik jam meja sekilas, sebelum mengangkat panggilan masuk tersebut. Pukul 00:29.

Ara merasakan sensasi seperti mabuk ketika mendengar suara Pati menembus masuk telinganya. Mantan kekasihnya itu mengucapkan selamat ulang tahun untuknya, lalu–setelah jeda sebentar–bertanya apa maksud pesan yang ia kirimkan tadi. Alih-alih menjawab yang keluar dari bibir Ara adalah kau terlambat. Bunyi statis kekosongan mengisi udara. Lalu Ara mendengar suara berat desah nafas Pati.

Kenapa kamu seperti ini?, katanya. Kita bukan lagi sepasang kekasih, prioritasku tentu saja berubah. Bukankah kita setuju untuk tidak membahas masa lalu lagi? Tidurlah, ini sudah dini hari. Jangan membuat dirimu sendiri terus mengonsumsi obat penambah darah karena kurang tidur. Aku harus menyelesaikan sebuah lagu. Kututup ya.

Sudut-sudut mata Ara meremang. Panggilan masuk tadi hanya menyisakan suara tut-tut tak berkesudahan. Ponsel itu jatuh terlepas dari tangannya, hempas ke atas tempat tidur. Pukul 00:34. Suara kembang api hanya tinggal letupan-letupan lemah di luar, tak semeriah ketika tepat tengah malam.

12:19 120315

Kamisan #3 Seasson 3 : Usaha Menyatakan Cinta


*cerpen ini tidak untuk mempromosikan produk apa pun.

image

Nuna sudah menunggu selama empat belas hari untuk menyiapkan dirinya. Setelah ini, ia tidak akan diam-diam lagi memandang Satria–tetangganya itu–ketika berangkat atau pulang dari beraktivitas. Berlari-lari dari ruang tamu rumahnya menuju lantai atas, di mana jendela kamarnya persis mengarah ke jendela kamar Satria. Nuna akan memadamkan lampu, lalu duduk di tepi jendela, mengangumi pria itu dari jauh. Nuna tahu, Satria pasti sadar sebab lampu kamarnya yang selalu tiba-tiba mati ketika pria itu ada di rumah. Nuna nyaris bisa membayangkan dahi pria mengernyit, heran.

Nuna bersenandung. Kakinya bersijingkat, seolah sedang menari. Senyumnya merekah seiring Ia menuruni tangga. Ia terus begitu sampai menuju dapur. Nuna menahan nafasnya, di depannya sebuah lemari es berwarna abu-abu berpintu satu, terbuka. Gadis itu kembali bersenandung, sembari mengeluarkan cake yang sudah ia siapkan sejak sore tadi. Hati-hati ia mengeluarkan kue berwarna merah itu dari loyang ke atas sebuah nampan. Memotongnya menjadi dua bagian, memisahkannya. Nuna mengambil krim semprot, mengguncangnya sebentar lalu mulai menutupi permukaan salah satu kue dengan krim.

Ia masih terus bersenandung.

Setelah selesai, dengan cekatan Nuna menumpuk kembali satu belahan kue tanpa krim ke atas kue berkrim, hingga krim manis yang lembut itu tersembunyi di tengah-tengah. Nuna beranjak ke rak dapurnya, mengambil nampan berwarna perak berbentuk bulat dengan hiasan-hiasan di seluruh sisinya, membuat nampan itu terlihat persis seperti kaca ajaib dalam dongeng-dongeng tua.

Berhati-hati, Nuna memotong kue-kue merahnya menjadi bbentuk persegi panjang, lalu menyusunnya di atas nampan. Tak lupa, ia juga menaruh madu dalam wadah kaca sebagai tambahan. Terakhir, ia mengambil bunga krisan, melepaskan kelopak-kelopak kuningnya lalu menaburkannya ke atas kue.

Ketika ingin mengangumi hasil pekerjaannya, ujung nampan mengores pergelangan tangannya yang terluka. Nuna meringis. Darah merembas, membuat kapas yang tadinya putih berubah warna. Nuna meletakan nampan kembali lalu meninggalkan dapur menuju tangga, tempat di mana kotak p3k berada.

Nuna duduk di anak tangga ke tiga. Perlahan ia membuka perban yang menutupi lukanya. Garis memanjang berwarna merah dengan luka yang cukup dalam terlihat saat ia menarik lepas kapas di atasnya. Tenanglah, katanya pada diri sendiri. Luka ini tak ada apa-apanya. Bukankah perlu pengorbanan besar untuk mendapat hal yang besar? Nuna menganguk untuk dirinya sendiri.

Ya, Satria lebih berharga tinimbang luka di pergelangan tangannya ini. Semoga saja mitos itu benar. Darah dan beberapa mantra bisa menjadikan Satria miliknya. Selamanya.

Kamisan #2 seasson 3 : Suatu Hari Ketika Badai


image

IBUKU adalah perempuan yang tidak memiliki masalah dengan menunggu. Ketika sebagian perempuan begitu gelisah dalam duduknya ketika menanti kedatangan seseorang, khawatir, bahkan mungkin marah, maka ibuku dengan ketenangan seperti air danau sedia menunggu berapa pun lamanya.

Hari ini, ia telah menunggu selama separuh usiaku.

Sementara aku sudah tahu sejak lama bahwa lelaki yang kupanggil ayah itu tak akan pernah kembali. Kami tidak pernah tahu di mana ia berada. Laut begitu luas untuk mencari keberadaan lelaki jangkung, bermata cokelat, dengan luka parut tipis di wajah akibat tergaruk mata pancing. Ibuku selalu meledek ayah karna itu. Katanya, ayah seorang jago di laut tetapi kalah oleh ikan-ikan sungai. Ayahku, lelaki itu, bernama Dwipa.

Ayah adalah lelaki dari tanah seberang. Perantau tak berayah-ibu. Ia mencari hidup sebagai upah harian di kapal nelayan. Ketika ayah memulai perjalanannya, ia bahkan belum memiliki jakun. Ayah tumbuh dalam dekapan ombak dan sinar matahari di atas kapal. Saat kapal yang ditumpangi ayah berlabuh di desa kami, ia memenuhi takdirnya.

Perempuan yang membuatnya jatuh cinta bernama Mirah. Bibir dan pipinya bersemu merah, seperti namanya. Seperti banyak perempuan lain di desa, Mirah ikut berdesak-desak ke kapal manapun yang baru saja mendarat. Menimbang ikan lalu memburuh ke pasar. Saat itulah, ketika Dwipa melihat ke dalam manik mata Mirah, lelaki itu merasa ia kembali memiliki rumah.

Sebulan setelah pertemuan itu, ibuku Mirah menikah dengan lelaki perantau Dwipa.

Jika kalian bertanya apakah ayah-ibuku bahagia maka aku bisa menjawabnya untuk kalian. Ayah-ibuku bahagia. Ayah membangun sendiri rumah untuk kami. Ia menebang sendiri pohon-pohon kelapa dan memancangnya sebagai tiang rumah. Memaku papan-papan dengan rekat menjadi dinding. Di usiaku yang ke enam Ayah membuat kotak berisi pasir yang ia taruh di halaman rumah. Isinya adalah cangkang-cangkang kerang beraneka bentuk dan rupa. Ayah menghadiakan kotak itu kepadaku. Aku menyanyagi kotak kerang itu seperti aku menyanyangi ayah.

Kotak kerang itu masih ada. Aku menyimpannya di dalam kamarku sebab tak ingin kotak itu lapuk terkena hujan. Aku sudah kehilangan ayah, aku tidak ingin jika harus kehilangan kotak itu juga. Tetapi ibuku sepertinya tak sedikit pun merasa kehilangan ayah.

Lihatlah dia, duduk beralas pasir di tepian pantai. Bertopi caping dengan baju kantun tipis bermotif kembang biru. Di depannya sebuah tiang tertancap di pasir. Ujung tiang itu berbentuk segitiga terbalik tempat ia menggantung saringan-saringan kecil penangkap ikan. Bagimu, mungkin ibuku terlihat konyol. Itu mungkin karena kalian tidak tahu mitos yang hidup di desa kami.

Masyarakat desa kami hidup dari laut. Rumah dan lautan berdampingan sejak zaman nenek moyang. Entah siapa yang memulai, ketika badai menghantam desa dua malam berturut. Ketika setiap doa larung turun ke laut dari para istri yang mengharap suami mereka pulang dengan selamat, esok paginya, tiang-tiang dengan segitiga terbalik terpancang di sepanjang bibir pantai. Saringan-saringan kecil berwarna-warni terayun dimainkan angin. Pemandangan itu terasa magi. Setiap mata terkesiap lalu keharuan yang pekat mengantungi setiap mata ketika melihat kapal-kapal kembali berlabuh ketepian. Suami-suami mereka pulang. Ayah-ayah kami pulang.

Seperti itulah sebuah mitos berlanjut turun temurun. Mitos yang patah ditangan ibuku.

Ayah telah menjemput takdirnya yang lain. Sebagai pelaut, ia mati di laut. Sementara ibuku, memenuhi takdirnya sebagai perempuan yang tabah dalam menunggu.

10:31
110215

Ket:
Dwipa adalah nama seorang kenalan jauh di Denpasar sana dan Mirah adalah istrinya. Mereka baru menikah beberapa waktu lalu. Meski cerita ini tidak happy end, karna saya menggunakan nama mereka, jadi cerita ini saya berikan untuk keduanya.

Selamat pakde!