Kamisan #10 Seasson 3: Pesan Dinding


"Sampai kapan, kau akan berdiri di situ dan terluka?" Anak itu, alih-alih mengalihkan pandangan dari grafiti di dinding kepadaku ia malah menunduk dan mengepalkan tangan. Ia marah, kukira. Kutarik tangannya sebelum ia berlalu pergi, "Kau bukan bantalan jarum, berhenti sedia terluka seperti itu," kataku โˆž "Perasaan manusia itu aneh ya? Cepat sekali menjadi asing. Terpisah…

Iklan

Kamisan #13 Seasson 3: Lelaki dan Jendela


Saat pertama kali datang, tak ada hal lain yang ingin aku lihat selain jendela kamar ini. Kau tahu, Kina? Aku bahkan tak menghiraukan para pekerja yang menurunkan barang-barangku dan bertanya ingin diletakkan di mana kardus-kardus itu. Aku sama sekali tak peduli, toh barang bawaanku tak banyak. Mereka bisa meletakannya di mana saja. Rumah ini luas.…

Kamisan #12 Seasson 3: Seorang Pria yang Mencoba Mabuk untuk Melupakan Hatinya yang Patah


Barangkali kepongahan dan luasnya kota inilah yang menjadikan orang-orang sepertiku melankolis ketika menatap senja dari ketinggian salah satu gedung pencakar langit di tengah kota. Semburat senja yang membuat orang-orang sepertiku tertusuk jarum-jarum sepi kasat mata yang pengaruhnya laten namun terasa begitu pengap di dada. Ya. Dadaku. Yang belum lama ini, cinta, yang pernah mengisi seluruh…

Kamisan #11 Seasson 3: Athalla


Harusnya pohon-pohon itu tak tumbuh melebihi luas ruangan. Biasanya begitu. Entah bagaimana kali ini, batang-batang pohon itu tak hendak berhenti tumbuh. Mereka terus naik, menembus atap. Aku memanggil-manggil nama Athalla. Memasang telinga berharap menangkap suaranya. Tetapi tak ada. Athalla menghilang bersama sulur-sulur kembang sepatu yang tumbuh jauh menembus langit.

Kamisan #9 Seasson 3: Alang


Juni. Ketika angin bermain-main menelisik lembaran daun-daun. Hari-hari ketika kemarau dan penghujan sedang mesra-mesranya. Manusia menyebutnya pancaroba. Pada masa musim masih memiliki waktu. Pada masa seperti itulah, hampir setiap petang aku dan teman-temanku mengarak layangan ke tanah lapang. Hampir semua anak lelaki. Tetapi ada juga, satu dua anak perempuan yang seperti lelaki. Ikut aku dan…

Kamisan #8 Seasson 3 : Arun


Ini musim kemarau sebab itu pepohonan menggugurkan daun-daunnya. Pohon-pohon randu yang semula rindang di pinggir jalan sekarang tinggal tulang-tulang batang. Jika pun ada daun yang tersisa biasanya berwarna kuning kering. Pohon-pohon itu tidak mati. Tetapi Arun, bocah itu mati. Ketika daun-daun jatuh berguguran dan angin semilir menerbangkan duka.

Kamisan #6 Seasson 3: Gara-Gara Melankolis


Barangkali ada bagian dari tubuhku yang tercuri hingga perasaan sedih terasa mengerogoti. Aku menarik nafas dalam-dalam untuk mengenyahkan perasaan itu tetapi sesuatu yang menggumpal di tengorokanku membuatku tersedak. Maka begitulah air mataku tumpah. Berderai-derai. Lebih banyak dari sinar matahari senja yang terpapar awan tebal. Barangkali karena sedang melankolis itulah, aku menatapi senja, diam-diam, di sela-sela…

Kamisan #3 Seasson 3 : Usaha Menyatakan Cinta


*cerpen ini tidak untuk mempromosikan produk apa pun. โˆž Nuna sudah menunggu selama empat belas hari untuk menyiapkan dirinya. Setelah ini, ia tidak akan diam-diam lagi memandang Satria--tetangganya itu--ketika berangkat atau pulang dari beraktivitas. Berlari-lari dari ruang tamu rumahnya menuju lantai atas, di mana jendela kamarnya persis mengarah ke jendela kamar Satria. Nuna akan memadamkan…

Kamisan #2 seasson 3 : Suatu Hari Ketika Badai


โˆž IBUKU adalah perempuan yang tidak memiliki masalah dengan menunggu. Ketika sebagian perempuan begitu gelisah dalam duduknya ketika menanti kedatangan seseorang, khawatir, bahkan mungkin marah, maka ibuku dengan ketenangan seperti air danau sedia menunggu berapa pun lamanya. Hari ini, ia telah menunggu selama separuh usiaku. Sementara aku sudah tahu sejak lama bahwa lelaki yang kupanggil…