Aku ingin menulis sesuatu. Itulah yang selalu aku pikirkan namun akhirnya tak pernah jadi apa-apa. Karena sejujurnya, aku muak terus menerus menulis tentang kesedihan. Aku tak pandai menulis, aku tahu. Aku hanya sok merasa bisa. Tulisanku tak lebih dari sekumpulan kata-kata runyam tentang kesedihan. Tentang betapa tak adilnya dunia ini.

Oh, sebentar, terserah kalau kalian merasa dunia ini adil.

Kembali ke keinginanku untuk menulis, mungkin aku hanya harus berusaha menggunakan imajinasi sedikit lebih keras dari yang seharusnya. Mungkin dengan usaha itu aku bisa menuliskan, misalnya, tentang sebuah kota yang hanya memiliki satu warna, yaitu kelabu. Sebuah kota di bawah gunung yang terus menerus menyemburkan awan-awab kelabu. Hingga suatu hari, pasangan suami-istri paruh baya berjalan ke atas gunung dan mengorbankan diri mereka.

Oke, kau benar. Ini kisah sedih lagi. Tetapi memangnya dalam kehidupan yang mana sebuah tragedi tidak pernah terjadi? Asal tahu saja, kisah Romeo-Juliet tidak akan abadi kalau bukan karena tragedinya. 

Dan seperti itulah aku harus menjalani kehidupan monotonku. Dengan tragedi. Pertemuan singkat yang membawa hidupku berujung nahas. Tetapi sudah berakhir. Sungguh kuharap sudah. Dan aku merasa senang karena bisa mewujudkan kesenangan-kesenangan untuk diriku sendiri alih-alih memikirkan kebutuhannya. 

Inilah bahanya orang yang insomnia. Mengoceh tak tentu arah. 

Aku memutuskan ke luar. Bulan sedang penuh. Bulat. Merah dan terang. Ia menoleh sesaat ketika aku duduk di selasar rumah tetangga, rumahku tidak memilikinya.

Sedang apa? Aku menyapa.

Memandu nelayan-nelayan penangkap udang. Mereka telah berdoa dengan tekun jadi aku harus menjaga mereka ketika di laut.

Ah, dewa-dewa lama, kataku. Boleh aku meminta tolong?, kataku lagi, kalau kau tidak terlalu sibuk, tentu.

Bulan merah itu menimbang-nimbang sebentar, lalu katanya, boleh saja kebetulan laut sedang tenang. Apa maumu?

Ini mungkin sepele untukmu, tapi aku hanya ingin tahu. Apakah kekuasaanmu sampai ke kota C? Bulan merah itu mengangguk. Oke. Lalu aku membisikkan sesuatu lebih spesifik. Ia sibuk sebentar, melihat ke segala arah. Bagaimana?, kataku, kau melihatnya?

Oh ya, pria yang paling tinggi itu pasti yang kau maksud. Aku tidak tahu apa yang sedang dilakukannya, menulis mungkin, tapi apa pun itu dia terlihat bahagia. 

Menulis masuk akal juga. Tapi terlihat bahagia bukan berarti benar-benar merasa bahagia bukan? 

Mungkin juga, Nona Muda, tetapi kenapa kau ingin tahu soal pria itu?

Aku hanya ingin tahu apa ia masih berada di tempatnya. Ia berhutang banyak padaku, dan aku tidak ingin dia kabur. Dia baru saja mematikan teleponku dengan, yah, agak menyebalkan. 

Mudah untuk merasa tidak terikat dan terbeban. Entah kenapa kali ini terasa mudah. Mungkin aku sudah mencapai batas. Tak ada lagi harapan di batas harapan yang telah kugantungkan. Tidak sekarang, tidak juga dulu. Memutuskan telepon tidak lagi kuanggap sesuatu yang pantas untuk kumasukkan hati.

Mungkin priamu itu salah satu demigod Aprhodite.

Aku tertawa mendengar lelucon bulan merah. Aphrodite ya, si Dewi Percintaan yang sama sekali tidak memiliki rasa hormat pada pernikahan, ikatan. Dia lebih cocok sebagai dewi perselingkuhan kurasa.

Tidurlah, anakku.

Aku ingin gerimis. Bisahkah kau mendatangkannya? Aku merasa kering.

Kembalilah ke kamarmu, aku akan meminta bantuan dewa-dewa lama untuk membuat tidurmu nyaman.

Kau baik sekali, kataku.

Tidak butuh waktu lama. Aku tidak dikuasi kebencian. Tidak juga perasaan sedih. Mataku lelah, dan aku terlelap dengan cepat.

Rumah Pasir


ini adalah upaya untuk bisa berdamai dan memaafkan diriku sendiri

Dalam beberapa tulisanku, cerpen-cerpenku, ada satu tokoh perempuan. Perempuan yang hatinya penuh carut dan luka. Perempuan yang memandang kehidupan dengan skeptis. Secara sadar, aku tahu aku menaruh ruhku ke dalam tokoh perempuan tersebut.

Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar. Sebab dalam lima tahun itu aku kehilangan banyak hal; waktu, uang dan masa depan. Semua hal yang menguras energi dan perasaaan. Tapi apa mau dikata, terkadang cinta membuta-tulikan diri kita.

Tak seperti luka yang ia timbulkan sebelum-sebelumnya, kali terakhir ini–ini harus jadi yang terakhir!–aku hanya menangis dua hari. Kali ini aku lebih sadar bahwa selama ini aku terlalu mengabdi padanya. Melupakan keluarga, melupakan teman-teman bahkan melupakan diriku sendiri.

Jauh sebelumnya aku sudah mengetahui ini. Aku pasti sudah tidak tertolong lagi, begitu pernah aku berkata karena ketika sedang bertengkar pun, aku masih sanggup memikirkan kepetingannya. Oleh sebab tidak akan ada yang menolongku, maka kali ini aku harus menolong diriku sendiri.

Kehilangan paling besar ketika membangun rumah pasir ini adalah kehilangan diriku sendiri. Kehilangan kesempatan untuk berbaur, kehilangan waktu sosial dan waktu untuk membahagiakan juga mengembangkan diri sendiri.

Cukup untuk bersedih. Cukuplah membangun Rumah Pasir yang keeksistensinya pun semu. Cukuplah mengabdi pada seseorang yang dengan mudahnya mengatakan; aku tak pernah menjanjikan apa-apa padamu. Cukuplah memikirkan orang lain. Mencoba menyenangkan orang lain. Bernafas dan hidup untuk orang lain.

Mungkin benar, bahwa kebahagiaan tidak ada di luar sana melainkan ada di dalam diri kita sendiri.

Semoga Aria yang sekarang, tidak akan memandang dunia dengan skeptis lagi. Memaafkan diri sendiri karena melakukan kesalahan besar selama lima tahun mungkin tak terampuni, tetapi aku, akan memiliki cinta untuk diriku sendiri, yang luar biasa banyak dan besar. Yang saking banyak dan besarnya aku bisa memberikannya kepada sesiapa yang ada di lingkaran hidupku saat itu.

Tetapi sungguh, jangan mengajakku membangun sebuah Rumah Pasir lagi. Itu pekerjaan yang melelahkan, terlebih, jika itu dilakukan seorang diri.

Lagu dan Cerita yang Mengiringnya #4


Love comes slow and it goes so fast

And you dive too deep

Let Her Go – Passenger

Let Her Go ini lagu lama sebenarnya, hanya saja, telingaku baru mengenalnya beberapa waktu belakangan ini. Musiknya yang lembut dan sendu membuatku nyaman mendengarkannya berkali-kali. Earworm istilahnya. Namun, perasaan nyaman itu semakin lama berubah jadi kelabu.

Sungguh,

Lirik-lirik dalam lagu ini membuatku tertegun. Perasaan terluka membayang seiring bait-bait lagu dinyanyikan. Kenangan dalam kepalaku bertabrakan lalu meledak. Menciptakan semacam pertanyaan-pertanyan yang tak pernah aku mengeti apa jawabannya.

Adalah cinta, muara dari segala sebab. Lesak di dada, rindu yang lebam, ingatan-ingatan yang memusuhi dirimu lebih banyak dan menolak untuk dilupakan. Mungkin benar, bahwa manusia adalah pengumpul segalanya. Si Penabah yang Bodoh.

Ialah aku.

Menimbun luka. Mengumpulkan kenangan. Memberi dengan percuma hanya untuk disia-siakan. Lalu membungkus semua itu seolah makhluk paling tabah. Aku menemukan diriku menangis dalam malam. Membaca sunyi yang terpantul-pantul  di dinding.

Tak ada jawaban. Tak pernah ada jawaban. Hanya ledakan tangis yang teredam. Mungkin sudah saatnya aku melepaskan.

Maybe one day you will understand why

Everthing you touch all it dies.

57f1dbc395605710e12c21b767d1431f

Note:

Yang mau dengar Let Her Go versi Cover sila klik Let Her Go – Boyce Avenue

Kita dan Ingatan-Ingatan yang Menguap


Suatu kali ketika kita bertamasyah, di antara hijau pepohonan kau pernah berkata,

Ke mana ingatan akan pergi ketika manusia mati? Apakah pohon-pohon menyerapnya? Apakah setelah mati aku akan ingat pernah mencintaimu?

Aku tak tahu harus menjawab apa. Hal itu tak pernah terpikir olehku. Kau tahu, selama hidupku aku yang selalu mengingat seseorang. Selama hidupku, akulah yang selalu repot dengan perasaanku sendiri. Karena itu aku tak pernah berpikir, apa jadinya dengan ingatan seseorang yang mencintaiku ketika orang itu sudah tak ada. Apa dalam ingatannya dia tetap mencintaiku?

Namun pertanyaan itu kau lontarkan ketika kita bersama. Saat ini, ketika tangan kita tak lagi bertaut, apakah kau masih peduli, apakah kau masih bertanya-tanya apakah ingatanmu mengingat ingatan kau pernah begitu mencintaiku?

Dengan catatan, kalau itu benar bisa disebut cinta. Benarkan, Ashta?

Bagaimana Aku Mengingatmu,


Gambar diambil acak dari google

Sore terasa amat sesak di ibukota. Terlampau riuh dan asing. Setiap kaki berjalan sendiri-sendiri. Setiap kata mengambang di udara. Dan hujan lebat memperparah perasaan sesak itu. Tetapi dadaku lesak oleh sebab yang berbeda.

Beruntung aku menemukan Di Antara–cafe kecil dengan nuansa hangat sebuah rumah– di belokan jalan, sebelum hujan ruah. Aku sama sekali tak berniat menjenguk masa lalu. Aku hanya muak dengan ibukota sore ini dan berniat menghabiskan The Mirror of Fire and Dreaming yang baru kubaca setengah. Tetapi yang kudapati ketika memandang ke luar cafe adalah perasaan nelangsa yang amat sangat. 

Mungkin karena hujan. Mungkin karena dua bangku kosong dan basah di bawahnya. Mungkin karena pepohonan hijau dan lorong jalan yang seolah tak berujung itu yang membuat air mataku mengambang di pelupuk.

Aku ingin menangis. Saat ini juga.

Diam-diam aku menyusut hidung. Membiarkan air mataku jatuh, lalu menghapusnya tanpa kentara. Kukira masa lalu telah jauh lindap dalam ingatan. Kukira, kenangan telah menguap dalam keseharian. Ah, atau mungkin ini hanya karena hatiku sekosong jalan di hadapanku sekarang. 

Halo, Aku di Masa Lalu


Halo,  Aria.

Kau mungkin tidak percaya, ini aku,  kau di masa depan. Ya ya. Aku tahu ini kedengaran tolol. Tapi kau harus percaya, aku benar-benar kau.

Begini, ada yang ingin kusampaikan.

Kelak di tahun 2011, kau akan bertemu seseorang. Seseorang yang kau kenal di situs kepenulisan. Seseorang yang menggelitik rasa penasaranmu, aku tahu. Tapi cukupkan sampai di situ.  Aku enggak melarangmu untuk datang ke pertemuan yang dibuat untuk menyambut kedatangannya itu.  Datanglah. Berkenalanlah dengan mereka. Mereka orang-orang hebat dan baik. Ada baiknya kau mengenal mereka.

Ingat perkataanku tadi soal rasa penasaran? Ketika pertemuan siang itu berakhir,  hilangkan segera rasa penasaranmu. Ambil jarak dari Sang Tamu. Bertemanlah seperti dengan yang lainnya. Jangan terlalu peduli dan jangan melibatkan perasaanmu.

Ini penting, Aria, karena ini menyangkut aku,  kau di masa depan. Ini menyangkut kita. 2011 adalah masa yang rawan.  Aku tahu kita sedang berjuang untuk lulus. Dan perasaan patah hati adalah hal terakhir yang kau perlukan. Ini serius.

Ini mungkin kau pikir konyol, bagaimana mungkin kita bisa jatuh hati kepada seeorang yang kau kenal hanya dalam beberapa waktu. Kepada seorang asing yang baru muncul. Percayalah ketika orang itu mengatakan bahwa hubungan kalian bukan apa-apa dan kau tidak perlu merasakan apa-apa karena waktu bersama kalian yang tak seberapa itu,  kau akan tahu bahwa kau enggak  menganggap semua ini konyol.

Aku tahu rasanya, Aria. Dan aku enggak ingin kau merasakannya juga. Aku ingin menyelamatkanmu dari rasa sakit yang akan terus kau terima sampai lima tahu ke depan sejak hari itu. Setelah kau sadari,  semuanya sudah akan sangat terlambat.

Aku tahu kau merasa bahagia,  tetapi,  Aria,  kebahagianmu tak sebanding. Akhirnya,  aku berharap kita bisa bertemu di masa depan tanpa hati yang lembam atau pun penuh carut.

Aria di masa depan.
09042016
19:30

Lagu dan Cerita yang Mengiringnya #3


Be your number one

Be your everything

I can take so much

Human – Christina Perri

Perasaanku sedang tidak baik ketika aku menulis. Maka sembari bekerja, aku memutar lagu-lagu akustik di pc-ku. Human terputar di nomor kedua. Aku tidak begitu mengikuti lagu-lagu baru. Aku jarang mendengarkan radio atau sesuatu yang membuatku update dengan hal-hal seperti itu. Tapi bukan itu yang ingin aku ceritakan.

Apa jadinya seseorang, yang telah berusaha keras untuk membahagiakan seorang yang lain karena hal itu juga membuatnya bahagia?

Kesalahan seperti apa yang tak termaafkan? Cinta seperti apa yang tak bisa dilupakan? Aku begitu pantas dikasihani sebab tak tahu apa beda keduanya. Aku begitu menyedihkan karena bersama seseorang yang tak pernah bisa kumiliki.

Apa yang kutahu dari semua ini? Apa yang pantas kutangisi seperti ini hingga dadaku terasa sakit? Apaku yang bermasalah? Hah?

Bersama seseorang yang bahkan nggak bisa dimiliki! Berebut dengan perempuan lain. Mencintai seseorang yang mengingat perempuan lain, satu-satunya perempuan, ketika dalam keadaan sakit dan lemah. Perempuan lain dan bukan kau yang selalu ada untuknya! Aku ingin merasa baik-baik saja tetapi Human membuatku merasakan rasa sakit yang telah begitu akrab di dada.

Rasa sakit dari perasaan yang sama. Rasa sakit dari lelaki yang sama.

-||-

Langit di luar gelap. Aku sendirian di kantor. Perasaanku masih sakit dan aku tidak mau air mataku tiba-tiba jatuh hanya karena aku memikirkannya. Tidak. Tidak di tengah keramaian. Aku memilih tinggal.

Untukmu, entah berapa lama aku sedia tinggal. Toh tak  ada masa depan bagi kita. Ini terasa makin menyakitkan karena kukira bakal ada. Pernikahan? Baik itu secara agama maupun negara adalah tidak mungkin bagi kita. Aku ingin berhenti, tapi bersamamu aku merasa bahagia.

Bagaimana ini Ashta?  Haruskan kutahankan semua hingga aku muak?

But, I’m only human. Just a little human

 

Pria di Luar Sana


Ada seorang pria di luar sana,
yang sedang mengangumi ruang angkasa, Andromeda, blackhole
yang menginginkan armor sebesar tubuh untuk bisa dipakai.

Seorang pria yang membuatku jatuh cinta, selalu.

Ada seorang pria di luar sana,
yang menyimpan kemeja-kemeja, album foto, kartu ucapan
dijadikannya harta karun yang akan mendulang air mata ketika ia melihatnya.

Ia tahu, tapi tetap dilakukannya.

Ada seorang pria di luar sana,
yang selalu ingin kusentuh lengannya
yang selalu ingin kulihat bibirnya mengerucut ketika tersenyum
yang, membuatku, ingin menyebrangi takdir.

Seorang pria di luar sana
yang menjadikanku wanita kesepian ketika tak ada di dekatnya
Seorang pria yang tiba-tiba saja sangat kurindukan, meski ia baru menjauh selangkah, lalu selangkah lagi untuk akhirnya tak terlihat
Seorang pria, yang selamanya, takkan pernah benar-benar kumiliki.

Seorang pria di luar sana yang telah memiliki kekasih.

________

09.02
3/12/15

image

Aria.

Sepuluh Tahun Mendatang


Aku selalu menginginkan memiliki sebuah rumah. Rumah milikku sendiri. Yang akan kuisi dengan barang-barang yang kuinginkan. Dapur yang tak berjejal barang-barang. Sebuah meja makan dua kursi. Sebuah rumah yang memiliki lemari-lemari buku. Rak gantung dengan tanaman kaktus sebagai hiasan. Sebuah rumah ternyaman untuk pulang.

Aku yakin, entah lima atau sepuluh tahun ke depan aku akan memilikinya. Hanya saja tak akan ada kamu di sana, sama seperti saat ini.

Jika sekarang saja kamu sudah memilih bersama seseorang bagaimana mungkin kamu akan ada bersamaku di masa depan. Kamu dan aku berjarak. Sejauh-jauhnya jarak. Dan, seperti katamu, kamu tak memiliki rumah untuk kutempati. Ah, memangnya kapan aku pernah memintamu untuk membelinya?

Belakangan ini aku selalu bermimpi, ada seseorang di mimpiku–yang entah kenapa selalu lekaki. Mereka terasa akrab di dalam sana, tetapi ketika bangun tak satu pun dari mereka yang aku ingat kukenali di dunia nyata–yang terakhir adalah lelaki bertopi.

Di siang hari aku mendengar suara lonceng angin di suatu jalan yang hampir selalu kulewati. Suara lonceng angin yang kadang tak terdengar di hari berangin. Sebuah lonceng angin yang kadang terdengar, kadang tidak bahkan sampai beberapa lama aku berhenti dan menunggu. Sebuah suara lonceng angin yang hanya kudengar sendiri meski ada banyak orang di sekitar. Ya, aku memastikannya hari ini. Aku bertanya, tetapi katanya mereka tak mendengar  apa-apa. Hanya aku. Entah.

Itu sebelum hatiku patah (lagi) seperti ini.

Hari ini, sepulang bekerja. Ketika aku sedang menunggu kereta lewat untuk menyebrang ke peron di seberang. Ketika angin menghempas akibat dorongan kereta, di kepalaku, terbayang aku berlari menyongsong kereta, lalu membiarkan kereta itu menembus tubuhku. Saat kereta itu berlalu, bayangan itu sirna.

Aku tak ingin mati. Betapa pun pedih kesedihan yang ditanggung hatiku. Betapa lesak ia terbeban sakit hati. Aku tidak ingin mati sebab tadi, aku sudah melihat-lihat sebuah meja makan, rak gantung berbentuk zigzag, gelas-gelas teh. Benda-benda yang ingin kuisi di rumahku kelak.Entah itu sepuluh tahun lagi atau kapan.

Aku akan ada di rumahku. Tak apa-apa meskipun tak ada kamu. Kumohon jangan melukai lagi. Menjauhlah. Biarkan aku sendiri.

Tak apa-apa meski tak ada kamu. Tak apa-apa meski aku seorang diri. Kamu memiliki alasan-asalan untuk tak bisa bersamaku. Kali ini buatlah alasan agar tubuhku tak perlu dihantar ke depan kereta yang sedang melaju.

#

sebuah monolog
301015
20:56

* I’d jump in front of a train for you
But you won’t do the same*
Song ost Grenade – Bruno Mars

Bandara, Satu Cup Kopi dan Pertemuan yang Sia-Sia


Jika ditanya apa hubunganku dengan kopi dan bagaimana aku jatuh cinta padanya, maka beginilah ceritanya.

Pagi itu di bandara. Aku bertemu dengan seseorang. Seseorang yang sangat dekat, lalu terpisah jarak tiga setengah jam perjalanan pesawat dan akhirnya terpisah jauh di masa depan. Hari itu mengubah jalan hidupku menjadi seperti hari ini.

Adalah bandara tempat paling tabah menerima air mata, memeluk kesedihan yang tumpah tersebab perpisahan. Hari itu, kami memesan segelas kopi, cappucino tepatnya, berbagi nafas di atasnya. Asap-asap putih dan tipis melayang membumbung dari gelas kertas.

Cappucino-nya tanpa gula, katanya waktu itu, awalnya terasa pahit tapi lama kelamaan akan terasa manis. Seperti perpisahan. Lalu menjelma kenangan. Pada awalnya setiap perpisahan akan terasa pahit, tetapi semakin diingat, akan banyak kenangan manis bermunculan. Maka saat itu, kau akan berhenti menangis lalu menjadi lebih berani. Berani untuk memaafkan. Berani untuk hidup.

Pada akhirnya, bagiku meminum kopi adalah sebuah perayaan. Merayakan hidup. Merayakan kenangan.

Mari ngopi!

——–

image

Tulisan ini diikut sertakan dalam program #diBalikSecangkirKopi dari @inibaruhidup

Twitter: @empatsayap

Fb: Aria Anggana