#Sketsa Cerita :Laras Arga


“Kamu lepas gih, seragam polisinya! Biasanya juga kamu pake baju dobel kan?! Duduk di samping kamu aku jadi ngerasa kayak tahanan!” gerutu Laras pada Arga teman kecilnya itu.

 

Habis, gimana Laras nggak sebel. Pagi-pagi Arga udah nongkrong di kampusnya bahkan sebelum ia datang lengkap dengan seragam polisinya, terus minta ditemenin sarapan, maksa pula. Sebelnya lagi semua anak di kantin pada ngeliatin dia dan bisik-bisk. Ada yang bilang Laras pengedar narkotik lah, kena kasus penipuan, perkosaan, ah apalah itu! Makanya sekarang dia sewot, apalagi Arga malah cuek-cuek aja.

 

 

“Lho, nggak apa kan? Jadi nggak ada yang berani deket-deket kamu!” bantah Arga cuek.

 

“Apa?! Kamu maiu aku nggak bahagia ya?!”

 

“Emangnya selama ini aku ngebuat kamu nggak bahagia?!” tanya Arga dan kali ini seius.

Iklan

Rasa Cinta


Aku tidak tahu kenapa daun-daun itu berputar-putar padahal sebenarnya angin hanya berleha-leha saja. persis seperti hidupku saat ini. Aku berusaha untuk tidak jatuh seperti halnya daun tadi–aku berusaha agar kepergianmu yg tiba-tiba itu tidak menghancurkan hidupku.

Aku berusaha dengan baik hingga aku mampu mengatakan bahwa Dia membiarkanmu pergi itu karna Dia tidak ingin membuatku lebih sakit hati daripada ini. Harusnya aku tahu.

Entah sudah berapa ratus hari yang lalu aku berdiri dan melanjutkan hidupku dengan baik bahkan lebih baik tanpamu. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa kepergianku ke kota itu akan membawamu kembali melintas jalan hidupku.

Arya, bocah lucu lima tahun itu menubrukku dengan suka cita. Dia cuma berguman “Yaaaah” saat melihat es krimn coklatnya membuat lukisan di androk putih yang kukenakan. Bocah itu tersenyum jahil, dua lesung pipinya nampak melesak dipipi tembemnya itu.

Caranya tersenyum membuatku ingat seseorang.

“Arya, makanya Ummi bilang jalannya hati-hati! kamu sih tidak mau dengar Ummi.” Ibu anak itu melihatku. “Maaf, mbak–“

“Tidak apa-apa kataku.” Memangnya aku perlu bilang apa lagi toh tidak akan menyulap rok ku jadi bersih lagi. lagipula anak itu lucu, lihat saja dia menggerak-gerakkan alisnya yang tebal itu. Dueeeh gemesin banget sieh nieh bocah.

“Ada apa, Mi?”

Aku menoleh hati-hati. Rasanya aku pernah mengenal saat suara itu. Tidak, aku kenal baik siapa pemilik suara itu. ku mohon Tuhan jangan dia. Biar dia jadi orang terkahir yang aku lihat saja! Jangan sekarang, tidak dengan keluarga lengkapnya seperti ini!