[Buku] Tea for Two


Judul               : Tea for Two

Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit     : Cetakan Pertama, Desember 2005

Halaman          : 116 hlm

ISBN               : 1097897922

Sinopsis           : Tea for Two adalah perusahaan mak comblang milik Sassy. Baginya, tak ada tanggung jawab dan kebahagiaan yang lebih besar daripada mempertemukan dua orang yang awalnya saling tak mengenal kemudian mengantarkan mereka pada kehidupan yang di idam-idamkan. PERNIKAHAN!

Hidup bahagia selama-lamanya. Begitulah moto Tea for Two yang terdengar manis. Tapi…..eits tunggu dulu!

Apakah benar pernikahan adalah satu-satunya jalan terindah bertabur bunga yang diimpikan dan dicita-citakan semua orang? Ternyata tidak semua orang menyikapi hal itu dengan kata setuju. Celakanya, pernikahan Sassy sendiri mengandung rangkaian rahasia kecil yang berbuntut menjadi kebohongan besar-besaran. KDRT, Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Semuanya diawali dengan romantisme yang menggebu dan berakhir dengan kekejaman tiada banding.

Resensi            : Saya hanya memberi tiga bintang dari lima bintang di goodreads karena beberapa hal. Kesatu, karena ada beberapa bagian dalam buku tidak nyaman dibaca karena EBI yang tidak sesuai. Kedua, buku ini jauh dari ekspektasi saya. Well, bukan salah penulisnya sih. Saya hanya mengira bahwa buku ini, berlatar belakang perusahaan mak comblang milik tokoh-Sassy terlebih Sassy sendiri mengalami pernikahan yang tidak bahagia-selamanya, kisah-kisah dalam buku ini akan lebih banyak dan beragam. Katakanlah, orang-orang yang Sassy bantu jodohkan lewat perusahannya, mengalami hal buruk dalam pernikahan lantas bersama-sama dengan Sassy mereka berusaha mencarikan solusi. Tetapi tidak. Sassy, si Pemilik Perusahan malahan yang menjadi korban.

Cerita di dalam buku ini terasa sangat mengawang-awang dan tidak masuk akal. Coba pikirkan, seseorang yang tidak percaya cinta membuka perusahaan perjodohan? Seorang yang tidak percaya cinta tapi dengan niat yang sangat mulia mencoba menemukan jodoh bagi orang-orang yang tidak memiliki kesempatan? Lalu tiba-tiba saja menikah dengan orang yang belum lama dikenalnya.

Yah, saya tidak tahu, mungkin saja ada yang setuju. Kalau sudah sreg, sama-sama cinta, sudah siap lahir-batin, kenapa mesti menunda-nunda? Yah, menikah saja kan tidak apa-apa toh? Ya, tidak ada yang salah memang. Jika, dan hanya jika, kita sudah mengenal seseorang tersebut dengan sangat baik. Tetapi hal ini tidak terjadi dengan Sassy. Sebagai dua orang yang akan menikah, tidak ada adegan dalam buku mereka saling memperkenalkan keluarga. Terlebih, tokoh-Alan nyata-nyata tidak ingin bertemu (berteman) dengan sahabat-sahabat tokoh-Sassy. Cinta membutakan sekaligus mengisi segalanya ya, Sassy?

Well, atau mungkin saya hanya tertipu endorse dari The Jakarta Post yang mengatakan bahwa Clara Ng menampilkan perempuan dalam berbagai wajah tapi nyatanya tidak. Ah, mungkin saya hanya sedang membandingkan buku ini dengan buku Sihir Perempuan. Salahku.

 Sebab ketiga, kabarnya, kisah dalam buku ini mirip dengan buku dengan tema serupa Love Me Better karya Rosalind B. Penfold. Ini yang sangat-sangat tidak bisa diterima. Saya membaca beberapa karya Clara Ng, dua yang paling saya sukai adalah Malaikat Jatuh dan Uttuki (Sayap Para Dewa). Saya juga menyukai beberapa karyanya yang lain. Tea for Two yang paling mengecewakan.

Nilai plus dari novel ini hanyalah, di mana tokoh-tokoh perempuan dalam novel (yang memang semua perempuan) tidak menyalahkan tokoh-Sassy sebagai sebab suaminya berselingkuh, melakukan tidak kekerasan atau atas tingkah lakunya yang aneh bin ajaib. Karena sepanjang yang saya tahu, di budaya kita, jika ada yang salah terhadap kehidupan rumah-tangga seseorang maka pihak tertuduh adalah perempuan. Suami kok bisa selingkuh? Enggak diurus kali di rumah? Kok bisa diperkosa? Dianya aja kali keganjenan, pakai baju minim, ngegodain? Kalimat-kalimat jahat yang keluar dari mulut-mulut jahat perempuan yang seharusnya mendukung. Semoga, siapa pun yang sudah membaca novel ini, akan jadi teman yang baik seperti teman-teman tokoh-Sassy jika orang terdekatnya mengalami hal yang sama.

Ah, ya. Sekadar saran. Tea for Two sama sekali tidak cocok untuk judul novel ini. Serius.

Iklan

[Produk] 3S Berkebaya Ala Mien Uno dan Aplikasinya pada Bakmi Mewah


Senin, dua puluh lima April yang lalu saya menghadiri lauching Kebaya Peranakan untuk Indonesia yang diadakan Perhimpunan Kebayaku. Bertempat di The Maestro, Plaza Indonesia. Siang itu hall sudah dipenuhi banyak ibu-ibu berkebaya, para juru kamera juga wartawan. Dan, tak ketinggalan booth-booth dari PT Mayora Indah Tbk yang memanjakan lidah pengunjung sejak di pintu masuk.

 

image
booth Bakmi Mewah di acara Perhimpunan Kebayaku

 

Sebenarnya, jika menyangkut Mayora, saya lebih berharap Better Biscuit Sandwich-lah yang disajikan. Oh, siapa sieh yang enggak akan suka biskuit satu itu? Jujur saja itu adalah cemilan favorit saya sejak remaja. Tetapi tidak apa, karena Mayora memasang booth Roma Biskuit Kelapa yang rasanya juga luar biasa enak dan gurih. Apalagi ditambah kopi ataupun susu. Sayang, karena waktu itu saya tak sempat mencoba sebab ketika saya datang acara hampir di mulai.

Acara siang itu diisi beberapa talk show, salah satunya dari ibu Mien Uno yang memaparkan soal Kebaya Peranakan, juga rumus 3S ketika memakai kebaya.  Begini kira-kira katanya,

S pertama dalam peraturan mengenakan kebaya adalah Sederhana. Sebab kata bu Mien, kesederhanan justru menunjukkan kemewahan kebaya itu sendiri. Tidak perlu memakai sesuatu yang gemerlap atau pun terlalu banyak aksesoris. S yang kedua adalah serasi. Serasi antara pakaian dan prilaku. S ketiga adalah sopan.

Setelah bu Mien Uno selesai, acara berjalan cukup cepat disusul parade dari Bakmi Mewah dan peragaan busana kebaya dari tiga desainer. Selagi melihat peragaan busana itulah para chef dari dapur membawa mangkuk-mangkuk berisi Bakmi Mewah dan membagikannya kepada pengunjung.

 

image
Chef yang membagikan Bakmi Mewah kepada peserta launching

 

Anda semua sudah tentu tahu apa itu Bakmi Mewah. Iklan produk ini sudah sering muncul di televisi mungkin sejak Februari lalu. Di pasar-pasar modern pun sudah banyak promosi-promosi dalam rangka memperkenalkan produk dari Mayora ini. Ya, benar. Bakmi Mewah adalah satu lagi produk inovasi dari Mayora.

Bakmi mewah adalah mie cepat saji yang sehat karena tidak menggunkan MSG atau pun pengawet buatan. Selain kemasannya yang mewah—dengan box kotak berwarna hitam— Bakmi Mewah juga dilengkapi daging ayam serta jamur asli serta bumbu-bumbu lain seperti minyak, kecap, saus cabai dan daun bawang.

image
Bakmi Mewah dengan tampilannya yang mewah

Banyak yang mengatakan Bakmi Mewah seperti bakmi dari restoran salah satunya adalah Host dan Celebrity, Indy Barends, saya melihat isi mangkuk mie yang tadi dibagikan chef di tangan saya. Hanya satu kata. Sederhana. Dengan dua potong tomat dan selada di pinggir mangkuk. Tetapi saya mengingat apa yang dikatakan bu Mien Uno tadi bahwa untuk berpenampilan mewah justru adalah penampilan yang sederhana.

image
sederhana tapi mewah!

Yang pertama kali terasa adalah mie-nya yang kenyal dan lembut disusul rasa asin dari bumbu, potongan daging yang benar-benar asli juga jamur kancing yang tentu saja juga asli. Wanginya pun mewah dengan aroma minyak wijen. Pokoknya bebar-benar mewah dan enak. Serasi kalau kata bu Mien Uno tadi soal berkebaya. Saya sampai tidak begitu memperhatikan peraga busana yang melintasi hall. Namun, saya tidak menghabiskannya, mungkin karena porsinya yang lebih banyak dari mie instan atau pasta pada umumnya, juga karena saya tidak begitu suka asin. Untuk orang yang seperti saya, tetap bisa menikmati Bakmi Mewah tetapi dengan ditambah sedikit kuah karena dalam penyajiannya sebenarnya Bakmi Mewah tidak menggunakan kuah.

Kalau kamu masih penasaran dengan Bakmi Mewah kamu bisa buka link berikut http://www.bakmimewah.com/  atau kalau kamu penasaran sama rasanya, langsung aja datang ke mini market terdekat untuk membelinya. Harnganya juga murah kok. Sekitar Rp. 6.800 – Rp.9.000.

Tapi belinya nggak usah pakai kebaya ya, repot!

See a!

[Buku] Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta


image

Judul : Pak Tua yang Membaca Cerita Cinta (Un Viejo Que Leia Historias de Amor Penulis : Luis Sepulveda Penerjemah : Ronny Agustinus Penerbit : Marjin Kiri Tahun terbit : Cetakan Pertama, Desember 2005 Halaman : 116 hlm ISBN : 979-99980-4-2 Sinopsis : Di desa kecil di tengah rimba raya Ekuador, seorang kakek menyepi mencari damai ditemani novel-novel cinta picisan yang didapatnya dari rumah bordir hilir sungai. Tapi kedamaian rupanya mustahil saat ‘peradaban’ terus merangsek menembus hutan. Ladang minyak. Demam emas. Perburuan. Alam pun membalas dendam lewat seekor macan kumbang. Seisi desa terancam dan si Kakek Tua tahu tak ada yang sanggup menghadapi hewan itu selain dirinya. Resensi : Aku salah mengira kalau si Pak Tua yang dimaksud adalah si Dokter Gigi. Namun peran si Dokter mengantarkan pembaca pada tokoh utama terasa menyenangkan. Aku bertaruh siapa pun yang membaca pasti tergelak membaca percakapannya dengan pasien yang meronta kesakitan, lalu ujarnya; “… aku tahu sakit memang. Salah siapa itu? Ayo! Salahkukah? Bukan! Pemerintah!” — hlm 1. Apa-apan? Kenapa juga sakit gigi adalah salah pemerintah.

Sejatinya, tokoh utama kisah ini adalah Antonio Jose Bolivar (saya suka sekali namanya), pada awalnya, ia menetap bersama istrinya di pedalaman Ekuador ini untuk memulai hidup baru, jauh dari kampung halaman mereka. Namun Sang Istri tidak bertahan lama, ia meninggal karena malaria. Kesedihan akibat ditinggal istrinya itulah yang membuatnya lebih suka membaca novel-novel cinta picisan, yang menyedihkan, namun berakhir bahagia. Bahkan Jose tanpa malu-malu akan menangis tersedu pada bagian yang melankolis. Kesenangan Sang Kakek terusik tatkala ada seorang pemburu kulit putih yang tewas karena serangan dari macan kumbang. Bersama rombongan yang terdiri dari walikota, dirinya dan beberapa orang lainnya mereka memburu si Macan. Pada awalnya Jose enggan. Ia hanya ingin diam di gubuknya dan membaca sementara rinai hujan di luar membuatnya kian menghayati suasana, tetapi dengan terpaksa ia pun harus ikut perburuan itu.

Pada tujuh halaman pertama, saya menyadari Luis Sepulveda menawan saya dengan narasinya yang apik. Sindiran-sindirannya yang ironi, dan dialog-dialognya yang segar serta lucu. 116 halaman novel ini begitu padat dan sarat pesan dari penulisnya tentang lingkungan hidup terutama alam.

Novel singkat ini saya baca dalam waktu lima jam saja, dengan perasaan yakin saya akan menyukai buku-buku Sepulveda yang lain. Semoga Marjin Kiri akan menerbitkan lebih banyak buku Sepulveda.  Atau karya sejenisnya.

10 Buku Paling Berpengaruh


Sebenarnya ini ‘mainan’ di FB tetapi karna merasa sayang maka saya kira tidak masalah kalau tulisan ini juga saya posting di sini.

Nah! Inilah buku-buku, yang paling tidak, mampu menginspirasi saya, memberi kesan, memengaruhi.

1) Trilogi Buruh : membaca buku-buku Pram buat saya mencintai sejarah, mencintai negeri saya, mensosialkan kemanusiaan saya.

2) The Lost Girls : ini buku non fiksi. Bercerita tentang perjuangan seorang korban pelecehan seksual yang selamat dari penyekapnya dan membantu polisi mengungkap pelaku. Lewat buku ini saya disadarkan, bahwa rumah adalah fondasi hidup dan masa depan seseorang.

3) The Invention of Hugo Cabret : ada kutipan di buku ini, yang kira-kiranya begini; tak ada hal yang dibuat dengan sia-sia di dunia ini, seperti bagian mesin yg pasti memiliki fungsi, begitu pun kita manusia.

4) Buku-buku Jeffery Deaver : knp? Karna dia sudah bikin saya move on dari Detektif Conan yangg nggak tamat-tamat itu.

5) Narnia : Cerita petualagan yang menyenangkan serta hubungan persaudaraan yang apik.

6) Memori-nya Windry Ramadhina : saya penyuka novel-novel mbak Wind, memang. Baca Memori pas lagi terpuruk-terpuruknya yaa bikin makin terpuruk aja sieh *halah*

7) Harimau! Harimau! : setelah baca buku ini efeknya akan bertahan lama bahkan akan tertanam di pikiranmu

8) Cinta yang Hilang – O. Henry : yang belum pernah baca, baca deh :p

9) Robohnya Surau Kami : Hubungan dengan Tuhan iya, hubungan sama sesama manusia? Lupa? Diingetin nieh di cerita ini.

10) Of Mice and Men : Kehidupan keras? Iya. Kehidupan kadang tidak adil? Iya. Tapi tetap harus hidup kan? Iya.

Kalau kamu?

[buku] kemarilah, kuberi tahu satu Rahasia Hujan,


Judul buku : Rahasia Hujan                      rahasia hujan

Pengarang : Adham T Fusama

Penerbit : Moka media

Tahun Terbit : 2014

Jumlah Halaman : 280hal

ISBN : 9797958574

Sinopsis : Sekolah Pandu kedatangan murid baru dari Jepang, seorang anak pendiam yang misterius. Sebagai teman sebangku, Pandu merasa harus bersikap ramah, meski Anggi—si murid baru—terus bersikap dingin.

Pada akhirnya, kebaikan hati Pandu membuat Anggi jatuh cinta. Tapi Pandu sudah punya pacar—seorang gadis cantik bernama Nadine. Ketika rasa sayang Anggi berubah menjadi obsesi berbahaya, Pandu dan teman-temannya terseret ke dalam sebuah permainan mengerikan.

Dan, Pandu harus bertaruh nyawa demi kebebasannya.

“Sebab demi bersamamu, akan kulakukan segalanya….”

Review : Well, selamat untuk terbitnya buku kedua kamu, Dham. Dengar-dengar ini sudah bestseller yak? X))

Sebelum membacanya, saya sudah banyak dengar soal buku ini. Remaja. Bunuh-bunuhan. Thriler. Rahasia Hujan. Apa sieh Rahasia Hujan ini? Tentu saja saya dibuat bertanya-tanya seperti itu, terlebih ketika ada teman yang bilang kalau saya akan sebal baca buku ini.

Syahdan, setelah janji kopdar Nulis Kamisan yang terus-terusan molor, akhirnya saya (bersama teman-teman yang lain) berhasil bertemu Adham dan merampok beberapa buku Rahasia Hujan miliknya plus tanda tangan dan cap bibir *ketawa setan*. Hingga beberapa jarak setelah hari itu, barulah saya mulai membacanya.

Benarlah, membaca buku ini membuat saya sebal. Pasalnya. ya ampun! Remaja banget, Kak!  Malah sampai ke guru-gurunya gaya bicaranya juga gaul kayak murid-muridnya. Juga, kekurangannya yang lain. di bab-bab akhir, Adham seolah memaksakan kaliamat yang ‘nggak remaja’ ke naras-narasi. Menurut saya itu timpang. Selain itu nggak ada hal lain yang menganggu saya untuk menghabiskan buku ini dalam, eum, sepertinya dua hari.

Rahasia Hujan menceritakan tentang Pandu. Salah. Di buku ini, Pandu menceritakan tentang tragedi yang menimpanya semasa di sekolah menengah. Semua berawal dari datangnya siswa baru bernama Anggi hingga Pandu dan teman-temannya harus bermain-main dengan kematian.

Pernah dengar kalau kebaikan hati bisa merupa sebuah kutukan? Mungkin Pandu akan lebih dulu menganggukkan kepala jika disodorkan pertanyaan itu. Sebagai ketua kelas dan teman sebangku Anggi, Pandu berusaha menjadi teman yang baik apalagi dilihatnya Anggi menutup jarak dari semua warga sekolah. Pandu menjadi satu-satunya teman Anggi yang lama-kelamaan menjadi obsesi. Obsesi tersebutlah yang mendorong Anggi melakukan banyak hal-hal ‘luar biasa’.

Karna tadi saya sudah bilang kalau buku ini merupakan cerita dari Pandu-tokoh, pembaca nggak perlu susah-susah menebak siapa pelakunya sebab sudah ketahuan sejak awal (ini mengingatkan saya dengan novel Carry, cara penceritaannya) tetapi bukan berarti kalian tidak perlu was-was sebab. sehalaman demi halaman satu rahasia terungkap,

Kemarilah, dan baca!

[buku] Kisah Empat Remaja


Judul Buku : Song of Will                                                                          song of will

Penulis : Jason Abdul

Penerbit : Moka Media

Tahun Terbit : Maret 2014

Jumlah Halaman : 25hal

ISBN : 9797958159

Sinopsis : “Akan kuberitahu siapa yang kusukai.”

William, harus melawan kesedihan setelah kepergian sahabatnya ke Swiss. Laura, berpikir kecantikannya bisa memberi segala yang tak bisa diberikan keluarganya yang hidup sederhana. Evan, berjuang melupakan masa lalu yang kelam saat hidup di jalanan. Nana, belajar mengambil keputusan sulit untuk menyatukan kembali keluarganya yang berantakan.

Empat remaja yang berusaha memahami diri sendiri serta arti mencintai keluarga. Keempat-empatnya punya topeng yang ingin mereka lepaskan. Keempat-empatnya punya rahasia yang ingin mereka bagi.

Sebab semua orang punya masa lalu. Dan mimpi.

Review : Meski sudah mengucapkan selamat kepada penulisnya secara pribadi, rasanya tak ada salahnya saya mengucapkannya sekali lagi di sini.

Nah! Selamat untukmu teman atas novel debutmu ini. Dan maaf, aku baru bisa membuat reviewmu bukumu sekarang.

Syahdan

Song of Will adalah kisah kehidupan remaja. Tak hanya satu, Jason membuat empat tokoh utama di dalamnya. Empat remaja yang berproses menemukan jati diri masing-masing lewat perbagai masalah khas remaja pada umumnya.

Cerita berpusat di sekolah, tepatnya grup musik atau vocal sekolah, di mana salah satu personilnya pindah ke luar negeri, dan menyerahkan tanggung jawabnya kepada Willy. Tokoh utama pertama.

Si Cantik Laura, gadis dengan kehidupan sederhana ini, memutuskan mencuri uang ibunya untuk membeli sebuah gaun.

Evan si Bengal. Oke. Ralat. Setelah mengalami kecelakaan hebat ketika masih hidup di jalanan, Evan kembali di ke rumah. Kembali kepada orang tuanya dan mencoba menjadi anak baik meski selalu dibayang-bayangi masa lalunya yang kelam. Sebuah hal besar untuk remaja seperti Evan.

Terakhir, si Pengugup Nana. Dari luar keluarganya tampak baik-baik saja tetapi kenyataannya keluarganya berantakan. Nana yang suaranya hampir tak pernah didengar, pada suatu kali berani mengambil keputusan penting. Ia ingin menyatukan kembali keluarganya.

Jason, menurut saya, peka mengambil masalah di sekitar remaja. Mengambil dan menyusunnya menjadi cerita yang (bisa saja) apik kalau saja Jason punya alternatif untuk mengakhiri novel ini di halaman 258 dengan cerita yang berbeda.

Namun, persoalan remaja yang ia kemukakan jauh lebih penting kan. Bukankah buku ini tidak bicara soal cinta saja?

Ngomong-ngomong, saya kesal dengan cover buku ini. Susah pegangnya kalau lagi baca tanpa tatakan meja dan lagi covernya cepat robek. Dear, Moka, tolong jangan pakai cover begini lagi yaa. Oiy, beberapa typo di buku ini juga mengganggu.

Akhirnya. Menjadi pekalah. Lalu tulis apa yang kalian rasakan.

Oiya, saya juga suka sekali kalimat-kalimat pembuka di awal bab.

Sekali lagi, selamat atas terbitnya buku ini.

[buku] Sepuluh Suara, Satu Cerita! KLIK!


klikJudul buku : Klik!

Penulis : Eoin Colfer/Linda Sue Park/Ruth Ozeki/Nick Hornby/

Wynne-Jones/David Almond/Gregory Maguire/

Deborah Ellis/Margo Lanangan/Roddy Doyle

Penterjemah : Jia Effendie

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : September 2012

Jumlah Halaman : 228hlm, 20cm

ISBN : 978 797 22 8741 7

Sinopsis : Kakek Maggie dan Jason meninggal dunia. DIa mewariskan kamera dan foto-fotonya pada Jason, dan kotak berisi kerang untuk Maggie. Hadiah-hadiah ini membawa mereka ke sebuah perjalanan yang tak pernah terbayangkan, mengungkapkan banyak rahasia, dan mengubah kehidupan…

Review : Rasayanya saya beruntung, menemukan buku ini di tumpukan diskonan.

Click ditulis oleh sepuluh penulis kenamaan, masing-masing menulis satu bab jadi ada 10 bab di buku ini. Pada awalnya saya mengira isi buku ini adalah kumpulan cerita pendek ternyata sepuluh kisah di dalamnya berkelindan menjadi satu cerita novel yang utuh.

Adalah Gee, seorang ayah, kakek dan seorang fotografer. Ia berkeliling, ke manapun dengan kamera melilit lehernya menyatukan hidup beberapa manusia dari berbagai benua. Gee dengan foto-fotonya mengisi hidup orang-orang yang berjumpa dengan. Pada saat kematiannya Gee mewariskan kamera dan kota kerang kepada kedua cucunya, Jason dan Maggie. Melalui kedua anak inilah novel ini berkisah tentang keajaiban-keajaiban cerita dibalik foto-foto yang diambil Gee.

Buku ini menakjubnya. Saya tahu foto bahwa foto adalah satu-satunya benda yang mampu membekukan waktu dan membawa waktu itu pada masa yang lain ketika foto itu dilihat kembali. Kesepuluh menulis Click menuliskan buku ini sebagai bentuk mendukung asosiasi Amnesti. Organisasi yang bergerak dalam bidang kemanusiaan.

Jika Anda menemukan buku ini, jangan ragu untuk mengambilnya. Buku ini akan membawa kalian pada dongeng-dongeng menajubkan. Seolah kalain sedang memandang sebuah foto dan bertanya-tanya bagaimana foto itu diambil.

[pentas teater] Memotret Jpret!


Pada Kamis, 19 Juni yang lalu saya menonton pertunjukan teater Mandiri besutan Putu Wijaya. Saya mencoba ingin mereview pertunjukkan tersebut. Beginilah jadinya kira-kira.

——–

JPRET

Naskah/Sutradara : Putu Wijaya
Produksi : Teater Mandiri
Pemain : Bambang Ismantoro | Dwi Hastuti | Laila Lubis | Gandung Bondowoso | Alung Seroja | Ucok Hutagaol
Penata Set/Lampu : Iskandar K. Loedin
Penata Musik : Donny Irawan | Ary
Properti : Alung Seroja | Elvis Ticoalu
Penanggung Jawab Panggung : Sonny Sumarsono

image

Sore itu, saya tak lagi sibuk dengan pekerjaan yang sering memaksa saya masih di tekpat kerja sampai petang hari beranjak kelam. Maka, setelah memastikan saya memiliki cukup uang dan keberanian untuk pulang sendiri dari TIM menuju Tangerang, dari kantor saya menaikin kereta menuju Cikini.

Masih pukul lima sore ketika kaki saya menginjak pelataran Taman Ismail Marzuki. Saya langsung menuju Graha Bakti Budaya untuk memesan tiket. Memilih bangku K18 sebagai tempat duduk. Tiket sudah ditangan tetapi masih ada dua jam lagi sebelum pertunjukan dimulai. Saya memilih duduk di warung yang banyak berjajar di TIM, memesan es kopi dan makan malam.

Saya sengaja berlama-lama memyesap es kopi sambil membaca buku. Hanya saja pengunjung lain memaksa saya untuk pergi sebab asap rokok mereka menganggu pernapasan saya.

Kali ini saya menunggu di depan GBB. Tidak lama rasanya. Ketika saya melihat beberapa orang mulai masuk, saya pun ikut masuk.

Jujur saja, saat itu saya gemetar saking senangnya. Kejujuran kedua, ini pertama kalinya saya menginjak GBB. Kejujuran ketiga, ini pertama kalinya saya menonton teater Mandiri dan perasaan akan bertemu Putu Wijaya menambah rasa senang yang tengah saya rasakan.

Ketika gong pertama berbunyi, saya sudah duduk di kursi yang saya pesan. Setelah sebelumnya diantarkan oleh petugas pintu. Perasaan senang saya meluap ketika melihat panggung, juga, melihat Putu Wijaya duduk beberapa bangku di depan saya.

image

Sebelum pertunjukan dimulai, saya membaca-baca booklet mengenai lakon Jpret.

Di dalamnya tertulis,

Naskah Jpret adalah rombakan dari monolog KROMO yang ditulis pada tahun 2009, ketika pemilu sedang hangat-hangatnya.

Jpret memotret kegalauan pemilu, para caleg dan Jpret sendiri (di sini, Jpret mewakili rakyat kebanyakan). Jpret juga memotret peranan televisi swasta di dalam kehidupan masyarakat. Mengantarkan opini langsung ke dalam rumah-rumah penduduk. Menyebabkan seluruh warga terkena uforia berpolitik. Bicara politik. Bahkan percaya bahwa oponinya adalah kebenaran.

Rasanya keadaan dalam lakon sedang kita alami sekarang. Di masa pemilu yabg tinggal dua hari lagi ini. Betulkan?

Syahdan. Gong berbunyi sekali lagi. Kursi-kursi hampir penuh oleh penonton. Rata-rata isinya adalah media, kerabat atau teman para pemain. Sejawat Putu Wijaya. Juga, pencinta pertunjukan teater seperti saya. Ketika gong berbunyi sekali lagi, pertunjukan pun dimulai.

Set panggung Jpret amat sederhana. Sebuah kakus ada di pojok kiri, beberapa barang yg tersusun seperti meja (yang nantinya digunakan sebagai tempat pemilihan), sebuah kursi, dan sebuah televisi besar di tengah panggung. Dari televisi itulah Jpret dan neneknya mengetahui segala macam berita soal pemilu.

Tokoh Jpret, yang diperankan Bambang Ismantoro, bermonolog mengenai carut-marut keadaaan menjelang pemilu. Perkataan Jpret terkadang menggelitik, membuat penonton berkata ‘oh’ atau ‘ah, benar juga ya’, diselipi humor, berimprovisasi dengan keadaan selama pertunjukan berlangsung, berinteraksi dengan penonton. Secara keseluruhan Jpret tidak membuat saya mengantuk.

Menariknya, pada awal lakon Jpret adalah warga biasa yang bingung memilih dari sekian banyak calon dengan janji ini-itu. Lalu, karna bujukan dari temannya, Jpret menjadi tim sukses dari seorang calon. Dunia politik yang penuh intrik terpapar jelas di sini. Jpret mati ditembak. Berita kematiannya dipelintir media (atau kekuatan lain di belakang media) agar tak disangkut-pautkan dengan calon manapun. Di babak ini, nenek Jpret (Laila Lubis) bermonolog menggantikan Jpret. Meminta keadilan atas kemarian Jpret. Menagih janji para calon.

Selama pertunjukkan berlangsung, nyata sekali Putu Wijaya memotret keadaan dengan baik. Benarlah, bahwa beliau memancing opini dari penonton. Ketika pertunjukan selesai, penonton yang peka akan membawa kegelisahan dalam dirinya mengenai pemilu, terlebih pemilu yang akan kita hadapi sekarang ini.

Dua jam berlalu. Jpret ternyata tidaklah mati. Di akhir pertunjukan dia malah menjadi raja meski ternaya itu hanyalah mimpi. Bukankah itu justru menggelitik? Orang-orang yang duduk di pemerintahan adalah wakil rakyat. Mereka melayani masyarakat artinya rakyat adalah raja. Jpret adalah raja. Saya adalah raja. Anda adalah raja. Bukan begitu?

Ah, sudahlah. Saya tidak ingin menjadi sok paham persoalan politik. Pertunjukkan ini adalah seni. Seni, meski mengandung nilai-nilai lain, ada untuk menghibur. Dan saya merasa terhibur menonton pertunjukkan ini.

Salam2jari!

Eh!

——–

Tentang Teater Mandiri

Berdiri pada tahun 1971.
Memulai pentas di TVRI dengan naskah Orang-Orang Mandiri.
Pentas di TIM pada tahun 1974 dengan naskah Aduh.
Selain di TIM, teater Mandiri juga main di GKJ, TUK.
Pernah tur 4 kota di Amerika dengan naskah YEL. Memainkan YEL II di Brunai Darusslam. Memainkan The Coffin is too Big for the Hole di Tokyo pada 2000, diteruskan ke Singapura dan Hamburg pada 2002.
Mengikuti Asian Meets Asian di Tokyo pada tahun 2001 dengan naskah WAR dan Hong Kong. 2013 main di Taipeh dengan naskah ZERO.

——–
00:48
Aria.

The Liebster Award 2014


Oke. Sudah dua orang yang mengundang saya karna saya tidak ingin menumpuk hutang tulisan–selain Kamisan–mumpung sedang senggang jadi saya ingin mencoba membalas tulisan dari Apelijo  dan om Adham. Makasih yaaaa *kasih senyum sinis*

Saya akan mulai dari aturan main. Apa aja? Ini dia!

  1. Setelah mendapat award ini, kamu harus posting juga di blog kamu.

  2. Ucapkan terima kasih dan beri backlink orang yang telah memberi award ini.

  3. Ceritakan 11 hal tentang diri kalian

  4. Jawab 11 pertanyaan dari orang yang sudah memberi award ini ke kamu.

  5. Pilih 11 blogger yang mau kamu beri award ini dan beri 11 pertanyaan juga.

 

Berikut ini adalah 11 hal tentang saya. Ngomong-ngomong, kenapa 11? Ini terlalu banyak deh (-__-!|)

  1. Punya banyak nama panggilan : Aria, Ria, Ri. Ry. Ayuk, Tati, Capung.

  2. Karena Aria, saya sering dikira laki-laki *mendengus sebal*

  3. Sedang berjuang menyelesaikan draft novel pertama saya. *tolong aminkan ini* :’)

  4. Sangat ingin pergi ke Bengkalis karna membaca buku Lumba-Lumba Ungu milik Sutardji. Mau nyobain terubuk :3

  5. Kutu loncat di komunitas. Entah, seseorang bilang kalau saya bisa memimpin orang-orang di kelompok, menyusun dan merencanakan acara. Hal-hal semacam itu. Tetapi pada akhirnya, saya lelah.

  6. Pembangkang di rumah tetapi cengeng.

  7. Sedang suka streaming nonton film-film korea. Love Myself or You baru mulai saya tonton sebelum menulis ini.

  8. Menyukai buah-buah yang berasa asam; sirsak, markisa, nanas, stroberi. Saya sangat tergila-gila pada sirsak. Pernah, ketika saya pulang ke kampung halaman lalu pergi berkunjung ke rumah nik saya, dia menyimpan buah sirsak yang ia panen di kebunnya untuk saya. *nangis terharu*

  9. Tidak suka yang manis-manis tapi suka sama yang manis *hohoho*

  10. Ketika mood saya tidak baik, saya lebih suka diam sambil mendengarkan musik.

  11. Menyangkut ekspektasi,  saya agak ‘ngeri’ membaca buku yang direkomendasikan banyak orang-orang. Seperti buku Cinta Tak Pernah Tepat Waktu, sudah setengah tahun tidak saya baca-baca

 

Berikut ini adalah pertanyaan dari si ApelIjo :

  1. Sejak kapan blogging? Nge-Blog untuk apa? Untuk Siapa? Saya lupa. Saya punya blog untuk menulis karna saya suka menulis.

  2. Pengalaman lucu dan menarik selama Nge-Blog, adakah ? Misal, pengalaman dimodusin dan dimintain no hape, terus diteror tiap malem, atau mungkin fall in love at the first poem’s (Bukan Curcol :p). Atau mungkin, ketemu sama temen blog, atau dikejar-kejar orang yang nge-fans sama tulisan kamu di Blog. Sejauh ini, masih merasa takjub bahwa ada orang-orang yang membaca tulisan saya, terlebih ada yang menginginkan tulisan saya menjadi buku.

  3. Kenapa ya manusia sering pusing dan sakit kepala sama yang namanya urusan dunia? Iya ga sih? Sependapat ga?” Kalau kamu pekerjaannya ga mapan, kamu mau makan apa nanti?”; “Kok belum nikah sih, kan umurnya udah cukup (tua)?” Pernah dapat pertanyaan-pertanyaan duniawi begitu ga? Makan dan Jodoh kan Rezeki, udah ada yang atur. Iya ga sih? What do you think? Dulu saya cuek. Masukkan saya ke telinga kiri dan keluarkan di kanan. Sekarang, perkara ini mulai mengusik saya. Dampak dari rasa kehilangan.

  4. Suka buku apa? genrenya apa? Sekarang lagi baca buku apa? Saya suka cerita kriminal, detektif dan romance. Saya baru saja selesai membaca Interlude – Windry Ramadhina.

  5. Kapan terakhir naik angkutan umum? Ini sieh sering.

  6. Kalau makan nasi padang suka abis gak? Jarang banger nggak abis =))

  7. Kalo jadi perempuan (bayangkan kalo kamu jadi perempuan), berani ga motong rambut sampe botak licin cling cling? Trus berkatifitas seperti biasa diluar rumah, berani kah? Nggak.

  8. Berani ga nulis surat cinta ke guru SD atau SMP yang dulu kalian pernah nge-fans berat? Nggak ada guru SD/SMP yang ingin saya kirimi surat cinta.

  9. Tujuan hidup kamu apa sih? Ini akan jadi jawaban yang panjang, Simpelnya, saya tidak tahu pasti saya mau apa.

  10. Kapan sih kamu merasakan senang/bahagia? Kamu bahagia kalau apa? Kalau perasaan saya merasa bahagia meski pada hal sepele sekali pun.

  11. Kasih tau Metha 5 cita-cita/pencapaian dalam hidup yang ingin sekali kamu raih? Kasih tau ya? kasih tau dong B-) 1. Lulus kuliah; 2. Punya perpustakaan; 3. Atau punya toko buku; 4. Menerbitkan buku sendiri; 5. Pergi ke Bali

Berikut adalah pertanyaan dari Adham :

  1. Apa kenangan masa kecil yang paling berkesan buatmu? Ikut main jalangkun sama temen-temen bibi. Ikut nonton Titanic dan pas di adegan dewasa mata ditutup sama temen-temen bibi. *kenapalah ini yg gue ceritain*

  2. Siapa karakter fiktif favoritmu? (Boleh dari film, buku, dll) Rhyme– detektif ciptaan Jeffery Deaver

  3. Kalau kamu bisa jadi superhero, kekuatan apa yang ingin kamu miliki dan apa nama superhero yang kamu pilih? skip

  4. Apa guilty pleasure terbesarmu? streaming drama korea di sela jam kerja :))

  5. Apa phobia yang kamu derita? nggak bisa dekat-dekat sama ulat, ular, larva, kelabang, kaki seribu. Hewan-hewan sejenis itu deh.

  6. Apa adiksi yang kamu derita? dengerin lagu-lagu abang kalau lagi kangen dia.

  7. Apa fetish yang kamu derita? nope

  8. Bagian tubuh manusia mana yang menurutmu paling sensual? kelopak mata

  9. Kalau kamu hendak merampok bank lalu kabur dengan keren dengan mobil sport ala film-film Hollywood, lagu apa yang akan kamu setel sebagai pengiringnya? Turn og the Love

  10. Kalau kamu ditangkap kemudian dijebloskan ke penjara tapi boleh membawa satu judul buku, buku apa yang akan kamu bawa? al qur’an, mungkin

  11. Kesalahan terbesar apa yang pernah kamu lakukan dalam hidupmu—selain membuang-buang waktu untuk mengikuti award ini? masih mencintai orang yang sama ketika dia sudah berkali-kali pergi,  kembali tanpa pernah benar-benar kembali  *oke. ini curhat*

Well, saya mengakhiri tulisan ini di sini saja. Saya malas memikirkan 11 pertanyaan dan 11 orang yang harus saya tagging. Maaf yaa.

 

 

 

 

 

Liebster Blog Award


Jadi gini….

Ada 10 pertanyaan tentang buku yang diberikan dari sesama blogger dan mesti dijawab. Membeberkan 10 fakta acak tentang diri kita. Membuat 10 pertanyaan tentang buku dan menandai 10 blogger lainnya yang nantinya akan menjawab kesepuluh pertanyaan dari kita.

Lalu …

Apa sieh Liebster Blog Award itu? Ringkasnya ini adalah event tentang buku yang dicetuskan oleh anak BBI (Blog Buku Indonesia) sebagai ajang seru-seruan sesama blogger. Meski saya bukan anggota BBI, seru-seruan semacam ini sudah tidak asing lagi untuk saya. Dan kali ini saya kena tagging dari Olih *getok*

Nah, apa saja pertanyaan dari si Tukang Nyasar? Ini dia!

# 10 Pertanyaan dari Olih

1. Berapa banyak buku koleksi yang belum kamu baca?

Di rak Buku Belum Baca masih ada tujuh buku lagi, satu diantaranya adalah buku puisi dan satu tambahan buku yang baru tiba dari Bali, jadi total cuma ada delapan buku lagi.

2. Adakah buku yang tidak—atau belum—tuntas kamu baca? Kenapa?

     Ada. Buku-buku Ernest Hemingway. Selama ini, saya tidak pernah  berjodoh kalau ingin membaca buku beliau. Kenapa? Terjemahannya kacau!

3. Pernahkah membelikan buku untuk seseorang? Jika pernah, apa judulnya?

     Pernah. Banyak. Eum, antara lain: Yel, Luka Mata, The Cold Moon, A Maiden’s Grave, Sihir Perempuan dll

4. Genre favoritmu apa?

     Detektif, thriller, crime, petualangan. Bacaan-bacaan yang mendebarkan dan merangsang untuk berpikir.

5. Sering membawa-bawa buku saat bepergian? Dibaca?

     Sering dan itu sudah seperti kewajiban. Dibaca? Tentu saja! Jika sedang menunggu atau di dalam perjalanan.

6. Pernah jatuh cinta dengan tokoh cerita? Siapa? Dalam buku apa?

     Sedang :)) Seorang pria, Johan, anak seorang bos mafia yang dibunuh rekan bisnisnya dan ingin balas dendam, menderita leukemia akut, sangat sayang adiknya, meninggal. Saya termasuk yang nggak rela Johan mati T_T Dalam buku apa? Metropolis – Windry Ramadhina.

7. Rata-rata, berapa lama waktu yang diperlukan untuk menghabiskan satu buah buku?

     Tergantung. Paling cepat dua hari, paling lama sepuluh hari.

8. Paling sering, membeli sebuah buku karena apa? Lapar mata? :p

Mungkin iya, apalagi kalau ada buku murah, makanya bisa menumpuk buku :)) tapi tentu buku yang dibeli sesuai minat dan dompet sieh.

9. Adakah buku teman yang sampai berbulan-bulan atau malah bertahun-tahun :p belum kamu kembalikan? Apa judulnya?

Nggak ada. Yang ada juga buku saya yang dipinjam dan dijadikan hak milik!

10. Sebutkan satu judul buku yang paling memengaruhimu!

     Memengaruhi apa dulu yaa? Dulu saya membaca buku-buku novel Jepang, sejak saat itu saya belajar untuk menulis. Saya rasa itu cukup pantas untuk disebut meski saya tidak ingat judulnya apa. Oh iya, satu lagi, buku itu mengajarkan saya resep membuat french toast sederhana :))

 

#10 Fakta Acak tentang Aria

  1. Banyak yang bilang baik
  2. Cengeng
  3. Mudah merasa sakit hati
  4. Cepat memaafkan
  5. Tapi kadang dan ini kasusnya sangat jarang, menjadi pendendam
  6. Dalam suatu kesempatan bisa jadi seorang yang cerewet
  7. Kali lain bisa menjadi pedengar yang baik
  8. Ribet soal makanan eh, nggak juga sieh hanya bermusuhan dengan bawang goreng dan kroni-kroninya
  9. Menjadi pendiam ketika badmood
  10. Memiliki rahasia yang nggak akan dibaginya pada siapapun :))

# Blogger yang akan diberikan 10 pertanyaan oleh Aria

  1. abang Dwi
  2. Mimin JBS
  3. Kak Vai
  4. Isna
  5. Nabila Budayana
  6. Diah Rizki
  7. Yelsa
  8. David
  9. Devi
  10. Zahra

# 10 Pertanyaan Untuk Blogger di Atas Adalah:

  1. Masih ingat buku pertama yang kamu beli dengan uangmu sendiri?
  2. Suka membaca dongeng atau cerita anak-anak? Dongeng atau cerita apa yang paling kamu suka?
  3. Buku apa yang sedang kamu tunggu-tunggu terbitnya?
  4. Pernah mengalami bookhangover? Judulnya?
  5. Apa karakter yang paling melekat di ingatanmu? Di buku apa?
  6. Penulis favorit?
  7. Buku apa yang membuatmu tidak puas dengan endingnya? Dan seperti apa menurutmu seharusnya cerita itu berakhir?
  8. Lebih memilih membaca cerita pendek atau novel?
  9. Kamu pembaca puisi? Larik puisi paling ngena apa dan punya siapa?
  10. Kamu mau jadi penulis? Sudah mulai menulis?

 

Selamat menjawab!