Lonceng Angin

oleh Christian Barus

“Kupikir kau sudah mati?”

            Enggak ada dugaan yang lebih positif?

“Oke. Kupikir kau sudah nikah, hidup bahagia dengan isterimu, dan punya anak berumur dua tahun kurang lebih.”

Masih dendam ya kaunya?

“Menurutmu?”

Iya. Eh, aku di kota besok. Citraland. Kuharap kau mau singgah—di antara waktumu yang tak pernah sepi.

“Halah. Mau apa kau? Ngenalin mereka?”

Ayolah. Kalau menurutmu kita putus karena aku nemu cewek yang lebih baik darimu, yang lantas kunikahi, kau salah besar.

“Tiga tahun lalu kau ngomong begitu.”

Artinya selama tiga tahun pula kau salah paham.

“Sebentar…”

Tok, tok, tok. Seorang ibu separuh baya berdiri di dekat pintu. “Saya orang tua Nina,” katanya.

Aku teringat. “Oh. Silakan masuk, Bu. Silakan duduk,” kataku sambil menunjuk ke arah sofa. Perempuan itu agak canggung. Sekilas kulihat ia mengamati piagam-piagam di dinding ruangan saat aku berbalik.

“Ada tamu,” bisikku pada ponsel.

Sampai jumpa besok.

“Apa-apaan?”

Semaunya sajamu itu tak pernah berubah!

“Oke. Selamat sore, Ibu…?”

“Ibu Tati saja. Ini, mau menyampaikan solusi masalah Nina.”

“Oh, sudah dirembukkan rupanya?” balasku.

“Enggak persis begitu. Tapi malah lamaran saya di kota lain yang diterima. Sekalian mengatasi masalahnya, kami akan segera pindah.”

“Lho? Nina kan masih dua bulan di sini, Bu Tati. Kenapa harus pindah lagi?” tanyaku heran.

“Iya saya tahu, Bu. Saya selalu berpindah-pindah kerja. Nina pasti kena imbasnya. Tapi saya enggak punya pilihan. Kantor baru itu tampaknya jauh lebih baik dari yang di sini. Kami bakal lebih berkecukupan kalau saya kerja di sana.”

“Pindah terus bisa bikin Nina enggak punya teman dekat lho, Bu Tati.”

Ia memaksakan senyum. Lalu berkata, “Kami akan mengatasinya. Semoga kali ini kami enggak harus pindah lagi.”

Aku memandang wajah Ibu Tati. Entah untuk apa, aku yakin sedang menerawang apa yang ada di dalam pikirannya. Kira-kira hal apa yang membuatnya memutuskan pindah lagi—selain soal pekerjaan. Dari rambutnya, setidaknya ia belum 40. Mungkin baru 38 atau bahkan 35. Ia terlihat jauh lebih muda dari ibuku.

“Ini surat permohonan saya. Kantor baru enggak bisa menunggu lama, Bu. Saya dapat peluang bagus dan enggak ingin menyia-nyiakannya.”

“Ya sudah. Besok akan saya sampaikan ke Kepala Sekolah,” kataku akhirnya memutuskan tidak terlibat lebih jauh.

“Terima kasih, Bu. Saya pamit sekarang.”

“Enggak nunggu Nina pulang? Paling-paling satu jam lagi kok.”

“Mesti membereskan barang-barang di rumah. Nina bisa pulang sendiri. Saya permisi dulu, Bu. Selamat sore.”

***

Jam lima tepat keesokan harinya, bel sekolah dibunyikan. Keriuhan anak-anak menyeruak ke udara. Aku sendiri sudah mematikan komputer beberapa menit yang lalu, online di ponsel, dan menunggu Nina melintas. Ia biasanya pulang dari lorong di depan ruang Kepala Sekolah. Aku bisa mengenalinya karena sejak pindah ke sekolah ini, kami pernah mengobrol beberapa kali.

Sebulan belakangan ia mengaku takut setiap kali berangkat ke sekolah.  Karena itu ia jadi banyak melamun saat pelajaran, yang membuatnya berulang kali ditegur. Akhirnya ia dibawa ke ruang guru. Di sana, kami bertemu lagi. Dari wali kelasnya kudapati cerita itu. Nina mendengar bunyi lonceng angin.

Lorong gang yang dilewati Nina setiap berangkat dan pulang sekolah, tidaklah sepi. Jalan itu hampir selalu ramai dengan anak-anak sekolah di jam-jam tertentu, anak-anak gang yang bermain, para penjual jajanan, orang-orang yang tinggal di sekitar tempat itu, dan burung-burung gereja. Termasuk aku dalam beberapa kali kesempatan.

“Bunyinya bagaimana?” tanyaku sekali waktu.

“Cring, cring, cring. Begitu.”

Telinganya tentu tidak bermasalah. Juga kemampuannya meniru bunyi lonceng angin. Lagipula, itu memang gampang ditiru. Namun aku curiga Nina hanya berfantasi. Ibunya bilang—beliau dipanggil ke sekolah karena tingkah Nina yang mulai mengkhawatirkan—dulunya mereka punya lonceng angin di salah satu pintu rumah mereka ketika Nina masih balita.

“Di sebelah mana?” tanyaku mengenang sore itu.

Nina menggeleng pelan. Ia tidak tahu persis. Jelas bahwa bunyi itu diterbangkan angin dari suatu tempat, terkatung-katung sekian lama di udara, yang lalu tertangkap telinga Nina. Teman-temannya yang juga melewati lorong itu mengaku tidak mendengar apa yang Nina dengar. Hal yang membuatku semakin kuat menduga Nina hanya berfantasi—atau paling parah punya teman imajinasi yang berwujud lonceng angin.

Gimana?

“Maksudmu apa sih? Setelah tiga tahun tanpa kabar, sekarang seenaknya saja mau ngajak ketemuan. Aku sibuk.”

Kau sibuk setelah jam lima?

Ini weekend. Aku mau menghadiri acara Malam Puisi di…”

Aku bisa antar kau ke sana.

“Maumu apa?”

Menatapmu langsung.

“Muterin bola mata.”

Hahahahaha. Aku sudah di Citraland sekarang. Telepon aku kalau kau sudah sampai.

“Nomormu privat!”

Ia sudah menutup telepon. Tepat seusai gelengan kepalaku berhenti, aku menangkap sosok Nina.

“Nina, ke sini!” panggilku..

Butuh waktu bagi tubuh kecilnya untuk bergerak di antara kerumunan siswa lain. Lihatlah ia! Rambut dikepang. Legam dan terawat. Pipinya agak merah. Kedua bola matanya berkilau, mendongak menatapku. “Ada apa, Bu Aria?’ sapanya bertanya.

“Ibu temani pulang yuk!” kataku.

Ia menurut dan berjalan di depanku. Sesampainya di luar pintu gerbang, kami berjalan bersisian sambil sesekali aku menepi karena jalan gang tidak terlalu lebar.

Di sebelah kiri dan kanan jalan, terdapat selokan kecil yang menghitam meski air yang mengalir melalui selokan itu, katanya tidak sekotor beberapa tahun yang lalu. Beberapa bagian selokan itu melebar dan sedalam hingga lutut anak-anak. Beberapa sedang bermain di sana. Mencari ikan. Bertelanjang dada.

Para penjual jajanan menyesaki gang dengan gerobaknya masing-masing. Juga beberapa mobil yang diparkir. Beberapa meter di atas kami, kabel-kabel telepon, kabel-kabel listrik, tali jemuran, dan antena TV menciptakan kesemrawutan yang mengganggu. Ketika aku mendongak ke atas aku bisa melihat gedung-gedung bertingkat dengan jendela-jendela terbuka. Juga jendela yang dipagar tinggi-tinggi seperti sangkar burung raksasa. Gedung-gedung ini tampak tak seburuk penampilan wajahnya. Namun di belakang memang kumuh. Catnya banyak menghitam, coreng-moreng, mengelupas di sana-sini.

Aku menajamkan telinga sepanjang perjalanan sambil sesekali melirik Nina. Ia tidak begitu memperhatikan sekeliling. Pandangannya tertuju pada jalan di bawah kakinya. Atau pada sepatunya yang lucu itu.

“Kalau sore enggak ada bunyinya, Bu,” katanya setelah beberapa saat.

“Oh ya?” sahutku sedikit gugup seolah tertangkap basah. “Ah, kamu sudah bilang begitu ya. Ibu lupa. Tapi Ibu memang penasaran.”

“Ibu pasti enggak percaya. Sama kayak teman sekelas Nina.”

Kubelai rambutnya sambil terus berjalan. “Ibu percaya kamu,” kataku berbohong dan memutuskan untuk mencoba tidak penasaran lagi.

Kami sampai di rumahnya. Ia tinggal di sebuah ruko, meski ibunya tidak berjualan apa pun di sana. Sebelum ia masuk, aku memberikannya map yang sudah kusiapkan. “Kasih sama Mama ya,” kataku. “Di situ sudah ada surat keterangan yang Mama minta dari sekolah.” Sesaat kemudian aku sadar aku tak perlu bilang itu.

“Terima kasih, Bu Aria.”

“Iya. Jaga dirimu baik-baik. Jadi anak manis dan rajin belajar.”

Ia tersenyum lalu menutup pintu. Dan itu adalah saat terakhir aku bertemu dengannya.

***

Aku tidak setuju dengan cinta pada pandangan pertama. Tapi pada Nina, aku benar-benar jatuh cinta ketika pertama kali ia datang ke sekolah. Gadis kecil itu tampak mungil dan rapuh. Membuatku harus menemaninya ke manapun ia pergi. Mengantarkannya ke sekolah, menjemputnya lagi. Di akhir pekan kami akan berlibur, piknik ke tempat-tempat wisata. Malam hari kami bisa bercengkerama di ruang keluarga. Menonton Cartoon Network atau apa saja. Malam-malam di hari sekolah, aku berdiri di belakangnya, membantunya mengerjakan PR—dengan sorot lampu belajar dari masa kecilku.

Dan Nina harus pindah. Besok ia tidak akan datang ke sekolah. Aku mendadak rindu. Harus kuakui, tepat ketika pintu rumahnya ditutup, aku merasa disergap kehilangan.

Namun hal yang sekarang harus kulakukan adalah berjalan menyusuri jalanan gang tadi. Kulirik ponsel. Laki-laki itu ada menelepon dua kali. Setengah jam yang lalu dan lima belas menit setelahnya. Biarlah ia menunggu jika memang ingin menemuiku.

Beberapa menit kemudian aku tiba di Citraland. Melangkah masuk menuju satu-satunya tempat yang kutahu pasti tempat laki-laki itu menunggu. Dan memang di sanalah ia. Di kafe kecil yang menghadap lalu lintas super padat. Aku pernah mengalami hal ini sebelumnya. Dulu, sudah lama sekali. Mungkin lima tahun, entahlah. Saat itu, laki-laki ini juga yang sedang menungguku—dengan sekuntum bunga matahari yang coba disembunyikannya di kursi sebelahnya. Kau mau membunuhku lagi, Ian?

Ia pura-pura kaget ketika aku tiba di hadapannya. “Apa kabarmu? Duduklah. Duh, jangan di situ. Jauh amat.”

Aku menolak duduk di sebelahnya.

“Kau sehat?”

Aku mengangguk.

“Kau enggak berubah ya?”

Aku lemparkan pandangan menembus dinding kaca, kepada keramaian di seberang, gedung-gedung menjulang, dengan latar belakang langit petang yang mulai meredup.

“Mau apa kau?” tanyaku.

“Galak amat sih. Kau mau makan apa?”

“Aku enggak makan.”

“Diet? Hahahaha.”

Ternyata kerut di sudut matanya juga hal yang tak berubah. “Udah deh. Bilang kau mau apa?” tanyaku agak kesal.

“Ayolah. Setelah sekian lama akhirnya aku bisa mentraktirmu, kau malah enggak mau makan? Minum deh. Minum.”

Aku menggeleng.

“Padahal minuman ini enak lho! Aku sudah minum tiga gelas. Kembung. Omong-omong…”

Dan tanpa persetujuan, ia bercerita beberapa hal dalam hidupnya tiga tahun belakangan. Katanya ia sudah berlayar ke beberapa tempat, meski tak satu pun yang menarik untuk ia tulis jadi cerita. Aku tahu. Mungkin maksudnya ia tidak menemukan perempuan lain di tempat yang ia singgahi. Tapi aku tak lantas percaya. Katanya juga, ia, pada tahun kedua, berpikir bahwa hidupnya akan selalu begitu. Tanpa keseruan. Tanpa perkembangan berarti. Tanpa pekerjaan tetap apalagi karir. Namun satu yang ia tekankan, bahwa ia tidak menikah.

“Kau sudah kepala tiga,” kataku.

“Iya. Aku ingat ulang tahunku kok.”

Aku tertawa kecil. “Apa kau enggak sedikit pun punya niat menikah?”

Ia terdiam. Lalu menggeleng pelan.

“Kau enggak pernah membayangkan punya anak?”

“Aku kan enggak mungkin melahirkan sih.”

“Enggak lucu.”

Ia tertawa.

Lalu padanya kuceritakan kisah Nina dan lonceng angin. Seperti yang kuingat, sejak dulu laki-laki ini tak pernah bisa diam mendengarkanku bercerita. Ia sesekali menyeletuk, bercanda, dan tertawa. Sampai-sampai aku mengingatkannya bahwa ceritaku belum selesai. Meski begitu, kupikir ia mampu menangkap apa yang kuceritakan. Katanya, “Nina kemungkinan besar hanya berhalusinasi.”

Ternyata aku salah.

Aku setuju. Tapi, “Kau enggak dapat kesan khusus ya?”

“Oh! Maksudmu misterinya?”

Aku membetulkan letak punggung.

 “Oke. Aku enggak ngerti…”

Kuhela napas berat dan panjang dan disengajakan. “Nina lho! Anaknya lucu dan manis.”

“Mamanya cantik?”

“Please deh!”

“Oke, oke. Sebentar. Aku harus mengeluarkan kemampuan terbaikku. Baiklah. Menurutku kau menyayangkan ada malaikat mungil yang terlahir di keluarga yang salah?”

“Jauh banget!”

“Jadi apa dong, Ar?”

“Bener ya! Dari dulu kau memang enggak pernah peka. Pantas enggak ada perempuan yang bertahan lama samamu.”

“Jangan salah! Aku bisa nikah detik ini juga!”

“Gaya!”

“Dan kalau maksudmu soal kesan khusus kau yang tiba-tiba kepingin melahirkan manusia-manusia berukuran kecil, yang lucu dan manis, yang ke sekolah pakai sepatu lucu kayak Nina itu, aku bisa paham. Semua perempuan kan sama aja.”

“Ya ampun sinisnyaaa.”

“Enggak sinis. Tapi aku kan lebih paham keinginanku dari siapapun.”

“Enggak mau kalah lagi.”

“Aaaahh… Bukan begitu maksudnyaaa.”

“Kau tahu kan September nanti aku tiga puluh.”

“Good for you.”

“Dasar kau yaa!” kucoba mencubit tangannya meski ia lebih dulu berkelit.

“Aku juga pernah tiga puluh kok. Santai aja.”

“Orang tuaku yang enggak santai!”

“Terus? Kau udah nemu cowok yang bakal membuatmu melahirkan Nina lain?”

Aku memilih diam. Menatap mata cokelatnya yang sedikit berubah. Beberapa jeda hanya terdengar kesibukan para karyawan kafe dengan pekerjaannya masing-masing dan momen saling pandang yang tak kusangka bisa kulewati lebih lama dari sembilan detik.

“Apa maksud tatapanmu itu coba?” katanya membuatku lega dan berkedip lagi. “Oh, enggak mungkin. Hahahaha. Kau enggak mungkin mikir itu, Ar.”

“Mikir apaan? Ge-er banget sih jadi orang,” aku lepas tertawa. Dia juga tertawa. Untuk ukuran pengunjung yang cuma memesan minuman, jelas kami terlalu berisik.

“Lalu kau mau ke mana habis dari sini?” tanyaku setelah tawa kami reda.

“Mutiara enggak jauh berubah.”

“Hahahahaha. Nginep di sana?”

“Yap. Eh, kau sendiri mau ke acara Malam Puisi apa tadi?”

“Tiap akhir pekan ada acara begitu. Aku beberapa kali hadir. Jadi panitia juga pernah. Kau mau…”

“Enggak.”

“Katamu kau bisa nganterin!”

“Oh, kupikir kau mau bilang ‘kau mau ikut?’”

“Ya sudah. Aku berangkat dulu. Bye.”

Lalu aku pun meninggalkannya. Laki-laki itu, kuyakin memandangku saat melangkah pergi dari kafe. Sampai beberapa langkah, kupikir ia akhirnya akan memanggilku. Mungkin menawarkan diri mengantarkanku. Menemani atau apalah. Namun ia tak melakukannya. Kapan terakhir kali kuingat ia mencegahku pergi? Rasanya tak pernah. Aku yang selalu mencegahnya, semampuku yang nyatanya tak pernah bisa membuatnya kembali berpaling.

Di dalam angkutan umum, aku memikirkan beberapa hal acak. Tentang Ian. Tentang apa yang pernah ia ucapkan yang kini dikaburkan banyak hal yang sudah kulewati selama tiga tahun tanpa kabar dirinya. Lalu aku memikirkan apa yang tadi kami bicarakan. Bagaimana perbincangan seperti itu bisa terjadi? Nina! Oh, gadis kecil yang setiap berangkat ke sekolah berhalusinasi mendengar bunyi lonceng angin. Tanpa sadar aku menggeleng pelan. Mendesah dan memperhatikan sejenak wajah para penumpang lain. Beberapa orang tua. Mungkin pekerja, karyawan, atau orang-orang seperti aku. Bedanya, aku yakin mereka punya seseorang atau keluarga yang menunggu di rumah.

Kudorong kaca. Angin malam meniup keningku. Sayup-sayup, di antara keriuhan lalu lintas, telingaku menangkap bunyi lonceng angin berdenting perlahan. – Cirebon, 2016.

Iklan

Pria di Luar Sana


Ada seorang pria di luar sana,
yang sedang mengangumi ruang angkasa, Andromeda, blackhole
yang menginginkan armor sebesar tubuh untuk bisa dipakai.

Seorang pria yang membuatku jatuh cinta, selalu.

Ada seorang pria di luar sana,
yang menyimpan kemeja-kemeja, album foto, kartu ucapan
dijadikannya harta karun yang akan mendulang air mata ketika ia melihatnya.

Ia tahu, tapi tetap dilakukannya.

Ada seorang pria di luar sana,
yang selalu ingin kusentuh lengannya
yang selalu ingin kulihat bibirnya mengerucut ketika tersenyum
yang, membuatku, ingin menyebrangi takdir.

Seorang pria di luar sana
yang menjadikanku wanita kesepian ketika tak ada di dekatnya
Seorang pria yang tiba-tiba saja sangat kurindukan, meski ia baru menjauh selangkah, lalu selangkah lagi untuk akhirnya tak terlihat
Seorang pria, yang selamanya, takkan pernah benar-benar kumiliki.

Seorang pria di luar sana yang telah memiliki kekasih.

________

09.02
3/12/15

image

Aria.

Sepuluh Tahun Mendatang


Aku selalu menginginkan memiliki sebuah rumah. Rumah milikku sendiri. Yang akan kuisi dengan barang-barang yang kuinginkan. Dapur yang tak berjejal barang-barang. Sebuah meja makan dua kursi. Sebuah rumah yang memiliki lemari-lemari buku. Rak gantung dengan tanaman kaktus sebagai hiasan. Sebuah rumah ternyaman untuk pulang.

Aku yakin, entah lima atau sepuluh tahun ke depan aku akan memilikinya. Hanya saja tak akan ada kamu di sana, sama seperti saat ini.

Jika sekarang saja kamu sudah memilih bersama seseorang bagaimana mungkin kamu akan ada bersamaku di masa depan. Kamu dan aku berjarak. Sejauh-jauhnya jarak. Dan, seperti katamu, kamu tak memiliki rumah untuk kutempati. Ah, memangnya kapan aku pernah memintamu untuk membelinya?

Belakangan ini aku selalu bermimpi, ada seseorang di mimpiku–yang entah kenapa selalu lekaki. Mereka terasa akrab di dalam sana, tetapi ketika bangun tak satu pun dari mereka yang aku ingat kukenali di dunia nyata–yang terakhir adalah lelaki bertopi.

Di siang hari aku mendengar suara lonceng angin di suatu jalan yang hampir selalu kulewati. Suara lonceng angin yang kadang tak terdengar di hari berangin. Sebuah lonceng angin yang kadang terdengar, kadang tidak bahkan sampai beberapa lama aku berhenti dan menunggu. Sebuah suara lonceng angin yang hanya kudengar sendiri meski ada banyak orang di sekitar. Ya, aku memastikannya hari ini. Aku bertanya, tetapi katanya mereka tak mendengar  apa-apa. Hanya aku. Entah.

Itu sebelum hatiku patah (lagi) seperti ini.

Hari ini, sepulang bekerja. Ketika aku sedang menunggu kereta lewat untuk menyebrang ke peron di seberang. Ketika angin menghempas akibat dorongan kereta, di kepalaku, terbayang aku berlari menyongsong kereta, lalu membiarkan kereta itu menembus tubuhku. Saat kereta itu berlalu, bayangan itu sirna.

Aku tak ingin mati. Betapa pun pedih kesedihan yang ditanggung hatiku. Betapa lesak ia terbeban sakit hati. Aku tidak ingin mati sebab tadi, aku sudah melihat-lihat sebuah meja makan, rak gantung berbentuk zigzag, gelas-gelas teh. Benda-benda yang ingin kuisi di rumahku kelak.Entah itu sepuluh tahun lagi atau kapan.

Aku akan ada di rumahku. Tak apa-apa meskipun tak ada kamu. Kumohon jangan melukai lagi. Menjauhlah. Biarkan aku sendiri.

Tak apa-apa meski tak ada kamu. Tak apa-apa meski aku seorang diri. Kamu memiliki alasan-asalan untuk tak bisa bersamaku. Kali ini buatlah alasan agar tubuhku tak perlu dihantar ke depan kereta yang sedang melaju.

#

sebuah monolog
301015
20:56

* I’d jump in front of a train for you
But you won’t do the same*
Song ost Grenade – Bruno Mars

Di Antara Semua Orang


image

I
Di antara semua orang, aku bukanlah siapa-siapa
karena itu kau bisa meninggalkanku kapan saja
juga datang kapan saja.

Di antara semua orang, cintaku padamu bukanlah apa-apa
sebab tak punya banyak bilangan waktu yang merupa kenang
pun tak cukup manis untuk meruap menjadi sajak.

Tapi di antara semua orang yang meninggalkanmu,
Aku satu-satunya yang bertahan
(atau mungkin tidak?)

II
Aku menemukan diriku memungut patahan-patahan hati untuk kusatukan lalu kuberikan kembali padamu hanya untuk dipatahkan.*

Aku menemukan diriku, membangun sebuah rumah seorang diri
lalu menghancurkannya, seorang diri pula.**

Aku menemukan diriku, di antara orang-orang yang kau lewatkan
di antara mereka yang kau inginkan
tetapi aku tidak di mana-mana, hanya di antara.

III
Aku bertanya-tanya, harus begini sakitnyakah cinta?
sampai dadamu terasa sakit bahkan hanya dengan menyebut sebuah nama.

Aku bertanya-tanya, berapa berartinyakah cinta?
jika ia hanya mengisi dadamu dengan kecemasan-kecemasan yang mampu melubanginya.

Aku bertanya-tanya, seberapa kuat aku bisa mencintaimu seorang diri seperti ini?

IV
Di antara semua orang
aku menemukan diriku
bertanya-tanya kenapa aku masih mencintaimu.

00:24
270915

Kepada e,
tolonglah, berhenti memberi  luka di  hatiku.

* bait di sebuah lagu milik The Rain Band
** diambil dari drama korea, Produser

Kamisan #10 Seasson 3: Pesan Dinding


image

“Sampai kapan, kau akan berdiri di situ dan terluka?”

Anak itu, alih-alih mengalihkan pandangan dari grafiti di dinding kepadaku ia malah menunduk dan mengepalkan tangan. Ia marah, kukira. Kutarik tangannya sebelum ia berlalu pergi,

“Kau bukan bantalan jarum, berhenti sedia terluka seperti itu,” kataku

“Perasaan manusia itu aneh ya? Cepat sekali menjadi asing. Terpisah jarak begitu saja. Terpisah waktu begitu saja. Hati manusia berubah secepat angin. Perempuan itu, sudah bersama seseorang. Dia bilang aku terlambat. Dia bilang nggak bisa meninggalkan segalanya sekarang. Benar-benar. Membuatku jadi ingin menangis.”

Udara malam itu bahkan tidak lebih membekukan daripada perkataannya. Aku ada bersamanya dan dia membicarakan perempuan lain. Bagaimana aku bisa bernafas jika dia terus begitu? Bukankah dengan begini tidak ada artinya aku bersamanya?

“Niar? Niar? Niar! Hei, kau mendengarku kan?”

Pria bodoh! “Menangis sajalah kalau mau nangis. Aku masih akan di sini, oke?”

Ya, menangislah. Agar aku tak perlu melakukannya.

Dua jam telah berlalu. Aku masih menepuk-nepuk lengannya ketika ia benar-benar menangis. Tanpa suara. Rasanya pasti lebih sakit.

Kami berada di beranda lantai dua, persisnya di depan kamarku. Dia selalu melompat naik ketika dadanya terasa pengap. Karena dia selalu menceritakan hal itu, aku jadi nggak bisa menceritakan pengap yang mengisi dadaku sendiri. Pria yang sedang menangis ini, yang paling kuinginkan kebahagiaannya di dunia. Maka aku mendengarkannya seperti tak akan terjadi apa-apa pada jantungku sendiri.

Seperti dugaanku, anak itu berdiri di sana lagi. Memperhatikan dinding penuh coretan yang tak berubah sedikit pun sejak terakhir kali dia datang. Keras kepala sekali sih?

“Kalau kau terus melakukannya, itu akan jadi kebiasaan. Ngerti?
“Apa kamu nggak punya pekerjaan? Atau kamu seorang penguntit?”
“Kau lupa? Kedai kopiku ada di seberang jalan ini. Kau akan membuat pelangganku takut dengan terus-terusan berdiri di sini. Apa bagusnya sih gambar ini?”

Aku mundur beberapa langkah agar bisa menangkap keseluruhan gambar tapi tetap saja aku tak paham.

“Bukan gambarnya, tapi dindingnya.” Lalu anak itu berlalu. Yang tersisa hanya suara sepatunya berkeletuk di aspal.

“Ayoh pergi!”

Aku mestilah menyesali perkataanku itu. Sebab dua kata itulah yang menjadi mula hubungan kami jadi serumit sekarang. Dia pria keras kepala tetapi cengeng. Waktu itu, ia sedang patah hati dan aku hanya berniat menghiburnya. Maka aku mengajaknya berkeliling kota.

“Kutunggu di seberang kedai kopinya Zoe, ya? Mari bertemu di sana lalu kita akan berkeliling kota.”

Hari itu, kami benar-benar pergi berkeliling. Rasanya menyenangkan. Satu hari penuh dari satu tempat ke tempat lain. Dan sejak hari itu pula kami kerap berjanji bertemu di sana. Di depan dinding bergrafiti biru. Di depan Zoe’s Coffe.

Suatu hari, aku menunggunya untuk kencan kedelapan kami. Ia datang amat terlambat. Zoe berkali-kali menelponku untuk menunggu saja di dalam kedainya tetapi aku menolak. Biasanya aku adalah pembosan. Tidak melakukan apa-apa ketika menunggu seperti ini apalagi. Tetapi, jantungku yang terus menderap di dalam tubuhku justru memaksaku untuk fokus menenangkannya. Pria itu bilang ia akan sampai dalam sepuluh menit lagi karena itulah, aku mulai melihat sisi jalan, mengira-ngira dari arah mana dia akan datang.

Saat itulah pikiran konyol itu terlintas. Aku mengambil pulpen dari dalam kotak pensil yang selalu kubawa-bawa. Menuliskan sesuatu di dinding, lalu dengan bodohnya berharap pria itu akan membacanya dan membalasnya.

Tak satu pun dari hal itu dilakukannya. Dia tidak pernah tahu aku menulis sesuatu di dinding tempat kami selalu bertemu. Dia tidak pernah tahu aku menahan nyeri di dadaku setiap dia membicarakan perempuan itu. Perempuan yang tak kan pernah bisa kugantikan tempatnya meski aku telah memberikan apa saja.

Seperti yang seharusnya, pria itu akhirnya pergi.

Tapi kenapa dadaku tak berhenti merasa nyeri?

Aku sedang membuat satu pesanan pedati tubruk ketika melihat Niar sudah berdiri di seberang jalan. Kali ini, coba lihatlah baik-baik, Niar. Aku bersiul lalu cepat-cepat menyelesaikan pesanan kopi sebelum menumpuk.

Sudah dua minggu memasuki September. Udara mulai mendingin, jelaslah musim hujan akan tiba. Bahkan beberapa hari lalu gerimis turun pada sore berangin seperti ini. Aku mencari sosok Niar, anak itu masih berdiri di sana. Kau sudah tahu kan?

Tepat ketika gerimis pertama turun, aku sudah berdiri di samping Niar. Payung berwarna kuning cerah menaungi kami dari serangan hujan. Dia berbalik menghadapku,

“Sudah kubilang jangan suka memakai rok pendek. Perutmu bisa sakit karena dingin. Ayoh ke kedaiku. Kutraktir lintong, baru saja kubeli hari ini.”

Aku tahu Niar ingin protes karena mungkin ia mau bertanya soal tulisanku di dinding itu. Tetapi aku memaksanya untuk masuk ke kedai. Toh di masa depan kami akan punya banyak waktu membicarakannya. Aku tak berniat menjadi bantalan jarum selamanya, Niar. Kau pun begitu kan?

Aku mencintaimu, kau?
(Aku mencintaimu juga – Zoe)

140915
00:00
Ketika masih menonton drama I Miss You.

Kamisan #13 Seasson 3: Lelaki dan Jendela


Saat pertama kali datang, tak ada hal lain yang ingin aku lihat selain jendela kamar ini. Kau tahu, Kina? Aku bahkan tak menghiraukan para pekerja yang menurunkan barang-barangku dan bertanya ingin diletakkan di mana kardus-kardus itu. Aku sama sekali tak peduli, toh barang bawaanku tak banyak. Mereka bisa meletakannya di mana saja. Rumah ini luas. Terlalu luas, bahkan, untuk kutinggali seorang diri.

Apa kau bertanya rumah yang mana?

Itu, rumah besar berlantai dua di arah pukul sembilan jika dilihat dari depan halaman rumahmu. Rumah besar yang sama sekali tidak cocok dengan bangun-bangunan lain di sekitarnya. Terasing dan sunyi. Juga seringkali dibilang angker. Yang membuatku akhirnya memutuskan membelinya adalah jendela besar ini.

Seperti umumnya rumah-rumah tua peninggalan Belanda, melalui jendela besar inilah aku bisa leluasa memperhatikanmu di seberang. Aku akan duduk pagi-pagi sekali. Ketika udara masih dingin (aku keluar dengan memeluk selimut). Satu lampu di rumahmu sudah menyala. Dapur. Kau pasti sedang sibuk membuat sarapan ketika itu. Aku sungguh mengangumimu Kina. Betapa pagi kau bangun untuk menyiapkan segala sesuatunya untuk lelaki itu. Tentu saja aku iri. Aku bisa saja memilikimu tetapi aku tidak bisa membuatmu menderita dengan memaksamu bersamaku. Meski, akulah yang pertama kali menemukanmu. Tidak. Maka beginilah caraku mencintaimu.

Setelah memastikan kau bangun. Aku akan pergi sebentar dari jendela. Menyeduh kopi dan menyantap dua keping roti tawar dengan mentega dan gula tanpa dipanggang terlebih dahulu sebagai sarapanku. Aku memakannya dengan perlahan. Seperlahan matahari yang muncul di kaki langit. Dari lantai dua seperti itu matahari begitu indah. Andai saja kau punya waktu sedikit melihatnya tetapi tidak, kau terlalu sibuk. Dan itulah yang kau selalu lakukan, mengantar suami berangkat bekerja hingga ke pintu, memeluknya sebentar lalu mencium tangannya dengan hikmat. Saat itu, senyummu memang jauh lebih indah dari matahari pagi.

Saat kau masuk kembali ke rumahmu aku pun menutup jendelaku. Begitulah aku memulai hidup setiap hari.

Aku akan kembali ke meja kerja yang kutinggalkan semalam. Kembali berkutat dengan berita-berita yang harus kuedit sebelum kukirimkan kembali ke kantor. Selalu seperti itu.

Pernah suatu hari ketika kau–masih dengan celemek–mengantar suamimu hingga ke depan pintu seperti biasanya. Aku bertanya-tanya sendiri apakah kau tak bosan terus melakukan itu? Apakah matamu yang penuh binar itu suatu hari akan redup dan kau tak lagi mengantar suamimu seperti sekarang ini melainkan lebih memilih kabur dengan seorang tetangga kiri rumahmu yang hampir setiap hari meminjam apa saja saat suamimu tak ada di rumah. Mungkinkah Kana? Cinta yang membuatmu menolakku itu suatu hari hilang begitu saja tanpa sisa?

Kurasa memang tidak. Tentu saja itu tidak terlihat seperti dirimu (kau bisa membayangkan aku tersenyum Kina. Karena aku memang tersenyum saat mengatakan itu). Mungkin karena itulah aku jatuh cinta padamu. Dan seperti aku yang masih begitu mencintaimu sampai saat ini, maka cinta yang memantul di iris matamu itu pastilah tak akan kalah oleh waktu.

Kau akan punya waktu untuk melahirkan anak-anakmu. Melihat mereka tumbuh. Mengantarkan mereka hingga pintu depan ketika pagi, suami berangkat ke kantornya dan anakmu pergi ke sekolahnya. Aku masih akan melihatmu dari jendela besar ini. Melihat lamput dapurmu menyala setiap pagi. Mendengar renyah tawa kau dan anak-anakmu saat kalian bermain di halaman belakang rumah. Anak-anakmu sedang menyerangmu dengan pistol air. Kau bersembunyi di antara pepohonan tetapi dengan cerdik, kedua anak kembarmu menemukanmu. Anak sulungmu membidik rokmu. Sementara si Kecil membidik wajahmu. Sekujur tubuhmu basah tetapi kau–kalian–tertawa bahagia.

Meski sibuk sebagai ibu dan seorang istri, kau masih tetap Kina yang dulu. Ketika anak dan suamimu telah lelap tertidur, kau akan kembali ke dapur, menyalakan lampunya dan mulai berjalan mondar-mandir sambil membaca sebuah buku misteri. Kau tentunya masih menyukai Nancy Drew kan, Kina? Detektif perempuan yang cantik dan cerdas itu. Kau akan larut dengan bacaanmu. Teh yang kau seduh selalu lebih dulu menjadi dingin sebelum akhirnya kau minum.

Sementara di jendela besar itu, aku menyesap kopiku. Mataku hanya sekali-sekali lepas dari gerakanmu. Meski yang terlihat hanyalah siluet hitam dari balik tirai.

Hari-hari akan berlalu dengan damai. Aku berharap bisa menyaksikan semua itu, Kina. Aku sungguh berharap, dari jendela besar ini aku melihat iris matamu yang berbinar dan bukannya hanya memandang potretmu seperti sekarang ini.

070815
19:44

Kamisan #12 Seasson 3: Seorang Pria yang Mencoba Mabuk untuk Melupakan Hatinya yang Patah


image
Gambar tema #12 dari mbak @kezionk

Barangkali kepongahan dan luasnya kota inilah yang menjadikan orang-orang sepertiku melankolis ketika menatap senja dari ketinggian salah satu gedung pencakar langit di tengah kota. Semburat senja yang membuat orang-orang sepertiku tertusuk jarum-jarum sepi kasat mata yang pengaruhnya laten namun terasa begitu pengap di dada. Ya. Dadaku. Yang belum lama ini, cinta, yang pernah mengisi seluruh ruang di dalamnya lenyap entah ke mana. Sialnya, si empunya rasa tak sekalian memindahkan luka yang membekas di sana. Di dadaku, tempat segala luka bermuara.

Benarkah tak ada luka yang sia-sia?*

Aku turun dari rooftop, berjalan demikian pelan. Dan pertanyaan tadi terus bergaung, memenuhi lorong ketika aku berjalan, memekakkan telinga.

Aku masuk ke sebuah bar. Sekelilingku panen cahaya penuh warna. Musik menghentak-hentak. Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing; meliukan tubuh, minum, mengobrol atau melakukan ketiganya sekaligus. Di sana. Di lantai dansa. Aku masuk semakin dalam, lalu duduk di bangku tinggi tepat di depan bartender. Aku masih memperhatikan orang-orang, dan aku belum juga memesan apapun sampai si Bartender menegurku agar aku memesan sesuatu. Kupikir, mungkin ia hanya mau pamer keahliannya saja. Gin, kataku memesan asal-asalan. Ia bertanya lagi, aku tak memperhatikannya. Alih-alih aku ingin berteriak, seseorang baru saja mematahkan hatiku, jadi tolong segera buatkan saja minuman sialan itu! Tetapi tak jadi. Memangnya kenapa? Memangnya cuma aku yang patah hati di dunia ini? Siapa pun bisa saja mati hari ini dan patah hati hanyalah perkara sekadar saja.

“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” Suara seseorang di sebelahku. Aku menoleh dengan keengganan yang sangat kentara. Cara ini kelewat klasik, bukan?
“Ya,” kataku. “di kehidupan sebelum sekarang, aku adalah puteri Yoen Woo dan kau adalah Pangerang Yang Myung. Yang Myung sangat menyukai Yoen Woo tetapi mereka tak pernah bersatu, Yang Myung mati dengan tombak menembus tubuhnya**.” Aku menyunggingkan sedikit senyum. Kutebak orang ini pasti menyesal telah memulai basa-basi tadi. Ia mendengus lalu pergi. “Lagi pula,” kataku, hanya untuk membuatnya jengkel. “Yoen Woo menyukai orang lain.” Sekarang, wanita itu memakiku.

Aku tertawa. Melakukan itu tadi terasa menyenangkan. Racikan minumanku selesai. Bibir gelas dipenuhi buih. Meletup-letup kecil tanpa bunyi. Ada desakan untuk menyelam ke dalam buih-buih itu lalu lenyap. Namun tatapan si Bartender membuyarkan keingianku. Ia mungkin lebih ingin aku menghabiskan gin itu dalam sekali teguk, membayar lalu pergi sejauh mungkin dari hadapannya.

Tetapi tidak akan. Aku membutuhkan keramaian ini sekarang. Setelah meneguk sekali. Aku meninggalkan gin itu di meja, lalu berbalik memunggungi si Bartender yang telah sibuk mengurus orang lain. Mataku memindai ruangan. Jauh ke langit-langit. Jauh sampai ke sudut. Tempat ini begitu jujur sekaligus menipu.

Aku memperhatikan wajah orang-orang. Tak ada yang tahu persis alasan mereka datang ke tempat ini. Jelas bukan untuk mengisi waktu senggang. Di antara mereka pasti ada juga yang hatinya baru saja dipatahkan. Seseorang yang berusaha menutupinya dengan apa pun yang bisa ia dapatkan di sini. Rasa bahagia yang menipu. Keramaian yang menipu. Perasaan tenang yang menipu. Sementara ruangan ini begitu terbuka menampung mereka-mereka yang sedang sekarat hatinya. Berpura-pura bisa memberikan penawar atas rasa sakit yang ada.

Rasanya pasti sakit, tetapi kau cuma perlu untuk tetap semangat, katamu waktu itu yang kali ini kembali terngiang.

Aku tidak ingin mendengar apa-apa sekarang. Maka aku berbalik kepada si Bartender, menghabiskan gin-ku yang tersisa lalu memintanya lagi. Lagi. Lagi. Dan lagi.

Beginikah rasanya mabuk? Rasanya seperti berada di antara rasa sakit dan rasa hangat*. Membuatku ingin tidur untuk mengenyahkan rasa sakit itu sekaligus dininabobokan oleh perasaan hangat dari alkohol. Aku dilanda kebingungan yang amat sangat bagaimana aku akan mengakhiri semua ini.

Haruskah aku jatuh tertidur di sini demi menahan rasa sakit? Ataukah, harus kubiarkan saja rasa sakit ini memerangkapku beberapa saat. Sampai dengan keinginannya sendiri dia pergi. Aku hanya perlu menunggu, biasasaja, seperti menunggu hujan reda pada musimnya. Karena pada waktunya bukankah hujan akan berhenti juga? Rasa sakitku, pada waktunya pasti akan hilang juga.

Akan ada hari, ketika aku bangun dari tidur rasa sakit itu enyah entah ke mana. Dan perasaanku hanya akan dipenuhi perasaan hangat meski di luar hujan.

Meski di luar hujan.

________

10715/21:27

Kamisan #11 Seasson 3: Athalla


image

Aku dan Athalla sering kali bermain-main jauh dari dunia tempat kami tinggal sehari-hari. Tidak. Kami tidak pergi jauh menyebrangi sungai atau masuk ke dalam rimba hutan. Bukan karena aku penakut. Oh tentu bukan itu alasannya. Tetapi ini semua karena Yona. Perempuan berhidung dan bibir lancip yang menjadi ibu tiri kami. Sumpah dewi segala yang tumbuh di atas tanah desa kami, dia satu-satunya ibu yang tak mengizinkan anak-anaknya berbahagia. Tidak! Jika itu yang kaupikirkan tidak. Tentu saja tidak. Aku tidak mengada-ada atau pun berlebihan. Yona memang seperti itu. Misalnya saja, dia tak pernah mengizinkanku bermain bersama teman-temanku meski aku sudah menyelesaikan tugasku: membersihkan sekaligus memberi makan domba-domba dan kuda kami, menyampu daun-daun menumpuknya di pinggir halaman, membersihkan kaca-kaca.

Tak sekali pun Yona mengizinkanku meninggalkan tugas-tugas itu. Tidak juga di hari libur.

Adikku Athalla. Ia anak manis yang penuh senyuman. Sungguh, ia terlihat manis di atas bentuk wajahnya yang tidak umum. Yang membuat adikku berbeda hanya posisi mata kirinya tidak sejajar dengan letak mata kanannya. Athalla juga tidak memiliki alis. Rambutnya hanya tumbuh sepanjang jari tangan. Yang membuatnya sama dengan anak lainnya adalah rambutnya yang berwarna merah. Seperti rambutku. Seperti rambut Yona.

Oh ya, aku lupa menceritakan tentang ayahku. Ia bernama Tara. Ia adalah tukang sulap paling menawan di seantero pulau. Di antara pesulap dan pekerja-perkerja sirkus lainnya. Bersama rombongannya ayah menjelajah dari satu tanah lapang ke tanah lainnya. Menghimbur, memainkan trik dan menimbun pundi-pundi uang untuk dibawa pulang. Kerena itu ayah sering berpergian membuatnya tahu apa-apa dibalik senyum dan elok wajah yang selalu ayah lihat di wajah Yona ketika pulang. Ayah pasti berpikir Yona merawat aku dan Athalla dengan baik.

Perihal ibuku. Orang-orang yang pernah menonton sirkus selalu menyebutnya Peri Vidia. Vidia adalah namanya. Embel-embel peri ia dapatkan karena selalu berkostum peri ketika sedang melakukan atraksi. Melayang, terbang di ketinggian dengan tubuhnya yang lentur dan ringan. Namun, hari nahas itu rupanya telah menunggu begitu tabah. Athalla baru berusia tiga bulan di kandungan ibu ketika ia jatuh tersungkur saat berlatih atraksi-atraksi ringan. Ibu dan kandungannya baik-baik saja tetapi ketika melahirkan barulah kerusakan itu terlihat. Tetapi nahas itu rupanya masih berlanjut. Setelah menyusui Athalla. Anak-beranak itu tertidur hanya bedanya, ibu tak pernah membuka matanya lagi.

Aku tak ingin mengisahkan bagaimana ayahku bisa menikahi Yona. Aku tidak punya waktu untuk itu sebab sekarang waktunya aku mengajak Athalla bermain. Kalian lihatlah baik-baik. berdirilah di tepi jendela, tetapi jangan menghalangi cahaya masuk dari sana.

Lihatlah, wajah adikku yang ceria. Ah, aku lupa mengatakannya. Adikku tidak bisa bicara, kalau kalian ingin bicara dengannya gunakan tangan kalian. Buatlah isyarat-isyarat maka ia akan mengerti. Begitulah aku selama ini berkomunikasi dengannya.

“Lihatlah, Athalla, dinding-dinding di sekitarmu dipenuhi sulur-sulur kembang sepatu. Warna bunganya sama persis dengan rambut kita,” aku menggerak-gerakan tangan ke seluruh penjuru dinding. Athalla mengerti. Ia mengikuti ke mana tanganku mengarah. Perlahan-lahan dinding kamar dirambati batang-batang besar berwarna hijau. Kursi tempat Athalla duduk menghilang berganti dengan bantalan empuk batang kayu. Perlahan, perubahan juga terjadi pada wajah Athalla. Suaranya keluar dengan normal dan tawanya renyah memenuhi ruangan. Rambut merahnya pun tumbuh lebih panjang.

Harusnya pohon-pohon itu tak tumbuh melebihi luas ruangan. Biasanya begitu. Entah bagaimana kali ini, batang-batang pohon itu tak hendak berhenti tumbuh. Mereka terus naik, menembus atap. Aku memanggil-manggil nama Athalla. Memasang telinga berharap menangkap suaranya. Tetapi tak ada. Athalla menghilang bersama sulur-sulur kembang sepatu yang tumbuh jauh menembus langit.

19:37
180615

Kamisan #9 Seasson 3: Alang


Juni. Ketika angin bermain-main menelisik lembaran daun-daun. Hari-hari ketika kemarau dan penghujan sedang mesra-mesranya. Manusia menyebutnya pancaroba. Pada masa musim masih memiliki waktu.

Pada masa seperti itulah, hampir setiap petang aku dan teman-temanku mengarak layangan ke tanah lapang. Hampir semua anak lelaki. Tetapi ada juga, satu dua anak perempuan yang seperti lelaki. Ikut aku dan teman-teman lekakiku bermain bola, mengejar layang-layang, memanjat pohon mangga om Gani. Yang lainnya lebih memilih bermain masak-masakan di mana yang satu menjadi ibu–yang kerjanya hanya memasak–dan yang lainnya menjadi tamu atau anak atau siapa saja yang nantinya akan–berpura-pura–memakan hasil masakan si Ibu. Tetapi jangan mengira tak ada anak lelaki ikut bermain masak-masakan. Itu salah besar.

Sudahlah.

Selain anak-anak yang bermain ini-itu, tanah lapang ini juga ramai oleh ibu-ibu yang saban sore menyuapi anak batitanya makan. Tawaku selalu meledak tiap kali melihat kawanan batita-batita itu, bukan apa-apa, abisan wajah mereka coreng moreng oleh bedak. Tak hanya satu tapi hampir semua anak. Kompak sekali ibu mereka kan?

Ada lagi yang tak pernah absen datang ke tanah lapangan ini ketika petang. Namanya Alang. Anak perempuan manis berambut panjang. Usianya tujuh tahun. Lebih muda setahun dari usiaku. Alang tak datang untuk bermain layang-layang atau pun memasak seperti anak-anak lain. Ia selalu datang dengan membawa boneka serta sepasang sepatu merah muda dalam kantung plastik. Lalu ia kan duduk.  Di bawah naungan pohon yang aku tak tahu apa namanya, di atas sebuah tempat duduk berbahan semen. Ia letakan boneka di sisi kanannya. Memantapkan posisi duduk dan menunggu.

Mula-mula, ketika aku tahu Alang selalu duduk dan menunggu di sana aku tak pernah ambil pusing. Sejak pindah ke lingkungan perkampungan ini, tak pernah sekali pun Alang bermain dengan teman sebayanya. Ia juga tak sekolah seperti kami. Sepertinya juga sekolah di tempat lain. Itu kuketahui ketika aku pulang cepat dari sekolah karena guru-guru hendak rapat. Aku sengaja melewati rumah Alang, anak itu ada. Ketika aku lewat aku lewat ia sedang berdiri di teras rumahnya. Bernaung di bawah kanopi berwarna merah bata, melihat–entah apa. Aku tak menyapanya. Hanya menatapnya. Alang seperti tak menyadari kehadiranku. Ia juga tak menyapa bahkan membalas senyumku ketika aku berlalu pergi.

Sejak saat itulah. Mengejar layang-layang tak lagi menarik minatku. Sering aku hanya pura-pura ikut mengejar lalu berbalik menghilang dari arus anak-anak yang berlari. Aku menuju ke tempat Alang biasa menunggu. Ketika aku sampai ternyata Alanb tak lagi menunggu. Di hadapannya ada Mang Sadi sedang menjahit sepatunya.

Lain lagi cerita tentang Mang Sadi. Umurnya sekarang tujuh puluh lima tahun. Mantan tentara. Hanya itu yang warga kampung kami tahu. Perihal sanak-istrinya tak adalah yang tahu. Atau soal bagaimana ia bisa jatuh papa. Sebagai pensiunan tentara mang Sadi tak seberuntung rekannya (ngomong-ngomong, aku tak tahu apakah istilah beruntung tepat atau tidak) sebab tak sekali pun ia menerima uang pensiun. Untuk menyambung hidup, mang Sadi menjadi tukang sol, tukang jahit sepatu. Mungkin keterampilannya itu ia peroleh ketika hidup di barak. Mungkin tentara harus menjahit sepatu mereka sendiri. Siapa yang tahu?

Kisah mang Sadi bertahan seperti legenda. Bahkan anak-anak seperti aku pun tahu soal itu. Dulu-dulu ketika harga sepatu masih mahal, orang kampung selalu lari pada mang Sadi untuk memperbaiki sepatu mereka. Di masa sekarang ketika sepatu bisa dibeli dengan harga rupa-rupa, jasa mang Sadi tidak lagi terpakai. Paling-paling hanya dua-tiga orang saja yang masih menjahit sepatu selebihnya membeli yang baru.

Sampai suatu sore aku terpergok mang Sadi sedang mengintip mereka. Dengan isyarat tangan aku meminta mang Sadi untuk diam. Ketika Alang pergi bersama ibunya. Mang Sadi menghampiriku.

“Kamu tahu namanya, Ali?” tanyanya.
Aku mengangguk, “Alang,” kataku.

Lalu perkataan mang Sadi selanjutnya membuatku serasa melayang-layang. Apa katanya tadi? Alang, anak manis dengan sepatu merah muda itu, buta.

“… aku tak tahu kenapa anak itu selalu duduk di sini menungguku. Sepatu merah mudahnya itu, tak ada bagian yang belum pernah kujahit. Namun ia selalu memaksa. Aku harus berpura-pura menjahitnya hanya agar dia senang. Saat kuulurkan kembali sepatunya, dia hendak membayar tetapi kutolak. Kubilang itu hadiah, namun dia tetap menolak. Tetapi, anak itu, selalu datang lagi dan lagi.”

Sejak saat itulah keinginanku untuk mengenal Alang lebih jauh timbul. Aku beranikan diri datang ke rumahnya. Mengajaknya berkenalan, bermain dan berbicara. Ketika aku bertanya tentang mang Sadi dan sepatu merah muda-nya beginilah jawab Alang

Bahwa ia mendengar cerita  tentang mang Sadi dari ibunya. Sang ibu selalu menceritakan kepada Alang tentang keberuntungan orang-orang dibalik kesusahan yang mereka alami. keberuntungan seseorang adalah ketika masih ada orang lain yang peduli pada diri mereka. Dan kitalah, Alang, kata ibunya, yang bisa memberikan keberuntungan pada orang lain. Pada orang-orang seperti mang Sadi.

Maka Alang, memberikan hadiah kepada mang Sadi lewat pembayaran yang tak seberapa setiap kali sepatunya selesai dijahit. Itulah anggapannya. Sepatu itu tak pernah lagi dijahit mang Sadi karna memang tak ada lagi tempat untuk itu. Mang Sadi hanya berpura-pura. Berpura-pura untuk menyenangkan si Gadis Buta.

Itu hadiah, begitulah kata mang Sadi suatu sore kepada Alang. Mang Sadi mendongak,  tersenyum kepadaku yang berdiri beberapa langkah di belakang Alang dan bonekanya.

Lalu beberapa hari kemudian tersiar kabar mang Sadi berpulang.

Hadiah.

Alang berarti hadiah. Aku ingat betapa aku mengeryit ketika mendengar namanya yang aneh itu.

Kehidupan ini dan Alang adalah hadiah.

“Apa tadi katamu?”

Pemilik suara itu, berjalan perlahan. Satu tangannya memegang cangkir berisi teh madu. Aku mengambil cangkir itu dari tangannya. Meletakannya di sisi meja kerjaku. Lalu menggenggam kedua tangan istriku itu, menuntunnya duduk di sisi tempat tidur yang posisinya persis di samping meja.

“Kamu, Alang, persis seperti namamu adalah hadiah bagi kehidupan orang-orang.”

Gadis manis yang buta itu tersenyum. Tanganya meraba-raba wajahku–begitulah caranya membacaku, mengenaliku–lalu ia menggenggam tangan erat. Erat.

14:05
230515

Ket:
#KBBI 3 alang Mk n hadiah; pemberian;

Kamisan #8 Seasson 3 : Arun


Musim kemarau ditandai dengan gugurnya daun-daun, sebuah siklus bagi pepohonan. Karenanya sudah seminggu ini, dalam sehari aku bisa menyapu lebih dari tiga kali. Pagi pukul sembilan, tengah hari dan sore hari ketika toko antik ini hendak kututup. Aku sedang memasukkan setumpuk daun kering ke dalam karung (yang nantinya akan kubuatkan kompos) ketika kudengar suara Arun bicara tetapi tak cukup jelas untuk mendengar apa yang dia katakan. Aku menghentikan kegiatanku mengumpulkan sampah daun, menepuk-nepuk kedua tanganku dengan harapan mengusir debu dari sana lalu mengelap telapak tangan pada celana, barulah aku menghampiri Arun.

Anak itu berpenampilan kumal seperti biasanya. Bahkan kali ini terlihat lebih kumal. Rambutnya terlihat kusut seperti ada sesuatu yang menggumpal di atas sana, terlihat kering tetapi juga agak basah.

“Apa katamu tadi, Run?” kataku menyapanya. Bocah lelaki itu diam saja. Dari sampingnya aku melihat dia tersenyum, entah karena apa. Ini membuat penampakannya makin aneh saja. Arun tidak biasanya tersenyum. Arun adalah anak penuh kedengkian. Ia marah pada semua hal. Pada ayah yang menelantarkannya. Pada ibu yang menitipkannya ke panti asuhan karna ia menikah dengan pria lain yang tak menginginkan Arun menjadi anaknya. Pada lampu merah tempat ia biasa mangkal. Pada kota, pada jalan, pada pengedara. Pada presiden, bahkan pada Tuhan. Dia marah sebab Tuhan tak menyisakan apa pun padanya untuk dia miliki selain nafas yang tersengal dan perut yang harus selalu dia isi.

“Itu kau sewaktu kecil,” aku mendengar suara Arun lagi. Tadinya kupikir aku hanya berkhayal tetapi tidak, suaranya jelas menyeruak gendang telingaku dan masuk ke koklea. Aku melihat tangan Arun terangkat. Menunjuk televisi lemari model 20T-27A dengan merk dagang Sharp, yang terpajang di dinding bawah sebelah kiri. Old’s Gift adalah toko barang antik yang aku warisi dari kakekku. Barang-barang antik yang dijual tentu masih memiliki fungsi atau paling tidak bisa difungsikan, entah untuk apa pun. Tetapi tidak untuk televisi-televisi tua yang memang sengaja dipajang kakekku memenuhi dinding. Televisi-televisi itu, seluruhnya, sudah tidak berfungsi. Tentu saja, televisi-televisi itu pernah hidup di tahun sembilan puluhan yang cara menyalakannya pun kau harus menarik tombol di sisi kanan televisi. Mecari chanelnya juga harus memutar-mutar pengatur chanel yang tertempel di badan televisi. Kesimpulannya, apa yang dikatakan Arun sangatlah tidak mungkin. Televisi yang sudah tidak bisa menyala mana mungkin bisa menampilkan gambar terlebih gambar itu ketika aku masih kecil.

“Aruun,” kataku hendak memrotes.

“Saat itu kau masih di kandungan. Lihat! Itu kakek dan kakak perempuanmu, juga ibumu dan kau di dalam perutnya.”

Mendengar ini, mau tidak mau aku mengalihkan pandangan dari Arun ke arah di mana tangannya menunjuk. Aku terkejut bukan main, televisi itu menampilkan gambar bergerak. Arun benar. Perempuan berambut panjang sebahu di gambar itu adalah ibuku. Ibu yang tak sempat aku lihat sebab meninggal ketika ia melahirkanku. Itu delapan belas tahun yang lalu.

Aku tersedak haru.

Aku hendak menjauh tetapi Arun menahan tanganku. “Itu kakek dan kakak perempuanmu,” katanya lagi. Kali ini Dia menunjuk televisi Vintage Lincoln, yang berbentuk kotak, berwarna hitam dan putih susu. Pupil mataku memasatkan penglihatan. Di gambar, Runa, kakak perempuanku ketika berumur sepuluh tahun. Kakak terlihat menggemaskan dengan rambut dikepang dua meski sepertinya habis menangis.

“Memangnya, sejak kapan kakek bisa bicara dengan benda-benda?”

Suara kakak dari dalam televisi. Kakek tersenyum lalu mengajak Runa duduk di sofa beledru hijau yang ada di sana, sofa yang sama yang aku gunakan sebagai meja untuk tamu yang datang melihat-lihat toko antik ini.

Tiba-tiba saja kepalaku terasa pening. Aku melepaskan pengangan tangan Arun tetapi anak itu rupanya tak mengizinkanku memahami semua ini barang sejenak.

“Itu adalah kau di masa depan,” kali ini Arun menujuk TV Kayu B/W Johnsons. Televisi itu masih terlihat mulus berkat bahan bakelit yang melekat pada tubuhnya. Membuat harganya cukup fantastis ketika ditawar seorang anak muda yang ingin membuka café, yang tentu saja, akan ia gunakan sebagai dekorasi.

Apa yang terlihat pada gambar televisi itu adalah apa yang tadi sedang kukerjakan sebelum Arun datang dan merusak soreku dengan celoteh-celotehnya yang tak karuan ini. Tetapi sialnya mulai memengaruhiku.

Anehnya lagi, gambar di televisi tidak menampilkan Arun dan aku yang sedang memandangi televisi-televisi mati dari etalase toko melainkan memunculkan gambar di perempatan jalan. Lampu merah yang selalu ramai sebab berada tepat di sudut di mana sebuah mall kelas atas berdiri megah nan pongah. Tempat Arun mencari nafkah sehari-hari dengan menjual Koran pagi-sore dan mengamen pada sela-sela waktu selain itu.

Hari masih pagi. Klakson bersahut-sahutan di jalan yang padat. Semua orang telihat terburu. Arun tak mau kalah ia ramai menjajakan korannya. Berdiri di antara mobil dan motor. Menyelinap di sela-sela kendaraan. Siapa pun akan terharu dengan usahanya itu. Pecayalah, kau akan membeli koran meski pun kau tak pernah membacanya, saat kau sadar soal itu koran di tangan Arun telah berpindah ke tanganmu.

Kulihat anak itu ingin menjauh, menepi ke trotoar ketika lampu lalu lintas menyala hijau. Semua kendaraan menderu maju.

Harusnya.

Tetapi ada satu yang melintangi jalan. Mungkin rodanya tergelincir atau patah As karena beban muatan berlebih, atau tersuruk pada lubang dan membuatnya oleng. Truk enam roda itu oleng, pantat truk menghantam tiang lampu merah hingga terbanting patah. Jalanan kian ramai.

Hilang! Ada yang hilang di sana.

Di mana Arun? Bukankah tadi dia menepi di samping lampu merah itu?

Susah payah aku melepaskan pandangan dari televisi untuk menatap kekosongan di sampingku. Tak ada Arun. Tak ada anak lelaki yang sejak tadi mengangguku dengan menunjuk televisi-televisi mati.

*

Ini musim kemarau sebab itu pepohonan menggugurkan daun-daunnya. Pohon-pohon randu yang semula rindang di pinggir jalan sekarang tinggal tulang-tulang batang. Jika pun ada daun yang tersisa biasanya berwarna kuning kering. Pohon-pohon itu tidak mati. Tetapi Arun, bocah itu mati. Ketika daun-daun jatuh berguguran dan angin semilir menerbangkan duka.

*

Catatan:

Dibuat setelah menghabiskan buku kumcer Tentang Pertemuan milik Andi Wirambara. Semacam terpengaruh tulisannya dengan twis-twis yang luar biasa menyoal pertemuan.

Tentang tipe-tipe teve lama diambil dari http://www.indonetwork.co.id/result.html?search_for=&search_cat=all&subcat=Cemi&owner=555652

Aria

10:26

070515

image