[Buku] Ritus Pemakaman


Detail buku:

Judul asli         : Burial Rites

Penulis             : Hannah Kent

Penerjemah      : Tanti Lesmana

Penerbit           : PT. Gramedia Pustaka Utama

Halaman          : 416 hlm

Tahun Terbit    : November 2014

ISBN               : 978-602-03-0906-4

Sinopsis:

Aku tak ingat seperti apa rasanya tidak mengenal Natan. Aku tak bisa membayangkan seperti apa rasanya tidak mencintai dia. Melihat dirinya dan menyadari aku telah menemukan apa yang selama ini begitu kudambakan, tanpa kuketahui. Rasa lapar yang begitu dalam, begitu dahsyat dan membuatku terjerumus ke dalam malam, sehingga aku takut bukan kepalang.

Tahun 1829, di sebuah kota kecil di Islandia Utara, Agnes Magnúsdóttir menunggu pelaksanaan hukuman mati atas dirinya. Karena tak ada penjara untuk menampungnya, Agnes ditempatkan di rumah keluarga Petugas Wilayah Jón Jónsson. Merasa tak nyaman ada pembunuh di tengah mereka, keluarga itu memperlakukan Agnes dengan dingin. Yang mau berusaha memahaminya hanya Asisten Pendeta Thorvardur “Tóti” Jónsson yang ditugaskan untuk mempersiapkan Agnes menjemput maut.

Sejak kecil, Agnes hidup dari belas kasihan orang lain dan bekerja berpindah-pindah sebagai pelayan. Kecerdasannya, cara bicaranya yang dianggap asing, dan pengetahuannya tentang kisah-kisah dari buku, membuat orang-orang menjauhinya; nyaris tak seorang pun tahu seperti apa dia sesungguhnya. Agnes jatuh cinta pada Natan Ketilsson, orang pertama yang melihat dia sebagaimana adanya, dan dia pun pindah ke pertanian Natan di tepi laut, tempat sunyi yang hanya dihuni segelintir orang. Namun impiannya akan kehidupan yang lebih baik musnah. Natan Ketilsson tewas dibunuh, dan Agnes menjadi salah satu tertuduhnya.

Sambil menunggu ajal, Agnes menjalani hidup di tengah keluarga Jónsson, membantu pekerjaan sehari-hari dan meringankan beban mereka. Lambat laun sikap keluarga Jónsson mulai mencair. Mereka ikut mendengarkan ketika Agnes menuturkan kisah hidupnya kepada Tóti.

Hari-hari bergulir tanpa terasa, dan tanggal pelaksanaan hukuman mati semakin dekat…

Resensi

Pertanian Illugastaðir dapat ditemukan di sisi barat Semenanjung Vatnsnes yang menjadi terkenal karena masuk ke dalam sejarah kelam Islandia. Tahun 1828 terjadi kebakaran hebat di Illugastaðir yang mengejutkan masyarakat karena pada dua mayat korban kebakaran tersebut ditemukan luka tusukan. Sampai saat ini tak jelas kisah sebenarnya seperti apa, pemerintahan pada saat itu menetepakan dua tersangka utama yang harus dihukum mati.

Pada tanggal 12 Januari 1830 eksekusi hukuman mati dilaksanakan dihadapan umum, yang juga menjadi eksekusi terakhir dihadapan umum dalam sejarah Islandia.

Adalah Natan Ketillson pemuda pintar yang mempelajari ilmu kedokteran secara otodidak, ia membeli Illugastaðir dan pindah ke pertanian tepi laut itu pada tahun 1824. Di pertanian itu ia tinggal bersama Sigga (yang datang lebih dulu) dan Agnes sebagai pelayannya. Meski banyak membantu orang lain dengan pengetahuannya, pada dasarnya Natan adalah pria brengsek yang memiliki banyak skandal termasuk dengan penyair kontoversial pada waktu itu, Ròsa Guòmunsdottir.

Namun melalui pemuturan Agnes sebagai perempuan yang sedang jatuh cinta, kisah-kisah yang ia ceritakan tentang Natan, hal-hal yang mengingatkannya akan Natan terasa manis dan menggemaskan, seperti dalam percakapan mereka berikut ini,

“Apa nama untuk ruang di antara bintang-bintang?”
“Tidak ada nama seperti itu.”
“Buat satu.”
Sudah saya pikirkan. “Asylum jiwa.”
“Itu cara lain untuk mengatakan surga, Agnes.”
– Hannah Kent, Ritus Pemakaman

Atau, ketika Natan berbicara soal cekungan di telapak tangan pada masa-masa awal mereka berkenalan. Alih-alih dokter Natan malah terasa seperti penyair.

Sebagai pembaca, saya dibuat penasaran dengan sosok Natan yang sebenarnya, ini membuat saya ingin terus membaca apalagi membaca buku ini kita akan dimanjakan dengan diksi-diksi yang segar. Penggambaran situasi yang detil. Plus terjemahan yang apik.

Hannah Kent memilih sudut pandang paling manusiawi, menurutku, dari kisah mencekam dan menggemparkan yang terjadi di Islandia ini. Betapa tidak. Ritus Pemakaman membiarkan Agnes berbicara tentang kejadian pada malam nahas itu, dari sudut pandangnya sendiri di mana selama ini sebagai seorang gadis pelayan yang cerdas Agnes membuat orang-orang takut kepada hingga suaranya harus dibungkam, dan begitu saja ia jadi salah satu tertuduh.

Anda akan setuju dengan saya, bahkan Totì, meski Agnes sendiri yang memintanya untuk menjadi Pendeta pendampingnya, diragukan banyak orang karena belum berpengalaman toh tetap bertekad untuk menyelamatkan Agnes dan membuatnya enggan menyerah ketika Agnes menjadi begitu berat untuk ditanggung dan itu hanya membuatnya semakin ingin berbuat lebih banyak lagi untuk membantu.

“Aku akan menyelamatkannya,” dia berbisik.

–Toti, bab 2

Bukan hanya Totì, keluarga Jònnson pun yang mula-mula menolak kehadiran Agnes semakin hari mereka semakin bersimpati terhadap Agnes setelah mendengar ceritanya. Saya menangis ketika membaca bab-bab terakhir buku ini, yang juga merupakan hari-hari terakhir hidup Agnes, karena orang-orang yang ada di sekitar Agnes ikut terluka dan menyayangkan hukuman mati yang diterimanya.

Saya memberikan lima bintang untuk buku ini. Pertama, sebagai buku berlatar sejarah, tahun 1820an, penggambaran Hannah Kent sungguh mengangumkan, detilnya, caranya menggugah perasaan. Kedua, terjemahannya yang tak kalah apik. Sebagai buku terjemahan poin ini menjadi penting. Saya sangat berterima kasih kepada Tanti Lesmana atas kerja kerasnya.

Saya selesai membaca buku ini beberapa hari lalu, dan mengatakan pada diri saya sendiri bahwa saya harus menulis sesuatu tentang buku ini. Karena saya menyukai buku juga, sebagai cara untuk membuat Agnes tetap ada.

“Aku tidak ingin dikenang, aku ingin berada di sini.”

Agnes Magnùsdottir dalam Ritus Pemakaman milik Hanna Kent.

 

Catatan tambahan

♡ buku ini saya baca melalui perpustakaan online Jakarta I-jak

♡ saya membaca sedikit tentang illugastadir di sini

♡ kutipan-kutipan tentang Ritus Pemakaman bisa dibaca di Goodreads Indonesia.

[Nulis Kamisan S04E03] Si Hitam Manis

Jika lelaki tidak paham arti senyuman wanita padanya, ia sungguh dalam masalah.


Jika lelaki tidak paham arti senyuman wanita padanya, ia sungguh dalam masalah.

Satu-satu persatu stasiun terlewati. Kami duduk berhadapan sejak di stasiun pertama. Mulanya, hanya saling curi-curi pandang. Lalu aku memandanganya dengan sedikit terang-terangan. Aku bahkan tersenyum kepadanya sekarang. Dua kali.

Pria itu, pria bodoh yang duduk di depanku. Memakai hodie berwarna hitam. Menggunakan headset di telinga sama sepertiku. Aku mengamatinya lamat-lamat. Dari atas, ke tas abu-abu dipangkuannya. Ke celana jin belelnya. Serta, ke sepatunya yang juga abu-abu. Biasa saja.

Rasanya ada yang berbeda. Tapi apa?

Caranya tersenyum dan memperlihatkan gigi-gigi depannya? Kerut di wajahnya ketika tersenyum? Apa namanya? Lesung pipi? Bukankah pria biasa lainnya juga berpenampilan seperti itu?

Ah, satu lagi stasiun terlewati. Aku akan turun di stasiun berikutnya. Haruskah aku memberinya sedikit keberanian lagi? Aku tersenyum lagi. Bukan untuknya. Aku tersenyum karena situasi ini. Oh, aku penasaran. Pria seperti apa lagi yang akan kutemui setelah dari sini.

Aku memiliki janji temu dengan sekelompok temanku di sebuah cafe. Ada banyak tipe pria yang datang ke cafe dan hanya ada sedikit pria yang yang datang ke sebuah cafe seorang diri. Penyendiri. Misterius. Dingin. Pria biasa.

Ketika suara pemberitahuan kereta berdenting, aku langsung berdiri. Sampai jumpa, Pria Bodoh, kataku dalam hati sambil melirik sekilas padanya. Aku berdiri di depan pintu, bersiap untuk turun. Langkahku ringan. Perasaanku riang. Lihat, siapa tadi yang berkata ia membenci dunia? Terkadang dunia tidak seburuk itu. Kau hanya harus tahu dengan apa kau harus bermain. Atau berpura-pura menjadi seseorang yang lain.

Aku berhenti sebentar untuk memperhitungkan arah. Haruskah aku keluar dari pintu sebelah kiri? Atau haruskah aku menyebrangi peron ke jalan sebelah kanan? Aku memang suka bermain-main seperti ini, membiarkan seseorang atau sesuatu menentukan arahku alih-alih memilih dengan cepat untuk kepraktisan.

Ketika kebingungan sesaat itulah seseorang menepuk bahuku.

Aku menoleh, dan pria bodoh di kereta tadi berdiri tepat di hadapanku. Aku menahan diri untuk tersenyum, “ya?,” kataku.

Dia salah tingkah.

“Ya?,” kataku lagi, mencoba membantunya.

“Di luar sedang gerimis, mau makan sesuatu yang hangat denganku lebih dulu?”

Wahhh kapan dia menyiapkan semua kata-kata itu? Aku melihat jam tanganku. Pukul tujuh tiga puluh. Aku masih punya waktu setengah jam.

“Oke.”

Kami berjalan beriringan ke luar stasiun. Ia memilih pintu kiri. Benar saja, di luar turun gerimis. Aku tersenyum lagi. Ah, kenapa hari ini aku terlalu banyak tersenyum? Tapi betapa tidak, melihat tetesan air di bawah cahaya lampu rasanya begitu indah. Benar kan?

“Lewat sini,”

Pria itu berlari kecil sambil menutupi kepalanya dengan tangan, aku melakukan hal yang sama. Ketika aku sampai di tempatnya ia membuka jaket lalu menutupi kepalaku. Tidak jauh dari stasiun, kami lalu masuk ke dalam kedai berukuran empat kali empat meter. Oke, kita sebut saja ini warteg.

“Pak, rawonnya dua ya.”

Ia memesan, lalu mengajakku duduk di bangku kedua baris paling kiri dari pintu masuk. Kami duduk berhadapan. Di bangku-bangku lain, hanya ada satu pria paruh baya yang begitu lahap menyantap makanan di depannya. Juga ada dua perempuan muda di bangku lainnya, seperti kami, mereka pasti sedang menunggu pesanan datang sambil mengeluhkan cuaca yang tiba-tiba berubah ini.

Si Pria Bodoh mengentuk pelan meja dua kali. Aku berpaling, penuh, menghadap padanya.

“Apa kau selalu seperti ini sebelumnya?”

“Apa?”

“Mengajak makan perempuan yang baru pertama kali kau temui?”

“Ah!” Dia tersenyum. Sialan. Kurasa karena itulah aku terpikat. Kerut di sudut matanya itu. “Tidakkah itu juga berlaku buatmu?”

Aku tertawa kali ini. “Kau sering ke sini sebelumnya?”

Ia mengangguk, “Sejak kecil. Dengan mendiang ibuku.” Ia diam selama beberapa detik, lalu katanya, “Wajahmu mirip ibuku, itu sebabnya aku begitu saja tiba-tiba mengajakmu.”

Aku hanya mengucapkan ah pelan sebagai tanggapan. Ia melanjutkan, “ketika keluar dari kereta, aku melihat gerimis turun. Di waktu seperti inilah, aku dan ibuku biasanya datang ke warung rawon ini. Kau tahu? Karena rawon berkuah seperti sup serta kaya akan rempah, cocok sekali untuk makan ketika cuaca dingin.”

Aku mengangguk. Sejujurnya, aku belum pernah tahu, bahkan mencoba seperti apa rasanya rawon itu.

Pesanan kami datang. Dua porsi rawon dengan dua porsi nasi. Kuah rawon itu berwarna hitam. Perasaanku tidak enak dengan ini. Jangan-jangan rasanya seperti tauco. Aku tidak suka tauco.

Di dalam piring juga ada tauge, empal goreng, dan kerupuk udang. Di piring yang lain, satu porsi nasi putih dengan taburan bawang goreng. Di wadah kecil lainnya ada sambal terasi. Asap mengepul dari piring-piring dihadapan kami.

“Cobalah,” ia menyodorkan piring nasi dan rawon ke hadapanku.

Aku menerima sendok dan garpu yang ia sodorkan kepadaku dengan ragu-ragu. Menyendok sedikit kuahnya yang berwarna hitam pekat itu, “manis,” kataku. “Aku sama sekali tidak menduga rasanya manis.”

“Yah, dulu ibuku sering menyebut Si Hitam Manis saat mengajakku ketika ia ingin makan rawon. Ah, yah, tunggu sebentar.” Dengan cekatan ia membelah telur dan memberikan separuhnya padaku. “Makan pakai telur asin rasanya jadi seimbang,” katanya.

Kami makan dengan lahap. Tapi tentu saja ia lebih lahap daripada aku. Tidak kusangka akan begini ceritanya. Aku merasa seolah kami terikat karena ia menceritakan kisahnya padaku dengan ringan. Aku tidak akan berpura-pura kalau ini semacam takdir yang sedang berjalan.

Ini hanya kebetulan. Kebetulan aku sedang berada di kereta itu. Kebetulan aku memiliki janji di sekitar sini. Kebetulan kalau wajahku mirip ibunya.

Ah! Apa kali ini aku yang ada dalam masalah?

[Nulis Kamisan S04E02] Galau


Menurutmu, kenapa seseorang sampai memiliki keinginan untuk membunuh?

Kalau aku, karena aku benci semua hal di dunia ini.

Adalah sepotong percakapan kita malam itu. Kau mengatakannya begitu enteng hingga seolah-olah kau betul-betul sanggup melakukannya. Menusukku di tempat tidur, misalnya. Atau menaruh racun dalam kopiku esok pagi.

Setelah itu aku tak pernah lagi mengingat percakapan kita. Karena toh kau tetap menjalankan hidupmu yang membosankan itu. Sibuk bolak-balik dari rumah ke tempat kerja. Sesekali membaca puisi atau menonton drama korea.

Seseorang harus memiliki hobi, kataku suatu ketika via telepon kepadamu.

Di dunia yang semakin menggila ini, seseorang harus memiliki sesuatu untuk berpegangan. Hal-hal yang bisa menghibur setelah hari yang begitu keras. Hal yang membuatmu berpikir, aku bisa bertahan sehari lagi.

Kau setuju dengan apa yang kukatakan. Sesuatu yang mengingatkan bahwa kita adalah manusia, katamu. Ah, aku memang bajingan yang beruntung. Aku beruntung karena bisa berpegangan padamu, meski bukan dalam artian yang romantis. Aku tahu hatimu sakit karena kenyataan itu.

Kau tahu seumur hidup aku akan berhutang padamu. Merasa berhutang padamu. Sebab, aku merasa, aku tidak akan pernah mampu untuk membayarnya. Saat ini aku hampir putus asa. Salahku memang, karena hidup dengan serampangan selama ini. Mengkhawatirkan banyak orang. Menyepelekan semua hal. Dan ketika akhirnya aku jatuh, aku selalu lari kepadamu untuk mencari penghiburan.

Itu tidak benar, aku tahu. Tapi kau selalu menerimaku dengan tangan terbuka. Dan aku memanfaatkanmu sekehendak hatiku. Jauh di lubuk hatiku, aku merasa bersalah. Tentu saja. Karena itu aku merasa muak saat ini.

Apa kau sedang meremehkanku sekarang?

Memang, aku tak punya pilihan selain padamu. Aku tak ingin menyusahkan keluargaku. Juga tak ingin mengemis pada perempuan-perempuan lain. Aku tak ingin dihakimi mereka. Itu akan membuatku jadi pria menjijikan alih-alih pria terhormat. Tapi tahukah kau, kau pun mulai membuatku muak.

Kau yang mulai menjauh. Kata-katamu yang tajam dan tidak pedulian itu. Dari semua, orang aku tak ingin diremehkan olehmu. Akhir-akhir ini aku mulai membenci dunia. Hal-hal yang kulakukan selalu saja tak sesuai harapan. Aku terperosok lagi dan lagi. Sementara aku tak lagi memiliki pegangan. Cerita-cerita masa kecil atau lagu-lagu rayuan.

Manakah yang lebih besar? Rasa muakku pada dunia ataukah, rasa benciku padamu? Aku masih menimbang-nimbangnya. Haruskah aku membunuhmu?

 

https://www.goodfon.com/wallpaper/chelovek-krik-nastroenie.html

[Nulis Kamisan S04E01] SEPEDA


raznoe-velosiped-bicycle
GAMBAR DIAMBIL DARI GOODFON TAMILA

Aku akan pergi ke tempat yang jauh besok

Tidak bisa lagi melihat jernih aliran sungai yang tertimpa cahaya matahari

Tidak bisa lagi merasakan embusan angin, di sela-sela jari

 

Aku ingin berputar sekali lagi, dalam hidupku yang singkat ini

Agar bisa mengucapkan perpisahan penuh arti

Pada daun-daun trembesi

Pada biji-biji kapuk yang letup dan melarikan diri

 

Aku akan pergi ke tempat yang jauh besok

Lalu menetap

Di halaman belakang.

 

240918

Pertanda Serenity


Beberapa waktu lalu aku selesai membaca satu ebook luar biasa, yang aku temukan secara tidak sengaja di aplikasi Perpustakaan Online I-jak. Tidak, aku bukannya mau mereview buku (padahal harusnya aku melakukannya) sebab kisahnya yang menakjubkan.

Di tulisan ini, aku hanya ingin berbagi bagaimana sebuah buku bisa membuat kita merasakan perasaan menyenangkan yang ganjil. Yang tidak bisa dimengerti oleh orang lain tanpa mengernyitkan dahi mereka. Oh, entahlah, aku hanya merasa bahagia dengan pengalaman ini.

Aku sehari-hari bekerja dengan printer, selama bertahun-tahun. Dan selama ini tak pernah printerku memuntahkan kertas-kertas dengan tulisan-tulisan aneh. Sungguh, yang terlintas dibenakku saat itu adalah,

Apa ini pertanda seperti yang Serenity bilang? Apa ada roh yang sedang berbicara padaku. Mencoba menyampaikan pesan?

Konyol bukan? Tetapi mungkin saja, sebab menurut Serenity kita semua ini separuh cenayang. Aku tidak tahu roh mana yang ingin bicara padaku. Bahkan mungkin, bukan salah satu dari mereka. Mungkin itu adalah adikku. Adik lelakiku yang tak sempat lahir ke dunia. Adik lelakiku yang ingin aku mengingatnya. Mengirimkan doa dan berduka untuknya.

Aku merasa bahagia selama membaca Leaving Time. Aku pun merasa bahagia ketika mengalami pengalaman layaknya tokoh di novel itu. Sekali pun jika untuk orang lain printer mereka biasa mengalami hal itu.

Jika tidak, mungkin kalian bisa mengartikan tulisan ini untukku?

Kisah-Kisah Lama dan Malam yang Kelewat Larut

Mudah untuk merasa tidak terikat dan terbeban. Entah kenapa kali ini terasa mudah. Mungkin aku sudah mencapai batas. Tak ada lagi harapan di batas harapan yang telah kugantungkan. Tidak sekarang, tidak juga dulu.


Aku ingin menulis sesuatu. Itulah yang selalu aku pikirkan namun akhirnya tak pernah jadi apa-apa. Karena sejujurnya, aku muak terus menerus menulis tentang kesedihan. Aku tak pandai menulis, aku tahu. Aku hanya sok merasa bisa. Tulisanku tak lebih dari sekumpulan kata-kata runyam tentang kesedihan. Tentang betapa tak adilnya dunia ini.

Oh, sebentar, terserah kalau kalian merasa dunia ini adil.

Kembali ke keinginanku untuk menulis, mungkin aku hanya harus berusaha menggunakan imajinasi sedikit lebih keras dari yang seharusnya. Mungkin dengan usaha itu aku bisa menuliskan, misalnya, tentang sebuah kota yang hanya memiliki satu warna, yaitu kelabu. Sebuah kota di bawah gunung yang terus menerus menyemburkan awan-awab kelabu. Hingga suatu hari, pasangan suami-istri paruh baya berjalan ke atas gunung dan mengorbankan diri mereka.

Oke, kau benar. Ini kisah sedih lagi. Tetapi memangnya dalam kehidupan yang mana sebuah tragedi tidak pernah terjadi? Asal tahu saja, kisah Romeo-Juliet tidak akan abadi kalau bukan karena tragedinya. 

Dan seperti itulah aku harus menjalani kehidupan monotonku. Dengan tragedi. Pertemuan singkat yang membawa hidupku berujung nahas. Tetapi sudah berakhir. Sungguh, kuharap sudah. Dan aku merasa senang karena bisa mewujudkan kesenangan-kesenangan untuk diriku sendiri alih-alih memikirkan kebutuhannya. 

Inilah bahanya orang yang insomnia. Mengoceh tak tentu arah. 

Aku memutuskan ke luar. Bulan sedang penuh. Bulat. Merah dan terang. Ia menoleh sesaat ketika aku duduk di selasar rumah tetangga, rumahku tidak memilikinya.

Sedang apa? Aku menyapa.

Memandu nelayan-nelayan penangkap udang. Mereka telah berdoa dengan tekun jadi aku harus menjaga mereka ketika di laut.

Ah, dewa-dewa lama, kataku. Boleh aku meminta tolong?, kataku lagi, kalau kau tidak terlalu sibuk, tentu.

Bulan merah itu menimbang-nimbang sebentar, lalu katanya, boleh saja kebetulan laut sedang tenang. Apa maumu?

Ini mungkin sepele untukmu, tapi aku hanya ingin tahu. Apakah kekuasaanmu sampai ke kota C? Bulan merah itu mengangguk. Oke. Lalu aku membisikkan sesuatu lebih spesifik. Ia sibuk sebentar, melihat ke segala arah. Bagaimana?, kataku, kau melihatnya?

Oh ya, pria yang paling tinggi itu pasti yang kau maksud. Aku tidak tahu apa yang sedang dilakukannya, menulis mungkin, tapi apa pun itu dia terlihat bahagia. 

Menulis masuk akal juga. Tapi terlihat bahagia bukan berarti benar-benar merasa bahagia bukan? 

Mungkin juga, Nona Muda, tetapi kenapa kau ingin tahu soal pria itu?

Aku hanya ingin tahu apa ia masih berada di tempatnya. Ia berutang banyak padaku, dan aku tidak ingin dia kabur. Dia baru saja mematikan teleponku dengan, yah, agak menyebalkan. 

Mudah untuk merasa tidak terikat dan terbeban. Entah kenapa kali ini terasa mudah. Mungkin aku sudah mencapai batas. Tak ada lagi harapan di batas harapan yang telah kugantungkan. Tidak sekarang, tidak juga dulu. Memutuskan telepon tidak lagi kuanggap sesuatu yang pantas untuk kumasukkan hati.

Mungkin priamu itu salah satu demigod Aprhodite.

Aku tertawa mendengar lelucon bulan merah. Aphrodite ya, si Dewi Percintaan yang sama sekali tidak memiliki rasa hormat pada pernikahan, ikatan. Dia lebih cocok sebagai dewi perselingkuhan, kurasa.

Tidurlah, anakku.

Aku ingin gerimis. Bisahkah kau mendatangkannya? Aku merasa kering.

Kembalilah ke kamarmu, aku akan meminta bantuan dewa-dewa lama untuk membuat tidurmu nyaman.

Kau baik sekali, kataku.

Tidak butuh waktu lama. Aku tidak dikuasi kebencian. Tidak juga perasaan sedih. Mataku lelah, dan aku terlelap dengan cepat.

Rumah Pasir

emaafkan diri sendiri karena melakukan kesalahan besar selama lima tahun mungkin tak terampuni, tetapi aku, akan memiki cinta untuk diriku sendiri……


ini adalah upaya untuk bisa berdamai dan memaafkan diriku sendiri

Dalam beberapa tulisanku, cerpen-cerpenku, ada satu tokoh perempuan. Perempuan yang hatinya penuh carut dan luka. Perempuan yang memandang kehidupan dengan skeptis. Secara sadar, aku tahu aku menaruh ruhku ke dalam tokoh perempuan tersebut.

Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar. Sebab dalam lima tahun itu aku kehilangan banyak hal; waktu, uang dan masa depan. Semua hal yang menguras energi dan perasaaan. Tapi apa mau dikata, terkadang cinta membuta-tulikan diri kita.

Tak seperti luka yang ia timbulkan sebelum-sebelumnya, kali terakhir ini–ini harus jadi yang terakhir!–aku hanya menangis dua hari. Kali ini aku lebih sadar bahwa selama ini aku terlalu mengabdi padanya. Melupakan keluarga, melupakan teman-teman bahkan melupakan diriku sendiri.

Jauh sebelumnya aku sudah mengetahui ini. Aku pasti sudah tidak tertolong lagi, begitu pernah aku berkata karena ketika sedang bertengkar pun, aku masih sanggup memikirkan kepetingannya. Oleh sebab tidak akan ada yang menolongku, maka kali ini aku harus menolong diriku sendiri.

Kehilangan paling besar ketika membangun rumah pasir ini adalah kehilangan diriku sendiri. Kehilangan kesempatan untuk berbaur, kehilangan waktu sosial dan waktu untuk membahagiakan juga mengembangkan diri sendiri.

Cukup untuk bersedih. Cukuplah membangun Rumah Pasir yang keeksistensinya pun semu. Cukuplah mengabdi pada seseorang yang dengan mudahnya mengatakan; aku tak pernah menjanjikan apa-apa padamu. Cukuplah memikirkan orang lain. Mencoba menyenangkan orang lain. Bernapas dan hidup untuk orang lain.

Mungkin benar, bahwa kebahagiaan tidak ada di luar sana melainkan ada di dalam diri kita sendiri.

Semoga Aria yang sekarang, tidak akan memandang dunia dengan skeptis lagi. Memaafkan diri sendiri karena melakukan kesalahan besar selama lima tahun mungkin tak terampuni, tetapi aku, akan memiliki cinta untuk diriku sendiri, yang luar biasa banyak dan besar. Yang saking banyak dan besarnya aku bisa memberikannya kepada sesiapa yang ada di lingkaran hidupku saat itu.

Tetapi sungguh, jangan mengajakku membangun sebuah Rumah Pasir lagi. Itu pekerjaan yang melelahkan, terlebih, jika itu dilakukan seorang diri.

[Buku] Tea for Two


Judul               : Tea for Two

Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit     : Cetakan Pertama, Desember 2005

Halaman          : 116 hlm

ISBN               : 1097897922

Sinopsis           : Tea for Two adalah perusahaan mak comblang milik Sassy. Baginya, tak ada tanggung jawab dan kebahagiaan yang lebih besar daripada mempertemukan dua orang yang awalnya saling tak mengenal kemudian mengantarkan mereka pada kehidupan yang di idam-idamkan. PERNIKAHAN!

Hidup bahagia selama-lamanya. Begitulah moto Tea for Two yang terdengar manis. Tapi…..eits tunggu dulu!

Apakah benar pernikahan adalah satu-satunya jalan terindah bertabur bunga yang diimpikan dan dicita-citakan semua orang? Ternyata tidak semua orang menyikapi hal itu dengan kata setuju. Celakanya, pernikahan Sassy sendiri mengandung rangkaian rahasia kecil yang berbuntut menjadi kebohongan besar-besaran. KDRT, Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Semuanya diawali dengan romantisme yang menggebu dan berakhir dengan kekejaman tiada banding.

Resensi            : Saya hanya memberi tiga bintang dari lima bintang di goodreads karena beberapa hal. Kesatu, karena ada beberapa bagian dalam buku tidak nyaman dibaca karena EBI yang tidak sesuai. Kedua, buku ini jauh dari ekspektasi saya. Well, bukan salah penulisnya sih. Saya hanya mengira bahwa buku ini, berlatar belakang perusahaan mak comblang milik tokoh-Sassy terlebih Sassy sendiri mengalami pernikahan yang tidak bahagia-selamanya, kisah-kisah dalam buku ini akan lebih banyak dan beragam. Katakanlah, orang-orang yang Sassy bantu jodohkan lewat perusahannya, mengalami hal buruk dalam pernikahan lantas bersama-sama dengan Sassy mereka berusaha mencarikan solusi. Tetapi tidak. Sassy, si Pemilik Perusahan malahan yang menjadi korban.

Cerita di dalam buku ini terasa sangat mengawang-awang dan tidak masuk akal. Coba pikirkan, seseorang yang tidak percaya cinta membuka perusahaan perjodohan? Seorang yang tidak percaya cinta tapi dengan niat yang sangat mulia mencoba menemukan jodoh bagi orang-orang yang tidak memiliki kesempatan? Lalu tiba-tiba saja menikah dengan orang yang belum lama dikenalnya.

Yah, saya tidak tahu, mungkin saja ada yang setuju. Kalau sudah sreg, sama-sama cinta, sudah siap lahir-batin, kenapa mesti menunda-nunda? Yah, menikah saja kan tidak apa-apa toh? Ya, tidak ada yang salah memang. Jika, dan hanya jika, kita sudah mengenal seseorang tersebut dengan sangat baik. Tetapi hal ini tidak terjadi dengan Sassy. Sebagai dua orang yang akan menikah, tidak ada adegan dalam buku mereka saling memperkenalkan keluarga. Terlebih, tokoh-Alan nyata-nyata tidak ingin bertemu (berteman) dengan sahabat-sahabat tokoh-Sassy. Cinta membutakan sekaligus mengisi segalanya ya, Sassy?

Well, atau mungkin saya hanya tertipu endorse dari The Jakarta Post yang mengatakan bahwa Clara Ng menampilkan perempuan dalam berbagai wajah tapi nyatanya tidak. Ah, mungkin saya hanya sedang membandingkan buku ini dengan buku Sihir Perempuan. Salahku.

 Sebab ketiga, kabarnya, kisah dalam buku ini mirip dengan buku dengan tema serupa Love Me Better karya Rosalind B. Penfold. Ini yang sangat-sangat tidak bisa diterima. Saya membaca beberapa karya Clara Ng, dua yang paling saya sukai adalah Malaikat Jatuh dan Uttuki (Sayap Para Dewa). Saya juga menyukai beberapa karyanya yang lain. Tea for Two yang paling mengecewakan.

Nilai plus dari novel ini hanyalah, di mana tokoh-tokoh perempuan dalam novel (yang memang semua perempuan) tidak menyalahkan tokoh-Sassy sebagai sebab suaminya berselingkuh, melakukan tidak kekerasan atau atas tingkah lakunya yang aneh bin ajaib. Karena sepanjang yang saya tahu, di budaya kita, jika ada yang salah terhadap kehidupan rumah-tangga seseorang maka pihak tertuduh adalah perempuan. Suami kok bisa selingkuh? Enggak diurus kali di rumah? Kok bisa diperkosa? Dianya aja kali keganjenan, pakai baju minim, ngegodain? Kalimat-kalimat jahat yang keluar dari mulut-mulut jahat perempuan yang seharusnya mendukung. Semoga, siapa pun yang sudah membaca novel ini, akan jadi teman yang baik seperti teman-teman tokoh-Sassy jika orang terdekatnya mengalami hal yang sama.

Ah, ya. Sekadar saran. Tea for Two sama sekali tidak cocok untuk judul novel ini. Serius.

Anda Benar, Saya Memilih Nomor Dua!


Lagi-lagi grup whatsapp di ponsel saya dikirim broadcast-broadcast sampah!  Kenapa saya bilang sampah? Karena isinya tak lebih dari hasutan penuh kebencian.  Saya sudah mulai terganggu dengan bau sampah-sampah ini. Mual hingga muak, sekarang ini. Mula-mula soal Sari Roti. Betapa pendeknya akal mereka yang menyerukan hashtag boikot Sari itu. Pintar dikitlah, bos-bos besar kayak mereka mana ngaruh sama aksi semacam itu. Ente kira mereka cuma punya satu pemasukan? Kalau kayak gitu mana bisa mereka jadi kaya-raya!  Mikir, Bung!  Yang susah ya saudara-saudara kita yang kelasnya selevel kita ini. Dengan dungunya melabeli Sari Roti haram. Kalian meragukan MUI? Kan Sari Roti dapat label halal juga dari MUI? Mikir makanya!

Lalu, beberapa waktu yang lalu juga ramai beredar di sosmed tentang vaksin kanker Serviks. Mboknya kalau enggak paham tuh nanya. Ke Puskes kelurahan kek yang deket. ke Puskes Kecamatan yang menyalurkan vaksin tersebut meneruskan dari Pemda. Atau yang paling mudah googling! Saya sendiri langsung bertanya-tanya ke beberapa teman. Beruntungnya saya, memiliki teman dan kenalan-kenalan yang paham soal itu. Memang dasarnya kalau sudah benci, apa saja yang dilakukan yang dicari ya kesalahan-kesalahannya. Piknik, Mbak! Biar lingkungannya luas biar bisa nanya dan konfirmasi berita hoax seperti yang saya lakukan. Kalau Anda bodoh kan ya minimal teman-teman Anda tidak bodoh.

Dan masih banyak pesan kebencian berantai lainnya yang masuk ke ponsel saya. Ini membuat saya gelisah dan sungguh saya merasa sedih. Begitu mudahnya kita terhasut. Begitu mudahnya menebar kebencian. Lalu, satu dan lain hal yang mendorong saya untuk mengeluarkan uneg-uneg melalui tulisan adalah, tadi malam, seseorang yang saya kenal di komunitas menulis online. Belau dengan menggebu-gebu menuliskan betapa munafiknya kami-kami yang diam saja ketika ayat suci agama sendiri dihina. Lalu beliau menambahkan, Kira-kira begini: Baca Al-Quran aja enggak gimana bisa paham tafsir. Dan lain-lain.  Jujur, hati saya mencelos. Jadi maksud mbaknya, Gusdur itu enggak paham tafsir dan Al-Quran? GusMus juga?

Lagi pula, coba kita mundur sedikit. Jauh sebelum ada seorang Ahok. Negara ini sudah carut-marut karena korupsi. Sapi-sapi, Al-Quran, bahkan ada anggota dewan yang sudah dipenjara pun masih terima gaji. Enak betul kan, sudah korupsi milyaran, dipenjara, sudah tidak memnberikan kontribusi apa-apa bagi negara eh masih terima gaji pula. Siapa mereka? Pemimpin-pemimpin yang katanya muslim. Pemimpin-pemimpin yang beragama Islam. Pemimpin yang seharusnya amanah.

Kita sebut sajalah mereka oknum. Dan oknum inilah yang memuakkan bagi saya. Saya begitu antipati pada orang-orang di lingkungan kerja saya yang terus-menerus berteriak takbir hingga kalimat setuju jika presiden jatuh, sampai, yang belum lama ini saya dengar, menyandingkan kata bleguk dengan nama Gusdur. Di luar sana, oknum ini lantang bertakbir tapi di dalam, di keseharian, melihat oknum ini salat saja tidak pernah, alih-alih salat Jumat yang tidak boleh ditinggal tiga kali berturut-turut. Yang munafik siapa ya? Status FB-nya saja yang penuh dengan ayat-ayat dan menulis aamiin disetiap postingan fakir like, amin, dan komen semacam itu. Ia tidak sadar bahwa itu bentuk penipuan mutakhir di dunia sosial media.

Itu hanya satu elemen, soal salat yang notabene urusan masing-masing orang. Ini hanya biar adil saja. Masih ada kok soal yang lain. Tinggal ditanyakan ke diri masing-masing, sudah amanahkah Anda dengan komitmen pekerjaan Anda? Tujuh tahun bekerja di antara PNS. Saya tahu betul betapa brengseknya mereka. Betapa mau enaknya sendiri. Betapa mau mudahnya saja dan betapa mau benar sendiri. Saya mah apa atuh, cuma pegawai minoritas alias honor! Terus terang, saya senang dengan kehadiran pak Ahok. Beliau meluruskan persepsi bahwa PNS adalah pelayan bagi masyarakat karena pelayanannya itulah mereka digaji sangat layak, diberi tunjangan ini. Tunjangan itu. Konon beras dan kain batik pun ada anggarannya. Dengan loyalitas seperti itu sudah sewajarnyalah mereka bekerja dengan baik dan amanah. Seharusnya.

Tapi apa mau dikata, terbiasa hidup enak. Terbiasa menjadi raja-raja kecil. Dengan tunjangan, dengan gaji besar, dengan kendaraan dinas, dengan ruangan berpendingin udara, oknum-oknum berseragam ini malah asyik berngkongsi sesama mereka dan saling menutup borok.

Ayohlah, Bung. Kalau bukan karena politik, korupsi, bukan hanya rumahmu yang akan terang oleh listrik dan dialiri air PAM!

Perkara penistaan ini, secara pribadi saya berpendapat ini bukan masalah agama. Ini jelas masalah politik. Enggak usah tutup matalah, toh memang surah Al-Maidah 51 tersebut memang sering digunakan untuk mendiskreditkan pemimpin-pemimpin non-Muslim. Jangan-jangan yang teriak paling kencang itu mereka-mereka yang jam kerjanya bertambah, dituntut sesuai besar tunjangan yang di dapat, yang indispliner, yang aliran hibahnya dihentikan, yang tidak bisa lagi bermain kongkalikong di belakang. Barisan-barisan sakit hati, begitu.

Saya rasa saya tidak sendirian, tapi banyak orang di luar sana yang gembira karena akhirnya memiliki presiden yang begitu disayangi rakyatnya. Memiliki Gubernur jujur dan benar-benar membangun dan memberi apa yang rakyat butuhkan. Saya bukan warga DKI tetapi saya melihat betapa banyak perubahan yang sudah dilakukan pak Ahok, terlebih, saya secara pribadi berterima kasih, karena sekarang sayang memiliki penghasilan yang layak. Meski jurang antara PNS dan honorer itu tetap menganga. Kenapa? Karena kami selalu disindir, eh UMP cair tuh! yang artinya makan-makan dong! Padahal, klo tunjangan atau sertifikasinnya beliau-beliau ini cair langusng bisa beli motor satu atau untuk saya, bisa buat DP kredit rumah sekelas BTN. Mereka diam seribu bahasa, juga, kami tidak pernah iseng minta ditraktir. Honor yang harus tahu diri!

Ayolah, biarkan keadilan sosial itu dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Tidak hanya Jawa, atau Sumatera tetapi juga di pulau dan kota-kota lainnya. Semuanya bisa terwujud dengan pemimpin-pemimpin jujur yang tidak diintervensi pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan.

Ah, ya! Saya memang bukan warga DKI Jakarta, saya tidak bisa memilih paslon Ahok-Djarot meski pun ingin. Saya berKTP Tangerang, namun, saya tetap memilih nomor 2 untuk Rano-Embay!

Salam.

Semoga ada yang tercerahkan lewat uneg-uneg ini.

Lagu dan Cerita yang Mengiringnya #4


Love comes slow and it goes so fast

And you dive too deep

Let Her Go – Passenger

Let Her Go ini lagu lama sebenarnya, hanya saja, telingaku baru mengenalnya beberapa waktu belakangan ini. Musiknya yang lembut dan sendu membuatku nyaman mendengarkannya berkali-kali. Earworm istilahnya. Namun, perasaan nyaman itu semakin lama berubah jadi kelabu.

Sungguh,

Lirik-lirik dalam lagu ini membuatku tertegun. Perasaan terluka membayang seiring bait-bait lagu dinyanyikan. Kenangan dalam kepalaku bertabrakan lalu meledak. Menciptakan semacam pertanyaan-pertanyan yang tak pernah aku mengeti apa jawabannya.

Adalah cinta, muara dari segala sebab. Lesak di dada, rindu yang lebam, ingatan-ingatan yang memusuhi dirimu lebih banyak dan menolak untuk dilupakan. Mungkin benar, bahwa manusia adalah pengumpul segalanya. Si Penabah yang Bodoh.

Ialah aku.

Menimbun luka. Mengumpulkan kenangan. Memberi dengan percuma hanya untuk disia-siakan. Lalu membungkus semua itu seolah makhluk paling tabah. Aku menemukan diriku menangis dalam malam. Membaca sunyi yang terpantul-pantul  di dinding.

Tak ada jawaban. Tak pernah ada jawaban. Hanya ledakan tangis yang teredam. Mungkin sudah saatnya aku melepaskan.

Maybe one day you will understand why

Everthing you touch all it dies.

57f1dbc395605710e12c21b767d1431f

Note:

Yang mau dengar Let Her Go versi Cover sila klik Let Her Go – Boyce Avenue